TERRA, THE BEST MOTHER

TERRA, THE BEST MOTHER
CERITA SOAL ALYA



Sudah satu tahun ini ia menjalankan roda perusahaan milik mendiang ayahnya. Darren, begitu cakap dalam menyusun semua program usahanya.


Terra dan Gabe sangat puas dengan kinerja Darren. Sudah saatnya Gabe melepaskan jabatannya untuk remaja yang mestinya menjadi adiknya ini.


"Sepertinya, Daddy Gabe sudah saatnya melepasmu untuk menjalankan perusahaan," ujar Gabe ketika melihat banyaknya kemajuan dalam pekerjaan.


"Sampai usiaku dua puluh ya," pinta Darren penuh harap.


Gabe menggeleng, ayahnya berkali-kali menghubunginya. David memang sudah bisa diandalkan. Tetapi, Bart yang memilih pensiun, membuat semuanya sedikit kacau dan menumpuk.


"Tidak bisa, sayang. Di Eropa Daddy Frans sudah berteriak kualahan," Gabe berusaha memberi pengertian pada Darren.


Remaja itu akhirnya hanya bisa pasrah. Ia mengangguk menyetujui, jika Gabe melepaskannya. Bertanggung jawab penuh dengan jabatannya. Pria itu tersenyum lega.


Walau hatinya sedikit tidak rela jika ia harus pergi meninggalkan perusahaan ini. Bukan saja perusahaan tetapi Terra dan keluarganya yang membuatnya berat untuk berpisah.


"Tuan, kita ada rapat yang harus diselesaikan dengan para kolega," sahut Rommy memberitahu.


Darren dan Gabe mengangguk. Keduanya pun pergi ke ruang rapat. Beberapa kolega mempertanyakan soal penggantian CEO. Gabe membenarkannya.


"Telah kita ketahui sejak lama jika, Tuan Muda Darren Putra Hugrid Dougher Young adalah kandidat seterusnya. Maka, ketika beliau telah siap, maka jabatan akan saya serahkan kepada yang berhak. Terlebih selama satu tahun ini, semua gebrakannya mampu menaikan nilai saham kita!" sahut Gabriel penuh ketegasan.


Semua kolega dan penanaman saham pun tak bisa banyak protes. Keahlian dan kemahiran Darren dalam mengolah perusahaan tak bisa dianggap sebelah mata. Akhirnya, rapat ditutup dengan penyerahan jabatan ketika rapat saham tiga bulan mendatang.


Iskandar yang kini merangkap sebagai sekretaris, mulai membuat job desk atasannya. Pria berusia dua puluh lima tahun itu, juga sangat kompeten di bidangnya.


Terra masih penasaran dengan kisah Alya yang dipecat plus dihadiahi tamparan dari Jhenna, istri vice CEO perusahaannya. Makanya kini ia datang ke kantin perusahaan tanpa pengawalan. Dengan memakai sepeda motor trail milik Puspita. Ia sudah melakukan janji temu dengan Aden.


Wanita itu berhasil menurunkan sepeda motor kesayangan kakak iparnya dari rantai besi yang mengikatnya. Puspita membantunya.


"Kalau kakakmu sampai marah. Kau tanggung sendiri," ujar ibu dari lima anak ini, lepas tangan.


"Makanya, jangan sampai Kakak masukan mobilnya ke garasi. Te, akan pulang cepat," ujarnya.


"Bagaimana dengan Budiman?" tanya Puspita masih khawatir.


"Aku sudah bilang pada Aden agar tak memberitahukan kedatangan Te, nanti," jelas Terra menenangkan kakak iparnya itu.


"Oke, tapi seperti yang kukatakan tadi. Jika suamiku sampai tahu. Aku lepas tangan," ujar Puspita lagi.


Terra mengangguk. Ia menitipkan semua anaknya pada Puspita. Wanita itu sengaja membawa mobil sendiri untuk menjemput anak-anaknya ke sekolah dan pergi ke mansion kakak sepupunya itu.


Ketika Terra berhasil membawa motor itu pergi dengan kecepatan tinggi. Puspita baru menyesal telah mengijinkan adik iparnya pergi, malah membantunya untuk melepas "Jogy" nama motot kesayangannya itu.


"Ya Allah beri aku kemudahan menghadapi kemarahan suamiku," ujarnya berdoa.


Terra melesatkan kuda besi itu dengan kecepatan tinggi. Hanya butuh waktu sepuluh menit, ia sudah sampai di kantin perusahaan. Melewati jajaran sekuriti, memakai name tag milik Puspita ketika dirinya masih bekerja di tempat ini. Pada sekuriti pun tak curiga sama sekali.


Wanita itu dengan cepat melepas helm ketika di dalam kantin, melihat sosok pria yang menunggunya dengan cemas. Aden sedikit pucat ketika melihat tampilan Terra seperti anak geng motor.


"Ayo cepat ceritakan!" pinta Terra tanpa basa-basi.


Pelayan membawa dua mangkuk soto ayam dan dua jus jeruk. Terra memakan makanan itu sambil mendengarkan cerita Aden Perihal diusirnya Alya.


"Alya, menyukai Rommy, ia berusaha sekuat tenaga untuk menarik perhatian atasannya itu. Kau, tahu jika Rommy pernah bercerita tentang kau memergoki dia nyaris berciuman dengan Bianca dulu?" Terra mengangguk ketika ia mengingat itu.


"Sejak saat itu, dia berubah. Selain, ingin menarik perhatianmu, walau gagal karena Haidar telah menikungnya. Rommy, patah hati berat dan mulai mengubah total peringainya terhadap wanita," jelas Aden lagi, sambil menyeruput sotonya.


"Apa dia gila memfitnah seperti itu?" tanya Terra sedikit mendesis kesal atas perbuatan Alya.


"Namun, ketika dengan Rommy ia mengatakan jika aku lah yang menuduh Rommy melecehkannya," lanjut Aden.


Terra telah cepat menghabiskan makanannya, ia kini meminum jus jeruknya.


"Rommy sempat terpancing.Tentu aku menyangkal tuduhan itu. Malah berkata jika Alya mengaku dilecehkan olehnya," jelas Aden, kini menyeruput kuah terakhir di mangkuknya.


"Kau tahu, Alya selalu mendatangiku jika Jhenna tidak ada. Ia juga berusaha mendekati ku dengan menempelkan tubuhnya," ujar Aden lagi.


Terra menggelengkan kepalanya tak percaya.


"Jhenna marah besar. Alya bersikeras jika akulah yang menggodanya atas suruhan Rommy," lanjut Aden. "Hal itu terdengar Rommy dan langsung memecatnya saat itu juga!"


"Alya sempat menolak dipecat jika bukan Gabe yang memecatnya. Gabe yang sudah tahu semuanya dengan senang hati memecat perempuan tak waras itu. Jhenna pun menamparnya keras hingga terpelanting ke lantai!"


Terra begitu senang ketika mendengar itu. Ia sangat setuju jika Jhenna melakukan hal itu pada Alya.


"Apa setelah itu, Alya mengadukan kekerasan?" tanya Terra.


"Tidak," jawab Aden, "Ia akan dilaporkan balik dengan tuduhan pencemaran nama baik."


"Baik kak..Ceritamu ini membuatku penasaran dari kemarin. Kau tahu, Sean telah memprediksikan jika Alya akan diusir oleh Kak Rommy dan Iskandar yang menghentikannya," jelas Terra.


Aden hanya tersenyum mendengarnya. Terra pamit dan mengucap terima kasih telah mentraktirnya makan siang. Wanita itu kembali melesatkan motor pinjamannya dengan cepat. Segera pulang ke mansion kakaknya.


Sampai sana ia bernapas lega, Puspita sudah berdiri cemas di sana. Ia langsung membuka garasi sendiri dan Terra lalu memasukkan motor itu dan mengikatnya kembali dengan rantai besi juga menggemboknya.


"Nih Kak kuncinya," ujar Terra menyerahkan kunci motor dan gembok bersamaan.


Puspita menerimanya. Mereka masuk ke dalam, anak-anak sudah tidur siang ketika Terra membawa lari motor kakak iparnya itu. Setelah meletakkan kembali kunci motor dan gembok di tempat persembunyiannya semula. Puspita langsung mengusap keringat yang sudah membasahi keningnya.


"Alhamdulillah, Ya Allah. Semoga benar-benar aman," doa Puspita.


Sore menjelang..Haidar datang ke mansion Virgou dengan menggunakan taksi. Sedang Darren sudah berada di rumah bersama Budiman yang langsung pulang ke rumahnya sendiri.


Virgou yang memarkirkan mobilnya di garasi sedikit aneh dengan posisi motor yang telah disanderanya semenjak ia menikahi Puspita. Tapi, pria tampan dengan sejuta pesona itu mengabaikannya.


"Kak, aku pulang ya. Kasihan Darren di rumah," pamit Terra memberi ciuman di pipi kakak sepupunya itu. "Assalamualaikum!"


"Wa'alaikumussalam!"


Terra pun pulang bersama Haidar dan kedelapan anaknya. Virgou masuk dan mendapati istrinya tengah menyiapkan makan malam untuknya. Wanita itu tersenyum lalu menghampiri.


"Sayang, apa ada kejadian spesial hari ini?" tanya Virgou yang membuat detak jantung Puspita melonjak.


"Iya, ada. Semua anak-anak mu bertambah pintar dan usil," jawab Puspita cepat.


Virgou pun terkekeh mendengarnya.


bersambung.


hufffh ... selamat ...


next?