TERRA, THE BEST MOTHER

TERRA, THE BEST MOTHER
TAWURAN OTAK



Darren berada di kelasnya. Ia sengaja tak mengambil jam istirahatnya. Ia memilih mengerjakan semua tugasnya. Beberapa murid tidak menyukai kegeniusan pria kecil itu, mulai meledeknya.


"Eh, lihat dia. Keknya dia punya kelainan deh?" sela salah satu murid pria sambil menggerakkan kepala menunjuk Darren yang duduk dekat jendela.


"Oh, anak orang kaya itu. Ibunya suka wira-wiri di tipi," jelas salah satunya.


"Anak orang kaya pacarnya buku. Ntar bikin anaknya ditulis semua!"


Gelak tawa terdengar. Darren sama sekali tidak menghiraukannya. Ia masih fokus dengan buku dan pulpennya.


"Widih ... kita dicuekin. Dia lagi bercinta tuh sama buku dan pulpennya ... ah ... nikmat ... uughh ... aaahh ... laghiih !!!"


Semua terbahak. Darren benar-benar tuli. Ia malah penasaran dengan satu soal yang menurutnya sulit. Pria kecil itu berkali-kali mencoba berbagai rumus. Tetapi, semua rumus malah membuat banyak jawaban yang tidak sama.


"Kok, jawabnya beda ya?" gumamnya heran.


Darren menggaruk kepalanya. murid-murid yang mengatainya dari tadi benar-benar tidak dihiraukan. Mereka makin kesal.


"Gila si Darren. Kita dari tadi ngatain dia, nggak denger sama sekali?" ujarnya gusar.


"Dia itu ngapain sih?"


Akhirnya empat murid itu mendekati Darren, karena penasaran. Mereka terbengong melihat banyaknya rumus yang dicoret murid satu-satunya yang genius di sekolah ini.


"Lu ngapain sih, Dar?" tanya Cello.


"Iya, muka lu suntuk!" ujar Keno


"Njiirrr, Lu nulis surat cinta apa rumus togel sih?" kini Ferry heran dengan semua coretan Darren.


"Gue lagi tawuran!" jawab Darren asal.


"Wadidaw ... lu tawuran nulis ginian. Pa'an nih, rumus E\=M²?" tanya Genta berseloroh.


"Ini rumus fisika, gue dari tadi bingung sama soalnya. Milih ngerjain dengan berbagai rumus jawabannya beda semua!" jelas Darren putus asa.


Keempat murid tadi akhirnya duduk bersama dengan Darren bahkan ada yang menggeser bangku untuk duduk bersama.


"Ini bukannya hukum Archimedes ya?" tanya Ferry ketika melihat soal.


Darren pun duduk dengan serius. Ia kembali membaca soal rumus hukum Archimedes. Dalam menghitung gaya tekan ke atas (Fa) dipengaruhi oleh tiga hal yaitu:


A. Massa Jenis Fluida (ρ)


Semakin besar massa jenis fluidanya maka semakin besar gaya atas yang dihasilkan sebaliknya semakin besar kecil jenis fluidanya maka semakin kecil gaya atas yang dihasilkan.


B. Volume Benda (v)


Semakin besar volume benda maka semakin besar gaya atas yang dihasilkan, sebaliknya semakin kecil volume benda yang diangkat maka semakin kecil gaya atas yang dihasilkan.


C. Gravitasi Benda (g)


Semakin besar gravitasi benda maka semakin besar gaya atas yang dihasilkan, sebaliknya semakin kecil gravitasi benda yang diangkat maka semakin kecil gaya atas yang dihasilkan


Rumusnya:


F \= ρ . g . V


Dimana Fa \= gaya tekan keatas satuan Newton (N)


ρ \= massa jenis satuan Kg/L


g \= gravitasi satuan N /Kg


V\= volume satuan m³. (sumber detik.com).


"Wah, kok gue nggak kepikiran ke sana ya?' tanya Darren pada dirinya sendiri.


"Nih, kita anggap aja ini adalah masa jenis satuannya. Kan dia menunjukan berapa jumlah berat kan?" Darren mengangguk.


"Lu masa pembilang dikali pembilang sih!' protesnya.


"Eh, gue salah!" aku Ferry.


Mereka kembali menghitung ulang jawaban. Genta dan Keno mulai ribut. Perkalian Cello salah juga.


"Kalo nolnya banyak gini. Lu buang aja dua. Kan yang dibagi dengan seratus!"


Akhirnya soal yang Darren pusingkan selesai dan jawabannya sama dengan yang dibuku. Kelima pria itu bersorak kegirangan.


"Gini aja. Gue tantang kalian tawuran otak, gimana?" tantang Darren.


"Emang otak bisa pegang golok gitu?" tanya Genta polos.


"Et dah, Gen. Gue kira Lu tambah pinter barusan ngerjain soal!" ledek Keno sebal. "Nambah ajuur!"


"Lah, dia ngajak tawuran otak. Sejak kapan otak bisa berantem!" sela Genta membela diri.


"Bener juga sih. Ah, lu jangan ngadi-ngadi deh, Dar. Maksud Lo apa!" sahut Cello tak sabar.


"Ya kita tawuran otak ngerjain ini lah!" jelas Darren menyodorkan buku pra tugas UN. Keempat murid yang tadi meledek Darren habis-habisan menatap buku dengan cover gambar diagram pitagoras. Mereka saling tatap.


"Gimana. Berani nggak kalian terima tantangan gue!" tantang Darren lagi.


Darren sangat tahu. Keempat murid itu berotak lumayan cerdas. Hanya saja, mereka masih labil dan banyak main. Darren ingin menarik minat mereka dalam belajar.


"Sebenarnya tadi asik juga sih. Otak gue mendadak pinter gitu," ujar Cello mulai terbujuk.


"Gue juga," sahut Genta, Keno dan Ferry..


"Ya, dari pada ngerjain ini. Mending tugas guru matematika yang tadi nih," sela Cello mengingatkan.


"Ah, iya. Gue juga belum ngerjain," ujar Darren.


akhirnya mereka berlima pun memulai tawuran otak mereka. Hingga bel istirahat usai. Mereka melanjutkan belajar menyimak pada guru yang mengajar di depan kelas.


Wakil kepala sekolah yang mengintip keseruan lima murid yang tengah mengerjakan tugas, tersenyum. Ia sangat yakin jika Darren memiliki pengaruh yang baik untuk teman-teman sekelasnya.


"Gara-gara kamu, Bapak jadi punya ide!" sebuah ide brilian melintas di kepalanya.


Pria bertubuh kurus dan dan tinggi itu buru-buru ke ruangannya. Menulis tiga buah soal. Di atas soal ia menulis. "Berburu otak pintar.". Tak lupa ia tuliskan beberapa hadiah menarik yang berhasil menjawab soal ini segera mungkin.


Setelah menulis, ia pun memajangnya di mading warna terang dan mencolok akan menarik minat murid-murid yang memiliki keingin tahuan tinggi.


"Darren pasti tertantang. Ia ingin otaknya diburu. Dia pasti akan mengajukan otaknya," ujar wakil kepala sekolah begitu yakin.


Benar saja. Umpan baru diceburkan. Banyak anak-anak cerdas tertarik dengan seruan berburu otak termasuk Darren, Genta, Cello, Ferry dan Keno.


Mereka menulis soal yang dibuat oleh kepala sekolah. Membentuk kelompok segera di depan kantor wakil kepala sekolah. Menguji jawaban mereka. Ada tujuh anak yang mengerjakan saat itu juga dan langsung menyerahkan jawaban mereka pada wakil kepala sekolah termasuk kelompok Darren.


Betapa bahagianya wakil kepala sekolah. Melihat antusiasme para murid. Kepala sekolah mendukung ide wakilnya. Sebuah event besar pun muncul. Hadiah tidak tanggung-tanggung. Satu buah laptop untuk juara satu.


"Bapak dapat ide ini dari mana?" tanya kepala sekolah begitu senang.


Wakil kepala sekolah bernama Hendi menjelaskan. Kepala sekolah begitu kagum pada Darren. Murid itu mengambil kelas akselerasi.


"Pengaruhnya baik sekali. Kita dukung ini. Tetapi, mesti kita awasi. Takutnya ada kecurangan," Hendi mengangguk.


"Baik, Pak. Saya akan membentuk tim untuk melakukan even ini!"


Kepala sekolah bernama Sudrajat, ini menepuk bahu wakilnya. Ia pun juga akan menjadi salah satu anggota tim nantinya.


bersambung.


eeh ... tawuran otak ... othor harus apaaaaa!


next?