TERRA, THE BEST MOTHER

TERRA, THE BEST MOTHER
RENCANA MELAMAR



Dua kali gagal ciuman membuat Gabe panas dingin. Ia meminta ayahnya agar segera datang untuk melamar.


"Daddy nggak bisa datang dalam waktu dekat. Ada beberapa kerjasama yang harus diawasi langsung. Minta tolong Virgou sebagai perwakilan!" jelas Frans dengan nada menyesal.


Gabriel pun hanya bisa mendengkus pasrah. Sang ayah tak bisa jika dalam waktu dekat, bahkan selama delapan bulan ke depan, Frans tak bisa meninggalkan perusahaan.


"Aku harap ketika Darren berusia tujuh belas tahun ia bisa memimpin perusahaan. Daddy sudah kerepotan. David tak bisa diganggu ia memilih sekolah militer. Ia baru bisa tujuh atau sepuluh tahun lagi," keluh Leon.


"Iya, Daddy, Te juga sudah mempersiapkan Darren untuk itu," ujar Gabe pasrah.


"Baiklah, kau minta Virgou untuk mengantarmu melamar .... eemm, siapa nama wanitamu?"


"Arsindhu Widya Kusmo," jawab Gabe.


"Ya, Widya. Bahkan jika kau menikah dalam waktu dekat, aku tak bisa mendampingimu," ujar sang ayah penuh penyesalan.


"Ya, sudah tidak apa-apa. Yang penting aku meminta restumu," ujar Gabe lagi-lagi pasrah.


"Oke, son, good luck," sahut Frans terkekeh.


"Thanks, Dad," ujarnya.


Sambungan ditutup, Gabe hanya bisa mendengkus. Pria itu menyandarkan tubuhnya di kursi kebesaran. Menutup mata untuk menghilangkan penat. Hari ini baru saja ia menginterview sekretaris baru. Seorang gadis berusia dua puluh tiga tahun. Cantik dan cekatan.


"Semoga dia tak banyak tingkah," ujarnya bergumam.


Gabe kembali memeriksa semua berkas yang menumpuk di atas mejanya. Pria itu kembali fokus, Iskandar datang mengatakan jika akan ada pertemuan dengan beberapa pengusaha di sebuah restoran ternama. Rommy tengah bertugas ke luar kota.


"Baik lah, minta sekretaris baru itu menyiapkan berkas presentasi, suruh ia pelajari segara. Aku tidak ingin ada kesalahan sedikit pun!" titah Gabe tegas.


"Baik, Tuan!" sahut Rommy singkat.


Gabriel berdiri. Ia mendatangi ruang arsip yang ada di lantai tiga, sedang ia ada di lantai delapan. Melihat atasannya keluar, Iskandar langsung tahu akan kemana, atasannya itu.


Tania, sekretaris baru itu menatap heran atasannya pergi lebih dahulu.


"Tak usah kau banyak tanya kemana atasanmu. Pelajari ini dalam waktu cepat. Aku harap nilai di transkripmu itu benar adanya!' titah Iskandar tegas dengan sorot mata tajam menusuk.


"Ba-baik Tuan," sahut Tania tergagap.


"Lakukan!" tekan Iskandar dingin.


Tania langsung membaca berkas yang ada di depannya. Ada delapan lembar catatan di sana. Matanya halus jeli melihat angka-angka yang tertulis, menjumlahkan dengan cepat dan membandingkannya secara perkapita.


Sedang Gabe sudah berada di lantai tiga. Kedatangannya sudah biasa bagi para pekerja di divisi itu. Tentunya ingin bertemu dengan Widya. Kini, gadis itu sudah menjadi kepala bagian arsip perusahaan, karena yang kemarin sudah resign sebelum masa cuti melahirkannya habis.


Gadis itu tengah menyusun arsip dalam berbagai kelompok dan tanggal. Kemudian, menyimpannya dalam map warna-warni, lalu menyimpannya di gudang.


"Sayang, aku rindu," ujar Gabe merajuk.


Widya terkekeh. Pria itu memeluk erat gadisnya. Widya sampai harus memperingatkannya jika ini kantor.


"Sayang, kelakuan mesummu menjadi santapan sekuriti," protes Widya.


Gabe pun mengurai pelukannya. Pria itu mengamit tangan gadisnya. Mereka duduk di kursi stainless yang ada di ruangan itu.


Gabe duduk sambil menyilangkan kakinya. Membawa tangan Widya ke atas pangkuannya.


"Aku nanti, makan siang bersama beberapa kolega penting," lapor pria itu.


Widya mengernyit heran. Bukankah itu biasa? Pikirnya.


"Jangan khawatir. Aku bersama dengan Iskandar. Kau jangan cemburu, ya," ujarnya lagi.


Widya terkekeh. Ia bukan tipe perempuan pencemburu, terlebih kekasihnya pergi untuk tugas, dan Gabe pergi tidak berduaan dengan sekretaris barunya itu, tetapi juga bersama Iskandar.


"Oh, ya. Minggu besok, aku akan mengajakmu ke pesta ulang tahun pertama putrinya Aden, wakil CEO perusahaan ini," ujarnya lagi memberitahu..


"Iya, aku ingat itu, sayang. Aku sudah menyiapkan kadonya," sahut Widya tersenyum.


Gabe jadi ikut tersenyum. Ponsel pria itu berdering. Sebuah pesan jika ia harus berangkat. Pria itu pamit. Tanpa kecupan di kening apa lagi di bibir.


Siapa sangka. Di bandara pribadi milik Bram mendarat satu jet pribadi dengan tulisan DY. Sosok renta tersenyum penuh arti ketika melangkah kan kaki masuk ke dalam bandara. Bram menyambut pria renta itu.


"Bart, apa kabarmu? Ah, maaf mestinya aku memanggilmu Daddy," ucap Bram terkekeh.


"Kau bisa saja. Senyamanmu saja, Bram. Aku tak masalah," sahut Bart lalu mereka saling merangkul.


"Aku yakin, mereka akan terkejut dengan kedatanganmu," kekeh Bram lagi.


"Biarkan mereka. Dasar anak-anak itu terlalu sibuk dengan urusan masing-masing. Kita orang tua dibiarkan begitu saja," keluh Bart sekalian memprotes.


"Ah, kau benar. Mentang-mentang memiliki keluarga baru. Orang tua mereka dilupakan begitu saja. Lihatlah Terra, bahkan sudah selama ia mengandung, belum menampakkan mukanya di mansion ku!" gerutu Bram.


"Ya, kita akan hukum mereka semua nanti. Ayo, aku cukup lelah, biarkan aku menginap di hotel mu saja. Aku akan muncul di depan mereka setelah dua atau tiga hari ke depan," ajak Bart.


Bram pun mengantarkan besannya itu ke hotelnya. Ia sudah membooking satu presiden sweet room untuk Bart menginap.


bersambung.


duh maaf yaa othornya sedikit kelelahan karna td banyak kerjaan. Besok lagi yaa.


next?