TERRA, THE BEST MOTHER

TERRA, THE BEST MOTHER
PINDAH RUMAH 2



Terra merindukan pria yang menjadi kekasihnya. Haidar tengah sibuk mengurus pekerjaannya, ia kini berada di luar negeri. Kesuksesan pria itu makin luas, karena sekarang ia tengah mencanangkan membuat anak perusahaan di negara A.


Perbedaan waktu membuat Haidar dan Terra jarang terlibat komunikasi. Hanya sekali saja Haidar menelponnya ketika baru sampai di negara A.


Terra juga tidak membebaninya. Gadis itu cukup tahu, jika kekasihnya sedang sibuk..Ia bukan, gadis manja yang terus-menerus minta perhatian dan manja.


Tiba-tiba ponselnya berdering. Terra semringah, baru saja ia merindukan Haidar. Pria itu meneleponnya.


"Assalamualaikum!" sapa Terra.


"Wa'alaikum salam. Sayang, aku kangen!" semburat merah langsung merambat di wajah Terra.


"Sayang ... kok nggak jawab?" tanya Haidar di seberang sana.


"Te juga kangen," cicit Terra sangat lirih, gadis itu malu jika mengungkap perasaannya secara terang-terangan.


"Apa sayang. Aku nggak dengar?" tanya Haidar menggoda kekasihnya.


"Ih ... nggak diulang!" tukas Terra cemberut.


"Hehehe ... baiklah. Aku cinta kamu," ungkap Haidar.


Terra makin merona. Tiba-tiba ponselnya bergetar. Haidar ingin menggunakan video call. Terra membulirkan tanda kamera ke atas. Terpampang lah wajah Haidar yang tersenyum.


"Tampan banget!" puji Terra, yang pastinya dalam hati.


"Hai cantik. Aku kangen banget sama kamu. Hmm ... andai kamu sudah istriku ...."


"Hei ... stop! Jangan macam-macam ya!" ancam Terra.


Haidar terkekeh. "Baiklah sayang. Aku hanya ingin melihat wajah cantikmu. Oh, ya. Apa rumahnya sudah kau beli?"


"Iya, tadi ditemani Om Sofyan," jawab Terra. "Hanya perlu beberapa renovasi saja."


"Baiklah. Mungkin, aku usahakan pulang secepatnya. Aku sudah kangen banget sama kamu," ujar Haidar gemas.


"Yee ... emang kalau kangen, Mas Haidar bisa ngapain!" ucap Terra kesal sambil menunjukan kepalan tangannya.


"Ck ... susah ya, punya pacar galaknya bukan main..Oh ya, mata kuliahku, masih kau kuasai kan?" Terra mengangguk. Ragu.


"Eh ... jangan kira ya. Kamu boleh pacar aku. Tapi, nilaimu tetap ditanganku. Awas kalau kamu malas-malasan!" giliran Haidar kini yang mengancam.


"Ih ... dasar dosen killer!" sungut Terra.


"Apa katamu!"


"Hehehehe ... peace!" Terra mengangkat dua jarinya berbentuk V.


"I love you," ungkap Haidar tulus.


"I love you too," cicit Terra malu-malu.


"Assalamualaikum calon istriku."


"Wa'alaikum salam warahmatullahi wabarakatuh. Inshaallah suamiku," Terra buru-buru memutus sambungan telepon.


Gadis itu mendekap erat ponsel di dada. Gadis ini terpekik tertahan meluapkan kegembiraan di dadanya. Terra menggigit bibir bawahnya, menahan malu. Jantungnya berdetak begitu cepat.


Setelah berhasil menenangkan ritme jantung dan perasaannya. Gadis itu kembali melanjutkan pekerjaannya.


Sedang di tempat lain. Haidar menatap ponselnya yang sudah mati. Foto Terra dan tiga anaknya menjadi layar ponsel utama. Pria itu sungguh merindukan kekasihnya.


"Sayang. Tunggu aku. Sekarang aku tengah mempersiapkan diri seperti apa yang kau mau," ucapnya bermonolog.


Jam baru menunjukkan pukul 02.21 dini hari waktu setempat. Ia menggeliatkan tubuhnya. Kemudian beranjak ke kamar mandi.


Salah satu syarat Terra. Menginginkan imam yang selalu mengajaknya salat malam. Haidar mulai membiasakan diri.


***********


Waktu berlalu. Hari berganti. Kini, Terra bersama ketiga anaknya berada di salah satu mall terbesar. Bik Romlah membantu dengan mendorong kursi dorong Rion. Sedang Terra tengah menggandeng Lidya dan Darren.


Mereka tengah berada di outlet peralatan rumah tangga. Darren antusias memilih tempat tidur mereka, begitu juga Lidya.


Setelah memilih dan membeli perabot rumah. Seperti sofa untuk ruang tamu juga keluarga, meja makan beberapa pernak-pernik hiasan rumah. Tempat tidur. Tak lupa lemari pendingin, juga mesin pencuci. Ember, gayung dan lain sebagainya.


Terra juga membeli satu kitchen set bermotif buah Cherry pilihan Lidya. Satu set peralatan masak, juga piring makan dan beberapa lusin gelas.


"Non. Apa peralatan makan nggak ngambil dari rumah lama aja. Kan di sana juga masih bagus-bagus. Sayang uangnya," saran bik Romlah hati-hati.


Terra tersenyum mendengar saran bik Romlah. Gadis itu tahu maksud baik asisten rumah tangga yang sudah menemaninya nyaris dua bulan ini.


"Nggak apa-apa, Bik. Lagian Lidya dan Darren ingin semuanya baru. Mereka tidak ingin mengingat masa kelam yang telah mereka lewati," jelas Terra lembut.


"Maaf, Non. Bukan maksud Bibik ...."


"Tidak apa-apa, Bik. Te, tahu maksud Bibik. Makasih ya," jelas Terra lagi.


"Oh ya, apa kita nggak ngadain selametan buat masuk rumah, Non?" tanya bik Romlah lagi.


"Astaghfirullah ... Te, lupa Bik. Ya, sudah. Setelah pindah, kita adakan selamatan deh, ngundang anak yatim-piatu," ucap Terra merasa bersalah. "Untung Bibik, ingetin."


"Ya, sudah. Kan barang-barang ini kita minta dikirim lusa saja. Besok kita selamatan biasa dulu. Baru adakan acara untuk anak yatim-piatu nya," ujar Terra lagi.


Setelah mendapatkan barang yang mereka inginkan dan mengatakan untuk mengirim barang-barang tersebut lusa. Mereka menuju rumah baru.


Sampai sana. Terra mencari alamat RT atau RW untuk melaporkan diri mereka. Setelah melaporkan, Terra memesan makanan untuk esok hari mengadakan selamatan.


******


Hari berganti. Kini Terra memakai kerudung. Di sebelahnya duduk bersama Kanya dan Karina juga anak-anak mereka.


Bram mewakili Terra untuk berbicara pada ustad untuk mengatakan maksud acara dibuat. Haidar belum bisa pulang karena masih sibuk di negara A.


Pengajian di mulai. Cara berlangsung khidmat. Sesekali Terra mengusap air matanya. Gadis itu tak percaya, jika dengan hasilnya sendiri, ia mampu membeli rumah dan juga isinya.


Kanya mengusap punggung Terra penuh kelembutan. Gadis itu menyandar pada bahu wanita setengah baya yang masih cantik itu. Gadis itu sedikit bermanja.


Kanya, mencium kening Terra lembut. Terra makin merapatkan tubuhnya di tubuh Kanya mencari kenyamanan. Gadis itu butuh sandaran dan Kanya memberikannya penuh ketulusan.


Acara sudah selesai. Kini, Semua akan kembali ke rumah masing-masing. Terra kembali ke apartemen sedang Kanya, Bram, Karina dan Raka akan kembali ke mansion mereka.


"Sayang, kami pulang dulu, ya. Hati-hati jalannya jangan ngebut!" peringat Kanya.


"Iya, Ma. Mama sama Papa juga hati-hati, Ya. Kak Karina sama Raka juga. Makasih udah bantuin Te, tadi."


"Iya sama-sama, Te. Kakak, Mama dan Papa juga Raka pamit dulu, ya. Assalamualaikum!"


"Wa'alaikum salam warahmatullahi wabarakatuh."


Mereka pun berpisah dengan tujuan masing-masing. Terra berada di belakang kemudi. Darren berada di sampingnya. Sedang Rion dipangku oleh bik Romlah. Lidya duduk di kursi khususnya.


Secara perlahan, mobil Terra beranjak dengan kecepatan sedang membelah jalan.


bersambung.


next?