TERRA, THE BEST MOTHER

TERRA, THE BEST MOTHER
SS 3 THE DOUGHER YOUNGS



Lidya dan Aini menatap bangga pada Safitri. Tindakan cepat gadis itu memang membuat geger semua kalangan medis. Pihak rumah sakit langsung memberi penghargaan pada sang bidan yang bertindak cepat dan lebih mementingkan nyawa pasien ketimbang sistem rumah sakit.


"Untuk sementara, Bidan Safitri tidak diperkenankan membuka prakteknya selama satu minggu," ujar asosiasi kebidanan.


Safitri hanya bisa mengangguk pasrah. Ia beruntung tidak diberhentikan dan gelarnya tidak dicabut karena melanggar kode etik.


"Baru juga kerja. Udah kena SP," keluhnya.


Sedang Lidya dan Aini hanya terkekeh dan paham akan kondisi pegawai baru rumah sakit itu.


"Kenalan dong!' sahut Lidya mengulurkan tangan.


"Lidya!" sahutnya.


"Safitri!" sahut gadis itu membalas jabatan tangan rekan kerjanya.


Aini juga mengulurkan tangannya, langsung. Safitri juga menyambutnya.


"Aini!"


"Safitri!"


"Panggil aja Saf, ya ... jangan Fitri!" ujarnya memberitahu.


"Loh kenapa?" tanya Aini.


Gadis itu hanya tertawa kecil. Ia tak menjawab. Lidya tiba-tiba memberi ide untuk datang ke yayasan mandirinya.


"Kak, datang aja ke rumah di jalan Xx. Kakak pasti dibutuhkan di sana!" sahut gadis itu senang.


"Aih ... Kakak? Berapa usiamu Dok?" tanya Saf.


"Sembilan belas, tapi entar lagi mau dua puluh sih," ujarnya.


"Oh ... aku mau dua lima," sahutnya.


"Nah ... benerkan, Kakak!" Saf mengangguk.


Aini senang ia mendapat rekan kerja baru. Saf harus pulang. Ia tak diijinkan berlama-lama. Beberapa perawat memperingatinya agar SP tidak bertambah parah jika ia masih hilir mudik di rumah sakit itu.


Gadis itu menaiki motor besarnya. Satu lagi selain Putri yang menaiki motor besar. Banyak para pria berbisik tentang gadis cantik satu ini.


"Aku dengar dia baru saja membongkar praktek aborsi di klinik sebelumnya!" sahut salah satu perawat pria.


Aini yang tengah membeli sarapan untuk dua adiknya menyimak percakapan.


"Iya, aku dengar begitu. Ia melawan salah satu penguasa di sana. Padahal Safitri bukan kalangan orang kaya. Ayah ibunya petani biasa," jelas salah satunya.


"Bukan lagi, ibunya meninggal di meja operasi bersama bayi dalam kandungannya," sahut salah satunya.


"Aku dengar, semestinya ia bisa menjadi Dokter ... tetapi perekonomian keluarganya terlebih sang ibu yang harus dilarikan ke rumah sakit butuh banyak biaya. Safitri memilih jalur kebidanan setelah menempuh jalur pendidikan menengah pertamanya," sahut salah satunya.


Percakapan itu terus bergulir, Aini tak dapat mendengarnya lagi. Pesanannya sudah selesai dan ia harus buru-buru memberi dua adiknya makan.


Sedang di tempat lain Bram, begitu antusias mendengar berita viral itu. Sayang, sistem membungkam aksi heroik gadis itu hingga harus kena skorsing.


"Febian. Minta Haidar untuk melakukan. rapat pada pihak rumah sakit agar melonggarkan sistem!" titahnya pada asisten pribadinya.


Walau pria itu sudah pensiun. Tetapi gerak roda bisnis masih ia kendalikan di balik layar.


"Baik Tuan!" sahut Fabian di seberang telepon.


Haidar yang mendapat mandat dari ayahnya, lalu mengajak Rion bersamanya. Dua pria beda usia itu membuat sesak dada kaum hawa. Ketampanan keduanya tak ada yang bisa menandinginya.


Haidar memang telah berusia empat puluh tahun lebih. Tetapi ia masih saja gagah, bahkan rambutnya tak jua memutih. Sedang Rion. Kaum hawa akan berteriak histeris jika remaja yang baru saja tujuh belas tahun itu melirik mereka. Walau lirikan itu sangat dingin dan menusuk.


"Eneng rela Abang!" begitu teriakan para gadis.


"Baby, ikut Papa hari ini ke rumah sakit, minta Om Bobby mempersiapkan semua data yang diperlukan," pinta pria itu lembut.


"Baik, Pa," sahut Rion lalu menyambangi sekretaris ayahnya itu.


Bobby kini menjadi sekretaris, Haidar memilih tak lagi memperkerjakan wanita sebagai sekretarisnya.


"Ini Tuan Muda!" ujar Bobby lalu menyerahkan setumpuk berkas.


Hanya Bobby dan Fabian yang memanggilnya Tuan muda. Ia begitu senang. Tetapi jika di kantor ibunya. Ia tetaplah bayi dalam pandangan Rommy, Aden dan Iskandar, bahkan Jhenna istri Aden. Semua karena Kakaknya lah yang memanggilnya, Baby.


"Ini, Pa. Sepertinya sistem ini sudah terlalu kuno, walau untuk menghindari malpraktek. Tetapi, jika menyangkut nyawa manusia, sepertinya itu harus diperbaiki," jelas Rion menyerahkan berkas.


"Kalau begitu. Minta Om Bobby ikut kita dan suruh dia menelepon manager rumah sakit. Kita adakan rapat sekarang!" pinta Haidar lagi.


Rion pun kembali mengunjungi Bobby. Ketiganya pun mendatangi rumah sakit. Karena pengelolaan management rumah sakit itu masih tanggung jawab perusahaan Bermegah Pratama.


Hanya butuh dua puluh menit mereka sampai. Haidar dan Rion sudah dua kali mendatangi rumah sakit. Secara kebetulan Lidya dan Putri tengah berada di luar ruangannya. Mereka baru saja mengunjungi poli kejiwaan.


"Papa!" panggil Lidya.


Haidar menoleh. Ia tersenyum lebar. Gadis itu menghampirinya dan mencium punggung tangan pria itu begitu juga sahabatnya. Rion melakukan hal sama pada kakak dan juga Putri, mencium punggung tangan keduanya.


"Papa mau ngapain?" tanya Lidya langsung.


"Mau rapat sebentar sayang," jawab Haidar.


"Oh, Pa ... sekali-kali berkunjung ke ruang Iya, dong," pintanya merajuk.


Haidar terkekeh. Ia mengusap kepala putrinya yang terbungkus hijab.


"Iya, Papa pasti ke sama sama Baby, oteh!"


"Oteh, Iya tunggu loh, Pa!'


Haidar mengangguk dan berjalan menuju ruang management di lantai paling atas. Rion melambaikan tangan pada kakaknya. Lidya dan Putri kembali ke tempat praktek.


Tak butuh waktu lama, sistem berhasil dirombak. Para manajer rumah sakit setuju akan perombakan sistem itu.


"Bisakah kalian memanggil Bidan yang menolong pasien tadi?" pinta Haidar.


"Tadi, dia pulang karena pihak asosiasi bidan memberinya SP satu minggu dilarang praktek," ujar Prof. Kepala rumah sakit.


Haidar pun mengerti akan hal itu. Akhirnya ia mengurungkan niat untuk bertemu dengan bidan cekatan itu. Akhirnya ia meminta Bobby untuk kembali ke kantornya menggunakan taksi. Ia akan mengunjungi putrinya bersama Rion.


Dua lelaki tampan beda usia itu berhasil mencuri perhatian para kaum hawa.


"Ya Allah ... tampan sekali!"


"Oh ... jodoh gue itu!"


"Gue mau jadi istri kedua atau simpenannya juga gue rela!"


Rion berdecih tak suka. Haidar terkekeh mendengar gumaman kesal putranya itu.


"Yang sabar, Baby," ujar Haidar menenangkan.


"Assalamualaikum!' pria itu mengetuk pintu praktek Lidya.


Putri membuka pintu dan tersenyum lebar. Keduanya masuk dan melihat ruangan yang begitu nyaman dan membuat semua orang tenang.


"Papa!"


Lidya langsung memeluk pria itu manja. Haidar mengecup pucuk kepala putrinya itu.


"Apa Papa perlu konsultasi?" canda Lidya.


"Boleh," sahut Haidar.


Ia pun duduk di kursi yang begitu nyaman.


"Rileks ya, Pa," pinta Lidya.


Rion duduk di sofa sambil memainkan ponselnya. Putri duduk di dekat Lidya bersiap mencatat.


Lidya melakukan pijatan rileksasi pada pria yang ia panggil Papa itu.


"Bisa Tuan ceritakan keluhan Tuan selama ini," ujar Lidya.


"Sebenarnya akhir-akhir ini saya mendapat mimpi aneh, yang membuat saya gelisah ...."


Haidar menceritakan kegelisahannya. Setelah melamar Aini beberapa hari lalu, ia mendapat mimpi aneh tapi keanehan dalam mimpi itu membuat semuanya bahagia.


bersambung.


eh ... mimpi apa ya?


next?