TERRA, THE BEST MOTHER

TERRA, THE BEST MOTHER
IDENTIFIKASI



Jenazah yang tak dikenali kini ada di hadapan Aini. Tiga tubuh hangus. Tak ada satu pun benda yang menempel yang dapat dikenali sebagai paman dan bibinya.


"Saya tidak mengenali yang mana mereka, Prof!" sahutnya pada pakar forensik.


"Satu-satunya cara adalah tes DNA," ujar Prof Nanda.


"Saya, minta potongan kuku, atau helaian rambut dua keluarga paling dekat," pintanya melanjutkan.


"Ada dua putranya," sahut Aini.


"Kalau begitu, saya minta potongan kukunya," ujar Prof Nanda.


Aini mengangguk. Ia pun bergegas ke kamar rawat dua adik misannya. Di sana sudah ada Darren, juga wanita yang pernah bertemu dengannya dan meminta untuk dipanggil Ibu.


"Pak Darren, Ibu ...," panggilnya.


Aini juga melihat kamar itu ada, Lidya, Putri, Demian dan Jacob. Mereka masih menunggu kabar darinya.


"Apa Kakak mengenali mereka?" tanya Lidya langsung.


Aini menggeleng. Ditya yang tak mengerti bertanya.


"Kok, Mba nggak kenal, Bapak sama Emak? Emang kondisi jenazah Bapak seperti apa?"


Suara jernih Ditya membuat siapa saja teriris hatinya. Terutama, Lidya dan Terra. Kedua perempuan itu ada di kondisi yang sama dengan bocah laki-laki ini.


"Dek," panggil Aini dengan suara tercekat.


"Mba, bial Adit yang lihat. Adit pasti kenal sama Emak dan Bapak," sahut Radit sangat yakin.


Semua meneteskan air mata. Kedua bocah itu bingung. Kenapa semua orang dewasa tak bisa menahan kesedihannya.


"Kok pada nangis sih?" tanya Ditya.


"Tidak, Nak ... tidak ada apa-apa," sahut Terra mengusap air matanya.


"Coba lihat kuku Adit sama Mas Ditya," pinta Aini dengan suara tercekat.


Demian dan Jacob memang tak mengerti bahasa yang digunakan. Tetapi, suasana yang sedih dan begitu menyakitkan sangat mereka pahami.


"Wah, kukunya panjang. Kita potong ya," ujar Aini.


"Mba, sebenarnya ada apa?" tanya Ditya.


Terra mengecup kepala balita itu. Semestinya, bocah seusia Ditya tak mengerti akan hal sedewasa ini. Ia bisa melihat sosok putrinya saat itu di diri Ditya.


"Mas Ditya, tenang aja, ya. Biar jenazah, Bapak sama Emak, Mba yang ngurus," ujarnya memberi jawaban pada misannya itu.


Aini sudah mengambil gunting kuku dari tasnya. Ia pun mulai menggunting semua kuku-kuku kedua adiknya. Setelah itu, ia pun keluar lagi.


Ditya dan Radit bingung.


"Mas, Mba Aini kok pelgi lagi?"


"Buang kuku tadi Dek," jawab Ditya.


"Kan ada tempat sampah di sini?" sahut Radit menunjuk tong sampah di pojok ruang.


Terra mengusap kepala balita itu. Ia sangat tersentuh. Darren apa lagi. Ia merasa jika Aini memiliki kesamaan kisah dengan ibunya.


"Kalian jangan khawatir ya," ujar Darren menenangkan keduanya.


"Mas, siapanya Mba Aini?" tanya Radit langsung.


"Yang sopan, Dek!" tegur Ditya.


"Tidak apa-apa, sayang. Perkenalkan, nama Saya Darren, ini Ibu saya, Terra, Itu adik saya Lidya, di sebelahnya ada Putri, Lalu Demian dan Jacob," ujar Darren memperkenalkan diri.


"Kami adalah sahabat baik, Mba mu," jawab Darren.


Ditya dan Radit mengangguk. Kasih sayang semuanya membuat keduanya lepas dari kesedihan. Darren sering mengajak mereka bercanda.


"Ah, maaf. Sepertinya saya dan Jacob undur diri dulu," tiba-tiba Demian pamit.


Terra mengangguk. Pria itu mencium punggung tangan wanita itu begitu juga Jacob. Sedang kedua adik kakak juga mencium punggung tangan kedua pria tampan itu.


"Ma, Iya nganterin Tuan Starlight, ya," ijin Lidya.


Terra mengangguk. Darren hanya bisa menghela napas panjang. Sebenarnya hatinya bergemuruh ketika melihat betapa Demian begitu dekat dengan adiknya. Putri mengikuti sahabatnya.


"Terima kasih, Tuan atas dukungannya," sahut Lidya tulus.


"Sama-sama. Tolong hubungi aku jika ada perkembangan baru. Aku juga sangat penasaran dengan semuanya," pinta pria itu.


Lidya mengangguk. Keduanya saling tatap. Begitu juga Jac, pria itu juga kini memandang Putri. Sedang gadis yang dipandang nampak menunduk malu. Keduanya pun pergi dari rumah sakit. Lidya dan Putri saling tatap lalu tersenyum satu dengan lainnya.


Putri melirik Gio, Felix dan Hendra yang menatap dingin dan datar. Ia pun terkekeh. Tak lama, Aini pun datang dengan wajah lelah.


Ketiganya pun masuk ruangan.


"Bagaimana?" tanya Darren langsung.


"Kita tunggu paling cepat dua hari, paling lama satu minggu," jawab Aini.


"Kita pindahkan adik-adik ke ruang VVIP, ya," saran pria itu lagi.


Aini menggeleng cepat. Dua adiknya hanya tinggal perawatan dua hari ke depan. Keduanya sudah lolos dari jerat gizi buruk.


"Tidak perlu, Pak. Mereka hanya tinggal dua hari lagi dirawat."


"Lalu, sekarang apa rencanamu, Nak?" tanya Terra kini.


Aini memandang dua kemenakannya. Ia menggeleng lemah. Ia tak tahu harus apa.


"Saya hanya mengikuti apa yang sudah ditakdirkan, Bu. Merawat dua adik saya," jelasnya.


Terra memeluk gadis itu.


"Menangis lah, Nak. Menangis lah!'


Aini hanya menghela napas, air matanya sudah habis. Ia sudah merelakan dan mengikhlaskan segalanya.


"Bu, peluk Aini lebih lama," pinta gadis itu.


Dengan senang hati Terra melakukannya. Sedang Ditya dan Radit dipeluk oleh Lidya. Keduanya begitu nyaman dalam pelukan sahabat kakak perempuannya itu. Darren juga ikut memeluk dua anak kecil yang sudah yatim piatu itu.


"Kalian baik-baik dan nurut sama Mba, ya," pesannya.


"Iya, Mas. Makasih," sahut Aini menimpali.


"Mba pacalan ya, sama Mas Dallen?' tebak Radit sambil senyum-senyum.


Dua sejoli itu pun merona, malu. Darren buru-buru pergi karena tadi ia membatalkan meeting penting. Terra kembali menciumi ketiganya. Aini, Ditya dan Radit sangat nyaman dengan perlakuan ini.


"Makasih, Bu," sahut Aini tulus.


"Sama-sama," sahut Terra membalas.


Lidya dan Putri pun pamit. Mereka pun meninggalkan Aini bersama adiknya. Di ruangan itu penuh dengan buah dan biskuit juga makanan lainnya.


"Mba, banyak makanan. Kita nggak bakalan habis," ujar Ditya sambil menatap makanan yang ada di meja.


"Kita bagikan saja dengan pasien lainnya, tinggalin beberapa," lanjutnya memberi saran.


Aini mengangguk. Ia sangat bangga dengan Ditya. Bocah ini belumlah lima tahun usianya. Masih sangat belia, tetapi pikiran dan hatinya melebihi orang dewasa. Aini sangat yakin, suatu hari Ditya menjadi orang besar, sama dengan Darren.


"Eh ... kok Darren sih?" ujarnya bergumam lirih.


"Apa Mba?" tanya Radit kini memakan buah yang selama ini ia inginkan, strawberry.


"Eemm ... kecut!" ujarnya sambil memasang muka mengernyit. "Tapi enak."


"Coba deh, Mba," ungkapnya lalu menyuap satu strawberry pada Aini.


Gadis itu membuka mulut dan menerima suapan adiknya. Rasa khas strawberry yang memasang sedikit masam sangat terasa di indera perasannya.


"Enak, manis, kecut jadi satu," sahutnya memberi pendapat.


Tak lama, Prof Rini datang. Ia juga mengetahui jika kedua pasiennya ini sudah menjadi yatim piatu. Dengan penuh kasih sayang, ia memeriksa kakak beradik ini.


"Alhamdulillah, kalian sudah bebas dari gizi buruk," ujarnya.


Beberapa barang masuk dibawa oleh orang-orang suruhan wanita berusia enam puluh tahun itu.


"Prof apa ini?" tanya Aini penuh haru.


"Ini untuk adik-adik mu. Ajari mereka ya," ujar Rini dengan senyum mengembang.


Aini mengucap berjuta rasa terima kasih pada wanita itu. Rumor selama ini yang ia dengar terbantahkan. Betapa, baik dan perhatiannya profesor Rini.


Bersambung.


duh ... Readers maaf, ya.. tadi di sini signal jelek karena ada badai petir dan barusan gempa. Mohon doanya ya.


makasih .


next?