
Memang Frans tidak menjanjikan apa pun. Tapi pria itu memastikan akan memberi bantuan. Goerge pulang dengan hati sedikit lega. Ia berjanji akan menyambangi pria itu setiap hari sampai ia memastikan kepulangan Deborah.
Frans duduk di kursi kebesarannya sambil mengurut pelipisnya. Ia bingung menelepon kemenakannya Terra. Ia bingung harus dimulai dari mana.
Frans melihat benda bulat di dinding. Jam menunjukkan pukul 11.23. berarti sudah sore di Indonesia. Pria itu memutuskan akan menelepon Terra nanti setelah semua pekerjaannya selesai.
Sedang di rumah sakit. Putri sudah bisa pulang. Ia harus istirahat setidaknya satu bulan dan melakukan terapi jalan, beberapa urat di pahanya putus akibat tikaman penjahat itu. Memang dengan menggerakkan dan melakukan terapi yang konsisten, Putri akan berjalan normal.
"Untuk saat ini, pasien harus menggunakan kursi roda dulu. Hingga ketika semuanya sudah pulih, baru menggunakan bantuan kruk. hal itu dimaksud agar ototnya tidak kembali putus karena dipaksakan," jelas dokter wanita ketika membuka jahitan di paha dan lengan Putri.
Gadis itu mengangguk. Lidya yang bersama sahabatnya itu memastikan jika Putri akan menjalankan semua anjuran dokter.
"Kalau begitu, ini resepnya dan pasien boleh pulang. Ke rumah sakitnya ketika hendak therapi berjalan aja ya, satu minggu dua kali," jelas dokter lagi.
"Iya, Dok. Terima kasih," ujar Lidya lalu mengambil resep.
Putri meminta resep itu, tapi ditolak oleh Lidya.
"Tapi, kamu udah keluar banyak dengan biaya pengobatanku," ujar Putri.
"Kau juga menjadi tamengku dan mengorbankan nyawamu!' sahut Lidya.
"Tapi ...."
"Lu masih gue sahabat kan?" tanya Lidya sambil menatap Putri sedih.
Putri pun diam, ia pun mengangguk. Akhirnya perdebatan dimenangkan Lidya. Gadis itu bersikeras mendorong kursi roda padahal, Gio sudah ingin mendorongnya.
"Sudah nggak apa-apa, biar Iya aja."
Gio akhirnya yang meminta resep dan mengantri di apotek. butuh waktu dua puluh menit untuk menebus obat milik Putri.
"Berapa Om?" tanya Lidya.
"Kata kasir gratis, Nona," jawab pria itu.
"Panan bolon manti pamu belbosa woh!" sahut Lidya meniru gaya bahasa para bayi.
"Apa ada, saya pernah membohongi anda, Nona?" tanya Gio lagi.
"Ya, sudah. Iya percaya. Sekarang, kita ke bagian administrasi untuk melunasi pembayaran rumah sakit," ajak Lidya.
Ketika sampai di kasir rumah sakit, ternyata semua sudah dibayar alias sudah lunas. Lidya bingung. Masalahnya, baik ibu maupun kakak juga ayahnya tak satu pun mengatakan jika pengobatan sahabatnya itu sudah dibayarkan.
"Apa Mama dan Papa yang bayar, atau Kakek, Grandpa?" Lidya menerka-nerka siapa yang membayar semua biaya pengobatan Putri, sahabatnya itu.
Akhirnya mereka pun pulang, mengantar Putri ke rukonya. Butuh waktu tiga puluh menit untuk sampai tempat itu.
Ayah dan ibu Putri menyambut bahagia. Anaknya sudah lepas dari bahaya. Lidya menjelaskan keadaan sahabatnya.
"Jadi, untuk saat ini, Putri diberi cuti hingga sembuh. Jangan banyak menggunakan kakinya untuk menopang atau berjalan juga berdiri terlalu lama," terang Lidya.
Kedua orang tua Putri mengangguk. Mereka mengerti dan mengucap banyak terima kasih. Lidya pun pulang ke rumahnya.
Sedang di benua lain, ini hari ke tiga Goerge mendatangi Frans kembali. Kesibukan pria itu membuat lupa akan janjinya menolong pria itu.
"Apa Tuan Frans ada?" tanyanya.
"Maaf, Tuan. Atasan saya sedang ada di luar kota, kemungkinan besok beliau baru ke kantor," jawab resepsionis.
George langsung lesu. Bahunya turun, tetapi ia tak mau menyerah.
"Jika begitu, bisakah sampaikan jika saya mencarinya?" pinta pria itu memohon.
"Baik Tuan," sahut resepsionis itu lalu tersenyum.
Pria itu pun mengangguk pasrah, lalu pergi dari perusahaan besar itu. resepsionis cantik itu pun mengangkat bahunya acuh. Ia pun kembali berkaca, lalu mengoles kembali bibirnya.
Ke esok harinya, pria itu kembali datang, walau tanpa janji sebelumnya. Ia bertekad untuk menunggu Frans dan menanyakan perkembangannya. Sudah dua minggu lebih ia belum mendapat kabar apa pun, baik dari kedutaan maupun dari direktorat pendudukan. George terus menyambangi ketiga tempat itu untuk mencari dan mendapatkan kembali data putrinya.
”Selamat siang Nona," sapanya pada resepsionis.
Wanita itu hanya mengangguk lalu menatap sinis pria yang berpenampilan kacau itu. Sungguh, karena ia mondar-mandir di tiga tempat berbeda membuat pria itu berpenampilan kacau.
"Apa Tuan Dougher Young sudah datang?' tanyanya.
"Apa anda gila Tuan. Sepagi ini kau menanyakan Tuan Dougher Young?!" hardik wanita itu kesal.
"Anda belum buat janjikan dengan atasan saya?!" tanyanya dengan suara meninggi.
George menggelengkan kepala, menandakan ia memang belum membuat janji pada penguasa bisnis itu.
"Silahkan buat janji dulu!" sentak wanita itu jutek.
"Aku sudah mengatakannya kemarin bukan?" tanyanya.
Wanita itu terlupa. Pria itu memang sudah menyampaikan pesan. Tetapi, kemarin ia lupa dan sibuk merias diri agar atasannya meliriknya. Ketika netra coklat terang itu menatapnya, ia gugup setengah mati dan lupa akan perkataan Goerge.
"Tuan Dougher Young kemarin tidak datang ke kantornya!" ujarnya berbohong.
Ketika Goerge melangkahkan kaki ke sofa tunggu. Wanita itu menghentikannya.
"Untuk apa kau ke situ?" bentaknya bertanya.
"Saya ingin menunggu atasan anda Nona," jawab pria itu.
"Tidak bisa!" ujarnya jutek.
"Dari kemarin kamu hanya mengganggu atasan saya, datang sesuka hati. Saya yakin, anda datang hanya ingin dikasihani. Iya kan?" hardiknya menghina.
Seumur hidupnya, ia belum pernah dihina seperti ini. Tangannya mengepal kuat. Ia baru tahu ada karyawan yang begitu arogan melebihi atasannya. Tetapi, demi bisa menemukan putrinya ia bertahan dihina seperti itu. Goerge pun hanya diam saja.
"Pulanglah, orang tua. Saya, kira atasan saya juga enggan jika bertemu tamu yang tak menguntungkan seperti anda," usir wanita itu dengan nada menghina.
"Siapa yang mengatakan seperti itu?"
Sebuah suara berat menggema. Frans sangat tidak menyukai tingkah karyawannya yang begitu kurang ajar pada tamunya.
"Apa kau tidak memberi hormat pada tamuku?" tanyanya dengan suara besar.
Resepsionis itu langsung bermuka pucat. Ia menelan saliva kasar.
"Berto!" panggil pria itu.
Seseorang dengan perawakan tinggi besar datang menghadap.
"Usir wanita ini dan pastikan. ia tak bisa bekerja di mana pun!" titahnya dengan suara dingin.
"Tuan," Goerge menegur Frans.
"Ah, Tuan Vox. Maafkan anak buah saya yang tak sopan pada anda," ujar Frans dengan nada menyesal.
Goerge begitu salut akan kerendahan hati Dougher Young. Memang mereka terkenal dengan kerendahan hatinya.
"Tidak masalah, Tuan," ujar Goerge tak mempermasalahkan.
"Mari ikut saya," ajak Frans.
Mereka pun berjalan menuju lantai paling atas. Sedangkan Berto melaksanakan tugas memecat resepsionis dan mem-blacklist wanita itu.
"Tuan, saya ke sini dengan tujuan sama, ingin meminta bantuan anda menemukan putri saya," ujar Goerge langsung pada inti bicara.
Frans menatap pria yang dua tahun usianya di atas dirinya. George memang lama baru mendapatkan seorang anak setelah usia istrinya sudah di atas tiga puluh tahun. Masa usia rentan untuk mengandung dan melahirkan. Terlebih dulu Frans sering mendengar jika Miranda sering masuk rumah sakit karena kandungannya yang lemah.
"Maaf, Tuan. Karena kesibukan saya kemarin, saya lupa," ujarnya penuh dengan nada penyesalan.
Pria itu pun mengambil ponsel dari sakunya. Ia pun seperti mencari sesuatu pada layar lalu meletakan benda pipih itu ke telinganya.
Frans melakukan sambungan telepon pada Terra. Goerge tak mengerti bahasa yang digunakan pria itu.
Ada perdebatan serius ketika Frans menelepon. Bahkan ada nada seperti memohon. Goerge berdoa dalam hati agar semuanya lancar. Tak terasa air matanya mengalir.
Frans menatapnya lalu menggeleng. Tubuh Goerge langsung luruh ke lantai. Frans sampai panik.
"Tuan anda tak apa-apa?"
Goerge diam. Ia menatap pria yang masih menatap pria yang memandangnya khawatir.
"Tuan, apa yang anda hubungi adalah orang yang bisa membantu putri saya?" Frans mengangguk.
"Tolong katakan padanya jika saya ingin bertemu dengannya," pinta Goerge.
"Te?" panggil Frans pada sosok di seberang telepon.
"........!"
"Saya mohon!" teriak Goerge yang pasti didengar oleh sosok yang bisa menolong putrinya itu.
".......!"
"Baik, Daddy akan katakan padanya," ujar Frans dengan bahasa yang tak dimengerti oleh Goerge.
Pria itu pun memutus sambungan teleponnya. Ia menatap Goerge lama. Menghela napas berkali-kali.
"Tuan," panggil Goerge.
"Apa anda mau ke Indonesia menemuinya?" Goerge langsung mengangguk
"Saya akan ke manapun anda tunjuk bahkan ke ujung dunia sekali pun!" jawab pria itu.
bersambung.
wah ... wah ... wah
next?