TERRA, THE BEST MOTHER

TERRA, THE BEST MOTHER
PESTA



Mereka pun pulang ke mansion orang tua Haidar. Di sana Kanya sudah menyiapkan pesta kecil untuk kelulusan Lidya. Butuh waktu satu jam mereka sampai mansion itu.


"Assalamualaikum!" sahut Lidya lalu disusul, Haidar, Terra, Khasya, Puspita Herman, Virgou juga Bart. Terakhir baru Budiman.


"Wa'alaikumussalam!' sahut Bram lalu merentangkan tangannya untuk Lidya.


"Kakek!"


"Sayang!"


Keduanya berpelukan. Ada keharuan di sana, sama ketika Darren lulus kuliahnya. Betapa bangga Bram dan Kanya melihat kegeniusan mereka semua, hingga mampu lulus dalam jangka waktu singkat.


"Selamat ya, sayang! Kakek bangga padamu!"


",Oma juga!"


Kini semuanya masuk. Anak-anak begitu senang melihat baju kebaya yang digunakan oleh Lidya. Domesh yang baru satu tahun itu sangat antusias. Bayi yang semestinya belum mahir bicara ini, memaksakan diri untuk bicara.


"Ata'Iya ... patit pelali," pujinya dengan mata berbinar.


"Terima kasih baby," ujar Lidya mencium bayi tampan itu.


Semua memberi ciuman selamat padanya. Darren memeluk adiknya bangga. Ia juga menyematkan ciuman di kening Lidya begitu juga Rion.


"Selamat jadi Dokter ya Dik!"


"Selamat ya, Kak!"


"Ata' Iya imi paju pa'a manana?' tanya Rasya ingin tahu.


"Kebaya!' jawab Lidya.


"Pepaya?" tanya Rasya mengikuti perkataan kakaknya.


"Itu nama buah baby ... Ke-ba-ya!" sahut Lidya.


"Pe-ta-ya!" ulang Rasya.


"Butan petaya!" ujar Kaila menerangkan.


"Pati be-pa-ya!' ralatnya.


"Sudah-sudah ... ayo kita makan siang!' ajak Kanya.


Mereka akhirnya makan siang. Lidya minta disuapi oleh Omanya. Melihat kakaknya disuapi, semuanya pun minta suap. Bahkan Darren dan Rion tak ketinggalan.


Akhirnya para orang tua pun menyuapi masing-masing anak-anak mereka. Usai makan, anak-anak diharuskan tidur siang. Tak ada penolakan. Lidya dibantu Terra dan Kanya untuk mencopot kebayanya. Gadis itu sudah memakai hijab satu bulan yang lalu setelah memikirkan masak-masak.


Terra tak pernah melarang atau pun mendebat apa pun keputusan anak-anaknya. Selama itu baik, ia hanya bertanya dan meminta sang ank bertanggung jawab dengan semua pilihan mereka nanti.


Lidya pun beristirahat. Katanya, ia ingin bermalas-malasan dulu sebelum terjun jadi dokter di lapangan nanti. Karena setelah ini, tidur siangnya pasti hilang.


"Ma, Iya mau tidur dulu. Nanti malam kan harus ke pesta sesama teman universitas di hotel."


"Iya, sayang. Istirahat lah. Nanti sore kamu bisa santai-santai dulu dengerin adik-adik dulu ya. Katanya mereka mau ngasih sesuatu," Lidya mengangguk.


Kanya mencium gadis kecil yang dulu selalu ketakutan dan menginggau. Bahkan baru-baru ini dia mendapat kabar jika mimpi buruk Lidya kembali lagi setelah sekian lama.


"Ah, kok, dia cepat sekali besar sih!' protes Kanya.


"Oma jadi semakin tua," keluhnya.


Terra memeluk mertuanya. Ia pun mengajak Kanya untuk keluar dari kamar dan membiarkan Lidya beristirahat.


Tak terasa sore menjelang. Anak-anak sudah sibuk untuk membuat persembahan cantik untuk kakak perempuannya.


"Pombatulasen Ata'Iya!" sahut Rasya memberi selamat kepada kakaknya.


Sebuah tarian hula-hula dimainkan oleh anak-anak. Lidya ingat sekali tarian ini, ketika ia dan Rion ingin menyambut kepulangan ayah dan ibunya dari kantor.


"Pasti Baby Ion yang punya ide ini," celetuknya sambil tersenyum.


"Iya kak, ini adalah idenya kakak Ion," sahut Kean dan Cal memberitahu.


"Ote-ote yut!' ajak Kaila semangat.


"Pes go!' sahut Benua semangat.


Kean yang pertama menyumbangkan suara emasnya. Lagu "perfect" milik Edd sheran menjadi pilihan pria kecil itu. Budiman menatap Gisel penuh arti ketika mendengar lagu itu. Sedang yang ditatap merona karena malu.


Setelah Kean bernyanyi. Mansion Bram kedatangan Karina, suami dan dua anaknya Raffhan dan Zhieka. Mereka datang untuk mengucapkan selamat pada Lidya.


"Mereka lagi di jalan sayang," jawab Zhein.


Benar saja tak lama Raka dan istri datang. Setelah mengetahui siapa Raka, semua sepupu istrinya rajin mendekati pria itu. Hal itu membuat Nugie langsung menutup akses orang-orang penjilat agar tak memanfaatkan menantunya yang kelewat baik.


Raka memeluk erat adik kesayangannya itu begitu juga Karmila. Mereka pun mengumumkan kehamilan Karmila.


"Jadi aku sebentar lagi jadi Om?" tanya Rion tak percaya.


"Iya Baby ... kamu sebentar lagi jadi Om," jawab Mila sambil tersenyum.


Karina dan Zhein shock mereka akan menjadi kakek dan nenek sedang Bram dan Kanya histeris karena akan menjadi uyut.


Malam ini Lidya diundang ke pesta kelulusan antar mahasiswa satu universitas tempat di mana ia menimba ilmu, di sebuah hotel mewah.


Tadinya, Haidar, Virgou dan Herman yang ingin ikut. Namun langsung dilarang oleh istri-istri mereka..


"Biar, Gomesh, Juan dan Gio yang mengawal Lidya!" sahut Bart tegas.


Lidya hanya terkekeh melihat wajah-wajah para pria kesayangannya cemberut. Gadis itu memakai gamis warna gold.


"Ata'Iya bawu temana, bantit setali?' Tanya Bomesh yang kini berusia dua tahun setengah.


"Kakak Iya mau, pergi dulu ya," pamitnya.


Kanya dan Bram mencium gadis yang dulu membuat mereka langsung jatuh hati. Bram diusianya yang ke enam puluh masih aktif di dunia bisnis. Sebagai pemilik dan CEO perusahaan. Ia memiliki tanggung jawab besar memajukan bisnisnya. Terlebih hanya Haidar lah keturunannya.


Haidar sudah mempersiapkan Rion menjadi penggantinya. Pria itu seringkali mengajak remaja itu ke perusahaan. Banyak pendapat miring tentang hadirnya Rion di sana.


Selain remaja itu bukan lah seorang Pratama. Usianya yang masih begitu belia tentu menjadi sorotan. Tetapi, hal itu tak di indahkan, baik oleh Haidar maupun Bram.


Akhirnya Lidya pun pergi dengan pengawal Gomesh, Juan dan Gio. Tiga pria itu ternyata jauh lebih posesif dari pada ayah mereka. Terlebih Gomesh.


"Om ...," rengek Lidya meminta pengertian.


"Baiklah-baiklah!' sahut Gomesh.


Pria itu akhirnya sedikit menjauh. Ia mengawasi nona nya saja. Setelah dijauhi para pria posesif itu. Barulah teman-teman pria mendekat walau sedikit takut-takut.


"Hai Dokter Lid!' sapa pria tampan.


"Hai, Dokter Rico!' sapanya membalas.


"Seminar di Eropa nanti, apa kamu bawa tim atau berdiri sendiri?" tanya pria itu.


"Aku berangkat dari sini sih sendiri untuk perwakilan dari Indonesia. Tetapi di sana aku bersama tim dari beberapa negara Asia lainnya," jawab Lidya sambil menjelaskan.


"Oh ... selamat ya, kamu memang the best!" pujinya sambil memberi selamat.


"Sama-sama, kamu juga hebat kok!" balasnya memuji.


"Kalo udah sama-sama hebat, boleh nggak aku jadi partner kamu?" tanyanya dengan tatapan sayu.


Lidya hanya tersenyum. Ia tidak menganggap serius perkataan pemuda yang usianya terpaut empat tahun di atasnya.


"Lid!" panggilnya dengan sedikit serak.


Lidya mulai terusik dengan pandangan mesum yang dilancarkan pria itu. Gadis itu memilih pindah dan pura-pura menyapa teman perempuannya yang lain.


"Hai, Dokter Nita!' panggilnya lalu hendak meninggalkan pria itu.


"Jangan pergi kemana pun Nona!" cekal Rico lalu menarik tangan gadis itu.


Lidya yang tak siap nyaris terjatuh jika Rico tidak sigap langsung memeluk pinggang kecil gadis itu. Lidya langsung berontak dan memberi satu serangan pada pria itu..Pergerakan gadis itu dilihat oleh Gomesh.


"Perlu bantuan Nona?"


Rico menoleh. Pria raksasa kini menatapnya dengan seringai yang mengerikan.


bersambung.


ah ... cari perkara kan namanya?


maaf ya .. othor lagi banyak kerjaan soalnya pengen ada acara doa bersama di ponpes jadi segini dulu ... nanti up 3 episode lagi. Jika situasi kondusif.


Yuk kita doa bersama untuk keselamatan negara kita Indonesia ini dari bencana besar lainnya.


next?