TERRA, THE BEST MOTHER

TERRA, THE BEST MOTHER
ROMANTISME YANG BERANTAKAN



Budiman hari ini libur. Ia mempersiapkan diri, memakai baju terbaiknya. Kemeja polos warna biru dongker dengan celana bahan warna hitam. Ia menyugar rambutnya ke belakang setelah menggosok tangannya dengan pomad.


Menyemprot parfum di leher juga bagian pergelangan tangannya. Setelah yakin rapi, ia melangkahkan kakinya. Taksi daring sudah menunggunya.


"Sesuai map ya Pak,l?" Budiman mengangguk.


Butuh waktu dua puluh menit ia sampai di rumah yang ia tuju. Sosok gadis yang tengah menunggunya. Mereka sudah saling berjanjian untuk melakukan sebuah makan malam romantis.


"Jadi kalian akan pergi?" tanya seorang pria melihat Budiman dengan pandangan menyelidik.


"Iya, saya minta ijin untuk membawa No ... maksud saya Gisella ke suatu tempat," jawab Budiman tegas tanpa ada keraguan.


Gisella hanya tertunduk dengan rona merah di wajah. Gadis itu juga sangat cantik. Berbalut gaun midi lengan sepotong warna navi. Rambut pirang dibiarkannya tergerai, hanya riasan tipis. Manik birunya berbinar indah penuh permohonan pada kakaknya. Bart sudah pulang dari kemarin, ketika kejadian menimpa cucunya tidak menimbulkan masalah panjang.


Gabe hanya bisa mendengkus kasar. Mereka memang bangsa Eropa, tapi masih bersifat kolot. Pergaulan Gisel sangat ketat penjagaan oleh kakek, ayah juga kakaknya. Makanya, gadis itu baru ini mendapatkan kencan dari seorang pria dewasa.


"Baik, aku percayakan adikku. Jangan terluka sedikitpun. Jika kau sampai melukainya ...." Gabe menghentikan perkataannya.


"Aku pastikan nyawamu sebagai gantinya," lanjutnya mengancam.


"Saya pastikan, Nona ... mmm ... maksud saya Gisel akan aman di tangan saya," janji Budiman dengan penuh keyakinan.


"Baik. Jam sepuluh malam adalah batas waktumu," sahut Gabe memberi jeda.


"Ah, ayo lah Kak!' protes Gisel.


"Iya, atau tidak sama sekali!" cetus Gabe tak dapat dibantah.


Gisel akhirnya bungkam setelah melihat anggukan Budiman. Mereka berdua pun berangkat. Budiman menggandeng tangan Gisel erat. Seakan takut terlepas. Mereka menuju taksi daring yang tadi menunggu mereka.


Budiman membuka pintu untuk gadisnya. Lalu menutupinya perlahan kemudian ia pun berjalan memutar lalu membuka pintu sebelahnya kemudian duduk berdampingan bersama Gisel. Setelah yakin penumpangnya duduk dengan nyaman. Mobil itu pun berjalan menuju restoran yang sudah direservasi sebelumnya. Butuh waktu dua puluh menit untuk sampai lokasi kencan keduanya.


Budiman segera membayar ongkos taksi. Kemudian bergegas membuka pintunya sendiri lalu berlari menuju pintu di mana Gisel duduk dan membukanya.


Jemari Budiman menjulur membantu Gisel keluar dari mobil. Gadis itu menyambut uluran tangan pria yang berhasil mencuri perhatiannya. Setelah menutup pintu. Mereka berjalan kembali dengan bergandengan tangan. Sebuah senyum malu-malu diperlihatkan keduanya.


Seorang pelayan mendatangi mereka, ketika masuk restoran.


"Selamat malam, selamat datang di restoran kami. Ada yang bisa kami bantu, Tuan, Nona?"


"Saya sudah memesan atas nama Budiman Samudera," sahut Budiman.


"Baik, mari ikuti saya, Tuan, Nona," ajak pelayan itu ramah.


Mereka berdua mengikuti pelayan Gisel menatap takjub. Sebuah meja dekat dengan taman penuh dengan hiasan lilin dan bunga mawar. Tiba-tiba satu buket mawar diserahkan oleh Budiman. Gadis itu terkejut.


"Terima kasih," ujar Gisel dengan senyum merekah dan rona wajah yang tersipu.


Mereka berdua bergandengan hingga menuju meja. Budiman menarik kursi perlahan.


"Silahkan duduk, Nona," ujarnya mempersilahkan sambil tersenyum manis.


Sangat manis hingga madu pun kalah dengan manis senyuman Budiman.


"Terima kasih, Tuan." Gisel meletakkan buket mawar pink dan merah di meja lain.


Pelayan membawa hidangan pembuka. Dua porsi salad buah terhidang. Gisel tertawa lirih melihat hidangan pembuka itu. Ia sangat tahu jika Budiman adalah pemakan makanan sehat. Berbeda dengan dirinya. Omnivora.


"Buah adalah makanan sehat. Baik untuk pencernaan sebelum makanan utama. Lambung akan bekerja maksimal setelah kita memakan buah. Hingga makanan selanjutnya akan tercerna sempurna," jelas Budiman lalu tersenyum.


Gisel mengangguk Ia mendapat sebuah ilmu kesehatan dari pakarnya. Gadis itu memakan saladnya dengan elegan. Nyaris berbaring terbalik ketika ia berada di kantin memakan gorengan bersama Taranika.


Salad habis. Musik romantis mengalun, mata saling menatap. Budiman melihat sedikit mayonaise menempel di sudut bibir gadis pujaannya.


Ia menghapus langsung dengan jarinya. Gisel terkejut. Wajahnya sedikit menjauh, walau terlambat.


"Maaf, aku melihat ada saus mayonaise di sisi bibirmu, tadi. Jadi aku menghapusnya," jelas Budiman lalu menyesap mayonaise di jarinya tadi.


"Kau cantik sekali," puji pria itu tulus.


Blush! Pipi Gisel merona. Berkali-kali ia dipuji oleh pria tapi tak pernah membuatnya belingsatan seperti ini. Ia nyaris kehilangan napas karena jantungnya terlalu keras berdegup.


Budiman mengamit jemari Gisel. Menggenggamnya erat. Lalu perlahan ia tarik , bibir Budiman nyaris menyentuh buku tangan gadisnya, tetapi ....


"Om Pudi!"


Deg! Wajah keduanya pucat. Pria itu menengok. Lima orang lain tengah memalingkan wajah mereka. Budiman mengenali mereka semua.


Dengan tanpa berdosa. Rion naik kepangkuan Budiman. Ia menengok polos pada sepasang kekasih itu.


"Matanannya mana?" tanyanya dengan mata bulat menggemaskan.


Di sudut lain lima sosok dewasa itu tertawa tertahan. Budiman hanya menghela napas panjang.


"Tuan Baby, jam segini kenapa belum tidur?" tanya Budiman dengan bahu turun.


Gisel terkikik geli melihat wajah pria di depannya, lemas dan tak berdaya. Tiba-tiba Lidya juga berlari dari arah di mana lima orang dewasa itu akhirnya tertawa lepas.


"Iya judha mau dudut dipantu," pinta Lidya.


Gisel meraih tubuh gadis kecil itu lalu memangku sesuai permintaannya. Pelayan datang membawa makanan. Dua porsi medium stiek. Keduanya memotong kecil-kecil daging tersebut. Lalu menyuapi balita yang duduk dipangkuan mereka.


"Tuan Baby, Nona kecil. Kenapa kalian belum tidur jam segini?" tanya Budiman sekali lagi.


"Tenapa? Emannya eunda boleh?" tanya Lidya polos.


"Bu ...."


"Hei jika kau keberatan diganggu, bilang saja. Nanti, aku akan memberi pengertian pada dua anakku," sahut Virgou tiba-tiba muncul.


"Bukan maksud saya ...."


"Sudahlah. Masih untung Rion yang mengganggumu. Dari pada aku yang ingin minta kau pangku?" sahut Virgou menyela perkataan Budiman.


Gisel tertawa terbahak-bahak, hingga mengeluarkan air mata. Gadis itu sangat bahagia, walau momen romantis mereka berantakan.


"Om Budi malah?" tanya Lidya dengan mimik sedihnya.


"Tidak sayang. Om tidak marah," sahut Budiman cepat.


Lidya tersenyum manis. Gadis kecil inilah yang meminta ayah dan ibunya ketika melihat pria kesayangannya tidak datang bekerja seharian.


Terra datang ikut bergabung dengan kedua insan yang sedang kasmaran itu.


"Maaf, Kak. Iya tadi nyariin Kakak, kenapa tidak masuk kerja. Mas Haidar mengatakan kalau Kakak akan melakukan kencan malam ini. Lidya nanya, kencan itu apa. Makanya kami membawa putri kami ke mari untuk menjelaskan kencan itu apa," jelas Terra panjang lebar.


Lidya mengangguk, membenarkan perkataan ibunya.


"Iya judha mau tensyan sama Tata Jisel. Baby judha mau tensyan," sahut Lidya kemudian mengambil kentang goreng yang ada di meja lalu memakannya.


Rion yang mulutnya penuh dengan saus barbeque, mengangguk. Ia mengambil sendiri daging yang telah dipotong dengan tangannya, lalu menyuapi Budiman. Pria itu pun membuka mulutnya dan menerima suapan Rion.


"Biya, Ion mau pensyan pama Om Pudi ban Ata' Bisel," ujarnya.


Mereka pun akhirnya makan satu meja. Ambyar sudah kencan romantis antara Budiman dan Gisel. Tapi, keduanya senang dan happy.


bersambung.


maaf ya mang Pudi. 🤭🤭🤭🤭


next?