
Kanya memeluk Terra yang duduk terdiam. Wajah gadis itu sudah basah dengan air mata. Haidar terenyuh melihat sosok cantik kekasihnya itu. Sedang Bram. Pria itu tampak kaku. Sedikitnya, Bram tahu tabiat Ben, mendiang ayahnya Terra.
Pria yang selalu menceritakan kehebatan istrinya. Walau beberapa tahun terakhir, Ben membawa Firsha sekretarisnya. Wanita itu menempel terus pada Ben, hingga dia merasa risih, begitu juga yang melihat kelakuan Firsha.
Tidak ada kesan romantis ditujukan pada wanita, yang Terra ceritakan adalah istri sirri mendiang Ben.
"Sepertinya ada yang janggal dengan ceritamu, Nak," ujar Bram dengan suara meragu.
"Tapi Ayah sendiri yang bilang, jika dia memang mengkhianati Ibu!" jelas Terra dengan suara bergetar menahan isak.
"Begini. Bukan Papa mau membela kelakuan Ayahmu. Tapi, seingat Papa. Ayahmu dulu selalu menceritakan kehebatan dan kecantikan mendiang Ibumu," jelas Bram serius.
Terra yang mendengar hal itu tak percaya. Ia ingat sekali jika ayahnya meminta maaf dengan sangat ketika nyawa di ujung tanduknya.
"Sedang untuk Firsha. Wanita itu tidak pernah sekali pun diperkenalkan oleh kami sebagai istrinya," jelas Bram lagi.
"Oh, jadi wanita yang selalu dengan Ayahnya Terra itu bukan istrinya?" tanya Haidar.
"Bukan!" jawab Bram.
"Tapi kata Ayah ...."
"Mungkin dia bilang begitu karena rasa bersalahnya padamu. Ia tidak mau menyalahkan Firsha atau pun orang lain. Karena, dia pun turut andil di dalamnya," jelas Bram panjang lebar.
Terra menangis. Kanya memeluk erat, menenangkan gadis yang kini butuh perhatian.
"Terkadang Terra ingin menyerah, Ma. Tapi, Terra nggak sanggup ketika melihat Darren, Lidya dan Rion. Mereka tidak tahu apa-apa," ujar Terra sambil terisak.
"Tolong Terra, Ma. Tolong ... huuuu ... uuu ...!" isaknya.
"Sayang. Kami akan menolongmu. pasti!" ujar Kanya memeluk erat Terra.
Tiba-tiba. Darren menghambur tubuh Terra sambil menangis.
"Mama ... maafin Darren, Ma. Darren dan adik-adik sudah nyusahin, Mama!' teriaknya kemudian pria itu menangis pilu.
"Maa ... maafin Darren ya. Darren akan lakukan apa saja untuk Mama. Tapi jangan tinggalkan Darren, Ma?" pintanya sambil terisak.
"Darren mohon jangan tinggalkan kami, Ma ... huuu ... uuuu!' ujar Darren sambil bersimpuh memohon.
Terra tercekat melihat itu. Gadis itu langsung merengkuh tubuh pria kecilnya.
"Mama tidak akan meninggalkan kalian, sayang! Kalian adalah hidup Mama!" jelasnya.
Terra menciumi wajah Darren. "Mama ... jangan tinggalkan kami!"
"Tidak."
Terra mengurai pelukannya. Ditakupnya wajah kecil yang kini basah dengan air mata.
"Dengar kan Mama. Kamu dan adik-adik adalah hidup Mama. Tidak ada sedikit pun niat untuk meninggalkan kalian. Apa kau mengerti?" jelas Terra.
"Tapi tadi Mama bilang, Mama lelah dengan kami. Darren janji Ma. Darren akan jadi anak yang menuruti semua kemauan Mama. Darren akan memarahi adik-adik jika ada yang melawan atau pun membantah Mama. Darren akan hukum mereka jika mereka nakal. Darren janji, Ma. Asalkan Mama tidak meninggalkan Darren dan adik-adik," janji dan pinta Darren panjang lebar.
"Mama jangan tinggalkan kami, Ma. Jika Mama lakukan itu. Kami hidup sama siapa, Ma?" tanya Darren kemudian ia menangis pilu.
Terra mengeratkan pelukannya. Baik, Kanya, Haidar dan Bram ikut larut dalam kesedihan.
"Mama ... huuu ... tolong Iya!" teriak gadis kecil dalam kamar.
Terra bangkit sambil menggendong Darren lalu berlari ke kamar diikuti oleh kedua orang tua Haidar, juga Haidar sendiri.
Lagi-lagi gadis kecil itu mengigau sambil menangis memanggil dirinya. Terra meletakan Darren di ranjang. Kemudian beringsut menggapai Lidya dan memeluknya.
"Ssshhh ... sshhh!" Terra menenangkan Lidya dalam dekapannya.
"Mama ... tolong Iya," ujar gadis itu lirih sambil terisak.
"Tolong apa, Sayang. Mama sudah ada di sini," bisik Terra.
"Tolong Iya, lepasin Kak Darren. Kakak dipukulin sama Mama Ica," gumam Lidya dengan mata tertutup.
Baik Terra, Haidar, Kanya dan Bram sangat terkejut dengan kenyataan yang baru saja mereka dengar. Semuanya menatap Darren yang kini mulai mendekati Terra ketakutan.
Kanya langsung mendekati pria kecil yang menempel dan menyembunyikan wajahnya pada punggung Terra.
"Sayang, sini sama Oma," pinta Kanya.
Darren bergeming bahkan tubuhnya kini bergetar. Betapa yakinnya Kanya jika pria kecil itu pernah mengalami peristiwa yang sangat menyiksanya. Terlebih ketika mereka sudah mendengar pengakuan Lidya, walau dalam igauannya saja.
Namun, Kanya sangat yakin, jika Lidya bukan hanya mengigau karena mimpi biasa. Tapi kejadian buruk pernah dilewati gadis kecil itu. Hingga terekam di otak kecilnya.
Kanya meneteskan air mata. Darren tidak bergerak sama sekali dari tubuh Terra. Pria kecil itu tetap menempel pada mama sambungnya itu.
Terra merengkuh Darren setelah Lidya tenang dan dibaringkan di ranjang.
"Sayang ... apa kamu mau cerita sama Mama, apa yang terjadi. Agar Mama, Oma, Om Haidar juga Kakek Bram bisa menolongmu," pinta Terra dengan lembut.
Darren menatap netra mamanya lama. Tampak pria itu mencari kenyamanan dan ketulusan di sana. Pria kecil itu mengangguk.
"Tapi Darren takut, Ma," cicitnya.
"Jangan takut sayang. Ada kami di sini akan menjagamu," ujar Bram menenangkan.
Bersambung.
ah .... berat nulis adegan ini ada air mata.
siap kan tissu yang banyak untuk episode selanjutnya ya.
pliss klik like, love and vote ya.
komen biar othor semangat.