
Semua masalah di perusahaan selesai. Haidar sudah kembali ke perusahaannya sendiri. Sedangkan kedua orang tua pria itu juga sudah pulang.
Kini Terra tengah berbaring bersama Darren. Pria kecil itu sudah lebih baik. Bayang-bayang gagal fungsi hati sudah terlewat bahkan dan tidak ada masalah lagi.
Kini mereka berempat ada di kasur Darren. Terra memangku Rion, Lidya berada di antara Darren dan Terra. Mereka sedang melihat gambar rumah.
Ya, Terra hendak membeli hunian baru untuk keluarganya. Terra memilih untuk menghilangkan semua bayang-bayang kelam dengan meninggalkan rumah itu.
Gadis itu sudah bertanya pada Sofyan, pengacara mendiang sang ayah, perihal kepemilikan rumah tersebut. Ternyata, Terra sendiri lah ahli waris dari rumah itu.
Terra menjualnya, berikut isinya. Sofyan mengetahui perihal disiksanya Darren. Pria itu sungguh terkejut ketika melihat alat-alat untuk menyiksa anak kecil itu.
"Hmmm ... bukan Om mau membela Ayah mu, tapi, semenjak menikah sirri dengan Firsha. Tuan Hudoyo hidup tertekan. Memang itu murni kesalahannya. Dan dia menjalani hukuman karena mengkhianati mendiang istrinya, yakni Ibumu," jelas Sofyan ketika datang ke rumah sakit setelah kepergian kedua orang tua Haidar.
"Bagaimana dengan barang-barangnya. Apa kau ingin menjual semua?" tanya Sofyan kembali.
"Iya, Om. Te, nggak mau Darren mengingat kenangan buruknya dengan melihat semua itu. Bahkan Te berencana akan membakar lukisan yang ada di ruang tengah," jawab Terra menjelaskan keadaan.
"Kenapa dibakar?" tanya Sofyan heran.
"Lidya bilang. Sehabis foto tersebut. Darren ditampar Ibunya hingga pingsan," jelas Terra dengan suara gemetar.
Sofyan menahan napas. Ia pun menyerahkan semua keputusan kepada gadis itu.
"Ma, kalau Darren gambar sendiri rumahnya, boleh?" tanya Darren.
"Tentu saja sayang," jawab Terra senang.
"Nanti, Mama belikan kertas dan pensilnya ya," ujarnya lagi.
"Sekalian cat lukis, Ma," cicit Darren takut-takut.
"Iya sayang. Jangan takut. Nanti Mama belikan," ujarnya sambil tersenyum dan mencium pucuk kepala pria kecil itu.
"Mama ... Iya minta shium duda!" pinta Lidya.
Terra mencium Lidya kemudian Rion, karena bayi itu sudah memonyongkan bibirnya ikut minta dicium.
Tiba-tiba dokter Abraham datang. Ia memeriksa keadaan Darren. Usai memeriksa. Pria keturunan Arab itu mengatakan jika keadaan Darren jauh lebih baik. Ia boleh pulang besok.
Terra senang mendengarnya. Gadis itu berencana akan seharian bersama ketiga anaknya, terutama Darren. Semua itu bertujuan untuk pemulihan trauma yang diderita pria kecil itu.
"Ini camilannya, Non," ujar bik Romlah memberikan sepiring camilan berupa pie mini berisi buah-buahan.
"Terima kasih, Bik. Ayo, kita makan bersama," ajak Terra.
"Silahkan, Non. Terima kasih, lidah Bibik mah kampungan. Jadi nggak suka makanan kayak gini. Sukanya combro atau gorengan pinggir jalan," tolak bik Romlah.
Terra tertawa mendengar jawaban bik Romlah. Gadis itu juga menyukai jajanan pinggir jalan. Tapi, putranya sedang masa pemulihan. Jadi semua makanan harus higienis bukan?
Mereka pun kembali bersenda gurau. Bahkan tak jarang Darren tertawa mendengar lelucon yang Terra lontarkan. Atau kadang mencebik kesal karena digoda oleh Lidya.
Terra menatap wajah putranya yang ceria. Pipinya sudah kemerahan, walau belum berisi. Sebelumnya, Darren kurang napsu makan. Mungkin efek dari rasa traumanya. Pria kecil itu sangat sedikit makan.
Terra baru menyadarinya. Walau sempat menyalahkan diri sendiri. Tapi, gadis itu tak mau terpuruk lebih dalam. Ia harus bangkit untuk kesembuhan putra kesayangannya.
"Mama ... Mama ... mberrree ... mbla bebeh ...!" Rion mengoceh tidak jelas.
"Baby Lion, nomong apa cih?" tanya Lidya bingung.
Terra tertawa melihat baby Rion sedang berceloteh dengan mimik serius. Bahkan liurnya menetes juga sebagain menyembur.
"Ih ... Baby Lion joyok!" teriak Lidya jijik ketika liur Rion mengenai wajahnya.
"Hahaha ... tidak apa-apa, sayang. Jangan marah, kan bisa dibersihkan," ujar Terra menghapus titik-titik air liur Rion di wajah cantik Lidya.
"Iya, nih. Kan, Baby Rion nggak sengaja. Iya kan Baby?" bela Darren sambil menggoda Rion.
"Hwa ... mbeces blammm dbraa!" jawab Rion entah apa artinya plus dengan liur yang kembali memuncrat lagi-lagi mengenai wajah Lidya.
"Baby Lion!" teriak Lidya tak terima.
Semua tertawa. Terra kembali menghapus jejak liur Rion dari wajah Lidya dengan tissu. Menciumi wajah mereka satu persatu. Rion meng-hap pipi Terra dengan mulutnya hingga liur Rion membasahi wajah gadis itu.
Terra menggelitiki perut Rion dengan bibirnya. Bayi itu berteriak sambil tertawa.
"Mama ... cuhdah ... Kakakakaak!"
Semua tertawa mendengarnya. Sungguh kebahagian Terra berlipat saat itu. Sangat sederhana, mendengar tawa ketiga anaknya.
bersambung.