
Demian tengah menatap bulan. Jantungnya berdetak kencang. Hidungnya pun berasa gatal. Pria itu pun bersin pada akhirnya.
"Alhamdulillah!"
"Yaharmukallah!" sahut Jacob.
"Apa Lidya membicarakan aku, Jac?" tanya Demian dengan pandangan menerawang.
"Bisa jadi Nona Vox yang membicarakan anda, Tuan!"
Jawaban Jacob, membuat Demian langsung melempar pria bawahannya itu dengan majalah di atas mejanya. Jacob langsung meminta maaf.
"Aku bunuh kau jika membicarakannya lagi!" ancam Demian dengan wajah sadis.
Mereka kini berada di penthouse Demian. Pria itu sedang tak ingin pulang. Ibunya kembali berulah menjodohkan dirinya dengan beberapa putri dari teman sosialitanya. Ayah dan Ibunya sudah lama berpisah. Sang ibu sudah menikah lagi, bahkan Demian memiliki seorang adik perempuan dari ibunya itu.
Demian tidak begitu akrab dengan keluarga baru Sarah Glum, ibunya. Bahkan dengan adiknya saja, ia menjaga jarak. Sang ayah yang memperingatkannya.
"Jangan dekati keluarga baru ibumu!" begitu kata Dominic Starlight.
Bukan karena, apa. Pria itu tak mau jika keluarga baru sang istri mengganggu urusan bisnis mereka.
"Kau lihat saja nanti, jika kau tak percaya. Untuk sekarang, ibumu pasti malu meminta bantuan mu," ujar Dominic.
"Tuan, Nona Aurora Ferguson, besok ingin bertemu dengan anda," ujar Jacob mengingatkan.
"Hmmm ... dia baru lulus kuliah dengan nilai pas-pasan kan?" tanya Demian meremehkan.
Entah kenapa sang ibu meminta cerai dengan ayahnya yang begitu mencintainya. Hanya karena alasan sepele. Dominic, tidak memiliki waktu untuknya. Padahal, Demian ingat jika sang ayah selalu menyempatkan dirinya untuk ibunya. Bahkan, sang ibu meminta cerai ketika Dominic menyiapkan pesta kejutan untuk ibunya.
"Tuan," panggil Jacob membuyarkan lamunan Demian.
"Ada apa?!" sahutnya kesal.
"Nona Deborah sedang berjalan ke sini," lapornya.
Jacob melihat pergerakan Deborah melalui BraveSmart ponsel miliknya. Ia sangat terbantu dengan ponsel ini. Walau awal ia begitu bingung, karena semua data yang ingin ia cari, dengan cepat ponsel genius itu mendapatkannya.
Demian mendengkus kesal. Pria itu sangat marah sekaligus penasaran, hal apa yang membuat Deborah begitu tebal muka untuk bertemu dengannya.
"Kita terima dia, kita lihat sejauh mana keberaniannya," ujar Demian dengan seringai sadis.
Bel berbunyi, Jacob sengaja membiarkannya hingga bunyi ke lima baru lah ia membuka pintunya.
"Kenapa kau lama sekali!" sentak Deborah marah.
"Yang benar saja?' sindir Jacob menatap jijik gadis di depan pintu.
Deborah memakai mini dress warna merah yang melekat pada tubuhnya. Riasannya juga begitu mempesona, Deborah berdandan habis-habisan.
Wanita itu lupa ia berhadapan dengan siapa. Bahkan, karena Jacob lah, Demian tahu kelakuan bejatnya.
"Biarkan dia masuk Jac!" titah Demian dari dalam.
Deborah mengangkat dagunya, ia merasa di atas angin. Ia sangat yakin, tiga bulan menjalin cinta. Pria itu pasti masih menyimpan rasa untuknya.
"Sayang," sapa wanita itu penuh percaya diri.
Deborah berjalan mendekati pria itu hendak mencium. Tiba-tiba.
"Apa yang ingin kau lakukan?" tanya pria itu tak suka.
Deborah mematung. Ekspresi jijik Demian begitu kentara. Pria itu memandang rendah dirinya.
"Aku ... aku hanya meminta maaf ... aku ...."
"Aku sudah memaafkan mu, Deborah," potong Demian cepat.
Wanita itu langsung menatap pria nya dengan pandangan berbinar. Ia tersenyum lebar.
"Tetapi, aku tak mau melihatmu lagi, seumur hidupku," lanjut Demian cepat.
Senyum lebar Deborah seketika luntur. Matanya mulai berkaca-kaca. Demian paling tak bisa melihat wanita menangis.
"Tapi, kenapa? Tolong, beri aku kesempatan lagi. Aku tau aku salah, tetapi, bisakah kau melupakannya?" pinta wanita itu memohon.
"Maaf, tidak. Kau boleh hidup selama ingin mengembangkan usaha ayahmu. Aku tak akan mengganggunya!" tekan Demian.
"Sekarang, pergi lah!" usirnya pelan.
"Sayang ...," panggil Deborah dengan nada memohon.
"Pergi Deborah Vox!" usir Demian lagi.
Deborah ingin berlutut. Jacob langsung menarik tangan wanita itu lalu menyeretnya.
"Lepaskan aku! Jangan menghalangiku!" teriak wanita itu.
Jacob menghempaskan tubuh wanita itu begitu saja, hingga terjatuh di lantai.
Ia begitu kesal dengan muka tebal wanita ini. Deborah menangis tersedu.
"Jika begitu, balas lah dengan pengkhianat juga! Aku akan terima!' pekiknya.
"Jangan mengada-ada Nona Vox! Tuanku sudah jijik dengan barang bekas seperti mu!" teriak Jacob menghina wanita yang menangis.
"Pergi lah, sebelum Tuanku berubah pikiran dan menghancurkan perusahaan ayahmu!" tekan pria itu lagi dengan tatapan nyalang.
Deborah berdiri lalu mengusap air matanya dengan elegan. Ia pun membenahi dress yang ia beli seharga 200 euro itu.
"Baiklah, mungkin dia masih marah sekarang. Aku yakin, tak butuh waktu lama, Tuanmu akan mencariku dan memohon cintaku. Ketika hal itu terjadi. Aku langsung memintanya memecatmu!" ujarnya lalu berjalan dengan anggun.
Jacob menjatuhkan rahangnya tak percaya. Pria itu baru mendapatkan wanita dengan kepercayaan tinggi penuh.
"Apa otaknya ia gadaikan?" desisnya tak percaya.
Demian mengurut keningnya. Sungguh, ia bisa dengan mudah menjegal perusahaan George Vox. Tetapi, itu juga akan membuat banyak publik bertanya-tanya.
"Jac, telepon Tuan Vox, minta dia mengawasi putrinya!" titah pria tampan itu.
"Baik Tuan!" sahut pria bawahannya lalu membungkuk hormat.
Jacob pun pergi. Demian kembali menatap awan. Hatinya gundah. Sungguh, ia tak mau mengotori tangannya.
"Hmmm ... sepertinya, aku harus ke Indonesia," gumamnya bermonolog.
Sedang di mobil, Deborah di telepon seseorang. Wanita itu mengangkat teleponnya.
"Halo!"
"........!"
"Apa kau yakin?" tanyanya tak percaya.
".......!"
"Baik, temui aku di cafe xxx di dekat taman kota!" ujar Deborah lalu menutup ponselnya.
"Jadi, selama aku pergi. Kau telah menjalin hubungan dengan gadis lain?" tanyanya dengan nada lirih.
"Aku pastikan gadis itu tak akan bisa mendapatkan mu, Demian Starlight!" ujarnya penuh kesungguhan.
Sedang di benua lain. Sosok gadis kini tengah menunduk, tujuh pria menatapnya penuh selidik. Setelah menyanyikan lagu Jealous milik Labirinth tadi, membuat semua pria gusar.
"Katakan, kau bernyanyi tadi untuk siapa?" tanya Haidar dengan penuh kecemburuan.
Bart sangat yakin dengan pria yang kini sedang dekat dengan cucu perempuannya itu. Kemarin ketika pulang ke Indonesia, ada sosok pria yang menunggu Lidya di bandara.
Sementara para wanita juga memandang gadis remaja itu dengan tatapan sedih. Terra sangat berat jika ada pria yang meminta Lidya-nya.
"Kau masih terlalu muda sayang," ujar Herman dengan nada sendu.
"Benar, aku yakin, pasti masih banyak cita-cita mu yang belum kau wujudkan!" tekan Virgou.
"Sayang, lihat Baba! Bukannya kami melarangmu memiliki perasaan lain terhadap lawan jenis!" kini Budiman yang berkata.
Gisel memutar mata malas. Sedang Puspita dan Seruni hanya bisa menghela napas panjang. Khasya sependapat dengan suaminya. Ia merasa Lidya masih terlalu muda untuk menjalin hubungan yang jauh lebih serius.
"Tapi, apa Iya tak boleh jatuh cinta?"
"Tidak!" jawaban kompak dilontarkan semua pria.
bersambung.
Hadeuh ...
hai- hai ... yuk dukung karya othor yang lain yaa.
The Real princess (on going)
Kesempatan kedua. (On going)
next?