
Terra terlihat nyenyak dalam tidurnya. Kanya yang melihat sangat tidak tega membangunkan gadis kesayangannya itu. Perlahan ia merapikan rambut Terra dengan hati-hati.
Gadis yang tengah didekap oleh Darren erat ini, terbangun. Lalu mengerjapkan mata. Sejenak ia merenggangkan ototnya.
Suara lenguh manja keluar dari bibir gadis itu. Kanya mengecup lembut kening Terra.
"Selamat pagi, sayang," sapa Kanya.
Senyum manis Terra terbit.
'Cantik sekali,' puji Kanya dalam hati.
"Pagi, Ma. Terra kesiangan, ya?" tanyanya dengan suara tak enak.
"Tidak sayang. Mama malah minta maaf jika ganggu tidur nyenyak kamu," jawab Kanya sedikit menyesal.
"Mama!" Rion terbangun kemudian merengek.
Terra ingin bangkit. Tapi, segera ditahan oleh Kanya. Wanita itu langsung menangani Rion. Lidya terbangun dengan mata terpejam, gadis itu bangkit, melangkahi kakaknya dan berbaring di atas tubu Terra, membenamkan kepalanya di ceruk leher Terra.
Darren sedikit terganggu dengan itu. Pria itu terbangun. Melihat adiknya yang bermanja dengan sang ibu. Ia pun mengalah. Memilih memejamkan matanya.
Rion telah selesai dimandikan. Tera masih dalam mood manja dengan Lidya yang berbaring di atasnya. Kanya hanya menggeleng. Hatinya sangat senang jika gadis itu bermanja dengannya.
Rion sudah selesai dan wangi. Baju kemeja corak abstrak warna biru dan hitam plus celana bahan pendek menempel di tubuhnya yang gembul. Kaki kecilnya sudah memakai sepatu warna putih. Kanya membawanya ke lantai dasar untuk menyerahkannya pada Bram.
"Oh ... cucu Kakek wangi sekali. Yang lain mana?" tanya Bram.
"Terra masih mode manja, Lidya bobo di atasnya. Darren sepertinya masih mengantuk karena tidur sudah agak larut kemarin malam," jelas Kanya sambil tersenyum senang.
Bram mendengar itu hanya mengangguk.
"Kasihan gadis itu. Diusianya yang masih remaja. Ia sudah menanggung beban yang begitu berat," ujar Bram iba.
"Iya masih delapan belas tahun. Makanya pikiran untuk menikah, ia masih ragu. Terlebih masalah yang ia hadapi. Mama rasa, masih banyak yang ia simpan sendiri," keluh Kanya.
Bram memakan roti sandwich nya. Tampaknya Rion juga lapar. Hingga ingin merebut makanan dari kakeknya.
"Hei ... ini bukan makananmu, Nak," ujar Bram sambil terkekeh.
Kanya menyuruh bibik untuk membuatkan sarapan untuk Rion. Tak sampai delapan menit. Makanan khusus bayi itu sudah masuk dalam mulut kecil Rion. Bayi tampan itu sudah makan sendiri walau nyaris semua makanan tidak ada yang masuk mulutnya.
Tak lama Karina dan Raka datang menghampiri. Mereka sarapan bersama sambil menertawai Rion yang belepotan.
Darren turun dari lantai dua menggandeng tangan adiknya. Mereka sudah mandi dan rapi. Kanya sedikit sedih karena sebentar lagi kesayangannya akan pulang.
Terra tak lama kemudian turun membawa semua perbekalan yang dibelikan oleh Kanya untuk anak-anak. Gadis itu hanya pasrah dengan barang-barang yang dibelikan oleh Kanya untuk ketiga anaknya.
"Jangan dibawa semua. Jadi kalau nginap sini, baju salinnya masih ada," ujar Bram ketika melihat Terra kerepotan membawa barang-barang.
Terra hanya tersenyum kikuk. Masalahnya, memang ia tak akan sanggup membawa semua barang yang dibelikan Kanya. Jika iya. Maka ia harus menyewa mobil bakter untuk mengangkut semua barang-barang pemberian Kanya.
"Kalau Te, bawa semua. Ntar dikira habis ngerampok toko, Pa," keluh Terra sambil cemberut.
Kanya tertawa mendengar keluhan Terra.
"Hei ... apa salah jika Oma membelikan barang kesukaan cucu-cucunya?" sela Kanya tak terima.
Beruntung tatapan memuja Terra tidak disadari pria itu. Karena Lidya menyadarkan gadis itu.
"Om Idal danten setali!" puji Lidya sambil tersenyum secerah matahari.
Dipuji gadis kesayangannya membuat Haidar mendongakkan dagunya, angkuh. Terra mencibir kesal.
"B, aja!"
"Ck ... emang aku ganteng kok," sanggah Haidar membanggakan diri.
Setelah sarapan selesai. Ada sedikit drama yang dilakukan Kanya, Raka dan Lidya.
Raka menangis karena Lidya berpamitan seperti orang ingin pergi selamanya.
"Tata Rata ... Iya pulan dulu, ya. Dita ada umul pandang, Iya batal main ladhih tesini ... hiks ..."
Raka memeluk Lidya erat. Seakan enggan berpisah dengan penetram hatinya itu. Bocah spesial itu sangat dekat dengan Lidya yang sangat 'ngemong'.
Karina sangat terharu. Baru kali ini ada anak lain yang sangat menyayangi Raka dengan tulus. Bahkan Raka minta cium berkali-kali oleh Terra. Memeluknya lama. Hatinya sedikit teriris dan malu terhadap gadis itu.
Bagaimana Terra bisa mengangkut ketiga anak hasil perselingkuhan mendiang ayahnya dengan dada terbuka. Bahkan mencurahkan cinta dan kasih sayangnya.
Mengingat perbuatannya dulu terhadap Raka. Karina sangat menyesal. Kini, Terra menjadi sumber inspirasinya. Gadis yang begitu banyak kasih sayang.
"Mama akan merindukanmu, sayang," ujar Kanya sambil memeluk erat Terra.
"Nanti, jika ada waktu. Te akan ngerepotin Mama lagi kok," ujar Terra sambil membalas pelukan Kanya.
Akhirnya Drama selesai. Terra bisa pulang. Setelah berkali-kali mencium Kanya dan Raka bergantian. Bram mencium lembut kening gadis itu. Sebenarnya ia juga berat berpisah dengan gadis seistimewa Terra.
Setelah mobil yang mengangkut Terra dan ketiga anaknya hilang dari pandangan. Kanya menangis di dada suaminya.
"Pa ... jadikan Terra anak kita, Pa. Mama nggak mau kehilangan dia," ujarnya sambil menangis pilu.
"Berdoalah, Ma. Supaya Terra menjadi menantu kita. Papa juga tidak rela jika ada orang lain yang mengambil gadis itu dijadikan menantunya," jawab Bram dengan suar serak.
Karina hanya mengusap air mata. Sedang Raka, kini berada dalam dekapannya tertidur karena menangis ditinggal Lidya.
Sampai rumah..Terra bernapas lega. Bik Romlah juga baru datang dan langsung membantu Terra mengurusi anak-anaknya.
Terra membaringkan tubuhnya di kasur besar milik mendiang sang ayah. Ia meraba kasur itu. Sekelebat dua orang lawan jenis bergumul saling memuaskan di ranjang itu. Mendiang ayah dan wanita simpanannya.
Seketika Terra langsung beristighfar. Setetes air bening menetes di pipinya. Haidar menatap kegalauan kekasihnya.
Perlahan ia mendekat dan duduk di pinggir ranjang. Menatap wajah gadis yang sangat ia cintai menitikkan buliran bening di sudut matanya.
Perlahan Haidar menarik tangan Terra. Mendekap gadis itu.
"Menangis lah ... menangis lah yang kencang, agar lepas semua beban yang menghimpitmu," ujar Haidar sambil mengusap punggung Terra.
Maka pecahlah tangisan Terra di dada bidang kekasihnya.
bersambung.
Kau harus kuat Te ... harus.