
Rion sudah sembuh. Keceriaan kembali pada wajah tampannya. Jika tertawa ia selalu menampakan giginya.
Ada saja tingkahnya yang membuat orang gemas dan tertawa. Terlebih, ia sedikit lebih galak dari kedua kakaknya.
Sekarang hari minggu. Karina datang bersama Raka dan Haidar. Raka kangen dengan Lidya katanya. Tapi, begitu sampai malah ia tak lepas dari pelukan Terra. Haidar sampai iri dibuatnya.
"Mama okeoke!' pinta Rion dengan wajah santainya. Terra mengusili anaknya. Gadis itu hanya bergeming mendengar permintaan Rion.
"Mama ... okeoke!" teriaknya galak.
Karina tertawa melihat wajah Rion yang marah pada Terra. Gadis itu tetap pada pendiriannya. Akhirnya Rion mengalah.
"Mama ... okeoke pis," pintanya memohon.
Baru Terra tersenyum mendengar permohonan Rion. Gadis itu langsung menyetel peralatan karaoke dengan memasang dua mic dengan kabel dan dua tanpa kabel. Seakan tahu jika nanti acara menyanyi akan ada rebutan mic.
Satu lagu permintaan Raka dengan judul "Pelangi". Raka bernyanyi dengan mengikuti akhiran katanya saja, sambil bergoyang. Karina merekam kegiatan putranya dengan kamera ponselnya. Bibirnya tak henti-hentinya mengulas senyum ceria ketika putranya bernyanyi dengan senang.
Raka yang bernyanyi diikuti paduan suara dari Lidya dan Rion. Sahut menyahut tak terhindari. Lidya nampak berusaha bernyanyi sama dengan Raka. Tapi Rion? Entah apa yang dikatakan bocah itu.
Namun, Raka tidak terganggu sama sekali. Bocah spesial itu malah tertawa senang. Bahkan mengucap terima kasih setelah lagunya selesai.
Semuanya bertepuk tangan dengan meriah. Giliran Darren bernyanyi. Pria kecil itu memilih lagu "Bunda" milik Melly Guslaw.
Suara merdu terdengar. Pria kecil itu menyanyi penuh penghayatan, lagu khusus ia persembahkan untuk ibunya, Terra.
Terra terharu. Haidar merengkuh bahu Terra dan mencium pipinya. Gadis itu merona sambil menutupi pipinya yang memerah karena malu. Darren terlihat agak sedih melihat kedekatan ibu dan kekasihnya itu. Ada perasaan takut muncul dari dalam hatinya.
Terra bisa melihat perubahan wajah putranya. Begitu juga Haidar.
Kini giliran Rion bernyanyi. Balita menggemaskan itu memilih lagu cicak di dinding.
"Ticak ticak liminmin. Miam miam yayayap
antang eetol manyuk hap ulu aap!"
Terra menahan tawa begitu juga Haidar dan Karina. Darren tersenyum mendengar adiknya bernyanyi. Sedang Raka mengikuti bahasa Rion dengan lugas. Lidya, gadis kecil itu menggoyang tubuhnya mengikuti musik.
"Bicak bicak mimimin. Liam Liam beyayayap. batang totol mamuk. Hap. apu maap!" Rion merubah liriknya sembarangan.
Terra tak kuat. Ia hanya duduk lemas karena menahan tawa begitu juga Haidar. Karina masih setia dengan kamera ponselnya.
Lagu cicak-cicak di dinding yang diubah liriknya, selesai. Rion ingin bernyanyi satu lagu lagi. Kali ini, pilihannya "Balonku".
Musik memulai. Balita itu tau kapan ia akan masuk untuk bernyanyi. Jangan salah. Walau liriknya diubah sedemikian rupa. Tapi, not lagunya tepat.
"Labontu ama mila, umpa umpa wawana. Enjo tuying belabu, meyah muma an iyu. Tus tus tus labon njo. Dol! nti tu mamat cacau. Labontu imbal mpat. Pu tepang ewat ewat!"
Semua bertepuk tangan. Musik terus berjalan. Terra sudah menyerah. Tubuhnya lemas dalam pelukan Haidar. Gadis itu perutnya kram akibat tak berhenti tertawa.
"Abontu ada mila. Upa empa wawana. Enjo punin lembau. Yemah yuma ban ibu. Tulutus abon menjo. Dol! latitu mamat macau. Abontu limbang babat. Pulempang bewat wewat!"
Lagu selesai. Semua bersorak bertepuk tangan. Terra sudah lemas. Gadis itu tak beranjak dalam rangkulan Haidar. Pria itu pun wajahnya sudah kaku karena kebanyakan ketawa. Sedang Karina mulai pusing karena menahan tawa dari tadi.
Acara karaoke pun selesai. Mereka makan bersama kemudian tidur siang di satu ranjang milik Terra. Sedang Haidar, Karina dan Terra, bercengkrama di ruang keluarga.
Tiba-tiba Darren datang. Pria kecil itu mengahadapi Haidar dengan tatapan dalam.
"Om, bisa kita bicara sesama pria?" pintanya dengan mimik serius.
Haidar tersenyum. Pria itu mengangguk lalu berjalan beriringan dengan Darren ke ruang tamu. Sesampainya di sana merek duduk berhadapan.
"Apa yang ingin kau bicarakan?" tanya Haidar penuh ketegasan.
Darren menghela napas panjang.
"Om serius mau menikahi Mama?" tanyanya dengan wajah sendu.
"Iya, Om serius!" jawab Haidar tegas.
"Om tau, kalau Darren dan adik-adik tidak punya siapa-siapa lagi, selain Mama?" tanya Darren masih sendu.
"Bisakah Om janji. Membahagiakan Mama, tidak melukai hatinya sedikit pun?" pinta Darren kini menatap netra Haidar dengan binaran memohon.
"Om berjanji!"
"Kalau begitu. Darren dan adik-adik siap, Om pindahkan ke panti asuhan."
Deg!
Jantung Haidar berhenti berdetak. Bagaimana bisa lelaki kecil ini memiliki pikiran ke sana.
"Darren tau. Mama dan Om akan membentuk satu keluarga. Darren hanya tidak mau jika kami nanti akan menyusahkan keluarga Om," jelas Darren lirih dengan suara tercekat.
Buliran bening menetes di pipi pria dingin itu. Hatinya begitu sakit mendengar perkataan Darren. Betapa, pria kecil itu rela mengorbankan segalanya, agar keluarga ibunya nanti bahagia.
Namun, bukan itu tujuan Haidar menikahi Terra.
"Sayang dengarkan Om!" Darren menatap netra pria tampan di hadapannya dengan pandangan berkaca-kaca.
"Tidak ada sedikit pun niat, Om memisahkan atau menempatkan kalian di tempat apa pun. Kalian akan tetap bersama kami. Kalian tetap jadi anak-anak Om dan Mama Terra!' jelas Haidar dengan suara tegas.
Darren menangis. Bibirnya bergetar menahan isak. Ia tak percaya dengan apa yang ia dengar.
"Om tidak akan memisahkan kalian. Karena Om juga sangat, teramat sangat mencintai kalian. Kau dengar itu!" ujar Haidar lagi dengan suara bergetar.
Darren memeluk Haidar erat. Pria tampan itu pun membalas pelukan Darren hangat. Ia menyalurkan seluruh perasaannya kepada pria kecil yang menangis haru di dadanya.
Terra yang menguping ikut menangis. Karina memeluk Terra. Wanita itu tak percaya jika Darren memiliki pemikiran sejauh itu. Ia jadi terharu.
"Darren sayang Om," ungkap Darren tulus.
"Om juga sangat menyayangimu, Nak!" saut Haidar sama-sama tulus.
"Janji Om tidak akan menyakiti Mama?' Darren menaikan kelingkingnya.
Haidar menaut kelingking Darren dengan kelingkingnya.
"Om janji!"
Mereka pun tersenyum dan kembali berpelukan.
"Boleh Om tanya?" Darren mengangguk setelah mengurai pelukannya.
"Kenapa kau menyuruh Om berjanji untuk tidak menyakiti Mama Terra?" tanya Haidar penasaran.
"Karena Mama sudah terlalu sakit selama merawat kami, Om!"
Jawaban Darren membuat Terra langsung berhambur menghampiri putranya itu. Gadis itu menangis memeluk Darren.
"Mama tidak pernah sakit hati mengurus kalian. Tidak!" sangkal Terra.
"Kalian adalah hidup Mama. Kalian segalanya bagi Mama. Jangan katakan itu, sayang. Mama tidak pernah sakit hati merawat kalian ... huuuu ... uuuu ... hiks ... hiks!"
Darren memeluk Terra. Pria itu bersyukur telah bertemu malaikat yang selama ini ia harap dan impikan.
"Iya, Ma. Maafin Darren ya," ungkapnya.
"Janji jangan katakan itu lagi ... hiks ... hiks!' isak Terra.
"Janji laki-laki!" saut Darren tegas kemudian mengusap air mata ibunya.
Haidar tersentuh. Ia memang tidak salah pilih. Karina mendekati dan duduk di sebelah adiknya kemudian memeluk pria itu dari belakang.
"Kekasihmu hebat, Dik. Kau beruntung bisa memilikinya."
"Ya, memang aku sangat beruntung."
bersambung.
ah ... mewek lagi deh ... emang ya, kalau abis ketawa pasti nangis.
next?