TERRA, THE BEST MOTHER

TERRA, THE BEST MOTHER
SEBUAH KISAH



Pagi menjelang, Semua orang masih berada dalam selimut mereka termasuk para pengantin baru.


Saf yang tidur kembali setelah shalat subuh bersama suaminya. Tubuhnya terasa mau patah, tadi malam benar-benar membuat keduanya bekerja keras. Darren yang baru pertama kali melakukannya berkali-kali gagal masuk. Hingga ketika masuk, baik Darren dan Saf terkejut bukan main.


"Mashaallah, sayang ... ini ... aahh ... enak sekali," ujar Darren sambil memejamkan matanya.


"Ssakkitt!!" pekik pelan Saf.


Darren memaksa masuk, ia merasa merobek sesuatu. Sedang Safitri kesakitan, ia merasa seperti disilet.


Darren benar-benar hanya mengandalkan instingnya sebagai laki-laki. Ia mencium lembut istrinya agar terbiasa dan ketika sang istri mulai merasakan rileks dan menikmati, ia mulai melajukan dirinya, menggempur ombak samudera cinta. Keduanya saling mengejar. Bahkan Darren mulai mencecap gundukan kenyal milik istrinya untuk merangsang semua syaraf. Gerakan itu makin lama makin cepat. Peluh bercucuran padahal pendingin ruangan bekerja sempurna. Dua bibir saling kecup Hingga ketika mencapai titik tertentu. Darren memuntahkan semuanya di rahim sang istri.


Pria itu ambruk dengan napas terengah di sisi Safitri, kini ia bukan seorang gadis lagi, tapi sudah menjadi wanita. Saf merasakan aliran hangat yang mengalir di rahimnya. Ia berdiam sebentar agar pembuahan menyatu dan berhasil.


"Terima kasih, sayang ... terima kasih," ujar Darren dengan napas menderu.


Lain tempat Darren lain pula tempat Lidya. Di kamar itu, Lidya merasakan melambung. Demian benar-benar membuatnya siap untuk dimasuki. Tubuh mungil gadis itu bergetar hebat ketika Demian mulai memasukinya dengan lembut.


"Sayang," panggil gadis itu ketika perih menjalar di bawah sana.


"Maaf ... ini hanya sebentar saja sakitnya," ujar pria itu dengan napas terengah.


Lima jam ia bertempur baru kali ini ia mampu membobol pertahanan yang begitu tangguh. Demian merasakan getaran setiap kulitnya bersentuhan dengan kulit Lidya.


Pelukan gadis itu mampu membuatnya merasa nyaman dan tenang. Walau, ia berusaha membalikkan semuanya agar Lidya yang nyaman ketika bersamanya. Pria itu mencium lembut bibir sang istri.


Mengarungi ombak cinta yang begitu besar melanda. Demian benar-benar menjadi nahkoda yang mabuk akan kuatnya terjangan ombak yang datang. Hingga ketika ia harus menembakan ratusan juta bibit unggul pada tempatnya.


"Sayang ... Lidya!" panggilnya dengan suara serak.


Lidya hanya bisa pasrah. Ia menerima semprotan benih yang akan tumbuh di rahimnya kelak. Gadis itu kini sudah menjadi seorang wanita.


Lidya menitikkan air matanya. Sang suami mengecup netra sang istri yang mengembun.


"Terima kasih, sayang. Kau menjaganya dengan baik, aku tersanjung," ujar Demian lalu roboh dengan peluh membasahi tubuh.


Keduanya meringkuk dalam satu selimut hingga subuh menjelang. dua pasang pengantin itu membersihkan diri mereka lalu shalat berjamaah. Kemudian tidur kembali.


"Mashaallah ... badanku remuk semua," keluh Safitri.


"Assalamualaikum, istriku," sapa Darren.


"Wa'alaikumussalam suamiku," sahut Safitri.


Darren menggendong istrinya ala pengantin ke kamar mandi untuk berendam air hangat.


"Sayang, kenapa dada dan leherku banyak merah-merahnya?" tanya Saf polos.


"Sayang. Kau seorang bidan. Masa kau tidak tau pelajaran reproduksi?" goda sang suami.


Saf hanya tersenyum lebar mendengarnya. Tubuhnya terasa rileks karena Darren memberinya pijatan lembut.


Sementara Lidya sudah membersihkan diri dan telah mengenakan gamis dan hijab instannya. Demian pun sudah rapi. Mereka akan cek out setelah makan siang. Bram menyewa semua kamar sampai sore hari.


Semua pasang suami istri tampak merona karena malu. Sedang para suami hanya tersenyum simpul. Bart, Leon, Frans dan Dominic hanya bisa mengerucutkan bibir mereka.


"Ck ... kalian!" sengit Bart kesal.


"Makanya punya istri, Grandpa!" sahut Virgou asal.


"Kau kira mudah cari istri!" sela Dominic tak terima.


"Oh ... aku lupa kau baru saja patah hati," ledek Virgou pada besannya.


"Kurang ajar!" maki Dominic kesal.


"Jangan kau ladeni dia. Virgou memang anak paling menyebalkan di antara semuanya!" sahut Bart sengit.


"Tapi, Virgou benar Dad. Jika ada istri itu rasanya beda," sahut Bram terkekeh.


"Kau!" sengit Bart kesal pada Bram.


Sedang Kanya hanya cuek saja. Padahal ia berusaha menyembunyikan tanda cinta dari suaminya. Begitu juga Widya. Ia iri pada Gisel, Terra, Khasya, Seruni dan Puspita yang menyembunyikan tanda cinta itu di balik hijab mereka.


"Aku yakin di balik kain ini. Tanda cinta kalian jauh lebih banyak dari punyaku!" sindir Widya kesal.


Terra hanya tersenyum lalu menaik turunkan alisnya menggoda kakak iparnya itu.


"Pemanna panda pinta seupeulti pa'a, Mommy?" tanya Bomesh ingin tahu.


Maria juga sibuk menaikan lehernya. Gomesh begitu menerjangnya habis-habisan tadi malam.


"Oteh!" sahut Bomesh menurut, walau ia masih penasaran.


"Banti pita panya Mama Babitli aja," saran Benua.


Bomesh mengangguk setuju. Sedang Sky menunggu orang yang tadi dibicarakan.


"Ipu Mama!" seru Sky ketika melihat Safitri.


"Assalamualaikum!" sapanya.


"Wa'alaikumussalam!" sahut semuanya.


Darren merona ketika Haidar menyenggol lengannya.


"Bagaimana?"


"Ck ... bisa kah kesampingkan itu?" keluh Khasya memperingati.


Haidar hanya tersenyum kikuk. Virgou mengempit leher putranya.


"Aku yakin, nanti kau ketagihan!" sahut pria itu usil.


"Ck ... kau ini!" tegur Khasya kesal.


"Ipu Ata' Iya!" seru Benua sambil menunjuk.


Lidya berjalan sangat pelan. Ia merasa mengganjal di bawahnya. Ia kurang nyaman. Semua melihat cara jalan Lidya.


"Dia sudah menjadi seorang wanita!" celetuk Kanya dengan senyum lebar.


Sky yang mendengar perkataan Omanya langsung mengerutkan keningnya.


"Ata' Ion ... Ata'Ion!" panggilnya.


"Apa Baby?"


"Belempuan syama panita tan syama syaja ya?" Rion mengangguk.


"Ata'Iya tan beleumpuan tot tipilan syudah padhi panita? Memana pelama imi Ata'Iya putan panita?" tanyanya penasaran.


Rion terdiam. Ia juga bingung dengan maksud Kanya. Remaja itu menoleh pada Mamanya. Pertanyaan Sky tentu didengar semua orang. Kanya hanya bisa menggaruk kepala. Ia menepuk pelan mulutnya.


"Kenapa aku bicara seperti itu di depan anak-anak?" keluhnya.


"Sudah-sudah ... ayo kita makan lalu cek out. Kita pulang!" ajak Bram menghentikan keingintahuan dua anak yang beda usia itu.


"Syelalu bedhitu. petiap Sty panya ... eundat aba yan pawab ... mentan-mentan Sty anat teusil!" sungutnya kesal.


Semua menahan senyumnya. Saf memilih menggendong bayi itu dan menciumnya gemas. Hal itu membuat, Benua, Bomesh dan Domesh juga mau dibuat hal yang sama.


Kini semua duduk di restauran. Empat perusuh itu minta disuapi. Rion melarang.


"Ata'Ion ... tanan Sty belah ... penen pipuapin Mama Papitli!" sahut Sky melemaskan tangannya.


"Sudah tidak apa-apa Baby," ujar Saf.


Gadis yang telah menjadi wanita itu pun menyuapi empat perusuh itu. Mereka dengan semangat membuka lebar mulut mereka dan makan dengan lahap.


"Setelah ini, kalian akan berbulan madu. Mau ke mana?"


"Bali!" pekik Lidya dan Saf menjawab


"Maldives!" sahut Demian dan Darren menjawab.


Keduanya saling pandang. Semua menunggu jawaban.


"Ikut suami deh," sahut Lidya dan Saf mengalah.


Demian dan Darren mengangguk setuju. Dua pria itu ingin sekali ke pulau indah itu. Mereka akan menghabiskan waktu dengan berjalan-jalan di pantai berpasir putih nan cantik.


bersambung.


oke deh ...


Readers .. kali ini othor up hanya satu kisahnya. Karena masih pemulihan. ba bowu ❤️❤️❤️


next?