TERRA, THE BEST MOTHER

TERRA, THE BEST MOTHER
FAKTA



Hari Sabtu. Semua berkumpul di mansion Herman. Pria itu kembali menggelar selamatan, perusahaannya kian berkembang. Kini, merambah ke makanan siap saji Pria gaek itu mendirikan pabrik sosis ayam, sapi juga otak-otak. Hal itu, membuat semuanya kepikiran membuat perusahaan sama. Terra mendirikan pabrik nugget, sosis dan perkedel. Virgou mendirikan perusahaan sama dengan adik sepupunya itu.


"Wah, kalian memang cerdas melihat peluang," sahut Bart bangga.


"Anakku banyak, jadi harus banyak usaha agar nggak ada yang iri," sahut Virgou.


"Daddy!" tegur Kean tak suka.


"Kean bisa bangun usaha sendiri," sahut remaja empat belas tahun itu.


"Iya Baby, kau memang hebat. Kalian semua hebat!" puji Virgou sambil meminta maaf.


Ya, walau pun ayah-ibunya memiliki usaha atau perusahaan sendiri, terlebih anak-anak Terra. Mereka sudah memulai bisnis kecil-kecilan. Nai, Arimbi, juga Daud yang kuliah di kedokteran pun juga memiliki usaha mereka sendiri.


'Jangan khawatir. Usaha Grandpa juga banyak di Eropa. Bahkan, Grandpa sudah membangun rumah sakit untuk Nai, Arimbi dan Daud!" sahut pria tua itu.


"Kami, akan tinggal di Eropa?" tanya Nai sedikit takut.


"Tidak, Baby. Grandpa sudah membangunnya di tiga kota berbeda," jawab Bart enteng.


"Hah, Grandpa kan belum bisa bangun apa pun selama dua puluh tahun!" sela Satrio.


"Atas nama kalianlah, bangunnya. Jadi satu orang satu rumah sakit," jawab Bart enteng.


"Kak Iya, Mas Dem jadi datang nggak?" tanya Rion sedikit keras.


"Katanya sedang dalam perjalanan, Baby," jawab Lidya.


"Ata'Babitli iput pidat?' tanya Sky.


"Kak Safitri kan sedang istirahat, Baby," jawab Lidya.


"Yaa, badahal Spy pinin ada Ata' Babitli," keluhnya kecewa.


"Telepon saja dia. Minta datang ke mari!" ujar Haidar. "Kalau perlu Aini sama dua adiknya suruh datang!"


Lidya mengangguk. Lalu, ia pun menelepon Aini terlebih dahulu. Gadis itu menyanggupinya. Setelah menelepon Aini, Lidya menghubungi Safitri. Gadis itu pun menyanggupi, ia akan datang bersama Aini dan dua adiknya.


"Sayang, Putri lagi dinas," keluh Lidya.


"Mereka nggak bulan madu ya?" tanya Herman ingin tahu.


"Kita juga dulu nggak bulan madu," celetuk Puspita.


Semua pria terkekeh. Mereka memang tak membawa istri mereka berbulan madu.


"Ah, ngapain bulan madu. Di rumah juga sama, tidur dan kelonan terus sama suami," kelakar Seruni tiba-tiba.


Semua menoleh. Terra tersenyum geli. Baru kali ini, adik iparnya berkelakar seperti itu. Seruni yang dilihat sedemikian rupa hanya menatap semuanya dengan polos.


"Apa ada yang salah?" tanyanya.


"Nggak sayang. Kamu benar," sahut suaminya.


Tak lama, Demian datang bersama Jacob dan Dominic, diantar oleh supir perusahaan. Mereka tentu tak bisa membawa kendaraan sebelum masa tinggal penuh di Indonesia. Lima tahun paling sebentar.


"Assalamualaikum," ujar Dominic ketika masuk dan memberi salam.


"Wa'alaikumussalam!" sambut Herman.


"Ayo, masuk dulu!' pintanya kemudian.


Rion langsung duduk di sebelah Demian. Remaja itu seperti mendapat kakak baru. Darren iri melihat adiknya langsung akrab.


"Baby," tegurnya tak suka.


"Iya Kakak," sahut Rion lalu pindah duduknya di sebelah sang kakak.


Demian mengerucutkan bibirnya. Ia sudah menyukai Rion semenjak remaja itu menantangnya. Para balita dengan berani mendatangi tiga pria itu. Bahkan Sky meminta pangku pada Dominic.


'Atuh pandhil Tate, pa'a?" tanya bayi itu dengan pandangan polosnya.


Dominic gemas bukan main. Ia mencium pipi bulat dan menggelitiknya hingga bayi itu tergelak. Rupanya, Benua juga mau diperlakukan sama. Sedang Harun sudah berjalan merambat menarik kaki Jac. Bayi itu malah mengambil cangkir berisi teh milik pria itu untuk ia minum sendiri.


"Baby, jangan. Itu punya Om Jac!" tegur Herman.


"Da .. da .. da!" sahut Harun sambil menggeleng kepalanya.


Jac gemas. Ia mengambil bayi itu dan memangkunya. Harun memukuli pria itu, hingga mengaduh sambil tertawa.


"Aget!" protes Harun tak suka.


"Maaf, Baby kau memang sangat menggemaskan," ujar Jac..


Terra melihat semuanya. Kedekatan bayi-bayi itu, menandakan jika mereka nyaman dengan keluarga Starlight. Tak lama Safitri datang bersama dengan Aini dan dua adiknya. Rion sangat senang dengan kedatangan Saf.


Bayi besar itu langsung mendatangi gadis bongsor itu, lalu bergayut manja. Tadi, Darren yang cemburu dengan Demian, giliran Terra dan Lidya yang iri melihat Rion yang langsung akrab dengan Saf.


"Bu," panggilnya manja.


"Astaga, apa aku juga memiliki bayi besar ini?" seloroh Saf bertanya.


"Assalamualaikum," ujar Aini memberi salam.


"Ah, hampir lupa. Assalamualaikum," sahut Safitri sambil memperlihatkan giginya yang rapi dan putih.


"Wa'alaikumussalam," sambut Terra lalu mendatangi dua gadis itu.


"Tante," sapa Safitri.


"Mama," sapa Aini.


Safitri merengut. Ia merasa perbedaan yang mencolok. Terra terkekeh melihatnya.


"Kamu juga boleh panggil Mama, Sayang," sahut Terra lembut.


Safitri pun semringah. Terra mengajak semuanya masuk. Ditya dan Radit sudah bermain bersama yang lain.


"Ma, aku bawa makanan, nih!' sahut Saf berani. Ia menunjukkan kantung kresek yang ia bawa.


"Cuma mungkin kurang. Aku lupa, kalau di sini itu orangnya ada satu desa!" lanjutnya berseloroh.


Herman tertawa mendengarnya. Sungguh, ia sangat suka dengan gadis bongsor itu.


"Tidak apa-apa, sayang," sahut Terra, "Makasih ya."


Terra menerima bingkisan dari bidan cantik itu. Lalu menatanya di piring. Pangsit rebus itu langsung tercium aromanya yang menggugah. Sky dan Benua juga lainnya langsung mendatangi meja makan.


"Mama, mawu imi!" pinta Sky memohon.


"Masih panas, Baby!" sahut Terra.


Kean mengambilnya dengan garpu, meniup-niup dan ketika sudah merasa dingin, ia pun mengigitnya.


"Enak!" pujinya sambil mengunyah.


Satrio merebut pangsit di garpu Kean dan memakannya semua. Ia kepanasan sebentar.


"Enak ... beneran!" pujinya lagi.


"Mama, mawu!" pekik Sky marah.


Terra jadi marah dengan yang besar-besar sudah mengambil makanan itu. Hingga tak tersisa. Maka menangislah Sky dan Benua karena tak kebagian.


"Huaaa ... Ata'Babitli ... bansitna babis!" jerit Sky sambil mendekati gadis bongsor itu.


"Ata' ... hiks ... hiks!" Benua juga ikut menangis.


"Ya, sudah. Ata' buat lagi, mau?" tawar gadis itu.


Keduanya mengangguk. Safitri yang gemas, mengusap air mata yang meleleh di pipi bulat keduanya. Ia pun meminta diri untuk memasak kembali pangsit itu.


"Bahannya, ada di kulkas sayang," sahut Puspita.


Lalu mereka membawa Saf untuk memasak pangsit tadi. Karena porsi besar. Seruni, Khasya dan Terra ikut membantu gadis itu. Lidya dan Aini juga ikut. Walau pada akhirnya, semua diusir Safitri karena tak fokus.


"Kebanyakan orang, kebanyakan tangan!" protesnya.


Seruni, Khasya, Puspita, Lidya dan Aini keluar dari dapur sambil cemberut. Para pria masih bercengkrama dan berbicara tentang bisnis. Hanya anak-anak remaja membujuk dua adiknya yang ngambek karena tak kebagian pangsit. Bahkan Rion juga ikut-ikutan marah.


"Kenapa kamu, ikut kesal, Baby?" tanya Darren sambil terkekeh.


"Ion kan pengen juga," jawab remaja itu kesal.


"Kan itu sedang dibuat lagi, Baby," sahut Darren lalu memeluk Rion.


Demian, Dominic dan Jac kini paham. Betapa dekatnya mereka.


"Demian, apa kau serius dengan putriku, Lidya?" tanya Haidar penuh ketegasan.


Demian menatap pria tampan di depannya. Ia mengangguk tegas.


"Iya, Om. Saya jatuh cinta dengan Lidya," jawabnya sangat yakin.


"Baiklah, sebelum kau memenuhi tantangan dari Baby. Ada satu kisah yang kau harus tau. Kenapa, kami begitu berat melepaskan Lidya, putri kami tercinta. Apa kamu mau dengar?" tanya Haidar lagi.


Demian mengangguk jantungnya berdetak kencang. Lalu tak lama, keluarlah sebuah kisah. Kisah kelam masa kecil Lidya. Kisah yang membuatnya dilingkari rasa trauma hingga detik ini. Dominic menahan napas ketika mendengar kisah itu, Jac mengepal.yangan erat. Sedang Demian menatap sendu gadis yang duduk menahan semua kesedihan. Khasya memeluknya.


"Hingga sekarang, ketika di momen tertentu, Lidya masih dibayang-bayangi traumanya," jelas Haidar lalu menghela napas panjang.


Kini Demian tau, perkataan Putri, sahabat dari gadisnya itu. Tentang matahari keluarga. Lidya adalah cahaya mereka semua. Demian kini, paham bagaimana beratnya mereka jika ia mengambil matahari mereka.


"Saya tak menjanjikan apa pun. Tapi, saya yakinkan. Matahari itu tetap akan. bersinar untuk semuanya, hanya saja, saya yang merawat dan menjaganya nanti dan selamanya," ujar Demian yakin.


Bersambung.


ah ...


next?