TERRA, THE BEST MOTHER

TERRA, THE BEST MOTHER
ULANG TAHUN SI KEMBAR



Melihat wajah Dav yang berseri-seri, membuat Virgou jadi bertanya-tanya dalam hati. Ada apakah gerangan yang terjadi. Walau setelahnya wajah Dav berubah juga karena mengingat sesuatu, lalu kembali seperti biasanya.


“Ada apa denganmu. Kenapa wajahmu berubah seperti itu?” tanya pria beriris biru itu.


“Tidak ada apa-apa,” sahut Dav cepat.


Virgou akhirnya membiarkan adik sepupunya itu. Mereka pun ke ruang rapat divisi untuk menerima laporan triwulan kinerja mereka. David di sana sebagai pengawas pengembangan semua divisi.


Berkat BraveSmart ponsel ciptaan Darren. Pria itu dengan mudah mengakses semua pekerjaan dengan cepat, hanya melalui ponsel saja.


Usai rapat, kedua pria itu tengah melakukan pembicaraan serius. Dav menjabarkan berapa kejanggalan yang dilaporkan beberapa divisi tadi. Ia tak percaya produksi baja meningkat cukup tajam dan membawa keuntungan hingga nyaris 100%. Bukan hanya Dav saja yang curiga, tetapi Virgou juga merasa keanehan tersebut. Ia menghitung Kembali semuanya. Lagi-lagi BraveSmart ponsel menunjukan fungsinya. Memang, ada keuntungan di bagian produktifitas, tetapi tidak sampa pada skala 100%.


“Kau benar. Sepertinya ada mark up produk di bagian penjualan, hingga kita mengira adanya kenaikan. Jika perusahaan lain, mungkin mereka tidak akan memeriksa Kembali semua keanehan ini, karena keuntungannya yang besar,” jelas Virgou.


“Benar kak. Mereka ingin bermain dengan angka, lalu tiba-tiba mengatakan ada counting down, lalu menurunkan angka serendah mungkin,” sahut David menimpali.


“Wah … mereka memakai trik baru, jika tuduhanmu itu benar, Dav!” ujar Virgou tercerahkan.


“Sepertinya Kakak harus mengirim tim evalusai pada divisi produksi dan penjualan,” saran dav.


“Iya, aku akan meminta Fabio dan Pablo untuk melakukan hal itu. Aku akan mem-back up mereka dari belakang,” ujar Virgou.


“Kenapa tidak kakak sendiri yang melakukannya?” tanya David heran.


“kan lebih bagus Kakak turun tangan langsung, dan menghabisi mereka?”


“Tidak,” jawab pria dengan sejuta pesona itu menggeleng, “Mereka akan langsung menyembunyikan bukti mereka, dan aku sedikit malas jika bekaitan langsung dengan para koruptor itu,’ jawab Virgou dengan tatapan ingin membunuh, ‘


'kau tau, jika aku sudah gatal. Aku bukan hanya mencabutnya dari perusahaan ini, tetapi juga dari dunia ini.”


“Dan aku paling menghindari itu,” lanjutnya.


Dav mengangguk membenarkan perkataan kakaknya itu, ia sangat mengenalinya. Bahkan dulu mereka pernah bersitegang, walau sampai sekarang dia tak tau kenapa Virgou tak membunuh semua anggota keluarganya, termasuk mereka.


“Kenapa kau dulu tak membunuh kami?” tanya Dav tiba-tiba.


Pria itu masih penasaran dengan tindak tanduk Virgou. Pria itu begitu kejam dulu, makanya berjulukan BlackAngel.


“Bisa dikatakan jika darah lebih kental dengan air. Itulah yang terjadi, toh semua keluargaku mati satu persatu tanpa keturunan dan hanya menyisakan diriku. Anggap


saja itu hukuman untuk mereka dan keberkahan untukku,” jelas Virgou enteng.


Dav menganga. Pemikiran pria di depannya ini sungguh di luar ekspetasinya. Kini keduanya pun pulang ke mansion pria itu, hari ini ulang tahun putra kembar pertama pria itu. Keanu dan Calvin berusia sebelas tahun. Semua anak-anak berkumpul di sana. Mereka katanya sudah memenuhi kolam renang, taman bermain bahkan garasi virgou tak luput ari jangkauan anak-anak yang bermain kejar-kejaran.


Ketika sampai mansion. Benar saja. Isi mansion penuh dengan anak-anak, semuanya membaur menjadi satu, kini David tau kenapa para balita langsung bisa bicara. Rion tengah mengajari baby Domesh yang baru berusia tiga bulan berbicara.


“Nah, Baby, ayo bilang, ba bowu!”


“Aawwuu!’ Domesh Nampak mengikuti pergerakan bibir remaja itu.


Rion tertawa senang. Sedang Gomesh hanya pasrah melihat bayinya dipaksa berbicara oleh Rion.


“Baby, itu Baby Domesh kan masih kecil, sekali. Biarkan saja, nanti dia bisa bicara sendiri,” sahut Terra tidak enak pada pria raksasa itu.


“Tidak apa-apa, Ma. Ion tidak keberatan kok,’ jawab Rion santai.


Terra mencebik kesal. Ia ingat sekali jawaban itu Ketika Rion mengajari quartonya berbicara.


“Tidak apa-apa Nyonya, biarkan Rion mengajari Domesh berbicara, saya senang jika mendengar celotehan lucunya,” sahut Maria menimpali.


Terra juga mengakui itu, ia senang dengan Bahasa bayi yang keluar dari mulut-mulut mungil anak-anaknya. Walau ia harus berusaha keras mengartikannya. Jika tidak, ia akan menyerahkan pada Rion.


“Hei, ayo kita karaoke!” ajak bart yang langsung disoraki anak-anak dengan kegembiraan.


Balita itu juga masih memakai bahasa bayinya.


“Siapa yang mau nyanyi pertama?” semua unjuk tangan termasuk Rion.


“Ila mawu manyi!” teriak gadis kecil itu.


“Lagu apa Baby?” tanya Dav.


Kaila Nampak berpikir keras, semua lagu dia sudah pernah nyanyikan. Tidak ada lagu lain, ia pun memilih lagu


“Balonku”


Musik pun mulai, semua bergoyamg begitu juga Kaila.


“Palontu bada lima … lupa-lupa balana. Bijau, tunin, telabu, belah puda, dan bilu. Tulutus palon pijau … dol! Batitu mamat tasau. Palontuh pindal tempat tupetan memat-memat.”


Lagu selesai, semua bersorak dan bertepuk tangan, virgou sudah merah mukanya menahan tawa, begitu juga semua. Untung Robert tidak ada, jika iya. Mungkin pria tampan itu tertawa terbahak-bahak.


“Bom, pawu pani!” Bomesh langsung menarik mik.


“Banti bulu, Ila basih mo banyi!” teriak Ila di mik.


“Ata’ Pila, ndah ani … Bom pawu udha … hiks .. hiks …!”


‘Bom, biar Kak Ila selesai dulu bernyanyi!” teguran Domesh memang lembut, tapi di mata anak-anak, wajah pria raksasa itu galak.


“Janan balah-palahin, Bom!” pekik Kaila tak suka. Gadis kecil itu menyerahkan miknya.


“Nih, eundat usyah demelin Daddy Pomesh,” ujarnya sambal mengelus punggung Bomesh.


Semua terbengong termasuk Gomesh, ayah dari Bomesh.


“Kan, tadi dia sendiri yang ….”


“Kau memprotes putriku Gom?” tegur Virgou datar.


“Tidak, Tuan.” Jawab pria hitam manis itu cepat.


“Oteh, Baby Bom. Mau nyanyi apa?” tanya Dav menyudahi drama.


Bomesh nampak melihat Rion meminta pendapat.


“Lagu bintang kecil aja,’ jawab Rion.


“Ah, pintan pelola,” sahut Bomesh akhirnya.


Rion hanya mengangguk mengiyakan permintaan bayi menggemaskan itu, Ketika Dav bingung harus memutar lagu apa. Akhirnya, lagu pilihan bayi tampan itu yang diputar.


“Tu baban mamit. Wewuh mintan belabuhan … belelap pelit … mumummama mintan melyan … bada … belbuah … pedih pelan payayaya … mitutah pintantu pintan pelola ban pindah sapu …!”


Virgou tersedak, Terra terbatuk, Herman lari kebeleakang kaarena sudah tidak tahan tertawa, sedang Haidar juga menyerah, pria itubtertawa terbahak-bahak. Khasya dan Puspita sudah lemas dari tadi.


Mendengar ada yang tertawa, Bomesh bukannya sedih atau marah, bayi itu ikut tertawa bahkan kini ia bernyanyi sambil menggoyangkan tubuh gempalnya. Hal itu membuat semua akhirnya tertawa. Pesta ulang tahun si kembar mata biru, Muhammad Keanu Putra Black Dougher Young dan Muhammad Calvin Putra Black Dougher Young.


Bersambung.


Barakallah fii umrik kembar …


next?