TERRA, THE BEST MOTHER

TERRA, THE BEST MOTHER
USAHA TERAKHIR CHERRYL 2



Hari senin. Semua manusia kini sedang sibuk diawal kerja. Banyak orang hilir mudik. Wajah tegang, takut dan senang mewarnai hari itu.


Haidar tengah sibuk memeriksa semua berkas yang menumpuk di mejanya. Entah kapan tumpukan itu berkurang. Dari tadi, Bobby sang asisten terus memberinya lembaran demi lembaran yang tidak ada habisnya.


"Aaarggh! Kenapa kertas ini tidak ada habisnya!' teriak Haidar frustasi.


Bobby yang ada di mejanya hanya menatap datar. Kertas di mejanya jauh lebih menggunung dari meja atasannya. Ia juga harus mengecek berkas-berkas itu terlebih dahulu sebelum diberikan pada atasannya.


"Semangat Pak. Buat modal nikah!' teriaknya asal.


Haidar mengangguk. Kemudian ia tersenyum ketika mendengar perkataan "nikah" tadi dari mulut asistennya. Pria itu mengingat di mana kemarin lamarannya diterima oleh gadis idamannya. Walau harus menunggu lama. Tapi, gadis itu meyakini akan menyelesaikan dua tahun saja masa kuliahnya, asal tidak ada dosen yang mengerjainya saat kuliah nanti.


Tidak hanya karena alasan itu yang membuat pria tampan itu mau menunggu. Tapi, alasan Terra yang menyentuh hatinya.


"Terra bukan tidak ingin menikah cepat. Siapa yang bisa menolak menikah dengan lelaki tampan dan mapan seperti Mas Haidar," ujarnya panjang lebar.


"Tapi, anak-anak masih butuh penanganan lebih. Walau Darren sudah mulai berani untuk tidur di kamarnya sendiri. Ia suka datang tengah malam dengan keringat dingin, karena mimpi buruk. Bahkan Lidya yang tadinya Te kira tidak kenapa-kenapa. Malah akhir-akhir ini suka mengigau dan menangis," jelasnya kemudian.


"Terra takut. Ketika menjadi istri, malah tidak bisa melayani suami dengan baik, karena terlalu fokus dengan anak-anak."


Haidar tersenyum. Pikirannya kembali berpusat pada berkas yang menumpuk di mejanya.


"Nona jangan masuk!'


Sebuah teriakan mengagetkan fokus laki-laki tampan yang masih setia dengan berkas-berkasnya. Pria itu langsung menatap tajam sosok yang menerobos masuk ke ruangannya.


Cheryl berdiri kaku ketika melihat tatapan tajam Haidar. Seumur hidupnya, ia tak pernah mendapat tatapan seperti itu. Buliran bening langsung menetes dari sudut matanya.


"Kak!" panggilannya dengan suara parau.


"Apa yang kau lakukan?" tanya Haidar dingin, "bukankah sudah dilarang oleh sekretaris ku yang ada di luar?"


"Kak ... kita harus bicara!" ujar Cherryl memberanikan diri.


Mungkin menghindari gadis yang ada di hadapannya ini adalah salah..


"Baik. Tunggu aku di restoran depan perusahaan ini. Kita bicara," ujar Haidar tenang.


Cherryl langsung semringah mendengar perkataan pria yang ia yakini masih memiliki rasa untuknya. Gadis itu mengangguk.


"Aku akan menunggu Kakak sampai datang," ujarnya dengan senyum lebar dan meninggalkan ruangan itu.


Waktu sudah menunjukan waktu makan siang. Cheryl sudah menghabiskan dua minuman milkshake blueberry dan satu desert manis. Sedang pria yang menjanjikannya untuk menunggu belum juga muncul.


Baru lima menit ia mengeluhkan betapa lamanya Haidar datang. Wajah Cherryl mendadak ceria setelah melihat wajah tampan itu muncul di.keramaian. Lalu, senyum itu perlahan pudar ketika melihat, jika Haidar tidak datang sendiri.


"Perempuan sialan itu!" runtuknya pelan.


Haidar datang bersama Terra. Gadis itu melihat sosok yang ia tahu sedang duduk menunggu. Pria di sampingnya telah memberitahu jika Cherryl menunggunya dan meminta Terra untuk menemani.


Mereka berdua duduk di hadapan Cherryl yang kini wajahnya sedikit ditekuk.


"Kak, aku ingin bicara berdua dengan Kakak," pintanya setengah merengek.


"Maaf, tapi aku tidak biasa makan siang ditemani oleh wanita lain selain istriku."


Jawaban telak Haidar membuat Cherryl menahan luapan emosinya. Gadis itu mengepal kuat tangannya. Haidar cuek dengan apa yang Cherryl lakukan.


Nyess.


Sakit. Itu yang Terra rasakan. Bagaimana mungkin seorang wanita mengukap perasaannya segamblang ini di depan istrinya.


'Eh ... aku belum istrinya sih,' gumamnya dalam hati.


"Tapi aku tidak mencintaimu. Aku mencintai istriku."


Jawaban tegas Haidar. Membuat Cherryl menangis.


"Satu yang kutekankan padamu. Walau kau berpikir Terra tidak lebih baik darimu. Tapi, dia adalah segalanya untukku. "


Kali ini jawaban Haidar membuat Terra terharu. Gadis itu menggenggam erat tangan kekasihnya. Haidar menatap wajah kekasihnya penuh cinta.


Cherryl makin terisak. Gadis itu kalah telak. Perlahan ia berdiri dan meninggalkan sepasang insan yang tengah memandang mesra.


*******


Cherryl mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Sepanjang perjalanan ia menangis tersedu-sedu. Ia tidak percaya Haidar menyampakkannya begitu saja.


"Tidak kah aku berarti lagi dalam hidupmu!" teriaknya.


Mobil itu berhenti mendadak hingga mengeluarkan suara berdecit kencang. Untung jalanan sepi, jadi tidak ada kejadian buruk terjadi.


"Aku akan menemui perempuan itu!'


Gadis itu merogoh tas mencari ponselnya. Diketiknya sebuah nama "Terra". Sederet berita keluar mengungkap siapa gadis bernama Terra.


"Terra Arimbi Hudoyo. CEO PT Hudoyo Group dan pendiri PT. Hudoyo Cyber Tech.,"


Cherry ternganga dengan sederetan penghargaan untuk gadis itu. Tidak ada berita apa pun selain prestasi wanita bernama Terra Arimbi Hudoyo.


'Jika mereka sudah menikah. Pasti ada beritanya di halaman utama," ujarnya. "Aku yakin pernikahan mereka tidak ada. Kakak berbohong padaku!"


Gadis itu melihat jam di layar ponsel. Dengan sigap ia memutar mobilnya. Ia meyakini jika wanita yang mengaku istri Haidar tadi sudah berada di kantornya.


Butuh waktu satu jam untuk sampai ke perusahaan besar kedua di kota itu. Cherryl sedikit tahu, karena berita yang dibacanya tadi.


Dengan langkah anggun dan dengan kepercayaan tinggi. Gadis itu melangkah masuk gedung bertingkat itu. Menghampiri resepsionis menyatakan ingin bertemu dengan pimpinan perusahaan.


Ternyata terkaan Cherryl tepat. Terra sudah ada di ruangannya. Gadis itu menerima Cherryl sebagi tamunya. Seorang resepsionis mengantarkan gadis itu hingga depan pintu ruangan Terra.


Cherryl masuk. Gadis itu memindai ruangan besar dan mewah.


"Duduklah?" titah Terra tegas.


Seperti tersihir, gadis itu menuruti perintah Terra.


"Apa yang ingin kau katakan?" tanya Terra to the poin.


"Tinggalkan Haidar!' ujar Cherryl berani


Bersambung.


weleh-weleh ...