TERRA, THE BEST MOTHER

TERRA, THE BEST MOTHER
POLISI KELUARGA



Rion memang selalu mengikuti kemana pun Haidar pergi. remaja berusia enam belas tahun itu, dididik oleh Haidar sebagai pebisnis.


Beberapa tender mampu ia tangani dan menangkan dengan baik. Banyak pesaing dan kolega mati kutu jika Rion sudah menggunakan kalkulasi bisnisnya.


Walau ia sibuk membantu ayahnya. Pergaulan dan perkembangan adik-adik, tak lepas dari pengamatannya. Itulah yang membedakan dia dengan Darren.


"Kakak, akan sayang kalian, selama kalian tak berbuat ulah. Tetapi, jika kalian menyakiti, Mama, Bunda, Mommy, Bommy dan Mami. Kakak nggak akan segan berlaku keras pada kalian!" peringat Rion.


(Flashback)


Kean, Cal, Nai, Sean, Al, Daud, Arimbi dan Satrio menjadi remaja tanggung. Para anak laki-laki tentu memiliki rasa ingin tahu yang tinggi. Berteman dengan remaja yang jauh lebih tua dari mereka.


"Kean, ke klub yuk," ajak salah satu temannya.


"Nggak ah, itu kan tempat nggak baik!" sahut Kean saat baru masuk kelas satu SMP.


"Ah, payah Loe. Di sana asik tau, bisa joget-joget terus banyak cewe cantik," ujar temannya itu.


"Ajak sodara kembar, Lo!'


Kean tergiur, ia penasaran dengan namanya klub itu. Ia mencarinya di ponsel sang ibu apa itu klub. Karena mencari klub, maka yang ditampilkan adalah klub-klub sepak bola dan bola voli. Semua olah raga beregu disebut klub.


"Oh, ternyata grup olah raga toh?" ujarnya dalam hati.


Ia pun mengatakan pada saudara laki-lakinya.


"Mau nggak ikut temen ke klub?" ajaknya.


"Klub?" tanya Cal.


"Iya, nih. Aku nyari apa itu klub, ternyata grup oleh raga beregu atau tim gitu," jawab Kean lagi.


"Ya, udah ayok kalo gitu. Kita ajak, Sean, Al, Daud juga Satrio," ujarnya.


Sean menelepon saudaranya itu dan mengajaknya ke klub. Semua setuju. Maka, Kean pun mengatakan pada teman satu sekolahnya itu.


"Eh, kapan Lo ke klub?" tanya Kean.


"Gue ama semua saudara laki-laki bakalan ikut," lanjutnya.


"Besok malam minggu, gue tunggu kalian di jalan Xx!" ujar temannya.


"Dan satu lagi, jangan sampai ortu Lo tau!" tekannya lagi.


Karena tak mau ambil pusing, Kean pun mengangguk. Ia pun mengatakan pada semua saudara laki-lakinya.


"Ma, besok malam minggu boleh jalan sama Kean nggak?" ujar Sean meminta ijin.


"Nai, ikut!" seru Nai.


"Ih, ini cowok semua, Arimbi aja kita nggak ajak Kok!" sahut Sean.


Terra mengernyit. Sejak kapan, kembar empatnya tak menginginkan salah satu saudaranya ikut. Tetapi, ia tak berkata apa-apa dan membolehkan ketiga putranya, bermain bersama saudara kembar lainnya.


Hari di tentukan pun tiba. Keenam remaja tanggung itu pun mulai berdiskusi. R


Mereka tak tahu jika gerak-gerik mereka diawasi oleh sepasang mata tajam.


Hingga malam pun tiba, Kean, Cal, Sean, Al, Daud dan Satrio pun mendatangi teman mereka. Keenamnya menolak dikawal dan berjanji tidak akan berbuat ulah. Mestinya para remaja tanggung itu sadar, kenapa para orang tua menyetujui mereka tanpa pengawalan.


"Jhon!" panggil Kean pada teman sekolahnya itu.


"Kalian naik apa?" tanya Jhon.


"Taksi daring," jawab Cal.


"Kalian nggak punya motor?" tanya Jhon lagi.


Keenamnya menggeleng. Tentu saja, tak punya. Mereka belum memiliki SIM.


"Hah, ya udah. Kean gue bonceng pake motor! Kalian ikutin gue!" ujarnya lalu menaiki motornya.


Tanpa helm, Jhon melesatkan kendaraannya, sedang di belakang diikuti oleh mobil daring yang tadi disuruh menunggu. Sungguh Kean baru pertama kali menaiki sepeda motor. Jhon mengemudikannya sembarangan. Hingga terkadang Kean menutup mata ngeri.


Butuh waktu dua puluh menit, mereka sampai. Tentu keenam anak itu bingung. Kenapa ada gedung itu begitu berisik sekali setiap pintu dibuka.


"Kalian ikut gue. Karena umur kita belum cukup untuk masuk ke dalam," ajak Jhon.


Bagai sapi dicucuk hidungnya. Semuanya mengikuti Jhon. Remaja yang usianya tiga tahun lebih tua dari mereka itu berjalan melalui pintu belakang.


"Boss kita bawa teman nih!" sahutnya.


Entah kenapa, Daud merasa takut. Ia menghentikan langkah kaki saudaranya.


Semua diam dan merasakan hal yang sama. Jhon pun mengajak masuk. Benar saja, belum melangkah ke dalam. Keenamnya sudah tak mau melangkah lebih dalam lagi, karena terlalu bising.


"Ayo masuk!" pekik Jhon.


"Nggak ah, gue pusing!" tolak Kean berteriak.


"Halah, Cemen Lo!" pekik Jhon menyindir.


"Ayo, kalo sudah disini, kalian harus masuk!" bentak pria bertubuh besar.


Kean, Sean, Cal, Daud dan Satrio tampak ketakutan. Mereka memang berlatih bela diri, tetapi, jarangnya bersosialisasi dan ruang lingkup yang hanya rumah dan sekolah, membuat mereka tidak banyak bersinggungan dengan orang banyak. Terlebih jika para pengawal selalu mengikuti mereka.


"Hayo masuk!" bentak pria itu lalu menarik Satrio.


Remaja itu pun menepis tangan yang dua kali lipat besarnya dari tangannya. Bahkan ada sedikit pukulan di berikan oleh Satrio.


"Ck ... Lo mukul gue?" bentak pria besar tinggi itu.


Pria itu hendak mencengkram baju Satrio. Melihat saudaranya hendak dilukai, semuanya pun memberi perlawanan pada pria besar itu. Jhon sudah tak peduli, ia masuk ke dalam dan bersenang-senang.


Pak! Bug! satu tangkisan dan satu pukulan mengenai pria besar itu.


"Kurang ajar!" serunya murka.


Ia pun memanggil anak buahnya untuk mempecundangi keenam anak kecil itu. Tenaga mereka tentu tidak ada artinya dibanding dengan empat pria besar yang mengelilingi mereka.


Kean, Cal, Sean, Daud dan Satrio terpojok. Mereka sudah terengah-engah. Keringat membanjiri tubuh mereka. Tenaganya pun sudah banyak terkuras.


"Mereka lumayan kuat Boss. Kalo kita latih, mereka bisa jadi senjata pamungkas!" seru salah seorang pria bertubuh besar.


Pria itu mengibas tangannya yang berhasil diberi pelukan dari Sean. Begitu juga yang lainnya. Semua kena pukul oleh keenam anak kecil itu.


"Jangan banyak bicara, kita serang mereka!"


"Heeeaaa!"


Dor!


Bunyi letusan senjata.


"Daddy!"


Virgou ada di sana dengan mata mengelam. Rion berada di sisi pria itu. Keempat pria besar itu saling tatap. Virgou menodongkan senjatanya.


"Kalian kesini!" titah Rion pada enam adiknya..


Keenamnya pun berlari. Sayang, Daud ditarik salah satu pria dan menyekapnya. Daud, bukan lah anak kecil yang gampang menangis terlebih ada kakak yang akan menolong dia. Daud melakukan teknik kunci, memindah tenaga lawan menjadi tenaganya.


Krek!


"Aarrgghh!"


Kurang ajar!" Virgou berang.


Pria itu menembaki kaki keempat pria besar itu. Semuanya berteriak dan bergulingan. Daud ditarik oleh Rion..


Ternyata salah satu penjahat masih ingin mencoba peruntungan, ia menyerang Rion.


"Kak Ion, awas!" teriak Kean memperingati.


Belum sempat Rion menangkis. Virgou telah melesatkan peluru ke dada pria itu. Beberapa pria berpakaian hitam-hitam masuk.


"Angkut mereka dan bereskan!" titah pria beriris biru itu.


Pria-pria berpakaian hitam itu mengangkat empat pria yang tergeletak. Semua dibersihkan, tak ada bukti dan saksi karena tempat itu sepi.


Rion menatap enam adiknya. Semuanya menunduk, mereka telah melakukan kesalahan besar.


"Ayo, pulang!" ajak Rion.


Semua mengangguk dan mengikuti Virgou dan Rion untuk pulang. Sampai di mansion Virgou. Terra sudah ada di sana bersama Haidar dan Herman.


"Alhamdulillah mereka tak apa-apa. Kita nasehati saja, ini akan jadi pelajaran untuk semuanya agar mengatakan kejujuran," ujar Terra pada Hernan dan Haidar yang sudah mulai naik emosinya.


Kedua pria itu hanya bisa menghela napas panjang. Untung ada polisi keluarga mereka, Rion yang selalu awas pada semua tingkah saudara-saudaranya.


bersambung.


Rion gitu loh!


next?