
Terra mendapat laporan jika ada satu akun yang hendak menyerang data perusahaan. Walau tidak menimbulkan banyak masalah bahkan akun penyusup tersebut mati sebelum berhasil memasuki gerbang.
"Hmmm ... mungkin sebaiknya, Nona ganti strategi. Jika akun mati, maka hacker akan mudah buat lagi. Terutama mereka yang newbie," saran Aden ketika melihat akun yang hangus terbakar.
Terra manggut-manggut. Jhenna tengah hamil muda. Wanita itu sangat manja dengan suaminya. Kini Rommy mendapat sekretaris baru yakni Rosena. Sedang asistennya juga baru bernama Iskandar.
Jhenna menjadi sekretaris suaminya. Kinerjanya sangat bagus walau ia tengah berbadan dua.
"Sepertinya ide bagus jika akun yang menyerang ditangkap. Bukankah mereka termasuk melanggar hukum. Memasuki wilayah tanpa ijin?" saran Gabrielle.
"Wah, benar juga ya. Penyerang biasanya para newbie. Jadi mereka tidak keberatan jika akun mereka mati," ujar Terra setuju dengan saran Gabe.
"Baik sekarang kita kerjasama dengan polisi cyber. Sekarang, sistem IT mereka sudah canggih," ujar Terra.
"Kak Rom. Hubungi pengacara kita. Katakan kita akan mengubah transkip data dengan kepolisian. Pastikan kita legal untuk menangkap akun-akun nakal tersebut," ujar Terra.
"Baik, segera laksanakan," sahut Rommy langsung menghubungi pengacara perusahaan.
"Nona, di layar dua ada serangan menuju database tiga!" seru salah satu pegawai IT.
Terra melihat pergerakan akun. Ia duduk di kursinya. Gabe juga ikut berikut Aden dan Rommy.
"Ada empat serangan. Virus smoke dan bubble!"
"Kerahkan wind attack!" seru Terra.
Jari Terra bergerak cepat. matanya memindai kanan dan kiri layar. Gabe juga sangat beringas menindas akun yang berani adu kekuatan.
"Hati-hati pancingan untuk database empat!" seru Terra.
Tangan Terra terus bergerak. Memecah kubikel angka yang menyerang. Tulisan teacher attack tertera di layar. Sebuah rumus terurai. Angka-angka padam. Huruf-huruf yang tersusun terpecah menyerang angka tunggal yang memang bukan bilangan.
Jari Terra terus bergerak. Sebuah jala terbentuk menangkap jaringan data penghancur. Terra dan Gabe tersenyum sinis. Kedua wajah itu berubah menjadi sadis. Mata Terra berkilat begitu juga Gabe.
"Let's finished!" seru Terra dingin.
Blam!
Bunyi ledakan di salah satu komputer penyerang. Semua kalang kabut. Satu jaringan mafia terbongkar. Penyeludupan senjata dapat digagalkan.
"F*ck!"
"you all stupid!"
Pria bermata abu-abu mengambil senjata. Ditariknya pemicu. Lalu.
Dor! Dor! Dor!
Darah mengalir membasahi ruangan. Delapan anak buahnya mati sia-sia. Bermaksud ingin mencuri data untuk menggelapkan usaha mereka dalam penyelundupan senjata.
"Jauhkan tangan kalian dari keyboard!" pekik Terra memberi perintah.
Semua menjauhkan diri dari keyboard mereka. Terra melanjutkan aksinya.
"Adios amigos!"
Pria yang menembaki pegawainya kini ditangkap dengan tangan dan kaki diborgol. Hukuman internasional menantinya. Tak ada satu negara yang mengakui pria tersebut sebagai warga negara mereka.
Terra pun mulai menghitung mundur.
"Tiga ... dua ... sa ...."
"Selamat siang pemirsa. Fokus hari ini. Kepolisian kembali menunjukkan taringnya. Sebuah kepala mafia tertangkap. Banyak anggotanya tewas terbunuh. Diduga ketua mafia itu sendiri yang menembaki pegawainya ...."
Terra menarik sudut bibirnya. Ia pun bangkit dari kursinya.
"Bersihkan data yang rusak. Ingat, jangan ada yang terlewat!" titah Terra.
Gabe pun ikut membantu para pekerja IT membersihkan data yang rusak dan menggantinya dengan yang baru.
Terra meminta dibuatkan kopi oleh Jhenna. Wanita itu langsung membuatkan apa yang atasannya minta.
"Ini, Nona," ujar Jhenna sambil meletakkan satu cangkir kopi dan beberapa keping biskuit.
"Terima kasih."
"Sama-sama."
Terra menyesap kopinya. Jhenna duduk di sebelah atasannya. Menyenderkan kepalanya ke bahu Terra.
"Nona," panggilnya manja.
"Apa bumil!" sahut Terra.
"Elus perut dong," pintanya memohon.
Terra pun mengelus perut Jhenna yang sudah terlihat bentuknya. Terra meyakini jika jenis kelamin janin di dalam kandungan istri dari wakil direktur nya itu, adalah laki-laki.
Entah kenapa. Semua wanita hamil di keluarganya. Meminta ia mengelus perut para ibu-ibu hamil. Tetapi Terra menikmatinya.
bersambung.
duh ... maaf ya dikit ... mata othor agak rabun.
next?