
Terra sudah selesai dengan semua masakan Wanita itu membawa dua anak kembarnya. Mengajak Gina dan Ani bersama.
"Bi, ikut ke makam yuk.Te, kangen almarhumah," ajak Terra.
Kedua wanita itu mengangguk. Terra memberitahu asisten rumah tangganya yang lain untuk menjaga dan memberi anak-anak makan jika pulang sekolah.
"Saya hanya sekitar tiga puluh menit, Bi!" ujar Terra.
"Iya, Nyah! Hati-hati di jalan," ujar Nani.
"Iya makasih!"
Terra disupiri oleh Dino, salah satu pengawal Terra. Gina dan Ani duduk di kursi belakang. sedang Terra bersama dua bayinya yang duduk di kursi khusus mereka. Di sebelah Dino ada Bambang. Dua pengawal mengantar Terra ke makam. Butuh lima belas menit menit untuk sampai sana.
"Assalamualaikum wahai ahli kubur," gumam Terra ketika masuk makam.
Ani dan Gina mendorong.kereta bayi. Sedang Dino dan Bambang tampak mengikuti.
Mereka sampai pada makam ayah Terra. Wanita itu duduk di sisi makam. Menabur bunga dan berdoa begitu juga pada makam ibunya.
"Assalamualaikum, Yah, Bu. Maaf baru sekarang Te, datang menyambangi makam setelah beberapa bulan lalu ketika Lidya dan Darren menikah," ujar wanita itu.
"Semoga Ayah dan Ibu ditempatkan di tempat yang layak di sisi Allah, aamiin!"
Setelah membaca doa. Terra menyambangi makam Romlah yang tak jauh dari sana. Kembali ia duduk sambil mengusap nisan. Air matanya kembali menitik.
"Bik Rom ... hiks ... Iya hamil, Bik," ucapnya sambil terisak.
"Bibi ingat nggak dulu waktu awal-awal kita merawat Lidya?" Terra bermonolog pada nisan.
Air matanya terus mengalir tak berhenti mengingat momen di mana Lidya yang penuh dengan trauma. Romlah yang selalu ada di sisi wanita itu. Bagaimana Terra menangis di pangkuan Romlah. Wanita yang usianya saat itu lebih tua lima belas tahun dari Terra, mengusap lembut kepalanya.
"Te, ingat ketika Te lelah akan semuanya ... hiks ... hiks ...Bibi yang menguatkan dan mengingatkan Terra ... huuuu ... hiks ... hiks!"
Ani dan Gina ikut sibuk mengusap air matanya. Sedang dua pengawal hanya diam dan menunduk, larut dalam suasana.
"Bi Rom ingat waktu kita pindah rumah dan menjual semua barang yang mengingat trauma Darren, Lidya dan Rion? Bibi pernah bilang jika Te, bisa melewati ini semua dengan kepala tegak ... hiks ... hiks!"
"Te bisa, Bi! Te, bisa ... huuuu ... uuu ... hiks ... hiks!"
"Nyonya!" panggil Gina dan Ani sedih.
Keduanya tak dapat menahan tangis. Mereka juga ada di saat awal Terra mengasuh ketiga adik yang menjadi anaknya itu. Mereka tau bagaimana perjuangan Terra untuk bangkit dan melupakan semua hal yang menyakiti hatinya terutama menerima Darren, Lidya dan Rion.
Gina yang paling akhir ikut, menjelang pernikahan Terra. Ia tak begitu banyak tau bagaimana kisah majikannya. Mendiang Romlah yang menceritakan semuanya. Makanya, ia merasakan betapa besar hati wanita yang kini memiliki banyak anak itu.
Setelah puas bercerita. Terra menabur bunga di pusara Romlah. Wanita yang sangat berarti dalam hidup Terra.
"Baik-baik di sana ya, Bi ... ketika nanti di jembatan sirathal mustakim, tolong ingat Te ... huuu ... uuu ... ajak Te ke surga sama Bibi, ya .. huuuu ... uuu ... hiks ... hiks!"
Ani dan Gina ikut menangis. Entah berapa tisu yang dipakai untuk menghapus air mata dan lendir yang keluar dari hidung mereka.
Terra dan lainnya pun meninggalkan makam. Wanita itu duduk di kursinya. Perlahan mobil itu pun bergerak. Semua diam dan masih larut dalam duka.
Butuh waktu lima belas menit untuk sampai. Anak-anak sudah pulang sekolah. Ternyata ia cukup lama di jalan.
"Assalamualaikum!" salamnya.
"Wa'alaikumussalam!" sahut Rasya dan Rasyid.
"Mama dari mana?" tanya Rasya. "Kok sepertinya Mama habis nangis?"
Rasyid menatap ibunya. Ia jadi sedih melihat wajah sang ibu yang sembab.
"Ma," panggilnya dengan suara sendu.
Ani dan Gina telah membawa dua bayi kembar ke kamar Terra dan mengganti baju keduanya. Terra memeluk duo R.
"Mama tadi ke makam, Baby," jawabnya.
"Ke makam?" Terra mengangguk.
"Kok, nggak ngajak kita, Ma?"
"Kita juga kangen Bi Romlah," sahut Rasya.
Rasyid pun mengangguk. Keduanya sempat mengerjai wanita paruh baya itu. Rasya sampai demam dua hari ketika Romlah berpulang ke pangkuan ilahi.
Mereka memeluk Terra. Wanita itu juga membalas pelukan dua putra kembarnya. Rasya dan Rasyid menangis.
"Ssshhh ... jangan sedih, Bi Rom udah bahagia di sana," ujar wanita itu menenangkan dua putranya.
"Sekarang ganti baju. Sudah itu makan siang ya!" titahnya kemudian.
Duo R mengangguk. Mereka mengusap begitu saja air mata dengan lengan baju seragam mereka. Lalu keduanya masuk kamar dan berganti baju.
Terra menyiapkan makanan untuk dua putranya. Ani dan Gina sudah keluar dari kamarnya dan membawa dua bayi kembar Terra lalu mendudukan keduanya di kursi makan mereka.
"Mamama!" panggil Arion.
"Oh ... iya Baby!" sahut Terra.
"Becah ... becah ... becah!" sahut Arion sambil menyemburkan ludahnya.
"Apa yang becah, Baby?" tanya Rasya turun dari lantai dua.
Keduanya pun duduk sebelumnya menciumi dua adiknya sampai kedua bayi itu protes.
"Hanbehhebehuymmh!"
"Becabecabeca!" sahut Rasya menimpali adiknya.
Maka terjadilah debat dengan bahasa absurd. Terra membiarkan keributan yang terjadi.
"Hei, ayo makan jangan bersuara!" peringat wanita itu pada keempat anaknya.
Mereka pun diam lalu berdoa, kemudian semuanya makan dengan lahap. Usai makan, Terra meminta Rasya dan Rasyid tidur siang. Wanita itu pun menidurkan dua bayinya.
Terra menghela napas panjang. Rutinitas yang sudah ia hapal di luar kepala ketika ia menjadi seorang ibu bahkan sebelum ia menikah dengan suaminya.
"Lelah ... tapi ini semua ada bayarannya. Semoga Allah memberiku kesabaran dalam menjalani peranku sebagai seorang istri dan ibu bagi semua anak-anak dan menantuku," doanya penuh harap.
Tak lama, wanita itu pun tertidur. Hari berganti sore. Semua keluarga sudah pulang. Rumah begitu ramai. Terlebih Darren dan Lidya sudah bersama pasangannya masing-masing.
Demian yang selalu menganggu dua bayi Terra, hingga menangis kesal.
"Kakak Demian ... jangan ganggu Arion dong!" tegur Rasya kesal.
"Maaf, Baby. Habis gemes," sahut pria tampan itu.
Terra menggeleng kepala. Akhirnya malam tiba. Setelah shalat isya berjamaah. Mereka pun masing-masing ke kamar untuk beristirahat.
"Sayang, kamu tadi pagi ke makam, ya?" tanya Haidar.
Tentu saja pria itu tau. Ada BraveSmart di tangannya. Maka ia tau kemana saja istri nya seharian.
"Iya, tadi Te ke makam Bik Romlah, ayah dan ibu. Sebenarnya sih ke Bi Rom. Te kangen dan ingat masa lalu," jawabnya.
Haidar memeluk istrinya. Ia juga sangat menyayangi Romlah. Wanita itu yang pertama kali ia temui ketika bertemu Terra. Wanita dengan penuh kasih sayang dan kesetiaan tinggi pada majikannya. Wanita lugu dan sederhana.
"Mas juga kangen sama almarhumah," aku Haidar dengan suara serak.
Terra membenamkan tubuhnya dalam rengkuhan sang suami.
"Kita doakan agar arwah almarhumah di tempat kan di tempat yang paling layak ya," Terra mengamini doa suaminya.
Tak lama berselang keduanya pun terlelap dalam mimpi indah. Mimpi di mana ada senyum penuh kebahagiaan dari sosok yang pernah hadir dan memberi kekuatan untuk Terra. Romlah.
bersambung.
Semoga Allah selalu melimpahkan rejeki dan kesehatan untuk Readers semuanya. Aamiin. ba bowu ❤️
next?