
Waktu kembali bergulir. Matahari kini berganti bulan. Bintang tampak mengerlip satu-satu.
Para balita belum mau tidur mereka tengah berbicara satu dengan lainnya. Rion yang tadinya mengantuk jadi ikutan tidak bisa tidur.
"Sean, pemalin Cal bilan di lumahnya ada balapentin!" jelas Al mengingat perkataan saudaranya.
"Palapenin?" ulang Sean.
"Butan palapenin, pati balabenin!" ralat Al.
"Emanna palabenin ipu pa'a?" tanya Daud ingin tahu.
"Itu tata Kean pintatan yan ada pubitan," jelas Al.
"Oh ... satit eundat talo dipubit ipu?" tanya Nai.
"Tata Kean, Daddy udah bunuh bial eundat satitin pemuanya," jelas Al lagi.
"Yan pihat spasa pinatana?" tanya Daud penasaran.
"Cal yan pihat pinatanna," jawab Al serius.
"Telus itu dipunuh sama Daddy eundat tasyian?" sahut Nai sedih.
"Ih dali pada pubit semuana menindal!" sahut Al tak suka.
"Pisa menindal?" tanya Daud tak percaya.
"Iya ... eh, denel-denel teumalin Bibit Puni denelin dlama ladio ada yan menindal!" jelas Daud tiba-tiba teringat.
"Dlama pa'a?" tanya Al malah tidak tahu.
"Dlama ipu yan ada olan moblol ... telus ada musitna!" jawab Daud.
"Oh dlama ladio!"
"Hei bagaimana jika kita bikin drama radio yuk!" ajak Rion.
Semua menoleh kakak mereka dengan antusias. Mereka seperti mendapat tantangan. Rion mulai berpikir bagaimana dengan musik yang masuk di tengah-tengah cerita.
"Sebentar. Kakak mau pinjem ponsel kakak Darren dulu, ya," ujar Rion lalu bangkit dari ranjang.
Ia bergegas ke kamar kakaknya. Darren yang mengetahui apa yang ingin dilakukan adiknya langsung saja setuju. Ia akan membangunkan Lidya juga. Beruntung besok hari sabtu. Darren tidak ada kuliah pagi.
Lidya yang setengah mengantuk langsung nyalang matanya ketika diajak bermain drama.
"Besok kamu libur kelasnya dipakai sama kelas enam kan?" Lidya mengangguk setuju.
Kini semua anak-anak berkumpul di kamar adiknya. Darren membuat tema drama.
"Kalian maunya cerita apa?"
"Seulum!" jawab Sean semangat.
"Nai tatut!"
"Ih masya sama bantu patut!' sahut Sean ketus.
"Kita sambil lalu aja, Kak. Suka-suka mereka," jelas Rion.
"Oteh," ujar Darren.
"Oke ... kakak Rion dulu ya,"semuanya pun mengangguk.
"Pada suatu hari hiduplah seorang Raja bernama Daud. Raja Daud sangatlah tampan setiap hari dia suka berkaca."
"Ah ... atu peman panpan setali ... pidat ada yan pisa mebelihi panpan tu!' ujar Daud memulai percakapan.
"Raja Daud memiliki saudara kembar yang sangat cantik bernama Princess Nai. Ia sangat suka bernyanyi."
"La ... la ... la ... aku bahagia ... la ... la ...," Nai berusaha bernyanyi dengan nada yang benar.
"Di kerajaan Daud. Ia memiliki komandan prajurit yang kuat bernama Sean dan Al."
"Atu adalah seolan tapiten pempumai bedang banjan!" Sahut Sean.
"Atu beuljalan ... plok ... plok ... atu belolan patiten!" sambung Al.
"Suatu hari ... datang lah musuh raksasa!"
"Polon ... eh ... tolon ... ada latsasa!" teriak Nai.
"Hei latsasa lasatan bedantu ini ... heaaa!"
Jreng ...jreng. Tring ... tang ... Tring! Terdengar bunyi suara pedang.
"Atu atan menyelanmu denan bilmu penada balam ... heaaa ....!"
Terdengar bunyi deru angin dan suara 'blam'!.
"Aahh ... aku kalah!'' ujar Darren
"Raksasa lari ke dalam hutan. Raja Daud sangat senang komandannya bisa mengalahkan raksasa."
"Latsasa ... tenapa entau belalitan dili?' ujar Nai tiba-tiba sedih.
"Atu batuh pinta badamu!" lanjutnya.
"Itu pidat boweh!" seru Daud tidak terima.
"Latsasa ipu pisa mematanmu!' lanjutnya.
"Pati atu benbintaina, Laja ... atu patan beunusulna te hutan!" seru Nai.
"Janan!" teriak Al.
"Atuh ... suta padamu, pilices Nai!" seru Al lagi.
"Pati atu suta sama om Pomesh!"
Semuanya menoleh. Nai tau dia salah.
"Eh ... atu suta sama latsasa!' ralatnya.
"Atan bulunuh latsasa denan bilmu benada palam selap biwa!" seru Sean.
"Janan ... janan latutan ipu!' pekik Nai pura-pura tersedu.
Haidar dan Terra sedikit terusik dengan keributan di kamar sebelah. Mereka pun mendatangi kamar. Melihat anak-anak berkumpul, mereka pun ikutan bergabung.
"Tiba-tiba datanglah rajanya raksasa!" seru Rion menoleh pada ayahnya.
Haidar yang langsung tahu akan melakukan apa. Ia pun tertawa terbahak-bahak.
"Hahahaha ... akan kumakan semua yang akan melawanku!"
terdengar suara musik menegangkan. Terra baru mengerti jika mereka tengah melakukan drama.
"Hei entau latsasa gidut!' seru Al.
Terra nyaris terbahak. Haidar memang sedikit berlemak. Pria itu sudah lama tidak membentuk otot-ototnya.
Pria itu hanya merengut, ia gemas bukan main. Maka diseranglah semua anak-anak. Terdengar gelak tawa. Terra pun ikut menyerang anak-anak.
"Ah ... Ibu latsasa itut belselan!" teriak Sean.
"Kita hajal saja . heaa!" pekik Daud.
Kubu terpecah dua. Mereka saling serang. Gelak tawa terdengar. Rion sang pembawa acara ikut kena serangan.
"Pemirsa ... pembawa cerita ikut diserang. Mohon maaf ... saya akan mem ... hahahah ... Mama ... ampun ... hahaha!"
"Ah, ada dua anak gadis yang nikmat untuk dicium!" Haidar menciumi Lidya dan Nai dengan gemas.
Keduanya tergelak. Mereka asik terus menyerang dua raksasa.
"Tiba-tiba raksasa yang dari hutan membantu dua raksasa!"
Darren menyerang adik-adiknya. Gelak tawa kembali memenuhi ruangan.
Drama selesai. Semua anak terlelap karena kelelahan. Begitu juga Terra dan Haidar. Mereka tertidur menumpuk di satu ranjang.
bersambung ...
ah .. drama radionya
next?