TERRA, THE BEST MOTHER

TERRA, THE BEST MOTHER
PERGOLAKAN



Deborah berada dalam pelukan kekasihnya. Tubuh keduanya berpeluh dan tanpa busana. Napas keduanya menderu, sehabis percintaan panas mereka.


"Aku harus segera kembali, sayang, sebelum Celia bangun," ujar wanita itu.


"Baiklah, aku akan mengantarmu," ujar pria itu.


Keduanya pun memakai baju mereka yang berserakkan di lantai. Terselip candaan mesum Jordhan yang meremas aset sensitif Deborah.


Setelah mengantar wanita itu ke hotel tempatnya menginap. Jordhan meminta anak buahnya berkeliling mengamati semuanya.


"Jadi dia yang bernama Lidya?" tanya Jordhan pada salah satu anak buahnya.


Mereka kini mengamati sebuah rumah kesederhanaan dari kejauhan. Banyaknya pengawalan di tempat itu membuat Jordhan bertanya-tanya.


"Menurut kalian, apa Lidya sangat kaya, hingga mampu membayar pengawalan berlapis seperti itu?" tanyanya dengan masih setia mengawasi bangunan itu dari jarak yang cukup jauh. Tiba-tiba mobil bergerak.


"Ada apa?" tanya Jordhan.


"Kita dicurigai!" sahut salah satu anak buahnya.


"How come, kita lumayan jauh dari lokasi!" ujar Jordhan tak percaya.


"Maka itu kami tak pernah berhasil menembus penjagaan itu," sahut pria yang tengah menyetir.


Jordhan sangat mahir berbahasa Indonesia. Pria itu dulu pernah tinggal di sini selama lima belas tahun. Ayahnya pernah bekerja di salah satu perusahaan di kota ini.


Mobil kembali ke markas. Jordhan sedikit termenung. Ia harus berpikir bagaimana caranya menembus penjagaan super ketat yang dilakukan oleh pihak Lidya.


"Jika demikian, kemungkinan, gadis itu adalah anak orang kaya raya. Tidak ada penjagaan yang lebih baik selain penjagaan Lidya.


"Bahkan Demian yang sebegitu kaya, aku bisa membobolnya," ujarnya dalam hati.


Ia lupa, jika Deborah ikut andil dalam pembobolan itu. Tentu saja, pria itu bisa menembus pertahanan perusahaan Demian.


"Aku harus cari titik selanya," ujarnya.


"Joe!" panggilnya.


"Ya, Boss!"


"Kamu lihat yang tidak dijaga oleh para pengawal gadis itu!" titahnya.


"Baik Boss!" ujar pria bernama Joe.


Sementara di tempat lain. Lidya yang tengah mengadakan konseling dengan salah satu pasiennya sedikit gelisah. Kecemasannya tiba-tiba muncul saat menatap sahabatnya.


"Put, kamu nggak apa-apa kan?" tanyanya setelah ia selesai memberi therapy pada salah satu pasiennya.


"Alhamdulillah, baik-baik saja," jawab Putri sedikit heran.


"Kenapa?" tanyanya kemudian.


"Apa ibu masih suka kejang-kejang?" tanya Lidya lagi.


"Sudah nggak pernah sih. Setelah ibu sibuk dan ketika ada uang, ayah selalu membawa ibu Konsul dan therapy," jawab Putri kini ikut cemas akan pertanyaan sahabatnya itu.


"Kenapa sih kamu tanya-tanya kek gitu?" tanyanya kini dengan perasaan cemas.


"Nggak tau, tiba-tiba aja gue ngerasa Lu bakalan kenapa-napa," jawab Lidya juga tak mengerti.


"Duh, jangan ngadi-ngadi deh. Gue jadi parno nih, Dok!" seru Putri tak suka dengan kecemasan Lidya.


"Sorry ... sorry, kita berdoa aja ya, kalo itu hanya pikiran buruk gue!" ujar Lidya mengabaikan instingnya.


Putri mengangguk. Mereka kembali bekerja. Kini, keduanya keluar ruang praktek Lidya dan akan mengunjungi rumah sakit khusus pasien dengan berbagai tingkat depresi.


Rumah sakit Pratama Hospital ini juga memiliki rumah sakit kejiwaan yang terletak lima ratus meter dari rumah sakit utama.


"Kita naik motor aja ya," ujar Lidya yang langsung dipandang horor oleh empat bodyguard.


"Kan cuma di dalam rumah sakit aja, Om. Please," ujarnya memohon.


Akhirnya, para bodyguard pun mengijinkan asalkan mereka mengikuti. Putri mengiyakan. Untuk pertama kalinya Lidya menaiki motor besar. Sungguh membuat ia bahagia sekali.


Butuh waktu hanya tak sampai sepuluh menit, mereka tiba di pelataran parkir rumah sakit khusus itu.


Lidya turun dengan mudah, karena ia duduk menyamping. Tubuhnya yang pendek membuat ia setengah meloncat dari jok motor sahabatnya yang tinggi.


"Sudah!" ujarnya.


Putri menegakkan stang duanya, agar motor tegak. Kekuatan gadis itu tak bisa dianggap remeh. Putri sampai bertepuk tangan melihat sahabatnya mendirikan stang motor dengan kekuatan kakinya.


Keduanya pun berjalan ke beberapa kamar pasien yang ditangani oleh Lidya. Para pengawal mengikutinya. Memang yang paling ketat dijaga adalah Lidya, karena gadis itu lah yang diincar oleh para penjahat.


Setelah melakukan pemeriksaan berkala pada para pasiennya. Ia pun kembali ke ruangan yang memang diperuntukan Lidya untuk juga membuka prakteknya. Putri mendata semua pasien dalam beberapa berkas dan di masukkan dalam berbagai file. Gadis itu harus memisahkan beberapa kasus. dan tingkatan kesehatan pasien. Tiba-tiba seorang suster datang tanpa mengetuk pintu.


"Dok, pasien bernama Nyonya Mirna tak mau bersaksi jika bukan dokter yang menangani!"


Lidya dan Putri sempat terkejut dengan kedatangan mendadak suster tersebut. Putri sedikit kesal.


"Bisa ketuk dulu nggak?" tegurnya.


"Ma-maaf!" cicit suster itu.


Lidya pun meminta suster tadi menjelaskan secara rinci.


"Nyonya Mirna menolak ingat ketika didatangkan dokter dari pihak kepolisian. Wanita tak bereaksi apa pun. Tetapi, ketika ditanya, apa ingin ditangani Dokter Lidya, dia mengangguk," jawab suster itu panjang lebar.


"Lalu, apa ada surat perintah dari kepolisian agar saya yang menangani Nyonya Mirna?" Suster tadi menggeleng..


"Maaf, saya menolak jika tak ada surat perintah dan bertanggung jawab!" tolak Lidya.


"Tapi Dok, ini demi kredibilitas rumah sakit kita untuk membantu kasus ini!" jelas suster tadi.


"Sus, dengar ya. Kekuatan hukum kita lemah jika kita tak mendapat surat kepastian hukum dari pihak kepolisian. Tanpa surat kepenunjukan pengalihan tugas. Saya hanya bekerja secara percuma, apa anda mengerti?" tanya Lidya.


Suster itu pun seperti berpikir. Lalu ia pun akhirnya mengangkat bahunya. Tentu saja semua proses penyidikan harus ada kepastian hukumnya. Lidya tak mau semerta-merta hadir dan membantu penyelidikan.


Istilah dia yang memetik bunga dan terluka, orang yang meminum madunya. Gadis itu juga takut jika hasil review nya dipakai sembarang orang.


Setelah mengatakan hal itu. Suster itu pun kembali dan mengatakan apa yang dikatakan oleh Lidya.


Setelah menyusun berkas. Barulah keduanya kembali ke rumah sakit pusat. Lidya kembali naik motor Putri. Ia begitu senang dengan angin yang membelai wajahnya. Ia tak pernah sebahagia ini.


Ketika sore menjelang. Keduanya kini mendatangi rumah konseling Lidya, hari ini Aini tidak ikut karena tengah melakukan praktek di perusahaan Darren.


Lidya tentu dikawal oleh beberapa pengawal. Sedangkan Putri yang mengendarai motor tentu tak dikawal. Gadis itu menggeber kuda besinya. Melintas di aspal dengan kecepatan sedang. Hingga radius satu kilometer ia merasa dibuntuti. Putri memutar gas nya dan melesatkan laju motornya. Terjadi saling adu kejar-kejaran.


Jac yang bersama Demian sangat mengenali motor Putri. Bahkan ia mengenali gadis itu walau mengenakan helm.


"Itu Putri, ada apa dia kebut-kebutan seperti itu?"


Pertanyaan Jac membuat Demian berpaling melihat apa yang pria bawahannya katakan. Ia melihat Putri seperti menghindari sesuatu. Terlihat dari cara dia melihat spion dan menolehkan kepalanya ke belakang. Kemudian setelah lajunya gadis itu satu kendaraan menyusul kecepatan gadis itu.


Entah kenapa. Demian melakukan panggilan telepon pada Darren. Dua kali panggilan barulah diangkat.


"Assalamualaikum Tuan Dougher Young ini aku Demian!" ujarnya.


"Wa'alaikumussalam!" sahut Darren dari ujung telepon.


"Ada apa nih?" tanya Darren sedikit heran.


"Maaf Tuan. Saya melihat Putri tadi seperti dikejar oleh beberapa orang dalam satu mobil!" teriak Demian.


"Apa?"


bersambung.


eng ... ing ... eng ...


hai Readers ... selamat tahun baru 2022 ya ... moga kita semua sehat sukses. aamiin.


next?