
Satu hari berlalu. Terra sedang melakukan review sebuah kerjasama baru. Terra merambah pada bidang internet. Selama ini jaringan internet sangat dimintai, terlebih berharga murah.
Kemajuan teknologi tak dapat dihindari. Ia juga harus memiliki terobosan baru. Kali ini ia akan mencoba membuka jalur akses internet penerbangan. Bagaimana internet ini berdiri di jalurnya sendiri.
Wanita itu tengah mengurai optik vital jalur penerbangan. Ia sangat paham signal dapat mengganggu jalur transport udara tersebut.
"Wah,.lumayan susah juga ya. Serat optik di atas lebih kuat. Belum lagi tekanan udara juga cuaca yang kadang tidak bisa diprediksi," ujarnya bermonolog.
Wanita itu terus mengurai bahkan menyusun kembali ion-ion udara juga partikel cuaca. Sebuah rumus tercipta. Wanita itu butuh konsep juga riset secara berkala untuk menyusun semuanya.
Gabe dan Rommy datang. Dua pria itu mengerut kening melihat keseriusan Terra. Gabe menatap kertas yang dicoret oleh adik sepupunya itu. Ia tertarik. Kemudian duduk di sebelah Terra. Begitu juga Rommy.
"Kamu mau memecah gelombang partikel udara?" tanya Gabe ketika melihat rumus yang diciptakan Terra.
"Nggak gitu juga. Emang ada yang bisa menentang hukum alam..Kita aja nggak bisa prediksi kapan angin berhembus dengan kencang ketika di darat. Bahkan BMKG juga suka salah," jawab Terra sengit.
"Trus ini kamu mau ngapain?"
Terra menjelaskan maksudnya. Ia pun mengurai semua poinnya.
"Jika kita bisa menciptakan internet jalur udara. Kebayang. Berapa banyak maskapai penerbangan yang mau mengakses ini untuk kenyamanan penumpangnya," jelasnya lagi.
Gabe mengangguk mengerti. Rommy sedikit takut, jika saluran internet dibuka untuk umum.
"Apa itu tidak terlalu berisiko? Jika satu pesawat boing 787 mengakses internet. Kan tau sendiri berapa kilobit partikel listrik yang terpakai. Belum lagi mereka pasti membutuhkan turbin lain untuk mendukung internet itu," ujar Rommy memberi pendapat.
"Iya juga sih," ujar Terra.
"Bagaimana jika ini hanya untuk jet pribadi yang kapasitas penumpangnya juga terbatas?" usul Gabe.
Rommy memencet interkom.
"Jhenna, coba kau panggilkan Pak Aden untuk datang ke ruangan CEO sekarang!" titah Rommy.
"Baik, Pak!"
Lima menit kemudian pintu ruangan diketuk. Aden masuk setelah, Rommy mempersilahkan ia masuk. Mereka kembali berdiskusi tentang ide yang muncul dari Terra.
Sore menjelang. Mereka pun pulang. Keempat orang penting perusahaan itu berjalan beriringan. Ketika sampai lobby barulah mereka berpisah. Gabe masih belum mendapatkan SIM-nya. Ia butuh satu tahun lagi tinggal di negara ini.
Gabe diantar jemput oleh mobil perusahaan. Bukan sebagai inventaris. Makanya pria itu tak bisa hang out ke mana pun tanpa tranportasi. Ia menggunakan taksi daring jika ia mau berpergian.
Rommy juga sudah naik mobil pribadinya, begitu juga Aden .Pria itu sedih ketika membeli mobil. Terra sangat tahu keinginan Aden membeli mobil.
Mobil Mercedes yang dikendarai Budiman berhenti tepat di depan lobby. Terra masuk ke dalam mobil.
"Kak, nanti kita ke kantor Mas Haidar ya. Dia minta jemput," titah Terra.
"Baik Nona!"
Mobil melaju dengan kecepatan sedang. Hanya butuh tiga puluh menit untuk sampai kantor Haidar. Terra turun dari mobil. Siapa sangka. Kedatangannya ditunggu oleh orang jahat.
Budiman yang posisinya di dalam mobil tentu sangat terlambat untuk memberi pengamanan pada kliennya.
"Dasar wanita tak berperasaan!' pekik seorang wanita menyerang Terra.
Haidar yang baru saja keluar dari pintu lift. Ia sangat terkejut melihat keramaian di lobby perusahaannya. Ia pun langsung mempercepat langkahnya.
"Sesil?" panggilnya tak percaya.
Kini murka lah Haidar. Pria itu meneriaki para sekuriti. Tidak hanya sekuriti, pria itu juga memarahi resepsionis.
"Siapa yang memperbolehkan dia menunggu di lobby. Jawab!" bentaknya.
Semua menunduk. Terra hanya menghela napas panjang. Budiman sudah menarik kerah baju wanita itu.
"Seret dia dan jangan pernah memperbolehkannya masuk di halaman perusahaan ini sekali pun!" titah Haidar.
Terra merasa sikunya perih. Ia melihat. Darah. Ia melotot. Sesil membawa benda tajam. Baru saja ia hendak memperingati Budiman. Tetapi.
"Kak a ....."
Srek! Sesil menyabet pisau ke arah Budiman. Tentu saja serangan mendadak itu bukanlah ancaman berbahaya untuk pria terlatih seperti Budiman. Pria itu menangkap pergelangan Sesil lalu memberi tekhnik kuncian. Pisau terlepas.
Haidar makin murka. Pria itu hendak menghajar wanita yang berani berbuat onar. Terra menahannya.
"Mas, tangan Te, terluka," adu Terra.
"Mana sayang?" tanya Haidar.
Terra memperlihatkan sikunya yang berdarah. Kini Budiman lah yang murka. Sekali pelintir saja ia pasti mematahkan tangan Sesil.
"Kak jangan gegabah!" teriak Terra memperingati.
Budiman mendengkus kesal. Ia pun menyeret wanita itu. Sekuriti telah memanggil polisi dan melaporkan gadis itu.
Sesil digelandang polisi dengan barang bukti. Ia akan berurusan dengan hukum cukup berat. Keluarga Wanda meminta jalur kekeluargaan. Haidar menolak.
"Maaf, Bu. Istri saya terluka akibat kejahatan anak Ibu!"
Terra diobati. Wanita itu harus disuntik anti tetanus. Pisau yang digunakan berkarat.
"Lukanya tidak terlalu dalam, tetapi pisau yang digunakan sangat berbahaya. Saya akan memberikan beberapa obat untuk pencegahan," jelas dokter panjang lebar.
Ketika sampai rumah. Semua anaknya menangis melihat tangan ibunya di perban. Terutama Lidya. Gadis kecil itu berkali-kali mengusap pinggiran luka dan mencium lengan Terra.
"Mama, nggak apa-apa Sayang," ujar Terra menenangkan.
Rion sangat marah dengan Budiman.
"Besok-besok. Om Budi jaga Mama jangan sendirian!"
"Siap, Tuan Baby!"
bersambung.
aduh ... Sesil ...
next?