TERRA, THE BEST MOTHER

TERRA, THE BEST MOTHER
MASIH DILINGKARI TRAUMA 2



Terra tak tahan. Rapat belum usai. Ia sudah berdiri. Hatinya gelisah dari tadi. Ponselnya mati kehabisan daya. Ia lupa men-charge tadi subuh.


"Kak, tolong lanjutkan. Berikan laporannya secara detail via Email!" titah Terra.


"Baik, Nona!" sahut Rommy lalu menyuruh Rosena melanjutkan laporannya.


Terra keluar ruang meeting. Budiman sudah menunggunya penuh kecemasan.


"Kak. Ponsel kami kehabisan daya semua. Tadi Bik Romlah menelpon, tapi tak bisa kami angkat karena langsung mati," jelas Budiman dengan wajah mulai cemas.


"Kita pulang!" titah Terra dengan langkah lebar.


Budiman dan Hilman mengikuti Terra. Sampai lobby Haidar juga baru turun dari ojek online. Wajahnya juga sangat cemas.


"Sayang!" panggil Haidar.


"Kita berdoa saja, Mas," cicit Terra juga mulai panik.


Mereka berempat masuk mobil. Terra menyuruh Budiman untuk menggunakan kecepatan penuh. Butuh waktu tiga puluh menit mereka sampai rumah.


Virgou dan Herman juga datang bersamaan dengan kendaraan masing-masing. Terra makin pucat. Pintu terbuka semua menoleh.


"Nyonya ... Den baby sama Non Lidya!" pekik Romlah lalu menangis pilu.


Terra melangkah kan kakinya cepat begitu juga Haidar, Herman dan Virgou. Begitu sampai di ruang tengah.


"Baby ... Lidya!' pekik Terra.


Anak-anak semua menangis memanggil kakak mereka. Virgou dan Herman menenangkan balita kembar tersebut.


"Apa yang terjadi!" bentak Haidar pada Juan dan Chris.


Keduanya pun menceritakan kejadian sebenarnya. Mereka tidak mengetahui jika kedua tuan kecil mereka takut dengan badut.


"Sudah, Mas. Panggil Dokter!" pinta Terra.


Wanita itu terus memanggil Rion dan Lidya. Sedang Haidar langsung menelpon dokter pribadinya.


"Baby, princess .. ini Mama sayang, jangan takut, Nak ... hiks ... hiks!"


"Mama ... tolong Ion Mama!" tiba-tiba Rion berteriak ketakutan.


"Mama!" panggil Lidya lalu menangis ketakutan.


Terra makin perih melihat keduanya begitu menderita. Sungguh, trauma itu masih melingkari kejiwaan dua anaknya itu. Andai ia bisa membangkitkan jenazah Firsha, ingin ia cekik berulang-ulang dan mati berkali-kali ditangannya.


Terra memeluk keduanya. Memberikan kekuatan. Ia meyakinkan jika semuanya tidak ada yang perlu ditakuti lagi.


"Sayang, Baby ... princess!"


Lidya langsung sadar. Ia menatap wanita yang selalu ia rindukan semasa ia disakiti dulu.


"Mama ... Mama datang ... makasih Mama ... makasih!" ungkapnya lalu memeluk Terra erat.


Rion masih memandang kosong. Terra terus memanggil pria kecilnya itu. Lidya pun mulai memeluk adiknya.


"Baby, bangun. Ada Mama di sini," panggilnya.


"Mama!" panggil Rion.


"Baby!"


"Mama ... huuuu ... uuu ... Mama!"


Terra memeluk dua anaknya penuh dengan kasih sayang. Ia harus berpikir keras untuk menghilangkan trauma anak-anak. Masalahnya dua juga takut sama badut.


Dokter datang memeriksa Lidya dan Rion. Dokter menyarankan agar keduanya harus menghadapi ketakutannya sendiri.


"Kalian akan terus takut jika kalian tidak mau berani. Mama dan lainnya tidak bisa membantu jika kalian tidak mau keluar dari rasa takut itu!" seru Virgou menatap kedua anaknya.


"Daddy janan balah-balahin Tata Ion pama Tata Iya!" bela Sean galak.


"Daddy tidak marah sayang. Daddy cuma kasih tau sama Kakak Lidya dan Kakak Rion biar nggak takut sama badut lagi," ujar Terra menenangkan Sean.


Virgou yang gemas ingin sekali mencium wajah garang Sean itu.


"Oh ... betitu."


Ia pun. duduk di samping Herman. Haidar gemas bukan main ia menciumi keempat anaknya. Keempatnya pun tergelak.


Virgou menatap Lidya dan Rion. Hatinya hancur melihat betapa mereka masih ketakutan akan sosok badut.


Virgou memeluk keduanya. Melabuhkan ciumannya pada dua anak yang sudah merebut hatinya. Terutama Lidya. Bagaimana gadis kecil itu bisa menyembuhkan luka hati orang jika dirinya sendiri tidak bisa ia sembuhkan.


"Sayang, dengarkan Daddy. Badut itu hanya mencari uang. Bahkan di film Joker juga ia mencari uang. Lihat Mama kalian. Dia juga takut badut loh," sahut Virgou.


"Lidya dan Rion kan bisa bela diri. Jadi kalo ada yang jahat, kamu boleh lawan," lanjutnya.


"Iya Daddy, boleh?" tanya Rion serius.


"Tentu boleh," ujar Virgou.


"Jadi jangan takut sama badut, orang tadi lagi cari uang. Oteh," lanjutnya.


"Oteh," sahut keduanya.


Kini Virgou pun menampilkan foto badut pada keduanya. Masih terkejut.


"Ayo, lawan rasa takutmu. Ini hanya gambar. Dia tidak akan menyakitimu," ujar Virgou mendorong keduanya untuk semakin berani.


Lama kelamaan, Lidya dan Rion pun sudah terbiasa. Lalu Virgou memperlihatkan riasan badut yang lebih seram lagi. Masih kaget, tapi sudah itu biasa saja.


Virgou menghentikan aksinya. Ia memeluk keduanya. Terra menghapus jejak air matanya. Budiman pun sudah memberi pengarahan pada bodyguard baru jika Darren, Lidya dan Rion merupakan anak-anak yang baru saja terlepas dari siksaan ibu kandung mereka. Bahkan hubungan antar Terra dan ketiga anak yang adalah adiknya.


"Jadi apa kalian sudah jelas?"


"Siap. Jelas, Pak!" seru semuanya.


Budiman pun meninggalkan pasukan pengawal. Kembali ke dalam, ia bernapas lega Lidya dan Rion hanya shock berlebihan. Kata dokter, kedua anak itu harus lepas dari rasa takutnya sendiri.


Darren pulang dalam rasa khawatir yang dalam.


"Mama, Darren tadi nggak nyaman di kelas. Nggak ada sesuatu yang terjadi kan?"


"Tadi, Baby dan Lidya lihat badut. Traumanya kembali menghantui jiwa mereka," jelas Terra.


Darren memeluk kedua adiknya. Lidya dan Rion meminta maaf karena telah membuat semuanya khawatir.


"Dik ... kalian dengar kakak ya. Orang jahat itu sudah tidak ada. Di sini semua sayang sama kita bertiga, lihat Kakak. Kalian harus lebih berani lagi ya!" ujar Darren memberi semangat pada adik-adiknya.


"Iya Kakak!" sahut keduanya.


Rion pun berjanji. Tidak ada yang perlu ditakuti. Semua menyayangi mereka.


"Benar Baby. Wanita jahat itu sudah tidak ada lagi. Jadi buat apa kita takut?" tanya Lidya.


Rion mengangguk.


"Iya, wanita itu sudah tidak ada. Mama ada untuk kita. Jadi jangan buat Mama dan Papa juga semuanya khawatir lagi."


Ketiganya saling berpegangan tangan. Darren menatap dua adiknya. Ia mengangguk meyakinkan jika semuanya baik-baik saja.


"Ayah dan Kakak kenapa bisa barengan ke sini?' tanya Terra bingung pada dua pria yang sedang bermain dengan si kembar.


"Aku tadi seperti ada yang memanggilku. Makanya aku langsung ke sini," jawab Herman lalu memeluk gemas Nai.


"Iya, aku idem!" sahut Virgou.


"Daddy, mawu mium!" pinta Al merajuk.


"Emm nggak ah .. Sean belum sikat gigi," tolak Virgou.


"Daddy!" bentak Sean marah.


Pria itu terkikik geli. Dengan senang hati ia mencium balita menggemaskan itu.


"Nya, makan siang sudah siap," ujar Juni memberi tahu.


"Oh, apa sudah dibagi pada tim?" tanya Terra.


"Sudah, Nyah," jawab Juni.


"Ayo makan semua!" ajak Terra.


Budiman, Haidar, Herman dan Virgou duduk di kursi anak-anak balita duduk di kursi khusus mereka. Rion, Darren dan Lidya sudah duduk di kursi biasa. Setelah berdoa mereka pun makan bersama. Terra membantu keempat anak kembarnya.


bersambung.


Alhamdulillah ... akhirnya mereka pun lepas dari trauma.


next?