TERRA, THE BEST MOTHER

TERRA, THE BEST MOTHER
RAPAT SAHAM 2



"Ponsel itu adalah barang yang paling rentan, untuk hilang dan gampang dicuri. Karena barang mudah di dapat, sebagian orang tidak menggubris atau melaporkan jika kehilangan ponsel mereka. Dan itu berbahaya sekali, jika kita menyimpan semua data perusahaan dalam ponsel tersebut!" Semua akhirnya terbelalak mendengar pernyataan Terra.


Kasak-kusuk terjadi. Sebagian mereka khawatir dengan data perusahaan yang ada di ponselnya dan sudah hilang alias dicuri.


"Terlebih jika SIM card juga hilang dan harus daftar ulang. Sudah pasti ID akan berubah," jelas Terra lagi. "Untuk itu chip merupakan tempat paling aman untuk menyimpan data."


Semua investor mulai tertarik. Mereka langsung berebutan menanamkan invest mereka pada proyek ini. Karena banyaknya pergerakan uang, nilai saham mulai naik.


Para pemegang saham yang tertangkap tadi, sudah ambil alih atas dasar pengembalian harta kekayaan perusahaan. Saham sebesar 25% itu dijual bebas. Haidar langsung membeli sebanyak 10%. Sedang Sofyan menggenapkan sahamnya menjadi 5%. Sedangkan sisanya dibeli oleh sebuah perusahaan lain.


"Kami juga akan mengeluarkan produk baru, yakni sebuah ponsel khusus untuk memuat dan mengakses data perusahaan. Ponsel tersebut masih dalam penyempurnaan," lanjutnya. "Untuk selanjutnya akan saya serahkan pada pihak program pengembangan proyek!"


Salah seorang pria mengambil alih penjelasan. Banyak investor berbinar-binar mendengar proyek terbaru. Anak perusahaan baru milik Terra akan menjalin kerja sama untuk membuat ponsel tersebut.


Sebagai pebisnis, Haidar tentu sangat antusias. Kebetulan ia juga memiliki usaha bahan mentah untuk membuat ponsel.


Terra dan Rommy nampak berdiskusi untuk membicarakan proyek baru tersebut.


"Bagaimana Kak. Hasil dari penelitian kita, sampai berapa kedalaman ponsel itu bisa bertahan dan berapa lama?' tanya Terra.


"Menurut riset. Saat ini sudah memasuki hari ketiga dan sudah mencapai kedalaman lima ratus kilometer di bawah permukaan laut, ponsel itu masih menyala," jelas Rommy.


"Bagaimana dengan data-datanya. Apa bisa dipindahkan dengan cepat?" tanya Terra lagi.


"Untuk garis besar data, sudah ter-backup dua puluh menit setelah ponsel tercebur. Sedangkan untuk keseluruhan data, hingga hari ini baru mencapai 65%," jelas Rommy lagi.


"Berarti, belum aman hingga mencapai 80% sesuai ekspektasi kita ya?" tanya Terra.


"Benar. Tapi, itu sudah termasuk lebih baik dari pada sebelumnya yang hanya bisa 14% saja data yang ter-backup!" jelas Rommy lagi.


"Baiklah. Bagaimana dengan yang ditanam?" tanya Terra.


"Sampai saat ini, sudah delapan hari masih berfungsi dan data sudah 100% ter-backup keseluruhan," jelas Rommy lagi.


Terra mengangguk puas. Hanya tinggal mendeteksi barang jika terjatuh, terlindas hingga hancur. Penelitian yang menguras banyak biaya. Beruntung para investor terus berdatangan untuk ikut andil dalam pengembangan usaha baru ini.


"Te ... Darren memecahkan Game hingga level sembilan dan selesai hanya dalam waktu empat puluh lima menit!" tiba-tiba Gunawan datang dengan napas terengah-engah.


"Apa!" Terra terkejut. Sebuah senyum bangga tak sadar ia kembangkan.


Memang ia membawa ketiga anaknya ke kantor. Mereka berada di ruangannya. Terra membebaskan Darren untuk menyentuh apa pun di sana, bahkan komputer.


Siapa sangka, bocah itu tertarik dengan game yang ada di komputer Terra.


"Kita ke sana!" Ujar Terra bersemangat.


Dengan menaiki lift khusus, mereka menuju ruangan di mana Darren dan adik-adiknya berada.


Ketika sampai ruangan. Tampak Lidya tengah bermain boneka ditemani bik Romlah dan Rion yang asik berguling.


Darren yang duduk di kursi kebesaran langsung turun dengan wajah tertunduk, takut.


"Sayang," panggil Terra lembut.


"Maaf, Ma," cicit Darren takut.


"Tidak apa, sayang. Mama justru bangga denganmu. Sekarang apa bisa kamu jelaskan bagaimana kau menyelesaikan game ini?" tanya Terra ketika sudah duduk dan menghadap komputer.


Darren hanya diam. Kepalanya masih tertunduk. Terra bangkit langsung memeluknya.


"Sayang ... hei, tidak apa-apa. Mama tidak marah," ujar Terra kemudian mengecup kening Darren.


Gadis itu menggandeng lengan Darren untuk ikut duduk di pangkuannya.


"Coba jelaskan, bagaimana kau menyelesaikan setiap levelnya?" pinta Terra.


Dengan nada pelan dan takut. Darren menjelaskan apa saja yang ia lakukan untuk menyelesaikan game yang Terra buat.


Secara seksama. Terra mendengarkan dan memperhatikan bagaimana putranya bisa menyelesaikan permainan itu dengan mudah. Apa benar dari kecerdasannya atau hanya kebetulan belaka.


Lagi-lagi Darren menyelesaikan permainan itu dua kali. Bahkan lebih cepat dari yang pertama. Terra yakin jika putranya itu benar-benar genius.


"Kak Gunawan. Tutup akses yang mengatakan jika level sembilan sudah terpecahkan. Darren memakai akun BlackLion!' ujar Terra.


"Aku sudah melakukannya tadi Te. Datamu aman!" ujar Gunawan.


Terra bernapas lega.


"Mama nggak marah sama Darren?" tanya Darren takut-takut.


"Tidak sayang. Mama malah bangga. Ternyata kamu adalah anak yang genius!" puji Terra.


"Makasih, Ma!" ujar Darren lalu memeluk Terra.


bersambung.


wah ... otak Darren sama dengan Terra. Genius!