TERRA, THE BEST MOTHER

TERRA, THE BEST MOTHER
ADUAN RION



"Putri Papa hebat," puji Haidar mencium gadis kecilnya.


Pria itu tahu apa yang terjadi. Beberapa pengawal telah melaporkan kejadiannya. Terra tersenyum. Anak-anak diganti bajunya oleh, Ani, Romlah, Gina dan Wati. Mereka semua tertidur termasuk Rion.


Terra menatap semua anaknya yang diletakkan di atas ranjang. Menciuminya satu persatu. Darren sudah masuk kamarnya. Lidya juga sudah mulai mengantuk.


"Iya, bobo siang dulu ya, Pa," pamitnya.


"Iya, sayang," ujar Haidar.


Lidya pun masuk kamarnya sendiri. Haidar masuk kamar. Ia melihat istrinya tengah berganti pakaian. Pria itu memeluk tubuh sang istri yang setengah tanpa busana.


"Sayang," rengek Terra.


"Apa sayang," sahut Haidar mesra di telinga istrinya.


Terra menghadap Haidar. Menatap netra pekat di sana. Haidar mencium ujung hidung sang istri.


"Sayang, ceritakan kelakuan big boss bayi kita?" pinta Haidar masalahnya ia begitu gemas dengan kelakuan putranya yang tampan itu.


"Biasa, dia banyak penggemar. Nawarin dia makanan, sok pake ngerayu segala lagi," jelas Terra sambil mencibir putranya.


Haidar terkekeh geli. Ia bisa bayangkan betapa banyak gadis yang akan meladeninya nanti.


"Sepertinya, sifat Daddynya menurun padanya," sahut Haidar.


"Ih .. jangan kasih tau Kak Virgou. Bisa-bisa diajarinya macam-macam nanti!" larang Terra.


Haidar lagi-lagi tertawa terbahak-bahak. Karena begitu keras hingga Rion terbangun dan empat lainnya terusik.


"Uughh!"


Terra melotot pada Haidar. Pria itu menyembunyikan senyum lebarnya. Sepasang suami istri itu pun berciuman. Semakin lama, semakin panas, bahkan ciuman Haidar turun ke leher istrinya. Hingga ....


"Papa, Mama ngapain?"


Terra langsung menjauhkan dirinya dari sang suami dan langsung mengenakan baju kaosnya. Beruntung dia sudah mengganti celananya tadi. Haidar garuk-garuk kepala.


Rion sudah berdiri di pinggir ranjang. Ia melihatnya kelakuan orang dewasa tersebut.


"Papa nggak ngapa-ngapain kok," jawab Haidar lalu menggendong Rion.


Empat lainnya tengah memainkan kaki mereka. Ternyata semuanya sudah bangun. Hanya saja masih lemas karena kurang tidur.


"Oh, Babies kalian terbangun gara-gara Papa tertawa ya?' ujarnya lagi dengan nada menyesal.


"Papa, picik!" sahut Sean manyun.


"Hei, kau mengatai Papamu picik?!"


Haidar tak terima. Ia menurunkan Rion lalu menggelitik Sean dengan mulutnya, hingga bayi itu tergelak. Terra pun menaikan kembali Rion. Memeluknya gemas. Rion menatap Terra.


"Mama, bibilnya kenapa besal?" tanya Rion aneh melihat bibir ibunya sedikit membengkak akibat ciuman panas tadi.


"Telus itu kenapa lehelnya melah-melah?" tanya Rion layaknya interogasi.


Terra menatap Haidar yang kini sepertinya lepas tangan. Ia sibuk menciumi empat anak kembarnya.


"Mama, Ion tanya!" paksa Rion galak.


"Ini ... ini karena alergi sayang. Iya, Mama alergi," jawab Terra akhirnya.


Rion pun mulai serius. Pria kecil itu tidak mau ibunya kesakitan. Wajahnya pun berubah sendu.


"Jadi, Mama lagi sakit?" tanyanya khawatir.


"Mama sudah tidak apa-apa, sayang," jawab Terra. "Sudah sembuh, ini efek saja."


Haidar masih acuh. Rion menatap ayahnya aneh. Kenapa malah pria dewasa itu tidak khawatir jika ibunya tengah sakit.


"Papa!" panggil Rion sedikit keras.


"Ah ... iya sayang?' sahut Haidar.


"Kok Papa nggak kasihan Mama. Ini Mama lagi sakit loh!" adunya.


"Ah, Mama, sakit sayang?" tanya Haidar pura-pura khawatir. Padahal bibir bengkak dan leher merah itu hasil perbuatannya.


"Mama nggak apa-apa. Sudah sembuh kok, nanti sudah nggak bengkak dan merah lagi," jawab Terra sambil memandang sinis suaminya.


Haidar hanya melipat bibirnya. Sungguh ia menahan tawanya setengah mati. Akhirnya karena hari sudah mulai sore. Semua mandi.


"Mas, Te, tadi beli ruko yang ada di perempatan jalan xxx dan jalan xxx. Buat buka jasa laundry kiloan," jelas Terra. "Te berinisiatif untuk membantu perekonomian Putri dan keluarga. Menyuruh mereka untuk mengelolanya."


"Hmmm ... bagus, sayang. Aku setuju," ujar Haidar menyetujui rencana istrinya.


"Makasih, Mas," ungkapnya lalu mencium pipi sang suami.


"Sama-sama, sayang," sahut Haidar tersenyum.


Terra sudah menyuruh Budiman untuk mengatur semuanya. Membeli dua mesin cuci biasa dan alat setrika, keranjang, plastik pembungkus, selotip dan alat pengukur berat digital dengan kapasitas seratus kilo. Sebuah buku kas dan nota.


Pria itu akan menyambangi rumah keluarga Putri dan menjemput mereka. Semuanya sudah di siapkan. Bahkan tempat tidur dan alat masak juga sudah lengkap.


Daini, Ibunya Putri begitu bersyukur. Begitu juga Dapto. Ia akan bekerja maksimal dan bertanggung jawab. Ia tak akan mengecewakan wanita yang telah menolongnya.


"Jadi mulai hari ini, Bapak dan Ibu juga Putri bisa tinggal di sini," jelas Budiman.


"Nah, ini pembukuan. Kalian bisa mencatat pemasukan dan pengeluaran. Kami sudah menyediakan nya selama satu bulan. Untuk bulan depan, kalian beli keperluan mencuci kalian juga beli token dari sini." jelasnya lagi.


"Anggap saja begini. Laundry satu kilo kita hargai 6000,- rupiah. Modal semua barang dan token adalah 4000,- rupiah. Jadi perkilo anda untung 2000,- rupiah. Untuk ekspres anda patok 10.000,- rupiah perkilo anda untung 6000,- perkilo. Apa jelas, Bu, Pak?"


Mereka mengangguk tanda mengerti. Setelah selesai menjelaskan. Budiman pun pulang. Melihat lokasi yang cukup strategis. Bahkan jalanan cukup aman untuk Putri pergi ke sekolah.


Sampai rumah, Budiman melaporkan semuanya pada Terra. Wanita itu pun mengucap banyak terima kasih.


Virgou dan Herman datang membawa semua anak-anaknya. Kangen Rion.


"Daddy, tadi Mama sakit loh," adu Rion yang disertai anggukan keempat adiknya.


Terra dan Haidar pun langsung pucat. Virgou yang menatap adiknya pucat langsung percaya aduan Rion.


"Sakit apa kamu, Te?" tanyanya cemas. Begitu pun Herman, sampai-sampai ia meraba kening Terra.


"Biya, padhi Mama pilang palegi ... eeumm ... apa Ata'?" jelas Al lalu bertanya perihal ibunya sakit apa tadi.


"Alelgi. Dad, Yah," jelas Rion lagi.


"Mama, sakit?" tanya Darren dan Lidya bersamaan dengan nada khawatir.


"Udah sembuh kok, sayang," jawab Terra akhirnya bisa menguasai kegugupannya.


"Alhamdulillah, kalo sudah sembuh," ujar Virgou lega. Begitu pun semuanya.


"Iya, tadi bibil Mama besar tlus lehelnya melah-melah!" aduan Rion masih berlanjut.


"Besar?" Rion mengangguk.


Puspita dan Khasya langsung membelalakkan mata. Virgou yang sadar langsung terkikik geli. Sedang Herman hanya geleng-geleng tak percaya melihat kelakuan kemenakan dan suaminya ini.


"Oh, sakit karena itu toh!" ujar Virgou. Terra melotot padanya. Pria itu menjulurkan lidahnya.


"Lain kali kalo Mama begitu lagi. Jangan khawatir sayang," lanjutnya.


"Peman penata Daddy?" tanya Nai polos.


"Itu sakit cinta namanya," jelas Virgou enteng.


Semua anak tak mengerti maksud Virgou. Terra menghela napas lega. Terra memang sengaja tidak mengumbar kemesraan di depan anak-anak.


"Nanti ada masa, dia tahu sendiri," jelas Terra dalam hati.


bersambung


et dah Rion 😂😂😂


next?