TERRA, THE BEST MOTHER

TERRA, THE BEST MOTHER
BERTEMU2



Sedang di dalam tempat praktek Lidya tampak, Dominic tengah berbaring di kiri konsultasi. Sebuah curahan hati mengalir dari bibir pria itu. Jac tak lepas memandangi Putri, hingga gadis itu menunduk dan bersemu merah.


Jac memastikan hatinya. Ia memang sudah jatuh pada pesona gadis itu. Kemarin di Eropa, sudah berbagai cara ia hendak mencari gadis lain. Tetapi, wajah Putri yang selalu muncul di otaknya. Ia sudah terpenjara oleh pesona gadis asal Indonesia.


Dominic telah menceritakan keluhannya. Kesepian adalah faktor utama pria itu.


"Sudah coba pelihara hewan, seperti anjing, kucing atau kura-kura?" tanya Lidya.


Pria itu menggeleng.


"Mungkin bisa membuat sebuah aquarium sederhana untuk pelepas stress di rumah?" lagi-lagi Lidya memberi saran.


Dominic seperti berpikir. Ia merasa lucu jika di rumahnya dihiasi sebuah aquarium besar yang menampakan ikan warna-warni.


"Sepertinya, peliharaan ikan hias, juga tak masalah bukan?" ujarnya.


Lidya mengangguk. Dominic tersenyum. Ia menatap putranya yang memandang Lidya penuh pemujaan.


"Lidya, putraku sangat menyukai dirimu. Tolong katakan, bagaimana perasaanmu padanya?" tanya pria itu serius.


Lidya menunduk. Jantungnya berdetak cepat. Sungguh, ia juga memiliki rasa, lalu kelebatan keluarga membuat senyumannya luntur.


"Ada apa, Nak? Apa yang mengganggumu?" tanya Dominic lagi.


"Jika, kau ijinkan. Aku akan mendatangi keluargamu dan memintamu untuk putraku. Bagaimana?"


Lidya membelalak. Ia cukup terkejut dengan rencana pria itu.


"Saya hanya mengikuti takdir, Tuan. Saya hanya takut, itu akan menyulitkan Mas Demian," jawab Lidya.


Dominic bukan tidak mengetahui siapa keluarga gadis itu. Dougher Young, merupakan keluarga pebisnis yang begitu hebat dan sangat berkuasa. Bahkan memonopoli bisnis. Ia juga sedikit takut jika berurusan dengan keluarga adikuasa itu. Tetapi, Dominic juga meyakinkan diri. Ia juga memiliki kekuasaan dan kekuatan yang mampu menyamai Dougher Young.


"Apa Mas Demian bisa meyakinkan keluarga besar saya, terutama Papa, Daddy dan Ayah?"


Dominic terdiam. Ia lupa dengan Keluarga Pratama dan Triatmojo. Dua keluarga yang tak bisa dipandang sebelah mata. Terlebih, kemarin seluruh layar televisi memberiakan pengangkatan dan penyematan gelas bangsawan pada keturunan terakhir mereka, Raden Ayu Terra Arimbi Hugrid Dougher Young.


Dominic menelan saliva kasar. Putranya benar-benar harus berjuang keras untuk mendapatkan tuan putri kesayangan keluarga.


"Maaf, yang kau panggil Daddy itu ...."


"Tuan Virgou Black Dougher Young," sahut Demian cepat.


Keringat dingin menetes di kening Dominic. Monster terkejam yang ia ketahui. Sepak terjang Virgou di dunia mafia sudah bukan rahasia lagi. Terlebih, kemarin pria itu mengobrak-abrik kandang mafia.


"Nak, kau harus menghadapi mereka. Tunjukkan jika kau pantas untuk tuan putri kesayangan mereka!' ujar Dominic memberi semangat.


"How?" tanya Demian.


"Well, besok gala dinner. Tunjukkan semua kepintaranmu. aku dengar, Terra menyukai dunia cyber, kau juga menguasai itu," Demian tercerahkan.


Lidya baru hendak menyampaikan siapa ibunya, tetapi ia urung mengatakannya. Gadis itu ragu membuka akun rahasia sang ibu.


"Ah, aku lupa. Pencipta pengaman data adalah Terra Arimbi Hugrid Dougher Young!" sahut Demian.


Dominic langsung lemas. Lidya hanya tersenyum kecut. Tak ada kah orang yang mengalahkan kehebatan keluarganya?


"Jangan bilang Terra adalah Shadowviolet dan BlackLion?" Lidya mengangguk membenarkan..


"Kau memacari anak malaikat pencabut nyawa, Demian," sahut Dominic sedikit bangga.


Demian diam. Pria itu pernah menemui Terra. Menurutnya, wanita itu tak semenyeramkan kelihatannya.


"Hmmm ... aku akan buktikan jika aku layak mendapatkan Lidya, Dad!" sahut Demian yakin.


Lidya menunduk dengan rona merah di pipi.


"Lalu kau Jac?"


"Putri, aku mau melamarmu, bagaimana?"


Waktu berlalu. Malam pun menjelang. Darren tengah sibuk dengan semua pekerjaan yang tiada habisnya. Bahkan ia nyaris menginap di kantornya jika saja sang ibu tak memperingatinya untuk pulang.


"Biar beres semua, Ma. Darren kan bentar lagi mau nikah. Jadi, nggak mau numpukin pekerjaan," jelas pemuda itu.


Darren menyudahi kegiatannya. Rommy sudah bermuka lelah, begitu juga Aden dan Iskandar. Jenna sudah pulang sejak sore.


Semua merenggangkan ototnya.


"Ayo, calon pengantin. Kau harus pulang. Sepertinya Budiman sudah tertidur menunggumu di luar," ujar Rommy.


"Kau pikir aku bisa selemah itu menunggu tuan muda?" sahut Budiman tiba-tiba.


Pria itu masuk ruangan. Semua terkekeh. Semuanya pulang ke rumah mereka masing-masing. Sudah nyaris dua minggu Darren tak bertamu Aini.


Pria itu meraba jantungnya. Keningnya sedikit mengerut. Biasanya, setiap ia menyebut nama gadis itu, detak jantungnya akan berdegup kencang.


"Ada apa Tuan muda?" tanya Budiman ketika melihat wajah Darren yang kebingungan.


'Mungkin, karena sebentar lagi dia akan menjadi milikku, makanya jantung ini sudah terbiasa,' gumamnya dalam hati.


Sedang di rumah lain. Putri tak bisa memicingkan matanya sama sekali. Ungkapan dari seorang pria yang tak begitu ia kenal, membuatnya harus sport jantung pagi tadi.


"Tadi, Bang Jac ngelamar gue gitu?" gumamnya lirih.


Lidya sampai menangis haru mendengar ungkapan pria itu.


"Gue ngiri sama, Lo, Put!" kata Lidya.


"Tapi, gue belum ngiyain, loh," sahut Putri dengan muka bengong.


"Apa lagi yang Lo cari. Bang Jac ganteng, mapan dan kelihatannya dia baik juga jujur," sahut Lidya memberi penilaian.


Putri terdiam. Pagi tadi sudah membuatnya panas dingin seharian. Gadis itu telah membelikan rumah layak bagi keluarganya. Usaha laundry yang Terra berikan, telah diberikan pada orang lain yang membutuhkan, dan itu pun atas persetujuan Terra.


Putri dan adiknya sudah bisa membiayai kehidupan keluarganya. Sang adik kini bekerja di sebuah perusahaan besar milik Demian. Perusahaan itu membutuhkan teknisi lapangan. Adiknya sudah bekerja selama satu tahun yang lalu. Kini, ia tengah mengambil sebuah rumah kecil untuk keluarganya kelak. Pacarnya sudah ngebet minta nikah.


"Aaahhh ... pusing gue ... pusing!" sentak Putri kesal.


Hal itu sukses membuat sang ibu yang tengah ke dapur jadi terkejut mendengar teriakan putrinya.


Nania pun masuk dengan wajah kesal..


"Putri, kenapa kau teriak malam-malam?" tegur wanita itu.


Putri menutup mulutnya. Ia lupa jika ada di rumah. Nania duduk di tepi ranjang putrinya. Putri duduk dan meletakkan kepalanya di pangkuan sang ibu.


Dengan penuh kasih sayang, wanita itu mengelus Surai hitam milik anak perempuannya itu.


"Mak," panggil sang gadis.


"Hmmm," sahut Nania.


"Adik, apa sudah melamar kekasihnya?' tanya Putri.


"Adikmu masih mengumpulkan uang. Mahar dari Lena, sangat tinggi," jawab Nania.


"Emang berapa, mintanya?" tanya Putri penasaran.


"Seratus juta," jawab Nania datar.


"Apa?" Putri langsung tegak.


"Apa mereka gila, meminta mahar semahal itu?" pekiknya lagi.


"Ssshhh ... anak perempuan nggak boleh teriak-teriak!" tegur Nania lagi.


"Ayahmu juga, nggak tinggal diam. Ia sekarang tengah melakukan usaha kecil-kecilan. Ia akan membantu mengumpulkan uang maharnya," jawab Nania dengan nada tak yakin.


"Jika mereka jodoh, pasti mereka kan bersatu, walau bagaimanapun juga," ujarnya lagi lalu tersenyum memaksakan.


Putri terdiam. Sedang Dipto tengah melihat beberapa anak buahnya tengah mengerjakan lemari pesanan. Pria itu membangun usaha mebeul, seperti yang dulu pernah ia tekuni. Beberapa pelanggan yang dulu pernah memesan barang padanya, kini kembali lagi.


Waktu sudah menunjukkan pukul 22.15.. Pekerjaan pun sudah selesai. Tinggal tunggu kering cat saja.


"Makasih, ya. Ini bonus lembur kalian. Maaf, segini dulu. Nanti, jika usaha ini makin berkembang, saya akan tambah lagi bonusnya!" ujarnya lalu memberikan amplop berisi uang.


Tiba-tiba, ia merasa pusing sekali. Tubuh pria itu tiba-tiba merosot. Para petukang panik.


Sosok gadis bertubuh bongsor datang.


"Ada apa?" tanyanya.


"Pak Dipto pingsan!" teriak mereka.


Gadis itu meminta semuanya menjauh untuk memberi ruang. Ia memeriksa nadi dan detak jantung.


"Bapak ini kelelahan dan kurang darah. kita harus membawanya ke rumah sakit!" ujarnya kemudian.


"Ada yang tau siapa keluarganya?" lanjutnya bertanya.


"Saya, tau!' pekik salah satu petukang.


"Tolong bilang, jika suami atau ayahnya saya bawa ke rumah sakit Pratama Hospital!" ujarnya.


Pria itu mengangguk. Dengan menggunakan sepeda motor, mereka pun menuju komplek perumahan tempat di mana ayah Putri tinggal.


bersambung.


ah ... moga selamat dan sehat lagi.


next?