
Haidar kembali menemani Terra mendatangi kantor polisi. Terra meninggal anak-anak di rumah. Bik Romlah menjaga keduanya. Tadinya, gadis itu ingin membawa kedua anak ikut serta. Tapi, Lidya menolak dengan alasan anak-anaknya yang dimaksud adalah boneka-bonekanya sedang sakit jadi butuh istirahat. Sedang Rion mulai terlelap setelah mengacak-acak mainan Lidya hingga gadis kecil itu menangis.
Terra dan Haidar pun pergi setelah menenangkan Lidya dan menyusun kembali boneka-bonekanya.
Haidar mengendari mobil sportnya bersama dengan Terra. Mobil Ducati warna putih itu melesat cepat menuju kantor polisi. Butuh waktu satu jam lebih untuk sampai sana. Karena macet dan lain sebagainya.
Setelah sampai kantor polisi, mereka langsung mendatangi ruang penyidik. AKP Agus sudah menunggunya di sana.
"Selamat pagi, Pak, Mba!" sapa AKP Agus sambil menyalami keduanya kemudian menyuruh mereka duduk.
Terra dan Haidar duduk berdampingan di depan kepala resor kepolisian setempat dihalangi meja tugas polisi tersebut.
"Begini. Sebelumnya, saya selaku polisi meminta maaf sebesar-besarnya kepada pihak Mba Terra sekeluarga," ujarnya dengan nada menyesal.
"Kami mendapat laporan, jika jenazah Nyonya Firsha ternyata berada di lab sebuah rumah sakit yang bekerjasama dengan sebuah universitas untuk penelitian para calon dokter di sana." Terra shock mendengar penjelasan itu.
"Sungguh kami kecolongan. Karena waktu itu, Mba hanya fokus dengan korban prianya. Sedang mayat Firsha sedikit terbengkalai. Tidak ada satu keluarga yang datang menanyakan kondisi mayat korban bernama Firsha saat itu. Jadi, pihak forensik menghentikan otopsi dan langsung menaruhnya di kamar mayat. Mungkin karena tidak ada kerabat dan keterangan apa pun, jadi mayat atas Firsha diambil oleh pihak universitas untuk menunjang pendidikan."
Penjelasan panjang lebar dari AKP Agus, membuat Terra hanya bungkam. Sungguh jika bukan karena wanita itu adalah ibu yang melahirkan ketiga anaknya, mungkin ia akan membiarkan semuanya dan tidak mau tahu keadaan Firsha.
"Korban Firsha meninggal di tempat dengan kepala pecah. Sedang tubuh dan dalamnya masih bagus. Mungkin karena ini lah pihak universitas mengambil mayat koban guna penunjang pendidikan," jelas AKP Agus sangat tidak enak hati.
"Tapi masalahnya, Firsha itu memiliki tiga anak walau masih kecil-kecil kan Pak?" ujar Haidar dengan nada kecewa.
"Iya, kami tahu. Itulah yang menjadi kesalahan kami. Untuk itu kami sangat memohon maaf atas keteledoran ini," ungkap AKP Agus dengan nada menyesal.
Terra tak bisa apa-apa, gadis itu juga merasa banyak berhutang budi pada pihak kepolisian untuk mengurusi jenazah ayahnya waktu itu. Belum lagi ketika pemindahan makam kemarin.
"Lalu sekarang bagaimana kondisi dari mayat wanita itu, Pak?' tanya Terra datar, gadis itu masih shock.
"Menurut informasi yang saya dapatkan. Kondisi mayat korban sudah tidak utuh lagi," jawab AKP Agus.
"Maksudnya tidak utuh?' tanya Haidar kini dengan nada gusar.
AKP Agus menghela napas berat. Sungguh, ia sudah memberi hukuman pada bawahannya yang teledor atas kejadian ini, bahkan dia sendiri sudah melaporkannya pada pihak penyidik atas kejadian ini.
"Maksud saya, kondisi mayat korban tidak sebagus awal. Semua bagian organ vital di dalam tubuhnya menjadi alat penelitian," jawab AKP Agus dengan sangat menyesal.
"Apa jangan-jangan ada yang didonorkan tanpa sepengetahuan anda?" terka Terra tiba-tiba.
Deg!
AKP Agus tersadar. Ia belum menanyakan hal tersebut. Masalahnya ia hanya fokus pada di mana mayat korban berada.
Pria gagah itu langsung menyambar ponselnya. Menekan layar dan mulai menelepon.
"Halo ... coba cek atas nama korban yang tadi saya tanyakan, apa ada bagian tubuh yang didonorkan?" tanyanya dengan nada gusar.
"....."
"Iya cepat, saya tunggu ini!" teriaknya tak sabaran.
".........."
"Apa kau yakin?!" tanyanya sedikit lega.
".......!"
"Baik. Terima kasih. Lanjutkan pekerjaan. Selamat siang!" AKP Agus memutuskan sambungan telepon.
"Alhamdulillah tidak ada satu organ tubuh yang didonorkan. Karena, sudah lebih dari satu hari di kamar mayat, jadi semua organ sudah mati dan tidak berfungsi lagi," jelasnya kemudian.
Terra bernapas lega. Namun, gadis itu kembali murung. Ia bingung bagaimana menyampaikan hal ini pada Darren. Pria kecil itu adalah anak tertua dari Firsha, tentu hanya Darren yang berhak memutuskan semuanya.
Setelah semuanya selesai dengan damai. Mereka meninggalkan kantor polisi. Terra hanya diam sepanjang perjalanan pulang. Haidar hanya sesekali mencuri pandang pada gadis itu.
"Sayang ... jangan kau pikirkan sendirian. Ada aku di sini, berbagilah," ujar Haidar menyemangati Terra.
Tangan Haidar meraih jemari Terra, digenggamnya erat jemari itu. Menyalurkan perasaan hangat dan nyaman pada gadis yang sangat ia cintai. Kemudian mengecup punggung tangan Terra dengan mesra.
Terra tersenyum tulus. Sungguh gadis itu sangat berterima kasih dengan adanya Haidar di sisinya. Entah apa yang terjadi jika tidak ada pria itu.
"Te, nanti sore kamu ada kelas ya?" Terra mengangguk.
"Iya, nanti sore, Te ada kelas. Kan, Mas yang jadi dosennya."
Haidar terkekeh. Sedang Terra hanya manyun. Tiba-tiba.
Cup.
Terra kembali mengecup pipi Haidar. Pria itu tersenyum lebar. Sedang Terra langsung menjauhi wajah dan menutupinya dengan tangan karena malu.
"Hei, kau sekarang mulai genit ya," seloroh pria itu.
Bersambung.