
PROLOG AWAL
Rion menatap datar neraca perusahaan. Baru saja ia tinggalkan selama tiga hari karena tiga kakaknya melahirkan. Remaja itu menatap Bobby yang juga sudah lelah mengurusi semuanya. Sedang Haidar juga mengurutkan keningnya.
"Hukuman apa lagi yang membuat para koruptor kapok?" tanya remaja itu.
"Semakin berat, bukannya takut, malah makin menjadi. Ini bukan lagi korupsi, Pa!" lanjutnya gusar. "Tapi merampok!"
"Papa juga bingung. Apa iya petisi hukuman mati kembali digaungkan?" tanya pria itu dengan mata terpejam.
Berkat kejelian Bobby, perhitungan timpang dapat ditemukan. Memang tidak besar tapi mencakup keseluruhan perhitungan.
"Jadi semuanya berapa Om Bobby?" tanya Rion kini mulai serius.
"Jika ditotal keseluruhan, kita loss sebanyak 23 milyar," jawab pria itu.
"Berengsek!' umpat remaja itu kesal.
"Baby!"
"Tuan muda!"
"Maaf pa, om ... Ion hanya kesal. Mau menghukum mereka dengan tangan Ion sendiri!" sahutnya masih kesal dicampur rasa bersalah pada dua pria di depannya.
"Pihak intelijen juga sepertinya mulai kehilangan pamornya. Kekuatan mereka makin lemah. Padahal subsidi untuk mereka sudah kita gandakan," keluh Haidar.
"Jika kita gabungkan hukuman mati. Pihak HAM menolak keras. Padahal kejahatan para koruptor sangat tidak mengindahkan HAM di sana!" lanjutnya dengan nada putus asa.
"Andai bisa menerapkan hide and gone," celetuk remaja itu.
"Baby ... jangan jadi sosok menyeramkan seperti itu. Papa jadi takut," peringat Haidar.
"Lalu harus bagaimana pa?" tanya Rion gusar.
"Kita sudah menjalankan hukum efek jera dan memiskinkan pelakunya. Tapi, bukan berkurang malah makin menjadi!" serunya emosi.
"Ah, maaf ... Ion terlalu emosi," ujarnya kemudian ketika sadar suaranya sangat keras pada papanya.
Haidar memaklumi remaja itu. Tentu darah muda Rion sangat bergolak hebat menahan semua emosi. Remaja itu masih belum bisa mengontronya, walau sampai saat ini, Rion selalu mampu menahan sifatnya itu.
"Kita pilih opsi awal. Hukuman mati, walau tak berefek karena China belum bisa menghapus koruptor di sistem pemerintahan mereka. Tapi, negara itu berhasil menekan jumlah pelaku korupnya!" tekan Bobby memberi pendapat.
Haidar setuju. Setelah semua usaha dan sanksi hukum bagi para koruptor diberikan tak memberi efek jera sekali pun.
"Tapi, dilihat dari skala beberapa tahun lalu. Kasus kita memang sedikit menurun, hanya ada tiga kasus selama satu tahun ini," jelas pria itu lagi.
"Memang ... tapi sekalinya korupsi, jumlah angkanya jauh lebih besar dibanding sebelum adanya hukuman sangsi sosial dan dicabutnya semua fasilitas!" sela Rion sinis.
"Bayangkan, 23 milyar. Jika Ion tak salah hitung, itu kasus korupsi yang dikumpulkan selama dua tahun!" lanjutnya.
Bobby terdiam Memang benar apa yang dikatakan oleh tuan mudanya. Satu-satunya cara memang menggaungkan lagi undang-undang hukuman mati bagi koruptor yang melakukannya lebih dari satu kali.
"Terlebih mereka melakukannya selama empat hari!" lanjut Rion lagi.
Waktu memang berlalu dengan cepat. Bahkan kini para perusuh telah berganti generasi. Sky sudah berusia lima tahun sama dengan Bomesh. Lalu usia tiga tahun berurutan dari Harun, Azha, Arion, Arraya dan Bariana, lalu disusul dengan usia satu tahun Al bara, El bara, Aisyah, Maryam, Fatih dan Fathiyya. Benua dan Domesh sudah berusia mau tujuh tahun.
'Pita palotean yut!" ajak Arraya.
"Yut!" sahut Fathiyya.
"Ata' Pasha ... pisa pasan paloteana pidat?" Rasya mengangguk.
Remaja itu kini sudah tiga belas tahun. Baru masuk sekolah menengah m
pertama. Pria kecil itu tidak ingin mengambil kelas akselerasi seperti kakak-kakaknya. Ia ingin menikmati sekolahnya.
"Biar kakak saja yang pusing mikirin perusahaan!" jelasnya saat ditanya kenapa tidak ambil kelas akselerasi.
Bahkan bukan Rasya saja yang tidak mengambil kelas percepatan itu. Saudara kembarnya Rasyid, lalu sepupu mereka, Dewa, Dewi, Kaila juga tak mau.
Nai lulus kedokteran ahli kandungan ketika berusia menjelang sembilan belas tahun. Kelulusannya bersamaan dengan Arimbi dan Daud. Daud menjadi dokter ahli jantung termuda yang pernah ada di Indonesia.
"Siapa yang mencari putriku?" tanya Herman gusar.
"Pria itu bernama Reno Alejandro Sanz, kakek!" lapor Kean.
"Siapa dia itu?" tanya pria tua itu lagi tak sabaran.
"Anak dari ketua klan mafia DarkDay Matteo Sanz!" ujar Kean dengan tangan mengepal erat.
"Panggil daddy mu, suruh dia urus!" titah pria itu.
Virgou yang mendengar jika putrinya ditaksir oleh seorang anak mafia langsung bergerak. Ia bersama Gomesh masuk ke sarang yang sudah lama ia tinggalkan karena Rion yang kini berkuasa di sana dengan julukan "Death Angel".
"Jauhi putriku Arimbi!" tekan Virgou sambil mencekik Reno Alejandro.
"Sialan!' makinya kesal sambil melepas cekikannya.
Sebuah pernikahan besar terhelat. Sepasang pengantin duduk dengan wajah bahagia. Siapa sangka diusianya yang belum dua puluh tahun, sosok gadis cantik menikah dengan pria tampan dengan kekayaan sama dengan keluarganya.
"Aku sudah menikahkan putriku ... hiks ... aku dapat pergi dengan tenang nantinya," gumam sosok pria tua dengan senyum lega dan bahagia.
Sementara Rion baru saja menyenggol seseorang di sebuah toko buku dan menjatuhkan semua benda yang dipegang sosok itu.
"Maaf," ujar Rion dewasa.
"Tidak apa tuan," sahut lembut sosok yang ditabrak.
Rion memandang wajah di depannya. Sosok cantik dengan iris hijau rambut pirang. Remaja itu yakin jika sosok cantik itu bukan asli Indonesia.
"Nduk, kamu ra popo?" tiba-tiba sosok pria tua langsung membantunya.
"Shaira mboton nopo-nopo pak," jawabnya lembut.
Rion makin terkejut. Sosok cantik di depannya malah fasih berbahasa Jawa.
Waktu berlalu begitu cepat. Semua tertunduk dengan duka mendalam. Budiman menangis saat saat sosok wanita yang melahirkannya diturunkan ke liang lahat, satu lubang dengan ayahnya yang berpulang lebih dahulu.
Rion, Samudera dan seorang ustad menerima jasad di dalam lubang. Sky dan Benua juga Fathiyya menenangkan ayah dan ibu mereka.
"Kenapa mereka lebih dulu, di banding aku yang sudah nyaris satu abad ini?" keluh Bart.
Pria itu masih gagah di usianya yang ke sembilan puluh empat tahun. Herman dan Bram juga mengangguk setuju. Mereka juga lebih tua di banding kedua orang tua Budiman.
Di akhir penghujung kisah. Terra menatap semua keturunan. Bahkan usianya kini sudah enam puluh empat tahun. Sang suami lebih dulu berpulang empat tahun lalu. Terra mengingat kepergian semua anggota keluarganya satu persatu.
"Kak," panggil Gisel.
Sosok cantik berambut pirang itu duduk mendekati Terra. Dua netra berbeda saling menatap satu dengan lainnya. Budiman, Dav dan Gabe datang menghampiri bersama Seruni dan Widya.
Mereka semua sudah menua. Bahkan juga Darren, rambutnya telah memutih.
"Tolong jaga mereka," pinta Terra dengan senyum di bibir.
Kini semua duduk dengan wajah tersenyum. Wajah teduh menatap keseruan para perusuh yang tak pernah habis. Kini cucu-cucu Darren tampil dengan heboh.
"Tala tu pandan telip pintan nan bauh pi sama ...
tala teulpentuh balunan ladhu seupeldu topi pandut ...!"
tamat.
saksikan serial lengkapnya di novel selanjutnya berjudul " Sang Pewaris".
baca juga kisah lain Othor.
Yang udah tamat.
Menikah dengan tuan sempurna.
Pengantin dadakan.
Ijinkan aku mencintaimu.
The real princess.
Kesempatan kedua.
On Going.
mafia girl and the twins.
The Lord (me and the wolfs).
pengen minta suara ... buat buku baru untuk sang pewaris atau tetap stay di novel Terra The Best Mother?