TERRA, THE BEST MOTHER

TERRA, THE BEST MOTHER
MENGANTAR PULANG



Malam telah datang, Aini dan kedua adiknya diantar pulang oleh Terra dan Haidar. Darren dilarang ikut oleh Terra.


"Ma," rengek pria itu.


Terra menatapnya datar. Akhirnya Darren menurut. Bukan hal buruk, tetapi Terra tak mau Darren terlalu mengumbar janji. Sebelum kepastian keluar dari mulut Aini. Terra membatasi hubungan keduanya.


"Terima, Ma," ujar Ditya lalu masuk dalam rumah ya g telah dibuka oleh Aini.


"Nggak masuk dulu, Ma?" tawar Aini.


"Boleh," sahut Terra lalu masuk disusul oleh Haidar.


"Maaf berantakan," cicit gadis itu.


"Mama, Papa mau minum teh?" tawarnya lagi.


"Boleh," kali ini Haidar yang menjawab.


Radit pun sudah masuk kamar bersama kakaknya, hari ini keduanya lelah setelah bermain.


"Dek sikat gigi dulu," pintanya lembut.


Walau lelah, keduanya kembali keluar kamar dan melaksanakan perintah kakaknya. Terra terkekeh melihat dua anak itu yang berjalan gontai karena kelelahan. Aini meletakan dua cangkir teh manis hangat di hadapan dua orang tua pria yang mengisi hatinya.


"Silahkan diminum, Pa, Ma."


Terra menyeruput teh buatan calon menantu atau bisa dibilang adik iparnya itu. Haidar juga melakukan hal yang sama.


"Aini, Mama akan serius dengan semuanya dari sekarang," sahut Terra sambil meletakan cangkirnya.


Haidar pun melakukan hal sama dengan istrinya. Ia menatap Aini penuh ketegasan.


"Mama, paling tidak suka, jika putra Mama berpacaran terlalu lama. Mama takut banyak fitnah di sana. Jadi Mama memberi kepastian, jika hubungan ini akan berlanjut ke jenjang pernikahan," tekan Terra lembut tapi tegas.


"Aini mengerti, Ma. Jujur, Aini sendiri sudah berat dan sulit untuk melepaskan diri dari semua keluarga Mama dan Papa. Aini merasa memiliki orang tua sendiri," jawab Aini.


"Baiklah, Mama ijinkan kamu untuk istikharah. Terkadang jawaban itu sudah ada di depan mata, tapi setan tentu tak ingin pernikahan, mereka akan gencar menghasut kalian berdua. Makanya Mama melarang hubungan kalian terlalu intim," tekan Terra lagi.


Aini mengangguk. Ia bahagia karena wanita cantik di depannya begitu melindungi dan menjaga kehormatannya. Ia sangat yakin dengan semuanya.


"Mama beri waktu tiga sampai enam bulan masa perkenalan kalian. Ajak dua adikmu jika berduaan dengan Darren putraku," kini Haidar yang memberi ultimatum.


Aini kembali mengangguk. Terra memeluk Aini erat. Gadis itu dengan senang hati melenguh manja pada wanita itu. Ia bisa merengek pada Terra dan Haidar tanpa malu tadi, jika Darren menggodanya.


"Jaga dirimu dan adik-adik, sayang," pinta Terra lalu mengecup kening Aini.


"Iya, Ma," sahut gadis itu manja.


Haidar terkekeh. Ia senang jika gadis itu menerima mereka layaknya orang tua. Kedua adik gadis itu pun tak luput dari kecupan Terra dan Haidar.


"Selamat tidur sayang, Mama dan Papa pulang dulu, ya," ujarnya pamit.


"Assalamualaikum," sahut Haidar mengucap salam.


"Wa'alaikumussalam," sahut Aini membalas.


Gadis itu melambaikan tangan ketika mobil itu bergerak meninggalkan rumah sewanya. Ia pun menggembok pintu pagar. Ia melihat beberapa pria berada di sekeliling rumahnya. Ia menatap mereka. Mereka mengangguk. Ternyata Darren meminta pengawal untuk menjaga gadisnya. Aini pun masuk rumah dan mengunci pintu dan mematikan lampu.


Tadi, ia shalat isya berjamaah di rumah Darren. Kebetulan Haidar bertugas menjadi imam. Aini begitu hangat dan kerasan di rumah, terutama dua adiknya yang langsung ceria dan melupakan kesedihannya.


Aini ke kamar di mana dua adiknya berada. Ia belum lagi membelikan baju yang layak untuk Ditya dan Radit. Gadis itu pun mendekati dua balita itu. Mengusap kepala keduanya dan mengecup pipi mereka satu persatu.


"Selamat tidur sayang. Mba, akan selalu bersama kalian, sama seperti Mama Terra yang terus bersama ketiga adiknya," gumam Aini lirih.


Ia pun menyikat gigi dan langsung pergi tidur setelah membersihkan diri dan mengenakan piyama. Tak lama kedua matanya pun menutup.


Pagi hari setelah sarapan. Ia mengajak adiknya ke pasar membeli barang-barang keperluan sang adik. Sudah tidak ada lagi pria-pria yang menjaganya tadi malam, atau ia tak melihat mereka.


"Mau kemana, Nona?"


Aini nyaris menjatuhkan motornya karena terkejut bukan main. Rio ada di sana langsung menahan motor dan membantu Aini.


"Tidak apa-apa. Lain kali ucap salam dulu, ya."


Rio mengangguk. Aini mengunci rumah sedang Ditya sudah menaiki motor dibantu Rio dan memasang sabuk pengaman. Radit pun demikian. Rio membuka pagar. Aini menjalankan motornya.


"Saya mau ke pasar dulu, ya," pamit Aini.


Rio mengangguk. Motor itu pun melesat. Pria itu menutup pagar dan menggemboknya. Tak ada perintah khusus, Darren hanya meminta para pengawal untuk menjaga keamanan gadisnya. Ia pun pergi meninggalkan tempat itu setelah yakin keamanan sekitarnya.


Sedang di tempat lain. Demian makin pusing memikirkan hubungannya dengan Lidya. Ia benar-benar jatuh cinta pada gadis itu, tetapi ia belum bisa menggapainya sama sekali.


Jacob juga bingung dengan dirinya sendiri. Ia yakin memiliki perasaan pada Putri. Tetapi, ia juga bingung untuk memulai.


"Jika kita begini terus, kita akan kehilangan mereka, Tuan," sahut Jacob frustrasi.


Demian menghela napas panjang. Ia juga sudah mulai pasrah dengan keadaan. Andai ini negaranya, mungkin ia dengan leluasa berkunjung menemui Lidya.


"Kita baru beberapa bulan tinggal di tempat ini, Jac. Kita belum bisa melakukan apapun," jawab Demian dalam kepasrahan total. "Biar Allah mengatur semuanya, aku yakin Lidya jodohku."


"Haachi!" Lidya bersin..


"Alhamdulillah," lanjutnya.


"Yaharmukallah," sahut Putri yang tak pernah bergeser dari sisinya.


Memang hari ini hari minggu. Tetapi keduanya sedang ada dinas pagi. Hanya mengecek keadaan lalu pulang.


"Eh, ke mall yuk," ajak Lidya.


"Mau ngapain, gue mager," sahut Putri.


"Ih, nggak asik Luh," Lidya cemberut.


Putri pun mengalah, ia pun ikut sahabatnya jalan-jalan kali ini Lidya dibonceng Putri. Tentu saja dengan pengawalan ketat. Setelah banyak kejadian yang membahayakan nona muda mereka, para pengawal semakin ketat dalam menjaga, hingga kadang Putri yang jengah.


"Kita lihat-lihat dulu," ajak Lidya.


Dua sosok tampan juga tengah bersama penterjemah mereka. Demian dan Jacob belajar bahasa Indonesia belum lah lancar dan masih sedikit mengerti.


"Hai bule," sahut salah seorang wanita berpakaian seksi.


"Boleh dong ajak-ajak kita," rayunya genit.


Demian dan Jacob bergidik. Keduanya mempercepat langkahnya, hingga penterjemah setengah berlari mengikuti keduanya. Hingga.


Brug!


"Aduh!"


"Ah, Maafkan aku, No ... Lidya, Putri?"


Kini keduanya duduk di restauran, Putri tertawa paling keras ketika mendengar cerita Jacob kenapa tadi berjalan cepat.


"Kenapa kalian lari?" tanyanya sambil mengusap air mata karena tertawa.


"Ya, takut aja, takut mengkhianatimu."


Jawaban Jacob membuat Lidya tersedak. Demian sampai panik dan menepuk-nepuk pelan punggung gadis itu dan memberinya minum. Putri sampai merah pipinya karena malu.


"Kenapa mengkhianati ku?" tanyanya ragu.


"Karena aku jatuh cinta padamu," aku Jacob langsung.


bersambung.


sip tembak langsung ... Demian kalah set!


next?