
Semua anak kini berhadapan dengan sosok gadis bongsor di depan rumahnya. Mereka datang di antar para supir. Darren, Lidya dan Rion bahkan Budiman juga berdiri di sana.
Saf hanya menganga melihat begitu banyaknya manusia di halaman rumahnya. Sampai-sampai tetangga pada kepo. Ada yang khawatir ada juga yang langsung menuduh hal negatif pada Safitri.
"Bu bidan ... Ibu nggak lagi ada masalah kan?" tanya salah satu tetangga.
"Enggak kok, Bu. Mereka semua anak, suami dan ipar saya!" jawab Safitri asal.
Darren tersenyum mendengar jawaban gadis cantik itu, walau selanjutnya senyum itu berubah menjadi cemberut karena mendengar sahutan tetangga Safitri.
"Suami ... Ibu bidan sudah punya suami? Katanya masih jomlo!" teriak salah satu tetangga.
"Iya, ngakunya gitu. Maaf ya, kali gangguin sedikit!" sahut Saf lalu meminta semuanya masuk.
Rumah gadis itu cukup besar dan mampu menampung semuanya.
"Silahkan duduk," pinta Saf.
Semua duduk bahkan ada sebagian di pangku. Seperti, Kaila, Dewa, Dewi, Rasya dan Rasyid. Karena tubuh mereka jauh lebih kecil. Budiman memangku Dimas.
Saf mengambil kursi makan dari ruang makan dan menaruhnya. Kean membantu gadis itu. Dar tak bisa bergerak karena Kaila tak mau bergeser dari pangkuan pria tampan itu. Yang tidak dapat tempat duduk pun akhirnya duduk di kursi makan.
"Mau minum apa?" tanya Saf.
"Air putih aja ya!"
"Nggak usah repot-repot, Bu bidan. Kami datang ke sini hanya untuk minta maaf karena kami meninggalkan Ibu sendirian di lokasi resepsi," jelas Budiman langsung.
"Oh soal itu. Saya kira ada apa," sahut Safitri lega.
"Iya, Bu. Kami benar-benar minta maaf. Soalnya kami juga sedikit lelah, trus kami lupa kalau Ibu itu ikut salah satu mobil kami," jelas Kean dengan nada sangat menyesal.
Saf tersenyum. Gadis itu pun menjelaskan, dirinya juga lupa kalau ia datang ke tempat itu numpang mobil salah satu dari mereka.
"Padahal, ibu sempat menaikan Sky dalam mobil ...," sahut Budiman benar-benar merasa bersalah.
"Sudah ... nggak apa-apa. Santai saja, saya juga lupa kok," sahut Saf tak enak hati.
"Sayang eh ... maksud ku, Bu," ralat Darren.
"Sudah lah Tuan ... jujur saya setuju jika Tuan muda memang menyukai Bu bidan," sahut Budiman sedikit menggoda pria anak atasannya itu.
Darren hanya tersipu. Sedang Saf entah mukanya seperti apa.
"Wah, kalau Baby Benua lihat, pasti Ibu dikatai mirip bampu palubintas," seloroh Rasya.
Semua terkikik geli. Sedang si gadis yang diledek makin tersipu malu.
"Sudah-sudah ... kalau begitu, ayo kita permisi dulu," ajak Budiman.
Anak-anak sedikit kecewa, terlebih Darren. Rion dan Lidya juga masih ingin berlama di rumah nyaman ini. Entah, mereka merasa di rumah ibu mereka sendiri, Terra.
"Kok, cepat pulang sih?" tanya Saf sedikit menahan.
"Kalian yang bekerja harus bekerja, yang sekolah harus sekolah ....!"
"Hari libur Baba!" sahut semuanya kompak.
Budiman melihat tanggal. Hari besar Nyepi. Pria itu pun tersenyum lebar. Jujur, ia juga merasa betah di rumah kecil ini. Ia merasa ada di rumah Terra.
Anak-anak banyak bermanja pada gadis bongsor itu.
"Bu, rumahnya ada kamar berapa?" tanya Sean.
"Ada tiga dengan dua kamar mandi, di lantai bawah. Di lantai atas ada dua kamar satu kamar mandi," jawab Saf.
"Ini kamar, Ibu," gadis itu membuka pintu kamarnya.
Nai masuk dan merebahkan dirinya di sana, bersama Arimbi, Maisya, Kaila dan Dewi. Ranjang ukuran king size itu tampak penuh.
Saf hanya menggeleng. Saf memang membeli rumah yang over kredit. Rumah itu sudah jadi.
"Apa kalian tak ada kerjaan lain selain mengacak kamar?" tanya Saf.
"Tidak!" jawab mereka kompak.
"Bu, di atas pasti lebih keren dari di sini kan?" tanya Dewa yakin.
Baru Saf mau menjawab. Dewa, Rasya dan Rasyid pun berlari ke atas disusul Dimas dan Affhan, Al juga Satrio.
Saf menggaruk pelipisnya. Ia tadinya mau menutup pintu luar, tapi melihat banyaknya para pengawal yang menjadi supir. Gadis itu akhirnya membiarkan pintu terbuka.
"Mas, kalau haus. Minumnya ambil sendiri di lemari pendingin ya," ujar gadis itu. "Jangan sungkan!"
"Baik, Nona. Terima kasih," sahut semuanya.
Safitri pun naik ke lantai dua bersama Lidya yang menggandengnya. Darren dan lainnya sudah naik. Yang lain masih di kamar yang dibuka Safitri tadi.
Begitu sampai di atas, mereka menunggu. Saf membuka dua kamar langsung.
Rion, Dewa, Rasya dan Rasyid, Dimas dan Affhan, Al juga Satrio. Langsung masuk kamar paling atas.
"Ini sebenarnya mau Ibu buat kamar utama, karena rencananya teras ingin ibu buat balkon," jelas gadis itu.
"Wah, enak nih suaminya. Nggak perlu beli rumah. Tinggal numpang di sini," seloroh Affhan..
"Nggak lah, Kakak bakal kasih rumah baru sesuai keinginan Ibu, rumah yang pake balkon dan menghadap taman bunga," sahut Darren begitu percaya diri.
"Emang Ibu mau jadi istri Kakak?" tanya Satrio meledek.
"Pasti mau. Iya kan sayang?" tanya Darren pada Saf yang langsung gelagapan.
Lidya masih setia bermanja di lengan gadis bongsor itu. Saf tak menanggapi pertanyaan pria tampan itu. Ia memilih ke kamar sebelahnya. Ia dan Lidya juga Rion merebahkan dirinya di sana. Sedang Budiman tetap bersama Affhan dan lainnya duduk di sofa.
Darren duduk di pinggiran tempat tidur. Ia menatap gadisnya yang kini dipeluk dua adiknya itu. Lidya dan Rion terlelap. Rupanya kakak beradik itu masih ngantuk. Perlahan, Safitri bangkit dan turun dari ranjang. Ia duduk di sebelah Darren sambil menatap Lidya dan Rion yang terlelap.
"Sayang," panggil pria itu.
Blush!
Rona merah langsung menyeruak dari leher hingga ke pipi gadis itu. Safitri menunduk. Darren mencubit dagu gadisnya hingga menatap dua matanya.
"Aku mencintaimu," ungkap pria itu tulus.
Saf terdiam. Ia masih mencari kebohongan dari sorotan iris coklat terang milik Darren. Tak ada kebohongan di sana. Pria itu jujur.
Deg! Deg! Deg! Deg!
Jantung keduanya berpacu. Wajah Darren makin lama makin mendekat. Hingga napas keduanya terasa panas di wajah. Hidung mereka pun bersentuhan. Sedikit lagi dua bibir itu saling menyatu, hingga ....
"Tuan muda ... ah, maaf!" sahut Budiman sedikit terkejut melihat pemandangan uwu tadi.
Safitri langsung memalingkan mukanya.yang begitu merah seperti kepiting rebus. Gadis itu pun bergegas keluar kamar dan turun ke lantai satu. Sedang Darren sudah mau copot jantungnya.
"Ck ... padahal sedikit lagi tadi," sesal Budiman.
"Andai aku berjalan sedikit lambat dan mengintip sebentar ...," lanjutnya lalu melipat bibir ketika melihat Darren sudah salah tingkah sendiri .
"Makanya, halalin dulu, Tuan Muda ... jangan asal main sosor anak orang!" saran pria itu usil.
"Ah, Baba," sahut Darren malu.
bersambung.
hahaha ...
Readers ... maaf ya ... hari ini othor kembali hanya satu bab nulisnya ... karena ayah othor sakit tadi merosot dari tempat tidur. Minta doanya ya ... makasih ba bowu ❤️😍
next?