
Hari berganti. Terra mengajak semua keluarga ke sebuah gala dinner internasional. Kini, semua anaknya terlibat dalam bisnis. Herman juga membawa Arimbi dan Satrio yang sudah menemaninya menjalankan usaha. Padahal kedua anak itu masih kelas tujuh, keduanya juga mengikuti kelas akselerasi, sama seperti Kean, Cal, Nai, Sean, Al dan Daud.
Nai dan Sean ingin jadi dokter mengikuti kakak perempuannya Lidya. Terra tak mempermasalahkan cita-cita semua anak-anaknya.
"Yang penting kalian belajar dengan giat dan bersungguh-sungguh!" tekan wanita itu menasehati.
Kean dan Calvin sangat mirip ayahnya. Iris biru dan senyum tipis. Keduanya sangat tampan dan bahkan tak ada yang bisa membedakan mana Kean dan mana Cal.
Sedang Sean, Al dan Daud juga tak kalah tampan. Netra coklat terang begitu lembut, terlebih mereka lebih mirip ke Terra di banding ayah mereka, kecuali Nai yang sangat mirip ayahnya. Berbeda dengan pesona Arimbi dan Satrio, keduanya juga memiliki kecantikan dan ketampanan sendiri. Terlebih kulit mereka yang sawo matang, menambah aura kecakapan mereka.
Budiman datang bersama istrinya. Tentu saja kedatangan keduanya menjadi buah bibir para pengusaha. Sepak terjang Gisel dalam memimpin perusahaan suaminya menjadi sorotan para pebisnis. Terlebih perusahaan itu kini masuk lima besar di kota itu.
Darren, Lidya dan Rion pun juga tak kalah menarik. Ketampanan Darren jadi rebutan para gadis di sana. Begitu juga Rion
Kedua pria beda usia itu dielu-elukan oleh para ibu yang kini mendekati Terra.
"Duh Jeng ... anak-anaknya cakep-cakep banget. Boleh lah kita jodohkan salah satunya," ungkap salah satu ibu pada Terra.
"Iya, Jeng Terra. Kita harus menjodohkan putra dan putri kita agar usaha kita lancar dan baik-baik saja ke depannya," jelas salah satunya lagi.
"Terlebih, kan kita jadi tau bibit, bebet dan bobot putra dan putri kita," lanjut ibu tadi.
Terra tak menyukai kata-kata terakhir itu. Ia kesal bukan main.
"Maaf, tapi saya membiarkan anak-anak saya memilih pasangannya sendiri," sahut Terra lalu meninggalkan para ibu-ibu yang masih ribut tentang arisan berlian.
Mendapat jawaban yang tidak sesuai membuat para ibu-ibu tadi bersungut.
"Wuu ... gue sumpahin dapet menantu nggak jelas asal-usulnya, baru tau!" sumpah ibu yang memakai dress hitam motif bunga-bunga.
"Ma, Iya bawa Putri boleh nggak?" tanya Lidya.
"Putri ada di sini?" tanya Terra antusias.
"Iya Ma. Tadi Iya ngundang dia. Sekalian gitu, kan dia asisten Iya, jadi harus tau seluk beluk dunia bisnis," Terra terkekeh mendengar penjelasan putrinya.
Gala dinner ini untuk umum. Tentu saja Putri boleh datang, kedua orang tuanya juga pengusaha bukan? Walau pengusaha kecil.
Putri datang dengan pakaian nyentrik, celana jeans dan kaos oblong bergambar bibir. Lidya tertawa melihat penampilan asistennya itu.
"Kok pake baju kek gini sih?" protesnya sambil tertawa.
"Gue belum sempet ganti. Anterin yuk. Gue kek anak ilang kalo pake ini!" ajaknya dengan wajah risih.
Terra dan Haidar hanya geleng-geleng kepala melihat kelakuan sahabat putrinya itu.
Pembawa acara memulai acara. Semua diperkenalkan oleh publik siapa-siapa yang datang. Sosok tampan dengan rambut pirang masuk ruangan dengan langkah tegap dan pandangan datar.
"Kita juga kedatangan salah satu pebisnis muda yang begitu berbakat. Beliau memulai bisnisnya ketika usia remaja, sama seperti Tuan Darren dan Rion Dougher Young," jelas pembawa acara itu.
"Selamat datang Tuan Demian August Starlight!" sambut pembawa acara.
Semua mata kaum hawa terbelalak melihat ketampan pria yang datang, semua mengagumi pria itu.
"Untuk itu, kami persilahkan bagi para tamu untuk menikmati hidangannya!"
Deborah yang melihat kedatangan pria idamannya segera melangkahkan kakinya. Ia memang tamu undangan di sana. Celia menahan atasannya.
"Nona, ingat janji Nona pada Tuan!" tegurnya mengingatkan.
Deborah terpaksa mengurungkan niatnya. Ia pun hanya memindai Demian dari jauh.
Sedangkan Demian kini mendekati Darren. Tentu saja kini ia tahu siapa Darren. Gadisnya adalah adik dari pria tampan itu.
"Halo Tuan!" sapa nya pada tiga pria yang pernah bertemu dengannya ketika Lidya melakukan konseling.
"Bun, ini loh pemuda yang kuceritakan itu. Dia yang cepat menangani kegaduhan ketika Lidya diserang oleh oknum itu," jelas Herman pada istrinya.
Demian mencium punggung tangan semua pria dan wanita dewasa di sana. Ia belajar tata krama Indonesia. Jacob juga melakukan hal yang sama. Kepalanya berputar mencari seseorang di sana. Jacob memperingatkan.
"Tuan, jangan gegabah. Di sini ada Nona Vox," bisiknya..
"Lalu?" tanya Demian tak peduli, "Aku sudah tak memiliki hubungan apa-apa lagi dengannya."
Jacob pun membenarkan perkataan tuannya. Untuk apa mereka takut. Lagi pula, akan gila jika Deborah mencari perkara di sini.
Lidya pun keluar bersama Putri, sahabatnya. Keduanya berjalan sambil tertawa. Demian langsung mengenalinya. Kakinya melangkah lebar tanpa bisa dicegah siapa pun. Pria itu mendatangi Lidya.
"Lidya!" gadis itu menoleh.
Putri langsung menghalangi tubuh sahabatnya. Ia menatap pria tampan di depannya dari ujung kepala hingga ujung kaki.
Mendapat penjagaan ketat dari seorang gadis lain, membuat Demian kikuk terlebih tatapan tajam dari gadis itu tak main-main.
Lidya terkikik. Sementara Budiman hendak mendekati nona mudanya, tapi langsung ditahan oleh Gisel.
"Kau ingin Nonamu jadi perawan tua!" bisiknya memperingati.
"Biarkan Lidya, kita lihat dan awasi saja. Percayakan pada gadis itu!" tekannya lagi.
Budiman mendengkus kesal. Setengah mati ia tak melangkahkan kakinya mendekati nona mudanya. Tetapi, ketika Rion mendekati kakak perempuannya baru lah ia tenang.
"Kak Putri, Kak Lidya!" panggil Rion.
Darren juga menyambangi mereka. Demian mulai kikuk. Jacob hanya melipat bibir ke dalam. Ia sudah memperingati tuannya.
"Apa kau mengenal Lidya?" tanya Darren.
"Ah, tentu, kemarin dia melakukan healing di rumah sakit milikku," jelas Demian.
"Oh, pria itu kau ternyata!" sahut Rion.
"Baby!" tegur Lidya.
"Kakak!" rengek Rion tak suka dengan panggilan kakak perempuannya.
Putri terkekeh, ia tentu mengenal remaja tampan ini. Demian melihat betapa dekatnya hubungan adik dan kakak ini. Ketiganya tak canggung bercanda bahkan melontarkan ledekan-ledekan.
Bahkan Putri juga tak canggung menimpali. Tentu saja bahasanya ia tak mengerti tetapi dari bahasa tubuh dan wajah terlihat jelas keakraban semuanya. Ia pun. jadi iri.
"Bisa ajari aku bahasa?" pinta pria itu.
Semua menoleh padanya. Demian makin kikuk. Lidya pun tersenyum manis pada pria itu. Rion menatap kesal kakaknya yang mulai genit dengan lawan jenis.
Sedang di ruang yang sama, sosok cantik menatap dua insan itu dengan pandangan sinis.
"Oh ternyata kau yang mendekati pria ku, Lidya!"
bersambung.
ah ... ih ...
next?