TERRA, THE BEST MOTHER

TERRA, THE BEST MOTHER
PRIA-PRIA POSESIF 2



“Gedung ini milikku!” teriak Demian murka.


Dua pria yang menahannya tak peduli. Bart yang melihat kegaduhan di depan pintu, menghampiri. Pria tua itu melihat Demian seperti orang kesururpan meronta minta dilepaskan.


“Ada apa ini?” tanyanya.


“Tuan, pria ini ingin masuk begitu saja,” lapor Juan.


Jacob yang ada di sana memutar mata malas. Ia malu dengan perbuatan atasannya itu. Ia pun menghampiri dan menenangkan Demian.


“Tuan jangan buat malu!” bisiknya.


Demian akhirnya tenang. Ia merapikan penampilannya. Mukanya memerah menahan amarah, tetapi kemudian biasa ketika mendapat tatapan penuh tanda tanya pada dirinya.


“Tuan Starlight, ada keperluan apa anda kemari?” tanya Bart menyelidik.


“Oh, saya mendengar jika ada sesi pengobatan untuk pasien pasca kekerasan,” jawab pria itu tepat.


“Ah … begitu rupanya. Mari masuk, lain kali telepon saya dulu agarctidak terjadi keributan seperti tadi,” jelas Bart lagi.


Demian meminta maaf untuk itu, ia melirik para pria yang menjaga Lidya begitu ketatnya.


“Aku pastikan kalian tak akan kupakai jika nona kalian menjadi milikku!” ujarnya sinis dalam hati sambil tersenyum miring.


Namun sejurus kemudian, selama dua jam ia menahan cemburu yang begitu kuat ketika melihat Lidya memeluk laki-laki yang lumayan tampan. Pria itu hanya menundukkan kepala dan diam ketika ditanya. Tetapi ketika Lidya memeluknya, ia pun langsung menangis dan membalas pelukan itu erat.


“Aku membenci diriku sendiri, kenapa aku tak bisa menolong adik-adikku dari pukulan bibi-bibiku!” ujar pria itu dengan suara gemetar.


“Aku memilih menyelamatkan diri, dan membiarkan kedua adikku berteriak kesakitan karena dipukuli … hiks .. hiks!” lanjutnya sambil tersedu.


Lidya memberikan ketenangan di sana. Ia pun menjelaskan jika apa yang ia lakukan sudah benar.


“Tidak apa-apa, kedua adikmu juga kini sudah tenang di sana, dan kedua bibimu sudah mendapat hukuman yang setimpal bukan?” ucap Lidya sambil mengusap punggung pria itu.


Lidya sedih mendengar cerita dari pria bernama Franko itu. Franko berusia sama dengan Darren, kakaknya. Kini, gadis itu membayangkan jika sang kakak dulu memilih lari dan meninggalkannya berdua dengan Rion di tangan Firsha. Sesi healing sudah selesai. Amolia peserta dari Afrika meninginkan Lidya memeluknya lagi.


“Lidya … please hug me … I want go to heaven soon,” ujarnya seperti mau pamit.


Lidya menatap gadis malang itu, usianya sama dengannya. Ia menutup mulut dengan kedua tangannya. Amolia memeluknya. Seluruh tubuh kedua gadis itu gemetar.


Lidya memeluk Amolia dan membisikkan kata-kata indah untuknya.


“Tuhan mengirim bidadara yang sangat tampan untuk menjemputmu, berbahagialah.”


“I will Lidya, thank you and love you much,’ ujarnya sambil mengurai pelukannya.


Amolia melambaikan tangannya dengan senyum yang sangat indah.


Lidya juga melambaikan tangan. Amolia dibawa oleh para perawat, setelah kepergian gadis malang itu. Lidya jatuh tak sadarkan diri.


“Nona!” pekik Gio langsung menggendong nonanya.


Bart panik begitu juga Demian. Pria itu hendak menyerobot Lidya dari gendongan Gio, sayang Juan dan Hendra menghalanginya. Bart juga menatap tajam Demian yang hendak menyerobot cucunya. Pria itu hanya menggosok tengkuknya, sedangkan Jacob hanya bisa menghela napas panjang. Perjuangan cinta tuannya akan terbilang sangat sulit.


“Bawa dia langsung ke UGD!” titah Demian akhirnya.


“Datangkan dokter dan perawat wanita. Jangan ada yang laki-laki!” tekan pria tampan itu.


Semua mengangguk. Mereka paham, karena pasien yang berbaring merupakan wanita berhijab. Demian sangat setuju jika yang menangani gadisnya adalah dokter dan perawat wanita. Kesembilan pria itu menunggu. Bart yang paling cemas begitu juga Demian. Tak lama dokter wanita keluar dari ruangan. Semua pria yang menunggu berdiri.


“Bagaimana Dok?” tanya mereka.


Sang dokter sampai bingung, lalu tersenyum. Ia meyakini jika pasien di dalam sana memiliki ikatan kuat dengan semua pria di depannya.


“Pasien sepertinya shock dan traumatiknya datang lagi. Selain itu sepertinya ia merasakan sesuatu yang lain,” ungkap dokter itu ragu.


“Apa itu Dok?” tanya Bart, pria tua itu memang tidak mengetahui kelebihan lain cucu perempuannya.


“Sepertinya pasien bisa merasakan kehadiran jiwa atau spirit yang lain,” ungkap dokter itu.


Demian ternganga, begitu juga Bart dan tiga pengawal yang belum mengetahui kelebihan gadis yang menjadi nona mereka. Sedang baik Gio, Juan dan Hendra sudah mengetahui kelebihan dari Lidya selain pengobatan sentuhannya.


Kini, lidya berada di ruang perawatan. Gadis itu tertidur dengan wajah sedikit pucat, Bart mengusap kepala Liyda yang terbungkus hijab, gadis itu sudah memakai baju rumah sakit. Bart mengecup kening gadis itu. Mata Lidya mengerjap, pupilnya mengecil ketika cahaya masuk ke retinanya. Perlahan ia membuka mata sempurna. Tangannya masih ditusuk jarum insfus yang menggantung.


“Grandpa!” panggilnya manja.


Suara merdu Lidya yang manja membuat hati Demian berdesir hebat. Bulu romanya berdiri seketika, ia merinding hanya mendengar suara indah gadis itu. Bart tersenyum melihat cucunya itu.


“Sayang, bagaimana perasaanmu?” tanyanya.


“Sedikit lemah, Grandpa.” Jawab Lidya lemah.


Gio memanggilkan dokter, dua orang wanita masuk dan membawa stetoskop dan satunya membawa catatan kesehatan pasien. Dokter memeriksanya dengan seksama. Ia pun tersenyum ketika melihat pasiennya sangat cepat pulih. Padahal tadi, gadis itu mengalami dehidarsi tinggi.


“Sepertinya Nona Dougher Young, sudah lebih baik, tetapi saran saya, ia beristirahat satu malam untuk menghabiskan infusnya ini,” jelas dokter itu ramah.


“Baik, terima kasih Dok.” Ucap Bart lega.


Tak lama Frans dan Leon datang ke ruangan VVIP di mana Lidya mendapat perawatan intensif. Jacob menarik tuannya untuk keluar dari ruangan itu. Demian sedikit protes pada pria bawahannya itu.


“Aku masih ingin di sana. Jika perlu menungguinya!” ucapnya marah.


“Tuan, berpikirlah rasional. Seluruh keluarganya ada di dalam, untuk apa Tuan ada di sana. Jangan membuat rumit perjalanan cinta Tuan sendiri!” ungkap Jacob sedikit kesal pada Tuannya.


“Biarkan anda menjadi pahlawan yang tak terlihat. Ketika mereka sadar, mereka akan mendatangi anda dengan seribu terima kasih,” lanjutnya gusar.


Demian teridam mendengar penuturan bawahannya itu. Ia memang sudah cinta buta pada Lidya, gadis kecilnya. Terlebih ia tadi mendengar jika Lidya mengalami trauma kembali setelah mengobati beberapa pasien.


“Sepertinya gadis itu belum sepenuhnya keluar dari trauma. Tetapi niatnya untuk menyembuhkan semua luka begitu kuat,” ujar Demian menilai situasi yang ia lihat.


Jacob mengangguk. Ia pun melirik tuannya yang kini bermuka lesu. Sungguh ia sangat kasihan pada atasannya itu. Ia ingin mengungkapkan hal-hal lain yang membuat tuannya mustahil mendapatkan restu dari seluruh keluarga gadis itu. Tetapi ia memilih untuk diam.


“Tuan, anda sebenarnya sangat paham akan situasi ini, berpikirlah lagi secara rasional. Tuan pasti menemukan banyak halangan untuk mendapatkan Nona Lidya,’ gumamnya bermonolog dalam hati.


Bersambung …..


Iya bener itu … coba mikir Dem … mikir!


Next?