TERRA, THE BEST MOTHER

TERRA, THE BEST MOTHER
KEPUTUSAN



"Darren!" panggil Terra sedikit kesal.


Pria itu menatap ibunya. Menatap netra sama dengannya. Akhirnya, ia sadar kesalahannya. Darren menundukkan kepalanya.


"Apa kau sudah menghubungi calon istrimu?" tanya Terra.


Darren menggeleng lemah. Terra sangat kesal, ia memukuli bahu putranya. Baru kali ini ia memukul anak yang diasuhnya belasan tahun. Hal itu membuat semua adik-adik pria itu menangis.


"Mama ... jangan pukul Kakak ... huaaa!' jerit Nai.


Gadis yang sudah remaja itu memeluk kakaknya. Hal itu membuat Terra makin kesal bukan main.


"Apa kau tak memiliki adik perempuan, Darren!" pekik wanita itu kesal bukan main.


"Ma ...," cicit Darren sedih.


"Jika kamu seperti ini. Jangan salahkan jika Aini pindah ke hati yang lain, yang lebih memperhatikan dan melindunginya!" lanjut wanita itu kesal.


Darren terdiam, Entah kenapa ia tak merasakan apapun kecuali rasa bahagia.


"Eh ...," ujar Darren lalu bingung pada dirinya sendiri.


"Temui Aini sekarang!" titah wanita itu tegas.


Rion yang memeluk kakaknya, begitu sedih melihat sang ibu memarahi saudara laki-lakinya itu.


"Udah Ma ... jangan marahin Kak Darren lagi ... hiks!" pinta Kean sambil memeluk Terra.


Hanya dengkusan kesal keluar dari mulut Terra, ia masih marah. Tapi, ketika melihat anak-anaknya menangis karena ia memukuli dan memarahi kakak mereka, akhirnya menyesali perbuatannya.


"Tau tadi, Mama marahin kamu pas berdua saja!" sahut wanita itu.


"Ma," rengek Darren.


"Kenapa masih berdiri? Kamu nggak denger apa yang Mama suruh tadi?" bentak Terra akhirnya.


Haidar hanya menenangkan istrinya. Tiba-tiba ponsel Terra berbunyi. Virgou meneleponnya. Pria itu yang mengurus pendaftaran pernikahan keponakannya itu.


"Assalamualaikum, Kak!" salamnya ketus.


"Alaikumussalam! Kenapa kau marah-marah begitu?" sahut Virgou sedikit kesal di sana.


"Maaf, Kak. Ini loh, putramu Darren ..."


"Ah, perkara itu. Bisa kita bicarakan di rumah?" ujar pria itu.


Terra memang mengaktifkan pengeras suara. Ia pun mengiyakan ajakan kakaknya.


"Sepertinya, aku terlalu memanjakan mu," ujar Terra.


"Kenapa kau masih di sini. Apa Mama mesti menyeretmu!" bentak Terra lagi.


"Mama!" semua anak menangis mendengar teriakan ibunya.


Darren langsung berlari. Budiman hanya diam dan membiarkan pria itu menyelesaikan masalahnya. Pria itu bukan lah sering mengingatkan pria itu. Tetapi, semua dianggap angin lalu. Alasan sibuk dan semuanya demi maslahat orang banyak.


"Tuan, Nona Aini sedang praktek di sini ...."


"Iya, Baba ... biarkan dia bekerja dulu dengan tenang," sahut Darren saat itu.


Pria itu tengah memecah rumus pendataan signal bawah laut. Apakah ada arus elektronik yang bisa dipakai untuk para penyelam. Ia menggunakan pancar sonar yang digunakan kapal selam. Ada saja ide pria itu untuk mengembangkan usahanya. Karena kini banyak wisata bawah laut, bahkan hotel Bram kini mencoba terobosan penginapan di bawah laut.


Budiman hanya bisa diam dan membiarkan pria yang semestinya adik iparnya itu bekerja serius.


Darren menyetir mobilnya dengan kecepatan sedang. Ia melihat jam. Sebentar lagi sore, ia berpikir untuk menghubungi gadis itu. Ia mengeluarkan ponselnya.


"Yah, mati!" ujarnya.


Pria itu beberapa saat fokus pada jalan yang ia lalui. Lalu tangannya sibuk mencari charger ponsel yang bisa dihubungkan ke mobilnya. Lampu merah, mobil itu berhenti. Ia pun langsung mengisi daya baterai.


Hingga sepuluh menit. Ponsel itu baru menyala.


"Sepertinya chargernya rusak," gumam pria itu.


Sedangkan di rumah Aini. Gadis itu membawa bekal dan di taruh dalam bagasi motornya. Ia kembali membawa dua adiknya ke rumah sakit, karena ia tak bisa meninggalkan mereka di rumah. Ada kasus perampokan beberapa hari lalu di sekitar daerah itu. Setelah memakaikan baju jaket pada Ditya dan Radit. Gadis itu mulai menaikan keduanya di motor. Melajukan motornya dengan kecepatan sedang. Darren melihat gadis itu pergi dari kampung tempat ia tinggal. Pria itu pun mengikuti gadis itu.


"Apa, Aini jaga sore ya?" terkanya.


"Aini!" panggilnya.


"Pak!" sahut gadis itu dengan senyum.


Darren membantu Aini menurunkan dua adiknya. Lalu, mereka berjalan beriringan. Baik Darren maupun Aini tak lagi merasakan debaran yang seperti biasanya. Debaran itu ada tapi lebih mengarah ke serba salah. Terlebih Aini yang melihat ada Gio di sana. Ia hanya menunduk ketika ketiga pengawal Lidya itu membungkuk hormat pada Darren.


"Tuan Muda!" sambut ketiganya.


Darren hanya mengangguk membalas hormat. Lalu terus melangkah bersama Aini hingga tempat prakteknya.


"Aini, kita bisa bicara?" tanya Darren.


Aini diam, jantungnya berdebar tak karuan. Ia bingung dengan hatinya. Begitu juga dengan Darren. Aini mengangguk tanda setuju, untuk mereka berbicara. Keempatnya masuk ruangan. Darren langsung duduk di kursi depan meja kerja gadis itu.


"Radit sama Ditya main di sana dulu ya," pinta Aini.


"Iya, Mba," sahut Ditya.


Ia menggandeng adiknya menuju pojok ruang tempat mereka biasa bermain.


Darren menatap lekat gadis yang kini duduk dengan gugup. Ia juga sangat gugup. Sungguh, untuk memulai kejujuran itu sangat sulit.


"Dik, ini mungkin berat, tetapi jujur. Apakah kau mencintaiku?" tanya Darren langsung.


Aini menatap pria tampan nan rupawan di depannya. Ia menyelami mata yang dulu sangat ia kagumi. Ia mencari titik rasa pada pria yang dulu pernah ia rindukan.


"Bagaimana dengan Bapak sendiri, apa Bapak mencintai saya?" tanya Aini.


Bahasa formal yang biasa Aini pakai. Dulu, pria itu sempat kesal dengan panggilan gadis itu. Tetapi, lambat laun ia pun terbiasa. Kini, ia sadar, jika dirinya hanya sekedar mengagumi Aini, karena kebaikan hatinya dan juga ketulusannya. Terlebih kisahnya mirip dengan kakak yang mengasuhnya hingga sebesar ini.


"Aku minta maaf," ujar Darren pada akhirnya.


Satu tetes bening jatuh di pelupuk mata gadis itu. Bukan menangis kesedihan, tapi kelegaan.


"Maaf, jika aku tak bisa mewujudkan janji-janjiku padamu," lanjut Darren mengaku.


Walau sejenak pria itu tampak terkejut sendiri dengan ungkapannya barusan. Ia begitu dengan mudah meminta maaf dan menyatakan jika ia tak bisa mewujudkan janjinya. Aini menghela napas panjang. Ia tadi malam telah beristikharah. Meminta keputusan yang tepat. Ternyata, Allah mewujudkan keinginan gadis itu.


"Jujur, aku sayang sama kamu, sebagai adikku," aku Darren jujur.


Aini tersenyum, ia mengangguk setuju.


"Saya juga mengagumi Bapak. Tentu saja, secara Bapak ganteng, muda dan mandiri juga kaya raya. Tapi, hanya sebatas kagum, bukan cinta ...," aku Aini pada akhirnya.


Ada helaan napas lega dari mulut Darren. Pria itu kini terkekeh dan menular pada Aini.


"No hurt feeling?" tanya Darren memastikan.


Aini diam dan merasakan debaran jantungnya yang biasa saja. Ia mengangguk dengan senyuman lebar.


"Jadi, apa mau besok kita menghadap pada semua orang tua jika kita membatalkan pernikahan kita?" tanya Darren begitu tegas.


Aini mengangguk.


"Apa mereka akan membenci kita ... ah ... maksudnya saya?" tanya Aini takut-takut.


"Tenang lah. Mungkin mereka akan marah. Tetapi, yakinlah, jika demi kebahagian kita berdua, pasti mereka akan mengerti," jelas pria itu tenang.


Aini tersenyum, tapi sesaat senyuman itu luntur.


"Ada apa, apa kau berubah pikiran?" Aini menggeleng.


"Apa Mama masih mau jika saya memanggilnya Mama, walau kita tak jadi suami istri?"


"Aku yakin, Mama pasti mau!" jawab Darren yakin.


Keduanya kini pun tertawa lepas. Tak ada lagi ganjalan di hati. Darren juga mengakui perasaannya yang sudah berubah pada Aini begitu juga sebaliknya.


"Eh ... ngomong-ngomong, kamu sepertinya cocok deh sama Om Gio," ujar Darren tiba-tiba.


bersambung.


hahahaha ... oh ...


next?