
Darren menatap netra wanita pelindungnya. Ia merasa sang ibu sudah cukup berkorban untuk dia. Sudah saatnya, ia membalas semua pengorbanan sang ibu.
"Sembunyi, Ma. Saatnya Darren melindungi Mama dan adik-adik."
"Tidak, Nak. Tugas Mama melindungi kamu. Kamu cukup doakan Mama," ucapan tegas Terra membuat Darren memeluk ibunya.
"Tapi, Mama adalah kakaknya Darren. Sebagai adik laki-laki harus melindungi Kakak perempuannya," bisiknya lirih.
Deg!
Terra mengeratkan pelukannya. Darren mulai menganggapnya sebagai kakak bukan mama. Terra menggeleng kepalanya. Ia tak mau Darren berhenti menganggapnya kakak walau itu kenyataannya.
"Memang, tapi sekarang Mama adalah yang paling kuat di sini. Ada Papa Haidar dan Om Budi yang membantu Mama, kamu cukup doakan Mama saja," jelas Terra.
Darren menitikkan air mata. Pria itu memeluk erat wanita yang memang sudah ia tanamkan sebagai ibunya.
"Darren sayang Kakak," ucapnya.
Terra mengurai pelukannya. Menatap pria kecil itu dalam-dalam. Mengusap pipinya yang basah.
Semuanya yang melihat drama di hadapan mereka hanya bisa menekan dada. Betapa begitu kuatnya Darren mencoba keluar dari rasa ketakutannya selama ini.
Untuk mengobati lukanya, ia memanggil Terra Mama. Kini, pria kecil itu berusaha sekuat mungkin keluar dari luka yang menorehnya, ia memanggil Terra kakak.
"Mereka luar biasa. Saling melindungi satu dengan lainnya," bisik Bram haru.
Kanya menghampiri Terra dan ketiga adiknya yang kini menjadi anaknya. Memeluk mereka dan memberi kekuatan.
"Semua kita bisa jalani bersama. Ijinkan Mama Terra menikah dengan Papa Haidar. Kalian tidak usah cemas yang lainnya. Selamanya kalian adalah cucu-cucu Oma," ucap Kanya penuh ketulusan.
Darren menatap netra Terra. Terra mengangguk membenarkan perkataan Kanya. Darren tersenyum. Ia pun mengangguk setuju. Itu lah yang ia harapkan, Terra, kakaknya tetap menjadi ibu bagi mereka.
"Mama ... Ion saus," rengek bayi montok sambil menguap.
Semua melebarkan senyum mendengar perkataan Rion yang salah.
"Haus, sayang. Bukan saus," ralat Kanya sambil mengecup pucuk kepala bayi itu.
"Mama!" sentak Rion yang mulai memasang wajah galaknya.
Terra sangat senang dengan wajah galak Rion. Ia pun mengecup pipi gembul bayi berusia empat belas bulan itu.
"Iya, sebentar ya," Terra meminta bik Romlah membuatkan susu untuk Rion.
Anak-anak sudah makan sebelum Terra datang, hanya Darren yang belum. Pria kecil itu masih ketakutan tadi.
Setelah meyorongkan dot pada Rion, bayi itu minta digendong untuk di-nina bobokan. Terra pun langsung menggendong bayi yang bobotnya sudah naik itu.
"Mama, Iya dudha nantut," ujar Lidya yang matanya sudah sayu karena ngantuk.
Haidar mengambil alih Lidya dan menggendongnya. Secara perlahan gadis kecil itu pun tertidur lelap dalam dekapan calon papanya.
Terra membelalakan mata atas informasi yang baru saja diretas putranya. Gadis itu sedikit panik, hingga membuat semuanya jadi penasaran.
Bram juga ikut-ikutan terkejut. Apa lagi Haidar. Kanya yang tidak mengerti mencoba bertanya apa yang terjadi.
"Darren meretas sebuah kegiatan jual beli senjata ilegal di sektor A dan mengirimkannya pada pihak berwajib," jelas Bram.
Budiman dan tim kaget dengan apa yang barusan mereka dengar.
Sedang di tempat lain. Semua orang terlibat baku tembak dengan aparat keamanan yang mengepung. Bahkan pertempuran itu mengakibatkan banyak korban, dari kedua belah pihak.
Pihak kepolisian memenangkan kekuatan, sebagai aparat terlatih tentu kemenangan bisa mereka raih, walau tidak sedikit yang menjadi korban tembak.
Mendapat pihak yang kalah telak, banyak para mafia yang terlibat melakukan aksi bunuh diri. Melihat hal tersebut, kepolisian segera merampas senjata-senjata yang mereka pakai dengan cara menembakkan peluru pada lengan atau tangan mereka.
Senjata terlepas, semua merangsek dan merampasnya. Banyak korban tewas dari para mafia, mereka adalah anak buah atau suruhan oknum aparatur negara yang terlibat.
Sektor A dibabat habis. Semua tertangkap. Para oknum dibekuk. Sebuah akun misterius yang telah membuka situs jejaring sindikat ini pun menghilang tanpa jejak.
Berita besar ini langsung menyebar seantero negeri. Layar televisi dan media sosial pun tak luput memberitakan kasus ini.
Lagi-lagi akun resmi kepolisian mengakui jika tim cyber mereka sudah lama mencium adanya pergerakan.
Terra dan semuanya menatap Darren dengan pandangan, entah. Gadis itu sangat takut kegeniusan putranya akan menimbulkan masalah di kemudian hari.
Terra mengingat masa kecilnya dulu. Ketika sang ayah masih hidup. Ayahnya sering memangkunya menghadap laptop rahasia yang kini Terra pegang.
Ben mengajari putrinya beberapa sandi rahasia. Mengajarnya menjadi seorang hacker sedari seusia Rion, mungkin lebih kecil lagi.
Setiap waktu, Ben mengajari bahkan membiarkan Terra mengetik apa saja di keyboard.
di usia satu tahun. Gadis itu bisa menyusup di sebuah akun resmi paling rahasia di dunia. Terra masih ingat. Ayahnya waktu itu tidak marah sama sekali, justru ia sangat senang.
Lagi-lagi, Ben memiliki andil besar atas apa yang ia miliki saat ini. Tentang kekuatan dan bela diri yang ia miliki, Ben lah yang mengajari teknik-teknik itu.
Pada saat seusia Lidya, Terra bisa melempar pisau tepat sasaran. Gadis itu tertawa penuh arti pada Darren.
"Dar, besok kita sparing, kamu mau?" ajak Terra.
"Jangan macam-macam sayang!" peringat Haidar.
"Ck ... tidak apa-apa. Bukan kah sekarang, Darren sudah menjadi pria kuat? Iya kan Dar?''
Darren mengangguk pasti. Haidar hanya bisa menghela napas panjang.
bersambung.
oke ... kita latihan Dar!
next?