TERRA, THE BEST MOTHER

TERRA, THE BEST MOTHER
SS-2 KE KANDANG MAFIA



Sesuai rencana Virgou. Pria itu mulai mengajak anak-anak ke suatu tempat, di mana hukum tak berlaku. Kekuasan mendominasi, tidak hanya kekuatan fisik yang diperlihatkan, tetapi kekuatan otak, mental terutama kekuatan uang.


Virgou juga mengajari semua anak-anak tanpa terkecuali. Melihat sepak terjang mafia, loyalitas anak buah mereka. Juga strategi yang mesti dipelajari agar jika menemukan teknik ini di suatu tempat. Maka semuanya tahu harus melakukan apa.


"Papa, jika semuanya penjahat kenapa tidak dipenjara?" tanya Rion bingung.


"Inilah kekuatan dunia mafia, Nak. Bahkan para petinggi ikut andil di sini, makanya mereka jarang tertangkap tangan melakukan kejahatan, karena terorganisir begitu rapi," jelas Virgou.


"Jadi kita harus lebih pintar dan lebih cerdik dari mereka agar bisa ditangkap ya?" Virgou mengangguk.


Ia sangat kagum dengan kecepatan Rion mengamati. Sedangkan Lidya sudah tidak mau mendatangi tempat itu lagi ketika Virgou membawanya suatu hari.


"Sayang, kau harus menghadapi itu suatu hari dan kau harus melawannya," jelas Virgou setengah memaksa.


"Tahu Daddy, Iya sangat tahu maksud Daddy. Tapi, aura di sana menyeramkan sekali. Iya nggak kuat, mau nangis dan ingin mengobati semua luka yang ada di tempat itu," jelasnya.


Virgou tak memaksa akhirnya. Pria itu sangat paham akan ketakutan dan kekuatan putrinya.


"Andai Joker itu nyata. Mungkin ia akan bertekuk lutut di kakimu, Nak," gumamnya mengingat salah satu tokoh antagonis di sebuah film.


Dari semua anak perempuan yang paling antusias diajak pergi adalah Arimbi. Balita itu bahkan dengan berani menyoraki sebuah perkelahian. Gadis kecil itu marah karena perkelahian tak imbang.


"Talian beneput! Beulaninya beloyotan!" sindirnya sarkas.


Semua memandang gadis kecil yang tengah berkacak pinggang. Arimbi tengah mengamati sesuatu. Sebuah kayu kecil ia lempar pada pria yang hendak dikeroyok.


"Pihat, denan benjata tayu teusil seditu. Wowang ipu atan menalahtan palian memuana!" sahutnya sambil melempar kayu kecil seukuran sejengkal orang dewasa.


Pria itu mengambilnya, ia tersenyum penuh arti pada balita yang sok jago itu.


"Kalau dia kalah, kami mau minta hadiah!' seru salah satu pria pengeroyok.


"Tata Ion!" panggil Arimbi.


Rion datang berdiri di sisi adiknya. Virgou berdiri dibelakang keduanya. Sedang anak-anak yang lain sibuk entah membicarakan apa.


Menatap pria di belakang dua anak itu, membuat semuanya menelan saliva kasar. Mereka tak berani meminta apa-apa. Tetapi Arimbi meminta Virgou mencopot anting miliknya.


Anting dengan gambar strawberry itu akan menjadi hadiah bagi pemenang. Arimbi menatap sedih anting kesayangannya. Virgou bahkan berkali-kali bertanya kesediaan balita cantik itu.


"Ini bener akan jadi hadiahnya sayang?" Arimbi mengangguk.


Pertarungan akhirnya dimulai. Benar saja. Pria yang tadi dikeroyok menang mutlak hanya mengandalkan senjata yang diberikan oleh Arimbi. Balita itu sendiri yang menyerahkan hadiah pada pria itu.


"Terima kasih, aku harap suatu saat kita bertemu dalam ikatan yang berbeda," ujarnya.


Arimbi yang tak mengerti apa perkataan pria itu hanya mengangguk. Virgou langsung menggendong posesif Arimbi. Lalu menatap tajam pria yang hanya terkekeh melihat keposesifan ayah dari seorang putri kecilnya.


"Kau harus berhadapan denganku untuk mendapatkan adikku, Tuan!" tukas Rion dingin.


Pria itu lagi-lagi merasakan aura yang sangat kuat diperlihatkan oleh pria kecil yang berdiri menatapnya datar. Ia sangat yakin jika semua anak-anak yang melihat bukan lah anak-anak biasa.


"Daddy, tapan pita Pulan? Al posan bi simi!" ujar Al lalu menguap lebar.


"Daddy, ipu penata bulutna tekuan silup melah?" tanya Nai penasaran ketika suatu hari melihat ada orang keluar darah dari bibir karena habis dipukuli.


"Tebanyatan binum silup muntin," sahut Kean menjawab pertanyaan saudarinya.


"Ipu Olan napain ya main putun-putun aja?" tanya Maisya yang bingung setiap datang ke sini selaku dsuguhi perkelahian.


Virgou memang tidak secara bersamaan membawa anak-anak ke sarang mafia. Ada aula besar di sana juga tempat duduk, seperti sengaja dibuat untuk menonton pertunjukan.


Tentu saja, Virgou tahu hari-hari yang boleh dilihat anak-anaknya. Seperti perkelahian juga pengeroyokan. Ia belum berani ketika di mana hari ada adu tembak, atau penyiksaan pada para pengkhianat klan.


Walau habis melihat pertarungan itu, Virgou langsung memasang film kartun untuk mengalihkan memori mereka dari adegan kekerasan. Hal itu pun berhasil. Anak-anak sangat gembira ketika menonton film kartun bahkan jika sengaja dibisukan suaranya dan mereka yang mengisi suara dari tokoh kartun yang berperan.


Selama dua minggu, Virgou mengajak anak-anak secara bergantian. Darren yang lebih sering diajak.


"Daddy, Darren boleh pegang senjata?" tanyanya.


"Boleh," jawaban Virgou membuat remaja itu tersenyum. "Tapi ketika usia mu sudah dua puluh lima tahun."


Darren mengerucutkan bibirnya. Virgou terkekeh. Hari ini adalah hari terakhirnya membawa anak-anak ke markas mafia. Pria itu sudah mengetahui motif mafia yang menyusup ruang IT perusahaan adiknya itu.


"Kami ingin belajar bagaimana back up data bekerja, jadi gampang menyusupnya. Walau jujur ternyata sulit untuk dicerna," jelasnya sebelum akhirnya pria itu memilih jalan bunuh diri.


Loyalitas membungkamnya. Kesetiaan terhadap klan yang dibawanya sangat diacungi jempol oleh Budiman dan tim. Siapa sangka pria itu telah bersiap mati jika ketahuan. Menelan satu pil racun yang mengantarnya pada kematian di antara ujung lidahnya.


"Aku tahu kinerja seperti ini milik klan siapa," sahut Bart ketika Budiman melaporkannya.


Darren sangat kecewa ketika pria penyusup itu memilih mati daripada hidup dan membocorkan rahasia. Ia begitu salut akan loyalitas anak buah salah satu kelompok mafia.


Darren menatap para penerima suap dan korupsi di perusahaan ibunya. Padahal hukum sudah seberat mungkin, bahkan dipermalukan di depan umum. Masih saja ada yang menganggap enteng.


"Saya sungguh malu. Pria penjahat begitu loyal dengan atasannya, bahkan ia rela mati untuk tetap setia," sindirnya sarkas. "Kalian yang mengaku orang baik dan beriman Tetapi kesetiaan kalian tidak ada seujung kuku penjahat itu."


Petisi anti korupsi kembali digaungkan hukuman diperberat. Kini warna jingga menjadi baju kebangsaan mereka dengan tulisan biru. "Saya memang suka korupsi".


"Semoga hukuman ini membuat yang lainnya tidak lagi berpikiran untuk korupsi!" tekan Darren.


Semuanya tunduk dalam diam. Beberapa yang terkait sudah dipecat dan diblacklist selamanya. Semua harta disita bahkan tunjangan anak-anak pun dihentikan.


"Benar kata Mama. Yang susah adalah menghentikan ketamakan seseorang. Ia lebih serakah dari seekor kera," sindirnya lagi-lagi sarkas.


Berita korupsi kembali viral bahkan di sebuah perusahaan yang telah menjaminkan semua pekerjanya sebuah kemapanan. Bahkan reward bagi yang teladan dan memiliki prestasi juga berhadiah fantastis.


Seorang OB di perusahaan Hudoyo Group dapat memberangkatkan kedua orang tuanya naik haji. Juga membeli rumah sederhana untuk hunian mereka. Masih saja ada yang tergiur melakukan korupsi.


Bersambung.


Tak akan cukup mulut manusia sebelum tertutup dengan tanah. (mulut itu).


next?