
Budiman tiba-tiba membunyikan klakson mobil. Enam pria itu terkejut. bukannya mereka lari, malah langsung menyerang Puspita.
Terra seperti lupa bersuami. Ia langsung keluar padahal jarak mereka cukup jauh sekitar lima puluh meter. Haidar ikut mengejar istrinya.
Para tim keamanan segera menyusul. Budiman masih mengamankan mobil majikannya.
"Bangsat. Jangan main keroyokan woy!" teriak Terra bar-bar.
Haidar cukup kaget mendengar teriakan istrinya. Tiba-tiba Virgou sudah mendahului Terra.
Melihat banyaknya yang datang. Membuat enam orang yang menyerang Puspita berpencar dan menyerang Virgou, Terra dan Haidar.
Bug! Plak!
Baku hantam terjadi. Terra masih sempat menendang kepala penyerangnya. Haidar meninju babak belur muka yang juga menyerang dirinya. Virgou hendak menembak penyerangnya.
Si penyerang langsung terjatuh mundur. Tiba-tiba.
Dor!
Suara letusan senjata api. Semua penyerang tiarap, takut kena peluru nyasar. Puspita yang sedang asik menghajar penjahat yang menyerangnya sampai berhenti.
Semua tim pengawal, termasuk Budiman langsung meringkus enam orang tersebut. Mereka di seret ke tengah jalan raya yang sepi. Wah mereka sudah babak belur dihajar oleh Virgou.
Bag! Bug! Gedebug!
Tidak ada satu pun suara kesakitan keluar dari mulut para penjahat. Budiman menendang salah satu penjahat yang hendak bergulingan di aspal.
Terra menyambangi Puspita. Ia menenangkan salah satu karyawan terbaiknya itu. Puspita menangis karena shock. Beruntung ia adalah salah satu pelatih bela diri judo. Makanya dengan mudah ia bisa melawan tiga orang yang masih menyerangnya tadi.
"Nona, saya harus ke rumah sakit. Papa mau dioperasi," ucap Puspita memberi tahu.
"Di rumah sakit mana?" tanya Haidar dan Terra bersamaan.
"Pratama Huda hospital," jawab Puspita dengan suara gemetar.
"Biar kutelepon pihak rumah sakit, agar langsung memberikan penanganan. Siapa nama Ayahmu," ujar Haidar langsung mengambil ponsel di saku celananya.
"Ta ...."
"Hais ... cepat beri tahu saja, Kak!' paksa Terra.
Puspita memberi tahu nama ayahnya, di ruangan berapa sang ayah dirawat dan sakit apa.
Setelah mendapat kepastian dengan memberikan bukti foto pasien. Puspita membenarkan jika itu ayahnya. Para dokter langsung mengambil tindakan. Ayah Puspita harus dipasang ring di jantungnya. Puspita sedikit lega. Ayahnya sudah ditangani.
Polisi berdatangan. Mereka langsung menggelandang enam orang tersebut yang ternyata sebagian adalah resedifis sebagian adalah DPO narkoba.
Virgou mendatangai Terra, Haidar dan Puspita.
"Kalian tidak apa-apa?" semua mengangguk.
"Kakak kenapa bisa ada di sini?" tanya Terra bingung masalahnya ia tak menyadari adanya mobil lain.
"Aku mengikuti kalian yang ngebut tadi. Kukira ada apa. Ternyata melihat Puspita diserang. Aku pun langsung lari," jawab Virgou kemudian menghela napas panjang.
"Kakak, sama spasa?' tanya Terra.
"Astaga, aku meninggalkan kakek-kakek di dalam mobil!' ucapnya sambil menepuk dahi.
"Grandpa!" pekik Haidar dan Terra bersamaan tak percaya.
"Maaf, Nona. Saya harus ke rumah sakit segera. Saya mengkhawatirkan Ibu, saya!" ucap Puspita pamit.
"Ah, baiklah Kak," ujar Terra mempersilahkan.
Tiba-tiba, Virgou merebut kunci motor Puspita. Ia mengambil alih kemudi.
"Tuan!"
"Naik!" titahnya.
"Kak, Grandpa gimana?" tanya Terra bingung.
"Suruh Budiman antar Grandpa ke mansionku!"
"Tuan ... saya bisa sendiri," ujar Puspita tak enak hati.
"Naik kubilang!" sentak Virgou dengan tatapan dingin.
Dengan berat hati. Gadis itu duduk di boncengan. Virgou menarik dua tangan Puspita untuk memeluk pinggangnya. Sejurus kemudian motor itu melaju dengan kecepatan tinggi.
"Huh, dasar modus!" sindir Terra sinis.
Mobil Jeep putih milik Virgou datang. Ternyata Bart mengendari mobil itu sendiri. Ia turun dengan wajah kesal bukan main.
"Mana bocah sialan itu!"
"Sedang berusaha mendapatkan cintanya, Grandpa," jawab Haidar polos.
"Hadeh ... anak itu. Tidak tahu jika ia membawa orang yang sudah tua!" omelnya menggerutu.
Budiman mengantar pria tua itu. Pengawal tampan itu harus menyumbat kupingnya agar tidak mendengar ocehan Bart sepanjang ia mengantarnya ke mansion Virgou.
"Kamu lupa udah bersuami!" omel Haidar kesal.
"Maaf," cicit Terra.
Wanita itu benar-benar lupa jika ia sudah bersuami bahkan segelnya sudah porak poranda dibuat oleh pria yang tak berhenti mengocehinya itu.
Sedang kan Virgou yang mengendarai motor trail Puspita sudah sampai halaman parkir rumah sakit. Mereka berdua turun. Entah kenapa. Helm yang dikenakan Puspita susah dilepas.
"Tuan, helmnya nyangkut," rengeknya.
Virgou melepas helm itu. Setelah lepas dan mengunci ganda motor itu. Mereka berdua berjalan beriringan menuju ruang di mana ayah gadis itu tengah menjalankan operasi.
Seorang wanita berusia empat puluh lima tahun tengah duduk di depan ruang operasi dengan sedih. Bahunya terus bergetar karena tangis.
"Mama," panggil Puspita.
"Uni," sahut wanita itu lalu merentangkan tangannya.
Puspita langsung berhambur ke pelukan sang ibu. Mereka berdua menangis.
"Papa sedang dioperasi. Tadi ada masalah dengan tekanan darahnya hingga Dokter sempat menunda operasinya," jelas wanita itu.
"Kita berdoa bersama-sama ya, Ma. Biar Papa segera sembuh dan operasinya lancar," ujar Puspita dengan suara serak.
"Aamiin aamiin ya rabbal alamiin," wanita itu mengamini doa putrinya.
Tiba-tiba wanita itu menatap pria dengan pesona luar biasa. Ia mengangguk hormat juga sopan pada wanita itu.
"Siapa, dia, Nak?' tanya sang ibu pada putrinya.
"Ah ... beliau adalah ...."
"Assalamualaikum, Bu. Perkenalkan saya Virgou, calon suami anak ibu," sahut Virgou memperkenalkan diri.
"A-apa," Puspita terhenyak.
Sang ibunda menatap Virgou dan putrinya. Ia pun tersenyum pada sang putri. Akhirnya kekhawatirannya tak terjadi. Sedang Puspita menggeleng lemah.
Baru saja gadis itu hendak mengatakan sesuatu. Tiba-tiba seorang perawat keluar sambil berteriak.
"Pasien mengalami kekurangan darah. Siapkan darah golongan AB negatif!"
"Saya memiliki golongan darah AB negatif, apa bisa didonorkan?"
Perawat menoleh.
"Jika kami kekurangan stok, bisa Pak. Tunggu ya," jawabnya.
"Darah AB negatif hanya tinggal dua kantung. Apa cukup?" tanya salah seorang perawat yang membawa kantung darah dalam satu troli khusus.
"Kurang. Ah, Bapak ini katanya mau mendonorkan darahnya. Bisa kita cek dia," jelas perawat tadi sambil menunjuk Virgou.
"Saya juga mau donor!" tiba-tiba Puspita menawarkan diri.
"Nak, jangan. Kau memiliki rendah akut," ibunda melarang putrinya.
Bahu gadis itu langsung turun. Ia sedikit kecewa tidak bisa ikut andil untuk kesehatan ayahnya.
"Sudah, tidak apa-apa. Doamu sudah cukup bagi kesembuhan Ayahmu," ujar ibunda menenangkan putrinya.
"Baiklah, Ma," sahut Puspita lalu duduk di sebelah sang bunda dan memeluknya.
Dua kantung darah di bawa masuk. Virgou keluar dengan wajah sedikit pucat dan lemas. Puspita bangkit dan langsung menyambangi pria itu, begitu juga ibunda gadis itu.
Mereka berdua mendudukkan Virgou di kursi besi rumah sakit. Salah seorang suster membawa segelas susu.
"Maaf, tolong paksa Bapak ini untuk minum susunya. Ini diharuskan agar beliau tidak tumbang karena tadi dia mendonorkan 500cc darah sekaligus," jelasnya.
Puspita menerima gelas itu lalu menyodorkannya di bibir pria dengan sejuta pesona itu. Virgou merengek. Ia paling tidak suka susu.
"Ayo minumlah, Nak. Mama, mohon," pinta ibundanya Puspita membujuk.
Virgou menatap malas gelas susu itu. Namun, melihat mata permohonan dari dua wanita cantik di depannya. Ia pun menenggak habis susu itu. Walau nyaris muntah.
Ibunda langsung memberi satu botol air mineral yang tadi ia bawa ke ruang tunggu kepada Virgou. Pria itu langsung menenggak habis air itu untuk mengusir enek karena minum susu.
"Calon suamimu lucu, Nak," ucap ibunda sambil terkekeh.
"Lucunya di mana, Ma?" tanya Puspita.
"Dia nggak suka minum susu. Jadi selamat lah dua benda di dadamu ketika malam pengantin nanti," jelas sang ibu lagi sambil terkekeh.
Puspita masih mencerna perkataan ibunya. Sedang Virgou hanya tersenyum penuh arti.
'Kalau susu yang itu mah beda lagi, Ma. Aku suuukkkaaa banget!' ujarnya terkikik dalam hati.
bersambung.
wadidaw. Susu apa yang dimaksud ibunya Puspita sama Virgou yaa?? Othor masih volos nih 😂ðŸ¤
next?'