TERRA, THE BEST MOTHER

TERRA, THE BEST MOTHER
MALAS SAMA PAHALANYA



Semua anak-anak juga ayah ibu mereka berkumpul di rumah baru Terra. Semua senang karena bisa berlari ke sana ke mari di halaman depan rumah. Halaman belakang masih direnovasi karena ingin mendangkalkan kolam renang. Juga menambah alat permainan.


Tentu saja anak kembar Virgou, Herman dan Terra hanya selisih bulan. Anak Terra paling terakhir lahirnya. Baru enam bulan. Sedang Satrio dan Arimbi sudah sembilan bulan, begitu juga Kean dan Cal. Darren baru pulang dari sekolah agamanya. Wajahnya terlihat lesu. Terra memperhatikan putranya yang tidak semangat.


"Ada apa sayang?" tanya Terra, Haidar, Virgou dan Herman.


Terra menatap pria-pria itu dengan pandangan berbinar. Ia sangat senang karena ternyata semua memperhatikan putranya.


"Ma, besok sore Mama dipanggil sama guru ngaji Darren," lapornya dengan bahu ke bawah.


"Hmm ... baiklah, Mama akan datang besok," jawab Terra.


Ia tidak bertanya pada putranya perihal apa gerangan yang membuat dirinya dipanggil oleh guru ngaji Darren. Ia ingin mengetahui dulu apa permasalahannya baru nanti menyelesaikan tanpa harus menuduh putranya.


"Ganti baju sana. Terus kita main. Sudah ashar kan di sekolah agama tadi?" Darren mengangguk.


Pria kecil itu pun masuk dalam rumah menuju kamarnya. Romlah dan Ani datang membawa satu piring besar singkong goreng dan minum dingin.


"Alhamdulillah .. makanan yang ditunggu akhirnya datang juga. Tak percuma tangan awak sakit gara-gara nyabut tuh singkong!" sahut Virgou semangat.


Terra hanya bisa mengelus dada. Ia sangat malu dengan Abah Ali ketika mereka semua seperti merampok kebun singkong guru silat itu.


"Baby Tean, Baby Cal, Baby Tlio, Baby Limbi, Baby Nai, Baby Sean, Baby Al, Baby Daud ... hufth banat amat sih talian itu!" gerutu Rion protes.


Virgou tertawa, Puspita gemas, Khasya apa lagi. Herman tak tahan lalu menggelitiki Rion hingga tergelak. Haidar hanya tersenyum lebar. Terra menggeleng kepala sedang pun hanya manggut-manggut sambil memakan singkong goreng.


Virgou dan Herman mendapat surat cinta dari Lidya. Dua pria itu langsung menghujami ciuman pada gadis kecil itu. Sedang Khasya dan Puspita sedih karena tidak dapat surat cinta dari Lidya.


"Keltasnya habis. Iya cium aja boleh?" tanyanya memberi penawaran.


"Ya deh. Tapi ciumnya yang laaammaaa yaa!" pinta dua wanita dewasa itu sambil merajuk.


Lidya dengan senang hati mencium keduanya. Baik Khasya dan Puspita begitu terharu akan kasih sayang Lidya yang begitu besar.


Terra pun terharu ketika Herman memperlihatkan isi suratnya.


"Assalamualaikum Ayah.


makasih Ayah datang setelah tadinya Iya takut.


Iya takut, ayah akan ambil Mama dari pelukan Iya.


Iya takut, Ayah nyuruh Mama nggak sayang sama Iya, kakak Darren dan baby Rion.


Tapi, ketakutan Iya tidak terjadi. Malah Ayah adalah pria kedua yang sayang sama Iya. Yang mau memeluk Iya.


Makasih Ayah.


i love you.


Lidya.


Herman tak bosan membaca surat itu berkali-kali. Menciumi Lidya bertubi-tubi. Pria sangat tersentuh akan cinta Lidya untuknya.


"Kak, surat cinta dari Lidya apa isinya?" tanyanya penasaran pada Virgou.


"Ck. Kepo!" jawab Virgou sengit. "Rahasia dong!"


"Ish. Pewit!" sungut Terra mencibir.


"Bodo. Wee!' ledek Virgou sambil menjulurkan lidahnya.


"Baby, Daddy kalian pewit sama Mama!" adunya pada Rion.Virgou membelalakan matanya.


"Ah ... emba pa'a-pa'a. Ion judha emba pahu isina pa'a. Ion emba ditasih sulat cinta sama Ata' Iya,," sahutnya cuek.


Terra kini malah membelalakan matanya. Kenapa balitanya kini bisa menyimpan dendam. Benar kata Abah kemarin. Rion mesti terus diberi bimbingan. Sedangkan Virgou tertawa lepas mendengar jawaban Rion.


Hari berlalu. Semua keluarga masih menginap. Bernyanyi sampai larut karena memang libur panjang. Hanya sekolah agama saja yang tidak libur.


Hingga hari menjelang sore. Lagi-lagi Terra membawa banyak pasukan ketika mendatangi sekolah agama Darren. Semua mengaku wali murid pria kecil itu. Ustadzah Aisyah sampai bingung dibuatnya.


"Maaf, Bu. Jadi begini. Darren menolak menghapal Al-Qur'an lagi. Padahal dari semua murid hanya dia yang paling banyak hapalannya juga paling bagus bacaannya. Jadi saya selaku wali kelas ingin menyertakan Darren pada kejuaraan hafiz Qur'an antar sekolah," jelas Ustadzah Aisyah panjang lebar.


"Loh, kenapa nggak mau sayang?" tanya Khasya heran.


"Iya, ini kan kesempatan emas agar kamu lebih berani dan banyak belajar lagi," sahut Puspita kini.


"Nggak ah, males sama pahalanya," sahut Darren malas.


Semua bingung. Terra apa lagi. Bukankah pahala bagi penghapal Al-Qur'an itu sangat bagus? Pikirnya.


"Iya, itu alasan yang Nak Darren lontarkan ketika saya menyuruhnya mengikuti lomba," jelas Ustadzah Aisyah lagi.


"Kenapa sayang?" kini Terra yang bertanya.


"Pahalanya kan mahkota untuk ibu. Bukan untuk Mama Terra!" sahutnya dengan suara bergetar.


Kini baik, Terra sekeluarga mengetahui alasannya. Hanya ustadzah Aisyah yang tidak tahu.


"Loh, kan bagus. Mama sama Ibu kan sama saja," jelas Ustadzah Aisyah bingung.


Darren memalingkan mukannya. Matanya mulai memerah. Ia menahan kesedihannya.


"Bu, ada apa ini?" tanya Ustazah Aisyah masih bingung.


Akhirnya Terra menceritakan semuanya. Siapa dirinya sebenarnya pada guru ngaji putranya itu.


"Sebenarnya saya adalah kakak sedarah dari Darren. Ayah Darren dan saya sama hanya beda ibu," jelas Terra.


Lalu wanita itu menceritakan apa yang dialami Darren. Ustadzah Aisyah pun terdiam. Air matanya mengalir mendengar betapa muridnya yang paling pintar itu ternyata mengalami pengalaman hidup yang begitu mengerikan.


"Ah, sini, Nak. Sini!" panggil Ustadzah Aisyah pada Darren.


Darren mendekati. Ustadzah itu pun langsung memeluk muridnya itu dengan penuh kasih sayang.


"Oh, Anakku. Yang sabar ya, Nak, yang kuat .. hiks ... hiks!" ujarnya sambil membelai sayang punggung Darren.


Menangis lah pria kecil itu dipelukan guru ngajinya. Terra dan semuanya ikut menangis. Betapa berat hidup yang dijalani pria kecil itu sebelum bertemu Terra.


"Darren nggak rela Bu ... kalo mahkota itu dipakai Tante Firsha. Darren nggak rela ... hiks ... hiks!" ujarnya sambil terisak.


"Yang sabar to Le ... seburuk-buruknya dia. Wanita itu tetap ibu kamu, Nak," sahut Ustadzah Aisyah menenangkan Darren.


"Darren nggak rela Bu ... sungguh Darren nggak rela ... huuu ... uuu!" tangisnya.


"Allah maha tahu Nak. Jangan takut itu. Toh ada pahala lain, yakni syafaat bagi sepuluh orang dari keluarga untuk masuk surga," sahut Ustadzah Aisyah memberi tahu.


"Iya, Darren tahu. Tapi, Darren nggak rela mahkota itu untuk Tante Firsha!" pekiknya keras kepala.


"Ya sudah tidak apa-apa. Dengan mengaji saja pahalanya juga sangat baik kok," ujar ustadzah Aisyah akhirnya mengalah.


Terra dan lainnya menghapus air mata. Mereka hanya bisa memasrahkan semua keputusan pada Darren.


"Tidak apa-apa. Mama sangat bangga sama kamu, Nak," puji Terra. Begitu juga yang lainnya.


bersambung.


ah ... 😥


next?