
Hari pun berlalu. Sriani sedih bukan main, ia akan berpisah dengan putrinya dalam jangka waktu lama. Kemarin mereka semua sudah mengunjungi makam ayah mereka.
"Nak, baik-baik ya di sana ...," pesan Sriani sambil menangis.
Widya yang tak pernah jauh dari ibunya juga sangat bersedih. Ia ingin ibunya ikut bersamanya. Tetapi Sriani menolak. Terra dan keluarga mengantar bahkan Bart juga akan ikut serta pulang bersama cucunya.
"Kalian kapan-kapan mainlah ke Eropa," pinta Bart.
Virgou sampai kesal mendengar permintaan kakeknya itu.
"Apa dia pikir Eropa itu di seberang kali Ciliwung apa?!" sungutnya kesal.
"Kak!" peringat Terra.
Ia juga kesal dengan permintaan kakeknya itu. Memang Bart membuktikan dirinya bisa keluar masuk negara seenaknya seperti jalan-jalan ke mall. Bahkan ia membawa banyak hadiah untuk dibagikan pada koleganya.
"Nanti, Grandpa. Kita harus mengecek jadwal anak-anak sekolah dan mengurus visa mereka," sahut Haidar menenangkan pemikiran istri dan juga iparnya itu.
Bart mengangguk. Ia memeluk semuanya. Gabe juga memeluk Terra lama. Berkat bekerja dengannya, ia mendapat jodoh di sini. Widya memeluk ibunya. Baby Ella yang baru berusia satu tahun ini juga sedih akan berpisah dengan banyak saudaranya di sini terutama kakak yang ia sayangi Rion.
"Mama, pilan Ata' Ion ya, Ella paaaayaaan Ata' Ion," ujar Ella sedih.
Terra mencium bayi itu gemas. Sriani juga berkali-kali mencium cucunya itu. Anouncher berbunyi. Sebentar lagi pesawat akan lepas landas. Mereka harus pergi. Semua menangis melepas kepergian Gabe dan istrinya.
Bart juga ikut sedih, walau ia akan kembali beberapa minggu ke depan bersama David. Akan ada kejutan bagi keluarga Terra nanti.
"Ibu, Widya pamit ya, jaga kesehatan jangan suka melamun yang tidak-tidak ya!" Sriani menangis.
"I love you Bu!"
"I love you more Putriku!" seru Sriani sedih.
Kini mereka berjalan ke jet pribadi milik Bart. Semuanya masih melihat di kaca, melambaikan tangan mereka. Hingga semua naik dan pintu jet tertutup. Lalu kendaraan burung besi itu pun lepas landas.
Sriani menangis pilu. Baru saja berpisah ia sudah rindu setengah mati pada putri, cucu dan menantunya. Terra memeluknya juga berurai air mata. Baginya Gabe adalah kakak impiannya. Pria itu selalu bisa ia andalkan untuk mengurus perusahaan.
"Bu, jangan menangis seperti ini. Kita doakan mereka selamat sampai tujuan dan bisa berkumpul lagi nanti bersama ketika liburan," ujar Virgou menenangkan Sriani.
Wanita itu pun mengangguk. Memang berat jika memiliki seorang putri terlebih hanya satu. Ia harus melepaskan putrinya ikut bersama suaminya ke mana pun.
Kini semuanya beranjak pulang. Sriani memakai mobil Gabe yang dikendarai supir khusus untuk mertuanya pergi kemana pun.
Ketika di mobil, Budiman yang menjadi supir mereka, Virgou ikut bersama mobil Terra. Semua anak-anak ditinggal di rumah. Begitu sampai rumah barulah tangisan kembali pecah.
"Jadhi Baby Ella lama ladhi datan te syini ya Pa?" tanya Rasyid sedih.
"Iya, Baby, Baby Ella akan lama ke sini," jawab Haidar.
Dimas, Maisya dan Affhan kini sudah sekolah taman kanak-kanak. Mereka bersekolah di sekolah kakak-kakak mereka dulu.
"Kak Darren mana?" tanya Terra tak melihat anak sulungnya itu.
"Ada di kamar, Ma," jawab Rion.
Semenjak Gabe pergi, remaja itu sepertinya kehilangan sosok yang membimbingnya selama ini. Gabe memang begitu telaten membimbing dan mengajari adiknya dalam mengembangkan perusahaan.
Haidar dan Virgou naik ke menuju kamar remaja itu. Terra membiarkannya. Sudah saatnya para ayah memberi dukungan pada putranya. Herman sudah melakukannya tadi.
"Putramu itu sedikit keras kepala sepertimu," celetuk Herman sedikit mengeluh.
"Bahkan manjanya sama denganmu," sahut Herman lagi mencubit hidung kemenakannya itu.
Puspita dan Khasya hanya menggeleng kepala.
"Nggak sadar kalo Ayah juga keras kepala," celetuk Khasya.
"Eh, kok Ayah juga?" tanya Herman tak terima.
"Tuh kan ... sama," sahut Puspita.
"Daddy mereka juga tuh," keluhnya juga.
"Ah, memang keluarga keras kepala," sindir Khasya menimpali.
"Bunda," rengek Terra.
"Apa sayang," sahut Khasya.
Ia memang suka memanjakan kemenakannya itu. Baginya Terra sudah seperti putri kandungnya sendiri begitu juga Puspita.
Tiba-tiba ponsel Terra berbunyi. Sebuah sambungan video call sadi Bart. Ternyata ia juga membeli titik frekuensi internet di ketinggian tertentu.
Terra langsung mengangkatnya. Haidar, Virgou dan Darren sudah selesai berbicara kini ketiganya turun. Terra mengarah video call itu pada anak-anak.
"Grandpa, Daddy Gabe, Mommy Widya, Baby Ella!" pekik mereka kesenangan .
Setelah menyapa dan berbincang sebentar. Mereka pun sudah tidak sedih lagi. Sambungan pun telah selesai. Sepuluh menit cukup mereka saling sapa ketika berada di pesawat dengan jaringan jernih tanpa gangguan sama sekali.
"Alhamdulillah, sambungan internet via udara tidak terganggu sama sekali walau hanya sebentar, tetapi itu cukup untuk saling memberi kabar dan menelepon jika keadaan urgensi," ujar Terra menjelaskan.
Semua mengangguk membenarkan. Herman begitu bangga dengan kemenakannya itu. Ia bahagia menjadi salah satu bagian penting dari hidup Terra.
"Ayah bangga memiliki kamu, Nak."
"Terra juga bangga punya Ayah," sahut Terra membalas.
Keduanya berpelukan. Herman sedikit terharu, ia mengingat bagaimana buruknya ia dulu terhadap wanita ini.
"Jangan ingat yang lalu Yah," pinta Terra seakan tahu kegelisahan pria itu.
"Biar Ayah belajar, Nak. Agar tidak mengulang kesalahan yang sama," sahut Herman.
Khasya dan Puspita terharu. Keduanya juga bahagia menjadi bagian keluarga penuh kasih sayang ini. Terlebih mereka dianugerahi anak banyak.
"Minggu depan, kita ziarah ke makam ayah, ibu juga kakek nenekmu ya," ajak Herman.
Terra mengangguk. Ia sudah lama tak menziarahi makam kedua orang tuanya. Terlebih makam Kakek dan nenek.
"Sekalian habis itu mampir ke makam Anwiyah," lanjut Herman.
Lagi dan lagi Terra mengangguk. Kini semuanya makan siang bersama. Usai makan, anak-anak tidur siang.
bersambung.
Yaah ... Gabe pulang deh
next?