
Waktu berlalu. Tak terasa sudah dua minggu Terra menjadi seorang istri. Budiman masih berlaku sama. Tatap makan satu meja dengan Terra dan suaminya. Malah sekarang, Haidar yang berinisiatif memanggil pengawal tampan istrinya itu.
"Selamat pagi Tuan. Hari ini, kita mendapat kiriman surat kaleng," lapor Budiman sambil memberi salam.
"Pagi, Bud. Oh ya, mana surat itu?"
"Ini, Tuan," ujar Budiman sambil menyerahkan surat itu pada Haidar.
Sebuah surat berisi potongan kata dari surat kabar. "Let's play!". Haidar tersenyum miring melihat surat kaleng itu.
"Apa menurutmu, Bud?" tanya Haidar sambil menyerahkan surat itu pada Budiman.
"Saya rasa orang ini benar-benar mengincar Nona, Tuan. Ini tanpa pengirim dan terletak di depan pintu gerbang. Surat ini ditindih batu agar tidak terbang terbawa angin," jelas Budiman.
Haidar mengangguk. "Lalu bagaimana CCTV bekerja?"
"Jika dilihat, pergerakan dari kemarin hingga pagi ini. Hanya pemulung anak-anak yang lewat. Seperti sengaja mengambil sesuatu dari tanah namun meninggalkan kertas ini. Anak ini saya rasa dibayar atau disuruh seseorang, Tuan," jelas Haidar lagi.
"Apa pergerakannya masih kau ikuti?" tanya Haidar.
"Masih Tuan," jawab Budiman.
"Baiklah, awasi terus. Anak itu pasti akan bertemu dengan orang yang menyuruhnya," titah Haidar.
"Baik, Tuan!"
"Sekarang, ayo kita sarapan. Tim kalian sudah diantarkan sarapannya bukan?" Budiman mengangguk.
Haidar berdiri dan masuk ke dalam diikuti oleh Budiman. Dua pria tampan itu disambut senyuman manis oleh Lidya.
"Dia tersenyum untukku," ucap Haidar.
"Untuk saya juga, Tuan," saut Budiman tak mau kalah.
"Aku Papanya!"
"Saya tidak peduli!"
Mereka tak ada yang mau mengalah, jika soal Lidya. Budiman merasa senyum Lidya juga untuknya. Senyum yang selalu membuatnya semangat dan melupakan kenangan pahit masa lalunya.
Sedang Haidar merasa ia adalah ayah dari gadis kecil itu. Makanya ia merasa jika dirinya lah yang paling berhak atas senyum yang dulu membuat ia jatuh hati pada Terra.
"Kalian kenapa, sih?' decak Terra sebal.
"Pau pu ... Papa cama Om Pudi," saut Rion sambil mengerucutkan bibirnya.
Budiman gemas dengan bayi itu. Ia pun tak ragu mendaratkan. ciuman di pipi gembul Rion.
"Om Pudi! Banan mium-mium Ion!"
"Baby!" tegur Terra.
Rion mulai mencebik, matanya mulai berair.
"Papa ... Mama natan ... bawah-pawahin Ion ... hiks!"
Terra menggaruk tengkuknya. Ia harus meluruskan bayinya agar tak selalu membuat drama yang salah.
"Baby, Mama tidak marah, sayang. Mama hanya memberi tahu, jika apa yang Baby lakukan itu tidak baik," ujar Haidar memberi penjelasan pada bayi yang kini mulai berani memfitnah ibunya.
"Apa Tuan Baby nggak mau dicium lagi sama, Om?" tanya Budiman sedih.
Rion malah menangis. Ia pun meminta Terra mengangkatnya. Terra pun langsung menggendong bayi itu. Jika merasa bersalah, senjata pamungkas Rion adalah menangis tersedu-sedu.
Semua hanya bisa menggeleng. Mereka sudah terlalu memanjakan bayi itu. Tapi, justru kenakalan juga keusilannya lah yang membuat semua begitu memanjakannya.
"Mama ... huuu ... uuu ... hek ... hek!' tangisnya sedih.
Makanya, ketika Terra hadir dalam kehidupan Rion. Bayi itu selalu berusaha mencari perhatian agar semua menyayanginya.
"Sssshh ... sayang, jangan nangis ... ssshhh!' Terra membujuk bayinya.
"Minta maaf sama Om Budi, mau?" Rion mengangguk.
Terra menyerahkan bayinya pada Budiman. Pria itu langsung mendekap Rion dengan kasih sayang. Ia sungguh miris mendengar tangisan pilu dari bayi itu tadi. Sebenarnya ia tak tega. Hanya saja, Terra melarangnya untuk selalu tunduk apa mau Rion.
"Mamapin Ion, Om Pudi ... hiks ... hiks!" pintanya dengan tulus.
"Iya, Tuan Baby," ucap Budiman. "Om juga minta maaf ya."
Selama tinggal bersama dengan Terra. Budiman jadi tahu bahasa yang digunakan oleh bayi montok yang kini berada di dalam dekapannya.
"Papa," tiba-tiba Rion ingin bersama Haidar.
Bayi itu langsung disambut Haidar dan memangkunya, mengusap air matanya. Menciumnya. Lidya dan Darren hanya memandangi drama yang baru saja terjadi.
Kemudian mereka pun sarapan pagi dengan lahap. Rion kembali berceloteh.
"Papa, Ion bewum penan ... bau botina adhi!" ujar Rion menunjuk roti.
"Oh, Baby, mau roti lagi?" Rion mengangguk.
Terra berdiri. Budiman mengkodenya sesuatu. Ia tadi telah minta ijin pada suami kliennya untuk memberi tahukan perihal surat kaleng yang barusan didapat.
Setelah pengawalnya mengatakan segalanya. Ia bertanya perkembangan selanjutnya.
"Tim sudah mengunci target dan mereka berdua sudah bertemu lima menit yang lalu," jawab Budiman.
"Apa kau yakin jika anak itu bertemu dengan orang yang menyuruhnya, bisa saja bukan," saut Terra tak yakin.
"Tim sudah mengeceknya dan mencocokan kejadian satu hari sebelumnya, Nona," jawab Budiman.
"Baiklah. Awasi terus. Kita lihat apa maunya. Dan siapa yang dia incar. Sepertinya ia sudah tahu rumah ini punya siapa," titah Terra.
"Baik, Nona!"
Budiman langsung keluar menuju teras di sana ada Deno yang sedang memotong rumput. Pria itu berkomunikasi dengan tim melalui headset bluetooth di telinganya.
Terra kembali ke dalam, membantu Romlah membersihkan meja. Hari ini masih hari minggu. Darren tengah mempersiapkan semua keperluan sekolahnya. Besok senin, kembali ia bertugas menjadi pembaca teks UUD 45.
"Ma, nanti sore, anterin Darren latihan upacara ya. Senin besok, Darren jadi petugas pembacaan teks UUD 45," ucap Darren.
"Ah, benarkah itu?" tanya Haidar antusias.
"Iya, Pa," jawab Darren sambil tersenyum bangga.
"Wah, Papa mau lihat Darren latihan, ah," ujar Haidar.
"Nanti sore kita ikut Kakak Darren latihan!" pekik Haidar pada dua anak lainnya.
"Hollee! Dalan-dalan ladhi!' pekik Lidya.
Rion pun ikut-ikutan.
"Howee! balan-balan padi!"
bersambung.
Teror lagi? Tenang ada mamang Haidar sama mamang Budi. Terra aman..
next?