TERRA, THE BEST MOTHER

TERRA, THE BEST MOTHER
FAKTA MENGEJUTKAN



Terra sampai rumah bersama anak-anak. Rion masih membujuk ibunya agar tak memarahi kakaknya lagi.


"Baby, kamu jangan khawatir, sayang. Mama nggak marah sama Kak Darren, oteh," ujar Terra menenangkan bayi besarnya.


Ia juga tak tega jika marah beneran sama adik yang menjadi putranya itu. Ia tadi hanya kesal jika Darren menganggap sepele sebuah pernikahan.


Wanita itu duduk, Rion langsung mengadu pada Daddy juga Ayah Herman.


"Kenapa kau marahin putraku?" tanya Herman sengit.


"Ayah, Darren terlalu menganggap sepele pernikahannya, ia begitu santai, karena Ayah dan Kak Virgou mengurusi semuanya!" jawab wanita itu membela diri.


Herman dan Virgou terdiam Keduanya saling pandang satu dan lainnya. Terra heran.


"Ada apa, Kak, Ayah?"


Haidar dari tadi diam saja. Ia masih terus berdoa agar apa yang ia rasakan tidak menjadi kenyataan.


"Te, masalah pernikahan. Kita tak dapat kuota dari KUA. Semua tanggal penuh hingga enam bulan ke depan," jelas Virgou.


Terra terdiam.


"Jangan bercanda, Kak!" sahut Terra tak percaya.


"Ini benar, semua KUA di seluruh kota ini, tak ada satupun tempat yang bisa melangsungkan pernikahan. Mereka penuh semua," jawab Virgou jujur. "Jika tak percaya kau bisa tanyakan Gomesh dan David!"


Dua orang yang disebut namanya mengangguk tanda membenarkan perkataan Virgou. Terra masih diam.


"Bukan itu saja. Semua jasa layanan katering bahkan hotel mertuamu juga penuh, mereka menolak penambahan acara, karena akan menurunkan kwalitas kinerja mereka," ujar Herman lagi.


"Bahkan aku tak bisa mencetak kartu undangan bahkan hanya seratus saja," lanjutnya lemah.


Terra terperangah. Sebegitu tak direstuinya kah pernikahan putranya oleh alam dan inikah jawaban semua mimpinya.


"Sayang," panggil Haidar.


Terra menoleh. Ia menatap suaminya.


"Sepertinya kita terlalu cepat memutuskan putra kita menikah," sahut pria itu.


"Setelah, kita melamar gadis itu. Aku bermimpi buruk ...."


"Apa Mas bermimpi jika Darren berjalan sendiri dan yang di pelaminan bukan putra kita, melainkan orang lain?"Haidar mengangguk.


"Kau bermimpi sama?" kini Terra yang mengangguk.


Herman dan Virgou pun langsung menyimpulkan jika memang kedua anak itu tak berjodoh.


"Lalu, bagaimana kita menjelaskan pada gadis malang itu. Ingat, dia yatim piatu, Te, sangat sedih jika berita ini menyakiti hatinya," ujar Terra tak enak.


Semua terdiam. Lalu, Terra pun memilih menyiapkan kudapan untuk cemilan sore hari. Semua anak-anak sedang bermain. Puspita tengah menyusui Harun begitu juga Seruni. Sedang Maria tak ikut, ia bersama kedua putra dan satu putrinya yang baru lahir ada di rumahnya.


Sedang di rumah sakit, Darren pamit pulang dengan wajah gembira, begitu juga Aini. Keduanya sudah mengungkapkan apa yang mereka rasakan dan memutuskan jika keduanya menjalin persaudaraan.


"Gimana menurutmu, Om Gio?" tanya pria itu.


"Ih, apa sih Kak?" sahut Aini kesal.


Darren tertawa. Ia kini jadi lebih santai berhadapan dengan gadis yang baru saja ia putuskan menjadi adiknya itu.


"Eh, Kak. Besok Senin di rumah sakit ini juga ada event yang berhubungan dengan perusahaan Papa Haidar ya?" tanya gadis itu.


"Iya, katanya ada semacam kuis atau pemberian penghargaan pada tenaga medis yang berkualitas," jawab pria itu.


Aini mengangguk. Ia dan dua adiknya akan mengikuti beberapa perlombaan. Hari Senin ia bebas kerja jadi bisa mengikuti lomba.


"Kakak, pamit ya, sepertinya Lidya juga sudah mau pulang," ujar Darren.


"Hati-hati ya, Kak!" sahut Aini lalu melambaikan tangan.


"Ati-ati di jalan Mas Darren!" sahut Ditya dan Radit bersamaan.


"Mau dipanggil Kakak dong," pinta pria itu.


"Emang ada bedanya?" tanya Radit polos.


Darren tertawa ringan. Ia mengusap kepala anak itu dengan sayang.


"Memang tidak ada," jawabnya.


Darren tersenyum lalu mengangguk. Pria itu menyambangi tempat praktek adiknya. Lidya keluar bersama Putri. Mereka melambaikan tangan mereka.


Hingga semuanya menghilang dari pandangan Aini. Gadis itu meraba dadanya. Ada rasa sakit ketika Gio mengalihkan mukanya ketika mereka saling bertatapan.


"Mas Gio ...," panggilnya lirih.


Aini kembali masuk. Seorang perawat baru saja datang untuk membantu gadis itu.


Tak lama kemudian. Darren dan Lidya telah sampai di rumah. Keduanya cukup terkejut melihat semuanya berkumpul.


"Ada apa ini?" tanya Darren pada Lidya.


Gadis itu hanya menggeleng tanda tak tahu. Mereka masuk memberi salam.


"Wa'alaikumussalam!" sahut semuanya.


"Ayo, kita Maghrib dulu, sudah adzan!" ajak Herman.


Semua bersiap. Arimbi dan Puspita juga Lidya tak shalat. Mereka sedang berada dalam siklusnya.


Usai shalat, mereka bercengkrama. Lalu mereka menikmati makan malam.


"Darren, kamu jangan tidur dulu ya," pinta Herman. "Ada yang kami bicarakan denganmu."


"Baik, Ayah!" sahut pria itu.


Anak-anak tidur. Hanya orang tua saja yang tidak. Kecuali para wanita yang menyusui, seperti Puspita dan Seruni. Gomesh sudah pulang dari tadi. Begitu juga dengan Budiman. Ia pulang karena ibunya sedikit kurang enak badan.


"Duduklah," titah Herman lembut.


Darren duduk. Di depannya Herman dan Virgou menatap pria itu. Bart juga mendengarkan, tadi ia baru saja pulang bersama mertua cucunya pergi memancing. Pulang membawa tiga kilo ikan hasil tangkapannya dan tadi dimakan bersama.


"Ada apa sebenarnya?" tanya pria tua itu.


"Grandpa dengerin aja, oteh?" pinta Virgou.


Bart cemberut. Ia pun menurut. Herman mulai menghela napas panjang.


"Begini, Nak. Ini tetang pernikahanmu," ujar pria itu.


"Oh, soal itu. Darren juga ingin mengatakan sesuatu," ujar pria itu.


"Oh ya?" Darren mengangguk.


"Darren akan beritahu besok bersama Aini," ujar pria itu lagi.


Herman mengangguk, lalu menatap semuanya. Terra memberi isyarat agar Herman menahan berita yang akan di sampaikan. Mereka ingin tahu apa yang putranya katakan besok bersama pasangannya.


"Kalau begitu. Kita tunggu besok saja. Ayah juga menunggu apa yang ingin kalian berdua sampaikan," sahut Herman..


Darren hanya menurut saja. Kini semuanya menginap di rumah Terra. Darren tidur berdua dengan adiknya Rion. Kamarnya digunakan oleh Seruni dan David.


Hari berganti. Rumah sakit tengah mengadakan even besar untuk memberi penghormatan pada para medis yang berjasa. Safitri yang baru saja masuk kerja setelah masa hukuman, sangat antusias. Gadis itu juga ingin ikut beberapa lomba. Tetapi urung ketika ia melihat seorang wanita.


"Bu, saya harap ibu jangan ikut lomba ini. Ibu sedang mengandung!' larang Putri pada salah satu wanita.


"Hamil apanya, saya dinyatakan mandul loh sama dokter keluarga mantan suami saya," ujarnya dengan suara sedikit serak.


"Tapi, ibu benar-benar sedang mengandung!' tekan Safitri memberitahu.


Lidya yang tengah bersama Aini dan Putri melihat Saf tengah beradu mulut dengan salah satu pengunjung yang ingin ikut serta. Gadis itu pun mendatangi keduanya. Sedang Aini dan Putri tengah memberi semangat pada Ditya dan Radit.


Gio hendak mengikuti nona mudanya. Darren tengah menyemangati, Sky, Benua, Samudera, Bomesh dan Domesh.


"Apa anda yakin?" tanya wanita itu tak percaya.


"Benar, ibu sedang mengandung!" jawab Saf yakin.


"Jika, Ibu tak percaya, apa mau ibu saya periksa. Kebetulan saya seorang bidan," ajaknya.


Lidya hanya mendengarkan. Karena merasa tak ada apa-apa, ia pun kembali ke arena pertandingan dan menyemangati semuanya.


bersambung.


next?