
Hari berlalu. Kini semua berkumpul di mansion Bram. Bart, Frans dan Leon datang setelah mendengar kabar Rion dan Lidya kembali trauma setelah melihat badut. Makanya sudah dua hari mereka menginap di rumah kakek dan Omanya.
Kini rumah mertua Terra itu penuh dengan manusia. Haidar, Budiman Bram,.Virgou, Frans, Leon dan Bart tengah bercengkrama. Sebentar lagi Zhain dan Karina akan datang bersama dua anaknya.
Para wanita sedang menyiapkan penganan untuk semuanya. Anak-anak asik bermain. Kandungan Khasya dan Puspita sudah masuk tujuh bulan. Kanya sangat sibuk mengelus perut keduanya yang membuncit. Terutama Khasya yang hamil kembar. Gisel sedang mencicipi makanan.
"Sudah tahu jenis kelaminnya?" tanya Kanya.
"Sudah, ini sepasang lagi," jawab Khasya.
"Aku satu, laki-laki," jawab Puspita mengelus perutnya.
"Kamu nggak KB, Ta?" tanya Kanya pada istri Virgou itu.
"Nggak Ma. Aku pengen anak sedikasihnya Allah. Kata Dokter juga nggak apa-apa asal tanggung jawab aja," jawab Puspita enteng.
"Kalo aku habis ini harus stop hamil. Usia sudah memasuki masa rawan..Ini pun Dokter terus wanti-wanti, jangan terlalu stress atau berbuat yang terlalu berat," jelas Khasya.
Terra masih setia mendengarkan. Ia belum lagi dikaruniai anak. Tetapi, anaknya sudah banyak, jadi Terra pun tak begitu antusias memiliki anak lagi. Walau pun ...
"Huuek!"
Tiba-tiba Terra mual dan terasa pusing. Khasya dan lainnya' langsung khawatir.
"Sayang, kamu nggak apa-apa?" tanya Khasya cemas.
"Iya, kamu pucat," sahut Puspita khawatir.
Kanya mendudukkan Terra di kursi. Gisel memberinya teh jahe. Wanita itu meneguknya pelan-pelan. Ia memang sedikit meriang hari ini.
Haidar mendatangi istrinya. Ia jadi khawatir melihat wajah pucat Terra.
"Sayang, kamu nggak apa-apa kan?"
"Tidak, sayang. Te, nggak apa-apa, udah jangan bikin semuanya khawatir," jawab Terra menenangkan suaminya.
"Istirahat lah di kamar sayang. Jika kamu kelelahan. Sudah tiga hari kemarin kamu lembur terus sampai lupa waktu," saran Haidar lagi.
"Gendong," pinta Terra manja.
Tentu dengan senang hati pria itu menggendong tubuh langsing istrinya. Beruntung anak-anak tidak melihat. Jika melihat sudah pasti mereka akan mengacaukan kemesraan pasangan suami istri ini.
Kanya mengawasi pergerakan anak-anak. Haidar melangkah santai karena ruang tempat anak-anak bermain sedikit jauh dari ruang makan.
"Papa, kenapa Mama digendong?" tanya Lidya heran.
"Sayang, sini sama Oma. Biarkan Papa dan Mama dulu ya," ajak Kanya langsung menggiring gadis kecil yang ingin tahu itu.
"Papa ... penata Mama dipendon?" tanya Arimbi melihat Haidar menggendong Terra.
Akhirnya ketakutan Kanya pun terjadi. Semua anak-anak mengerumuni Haidar yang menggendong Terra ke kamar.
"Mama ... Mama penata .. hiks ... Mama pidat syatit tan?" sahut Satrio dengan wajah sendu.
"Tidak sayang. Mama hanya ingin beristirahat, jadi yuk keluar dulu. Biar Mama istirahat," ajak Puspita.
"Telus yan jadhain Mama spasa?" tanya Kean juga berwajah sendu.
"Biar Papa yang jagain Mama oteh?" jawab Puspita lalu mengajak anak-anak keluar.
"Beundat mawu. Al mawu jadha Mama!" Al menolak, Ia pun naik.ke ranjang langsung memeluk ibunya.
Haidar garuk-garuk kepala yang tidak gatal. Terra terkikik geli. Ia membiarkan anak-anak merusak momen romantis mereka. Karena hal ini akan mereka kenang nanti.
"Sean judha mawu jadhain Mama!"
Haidar tercerahkan. "Nah, kasihan Kakak Ion, nggak ada temennya. Main sama Kakak Ion gih!'
"Tata Ion jadhain Mama aja syini," ajak Satrio tiba-tiba, lalu ia pun mengambil tempat di sebelah Al.
Akhirnya semua anak pun tidur di sisi Terra termasuk Rion. Haidar akhirnya hanya bisa pasrah. Walau akhirnya ia juga menyusupkan dirinya merebahkan diri dan memeluk anak-anak.
Puspita hanya menggeleng. Lalu ia pun keluar kamar. Semuanya hanya bisa pasrah. Darren dan Lidya memandang perempuan-perempuan dewasa itu. Mereka tidak mengerti maksudnya.
"Oma, Mommy, Bunda, Kakak. Kalian kenapa sih?" tanya Darren heran.
"Nggak apa-apa sayang," jawab Gisel lalu tersenyum.
Hari beranjak siang. Terra dan anak-anak sudah bangun. Wajah wanita itu pun sudah segar. Haidar memeluk istrinya dari belakang secara perlahan.
"Sayang ... nanti malam, ya," bisiknya mesra lalu memberi tanda di tengkuk sang istri.
Terra sampai geli mendapat gigitan mesra dari suaminya. Ia hanya mengangguk menjawab permintaan Haidar. Walau ia tak yakin akan bisa melakukannya.
"Kita lakukan secara diam, tenang dan buru-buru," bisik Haidar lagi menggoda.
Terra hanya bisa manyun Sungguh, ia ingin menikmati momen percintaan dengan suaminya. Ia ingin merasakan sel-sel dan syaraf di seluruh tubuhnya bergetar saat Haidar menyentuhnya.
Terra menyandarkan dirinya di tubuh sang suami. Merasakan pelukan Haidar, mencium bau alami tubuh pria itu.
"Hey, ayo makan!" ajak Khasya mengagetkan keduanya.
Mereka pun makan dengan lahap. Usai makan semuanya kembali berkumpul dan bercerita. Anak-anak naik ke kamar mereka lalu tidur siang. Terra kembali merasa pusing. Ia pun merebahkan diri di ranjang. Haidar masuk. Lalu duduk di pinggir ranjang.
"Kita periksa besok ya," pinta Haidar dengan kecemasan tinggi.
Terra mengangguk setuju. Haidar pun merebahkan tubuhnya di sisi sang istri memeluk Terra erat dan berciuman.
"I love you," ungkap Haidar tulus.
"I love you too," balas Terra ta .kalah tulus.
Mereka pun kembali berciuman. Lalu mereka pun tertidur karena kelelahan. Keduanya memang kurang istirahat karena begitu banyak pekerjaan yang menyita waktu.
Ketika malam menjelang semuanya sudah terlelap di kamar. Anak-anak juga sudah pulas. Kini sepasang suami-istri tengah melakukan aksinya.
Betapa sang pria mencumbu sang wanita dengan penuh pemujaan dan kelembutan. Sebisa mungkin keduanya menikmati momen penyatuan ini.
Keduanya saling memburu dan memberi kenikmatan. *******, lenguhan dan deru napas terengah. Peluh keduanya menetes membanjiri tubuh. Mereka melakukannya secara pelan, diam namun tidak terburu-buru.
Hingga ketika mencapai satu titik. Keduanya mulai mempercepat tempo permainan. Hingga keduanya mengejang. Mata keduanya terpejam. Saling memberi dan menerima limpahan cinta.
Keduanya terkulai lemas di ranjang. Memang tidak ada anak-anak di sana. Mereka tidak bersuara karena kamar mereka tak dipasangi kedap suara.
"Sayang ...," panggil Haidar dengan suara parau.
"Ya, sayang," sahut Terra dengan napas menderu.
"One more, please," pinta Haidar lagi.
Terra tersenyum lalu kemudian ia mengangguk. Keduanya kembali menikmati sensasi panasnya. Haidar berdoa agar apa yang ia lakukan kali ini berhasil. Begitu juga Terra. Ia ingin memilki anak lagi.
bersambung ....
semoga aja yaa.
next?