TERRA, THE BEST MOTHER

TERRA, THE BEST MOTHER
PERNIKAHAN GIO 2



"Hukumannya cium Ayah, Bu!" sahut anak-anak kompak.


Saf menelan saliva kasar. Sedang Darren tersenyum lebar. Gadis yang tadi diajak bicara oleh pria itu tampak kesal. Ia sudah berdandan cantik dan seksi hari ini. Sengaja datang dan mencari teman yang diundang di pernikahan itu. Walau sedikit sulit, akhir ia bisa datang ke acara itu. Kini, pria incarannya malah berpaling.


"Tuan Dougher Young. Anda mengabaikan saya!" tegur gadis itu kesal.


Semua menoleh pada gadis cantik itu. Hal tersebut dimanfaatkan oleh Safitri. Perlahan ia melarikan diri dengan melangkah mundur pelan-pelan. Satrio melihatnya, ia pun mengikuti langkah gadis bongsor itu. Karena perhatian Darren yang terfokus pada salah satu rekan bisnisnya, ia tak memperhatikan jika semua adiknya dan gadis itu telah pergi.


"Maaf, tadi adik-adik ...."


"Benarkan dugaan saya. Jika mereka bukan putra dan putrimu. Sembarangan sekali wanita murahan itu mengakui mereka adalah anak-anak mu!" potong gadis cantik itu sinis.


"Nona Mulyadi!" tegur Darren tak suka.


"Sudah abaikan saja. Kita lanjutkan perbincangan kita, apa perlu cari tempat lain agar lebih leluasa, Tuan Dougher Young!" sahut gadis genit dan menggoda.


Jemari lentiknya menyusuri kemeja biru polos pria tampan itu. Ia sangat yakin, jika Darren akan jatuh pada pesonanya kali ini.


"Jauhkan tangan kotor anda dari baju saya!" tepisnya pada tangan nakal gadis itu.


Tania Mulyadi terkejut. Darren menatapnya datar dan jijik.


"Saya lebih baik kehilangan kerjasama ini dibandingkan kehilangan gadis yang akan menjadi ibu dari anak-anakku nanti!" tekannya dingin.


Tania menelan saliva kasar. Belum pernah ia ditolak serendah ini. Semua pria akan takluk dengan pesonanya.


"Anda tidak bisa berhenti begitu saja. Jika demikian Anda harus membayar pinalti dua kali lipat!" ancam gadis itu.


"Aku akan bayar kontan itu, Nona!" sebuah suara berat memecah.


Bart mendengar semuanya baginya uang delapan miliyar bukan uang besar. Ia hanya menutup mata menandatangani sebuah cek saja.


"Akan kubayar tunai. Dengan syarat!" tekan pria tua itu datar.


Darren tersenyum. Keluarganya selalu berada di pihaknya. Ia yakin kakeknya itu akan membelanya.


"Asalkan kau pergi dan tak lagi menampakkan batang hidungmu di depan cucuku!" lanjut Bart.


Bram yang baru datang bersama dengan Kanya, istrinya. Ia menghampiri pria tua yang sepertinya berseteru dengan seorang gadis meminta istrinya terlebih dulu menghampiri pengantin.


"Ada apa ini?" tanya Bram.


"Ah, kau di sini Bram. Lihatlah ada gadis yang begitu pongah mengancam cucu kita untuk membayar pinalti," sahut Bart sinis pada Tania.


Gadis cantik itu makin menelan salivanya. Ia lupa siapa Darren dan orang-orang yang berada di belakang pria itu.


"Oh, kau Nona Tania Mulyadi!" Bram mengenal siapa gadis itu.


Virgou yang melihat dua orang tua tengah mengeroyok seorang gadis penasaran. Ia dan David ikut bergabung. Pria dengan sejuta pesona itu langsung merangkul Bram dan meletakkan dagunya di bahu pria itu.


"Ada apa ini Pa?" tanyanya.


Tania menatap Virgou dengan pandangan memuja. Lalu Dav muncul. Gadis itu makin menganga.


"Hei ... usap air liurmu!" ledek Bram.


Tania buru-buru menyeka bibirnya tak ada liur di sana. Semua pria menertawakan dirinya. Gadis itu malu bukan main


"Aku bersumpah salah satu putrimu akan bernasib sama seperti ku!" ujarnya berdoa buruk.


"Aku pastikan anak-anak perempuan ku tak ada yang murahan sepertimu Nona Mulyadi!" tekan Virgou garang.


"Pergi dari sini secara baik-baik. Atau kau akan menemui perusahaanmu rata dengan tanah besok!" lanjutnya mengancam.


Tania menghentak kesal dua kakinya. Ia pun pergi dari sana dengan menggunakan taksi. Ada seribu rencana di otak liciknya.


"Kau menang hari ini. Tapi, tidak lain kali Tuan Dougher Young!" gumamnya sinis.


"Kita akan mulai dari gadis yang mengaku punya anak darimu itu!" lanjutnya.


Gadis itu sudah memfoto Safitri tadi. Iris abu-abu jadi ciri khas gadis bertubuh tinggi besar itu. Ia menatap dirinya di kaca besar. Seksi dan memikat semua mata memandang.


"Halo ... aku sudah mengirimkan foto. Selidiki siapa dia!" titahnya lalu menutup ponselnya.


Sebuah taksi daring berhenti di depannya. Ia pun naik setelah pertanyaan singkat. Lalu kendaraan itu pun meluncur meninggalkan lokasi acara.


Sedang di dalam gedung Darren mengucap terima kasih pada semua pria yang membantunya. Ia sebenarnya tak perlu bantuan sebanyak itu. Tapi, namanya keluarga. Ia tak bisa menghentikan aksi para ayah. Beruntung Herman tak ikut di sana pria itu sedang sibuk menjamu para tamu lainnya.


"Kalian ini ke mana saja!" omelnya.


Virgou hanya meledek pria itu dengan godaannya. Sedang Darren mencari keberadaan Safitri yang menghilang setelah membuat kekacauan.


"Kemana gadis itu!" gumamnya kesal.


Ia mencari dan mendapat Safitri tengah bercengkrama dengan adik-adiknya.


"Kenapa kalian pergi?" tanya pria itu gusar.


Saf melipat bibirnya ke dalam. Sedang yang lainnya hanya nyengir kuda dan menaikan dua jari berbentuk V.


"Kalian tak lagi memaksa ibumu untuk memberi ayah hukuman cium tadi?" lanjutnya kesal.


"Loh, masih ingin dicium Ibu. Kan tadi hanya bercanda," sahut Sean enteng.


Saf mengangguk antusias, membenarkan jawaban Sean. Darren mengerucut. Ia kini kesal pada Tania, gara-gara gadis itu. Hukuman ciuman dari Safitri gagal di daratkan pada pipinya.


"Gara-gara itu. Ayah harus kehilangan proyek senilai dua miliyar dan harus mengganti dengan pinalti dua kali lipat!" lanjut pria itu kecewa.


"Benarkah?" kini Saf yang menyesal akan keusilannya.


Gadis itu tak menyangka jika tingkahnya membuat Darren rugi sebanyak itu. Haidar yang datang bersama Terra untuk makan mendengar hal itu.


"Proyekmu dengan siapa Dar?" tanya pria itu.


Darren menunduk. Ia tak mungkin memberitahu ayahnya. Sean yang menimpali pertanyaan ayahnya dengan menyebut ciri-ciri gadis itu.


"Dengan Tania Mulyadi?" tanya pria itu dengan nada tak suka.


"Memang siapa dia, Pa?" tanya Terra lalu mengambil kursi di sebelah putrinya Lidya.


"Kau masih berurusan dengan wanita yang mudah tidur seranjang dengan pria siapa saja, Dar?" tanya Haidar gusar.


Pertanyaan suaminya membuat Terra menatap putranya tajam. Sedang Sky, Bomesh, Benua dan Domesh yang duduk manis di kursi khusus mereka tampak asik melihat kakaknya dimarahi.


"Darren, jawab Papa!" tekan Haidar.


"Pa, jangan sekarang. Nggak enak sama Gio dan Aini!" tegur Terra.


Haidar menghela napas panjang. Ia menatap gusar pria muda yang duduk dengan kepala tertunduk.


"Jelaskan nanti di rumah!" tekan pria itu lagi.


"Iya, Pa," cicit Darren lirih.


Rion sedang bersama Demian. Remaja itu tak lepas dari pria yang sebentar lagi jadi kakak iparnya itu.


"Kita makan dulu yuk, Baby. Kakak lapar," ajak pria itu akhirnya.


Rion mengangguk. Demian melihat Jac bersama istrinya juga tengah menyantap makanan.


"Kita ke ruang VIP Kak!" ajak Rion.


Sampai sana, kedua pria tampan beda usia itu menatap semuanya yang seperti kaku. Hanya anak-anak yang santai menikmati makanannya.


Safitri yang merasa begitu bersalah pada Darren. Sedang Darren merasa bersalah pada ayah dan ibunya.


bersambung.


nah ribet kan?


next?