
Waktu dini hari, Gisel dilarikan ke rumah sakit. Ia sudah merasakan kontraksi. Memang sudah bulannya untuk melahirkan. Mia dan Fery juga ikut. Dua orang tua itu membawa tas berisi perlengkapan menantunya.
"Kau bersama istrimu. Biar tas ini Bapak yang pegang," ujar Fery ketika Budiman ingin mengambil tasnya.
"Iya, Nak. Ayo, jangan banyak pikiran lain!" ajak Mia mendorong putranya memapah Gisel yang meringis setiap dua puluh menit sekali.
Fery sudah menelepon Bart, mengatakan jika cucunya akan melahirkan. Bart yang sedang tertidur sampai langsung terlonjak. Ia pun menelepon Virgou. Gabe, istri dan anak-anaknya sudah pulang dua hari setelah pernikahan David dan Seruni. Leon memang memilih tinggal hingga putrinya melahirkan.
Virgou yang baru selesai shalat sunnahnya itu langsung sigap, membangunkan sang istri yang yang masih terlelap.
"Sayang. Aku pergi dulu, ya. Gisel melahirkan."
"Heemm ...," ujar Puspita menyahuti.
Virgou mengecup keningnya. Lalu bergegas ke rumah di mana Bart dan Leon tinggal. Puspita yang setengah sadar itu mencoba mengingat apa perkataan suaminya tadi.
"Apa tadi katanya? Gisel melahirkan?" tanyanya bergumam lalu tertidur lagi.
Tiba-tiba ia pun terlonjak bangun setelah menyadari semuanya.
"Mashaallah ... Gisel melahirkan!" pekiknya senang.
Wanita itu mencoba menelepon Terra dan Herman. Melihat jam di dinding kamar, masih pukul 03.00 dini hari. Ia yakin semua sudah bangun untuk shalat sunnah.
Pertama, Haidar mengangkat telepon milik istrinya. Puspita langsung memberi kabar jika Gisel akan melahirkan. Lalu kedua Khasya yang mengangkat ponsel suaminya.
"Bun, Gisel akan melahirkan!" pekiknya.
"Assalamualaikum, sayang," tegur Khasya sambil mengucap salam.
"Hehehe ... wa'alaikumussalam Bun. Cuma mau ngasih tau itu aja," sahut Puspita sambil terkekeh.
"Iya, sayang. kita doakan agar proses lahirannya lancar ya," ujar Khasya..
*Aamiin. ya sudah Bun. Aku tutup ponselnya ya. Assalamualaikum!"
"Iya, wa'alaikumussalam!"
Gisel menutup ponselnya. Ia pun memberi pesan pada Dav jika adiknya akan melahirkan. Baru saja ia meletakkan ponsel, benda itu berdering. Ia pun mengangkatnya.
"Melahirkan di rumah sakit mana, Kak?" tanya Dav langsung.
"Assalamualaikum, Dav!" kini gantian Puspita yang menegur Dav.
"Eh .. wa'alaikumussalam, Kak!' jawab Dav di seberang telepon.
Puspita sangat yakin jika kini pria itu tersenyum kikuk.
"Tumben sekali pengantin baru jam segini sudah bangun ... atau jangan-jangan ...?" Puspita menggoda adik iparnya itu.
"Ah, seperti Kakak tidak mengalaminya saja!" sahut pria itu di sana sedikit kesal.
Puspita terkekeh. Ia juga sangat ingat, Virgou tak membuatnya tak bisa bangun akibat itu.
"Ya, sudah. Aku hanya mengatakan kabar itu. Kita doakan agar semuanya lancar, ibu dan Babynya selamat," sahut Puspita.
"Aamiin!" sahut Dav di seberang telepon.
Sambungan pun terputus setelah mengucap salam tentunya. Puspita kembali merebahkan tubuhnya di kasur. Akhir-akhir ini dia memang sering kelelahan dan mengantuk. Tiba-tiba ia meraba perutnya.
"Tidak-tidak ... aku tak mungkin hamil lagi!" pekiknya tertahan.
"Tapi, kalau Allah berkehendak. Ya, mau apa lagi?" ia pun pasrah akhirnya.
Sedang di rumah sakit, Virgou, Bart dan Leon datang ke ruangan di mana Gisel tengah menantikan bukaan mulut rahimnya. Ia masih dalam bukaan lima. Dokter menyuruhnya berjalan-jalan sebentar melakukan olah raga ringan.
"Sayang!" panggil Leon.
"Daddy ... sakit Daddy!" pekiknya sambil merengek.
Leon langsung menggantikan Budiman dan mengelus perut putrinya. Tiba-tiba ponsel Bart berbunyi. Patricia melakukan panggilan video. Bart langsung mengangkatnya. Pria itu mengaktifkan kamera belakang. Fery dan Mia hanya diam dan berdoa
"honey, don't do anything heavy! Just relax!" ucap Patricia di layar.
"Mommy .. is hurt!"
"I know ... baby, but you've felt it twice haven't you?"
"Masih kuat berjalan ke ruang persalinan?" tanya dokter lagi yang ditanggapi anggukan dari Gisel.
Semuanya pun berjalan ke ruang persalinan Hanya Budiman dan Leon yang masuk sedang Bart dan Virgou, Mia dan Fery duduk di ruang tunggu yang ada di depan ruang persalinan. Hanya butuh waktu dua puluh menit. Terdengar suara tangisan bayi yang begitu kencang. Pukul 04.20. Bart dan Virgou, saling berpelukan. Sednagkan Fery dan Mia mengucap hamdalah. Leon keluar dengan wajah penuh kelegaan. Pria itu langsung memeluk ayahnya.
"Kita kedatangan pangeran lagi, Dad!" lapornya.
"Thanks Lord!" puji Bart bersyukur.
Virgou pun langsung mengucap hamdalah. Mia memeluk suaminya. Kedua juga tak berhenti mengucap syukur.
"Kenapa tadi lama sekali. Apa yang terjadi?" tanya Bart kemudian mengingat waktu sedikit lebih lama.
"Bayi sempat terlilit tali pusar. Jadi Dokter melakukan treatment untuk membuka tali pusat itu agar tak menjerat leher bayi!" jawab Leon.
Bart hanya bisa bernapas lega. Walau ada sedikit kendala. Tapi, Leon mengatakan dua-duanya sangat sehat dan baik-baik saja.
Satu jam sudah, Gisel mengeluarkan bayi yang kembali berjenis kelamin laki-laki. Wanita itu hanya bisa bersyukur, jika putranya itu baik-baik saja, walau sempat terlilit tali pusat.
"Baby, kau main bola ya di dalam sana?" tanya dokter ketika membuka tali pusat di leher bayinya.
Gisel berasa geli ketika jemari dokter itu masuk ke area intimnya. Wanita itu memejamkan mata dan menggigit bibir bawahnya.
Setelah melakukan treatment selama sepuluh menit melepas tali pusat. Akhirnya bayi tampan itu pun lahir ke dunia dengan suara kencangnya.
"Assalamualaikum, Dirgantara!" sapa Budiman pada bayi yang terletak di box.
Mendengar namanya, Gisel mengerucutkan bibir. Ia juga ingin menamai bayinya.
"Muhammad Sky!" sahut Gisel sambil cembetut.
"Heeem .. baik lah. Muhammad Sky!".sahutnya.
Leon memutar mata malas. Padahal ia juga telah menyiapkan nama untuk cucunya.
"Ah, jika Seruni melahirkan nanti, biar namanya dari ku!" sahutnya menggerutu
Semua menoleh karena mendengar gerutuannya.
"Jangan sedih, Besan. Bahkan aku juga tak bisa menamai cucuku sendiri," sahut Fery sambil melirik kesal putranya.
Budiman hanya menggaruk kepalanya. Ia tak peduli itu. Pria itu sengaja menamai singkat semua putranya.
"Biar nggak susah hapalin namanya," begitu jelasnya beralasan.
Sedang di rumah Terra, Puspita datang bersama anak-anak yang diantar oleh Gomesh. Herman juga datang bersama. istri dan lima anaknya.
"Mana big boss nya para baby?" tanya Herman mencari Rion.
"Iya Ayah, pasukan ku bertambah lagi kan?" tanya remaja itu.
"Hahahaha ... kau memang rajanya para bayi!" seloroh Herman.
Puspita mengangguk, lalu melihat putra dan putrinya yang begitu menurut pada Rion. Bahkan kini mereka bergantian menggunakan via panggilan video.
"Belpom hom Baby!" sambut Rasya antusias.
"Manana spasa Baba?" tanyanya kemudian.
"Namanya Muhammad Sky!" jawab Budiman.
"Stay?"
"Sky!"
"Biya Stay!" sahut Rasya membenarkan ucapannya.
Maka terjadilah perdebatan nama antara bayi dan Babanya.
bersambung.
welcome Sky!
next?