
Sosok dengan tinggi 170 dan bobot 75kg. Berlari menggendong sosok pria tua kurus. Beberapa petugas medis terkejut melihat ada seorang gadis yang menjadi viral karena tanggap dan cekatan menolong nyawa pasien..
"Bu bidan!" teriak mereka lalu buru-buru mengambil brankar.
Dipto diletakkan di sana. Beberapa di antaranya menatap takjub gadis kuat itu.
"Hei, kenapa bengong?" sahut Safitri kesal.
Mereka melarikan pria malang itu.
"Tekanan, 89/80!" teriak Saf.
Para medis mengangguk. Pria itu pun masuk ruangan untuk ditangani selanjutnya. Saf pun menghela napas.
"Bapak itu tadi berat juga ya," keluhnya.
Ia duduk begitu saja di kursi stainless steel panjang. Dingin dan keras. Bokongnya sedikit sakit. Lalu ia mengingat nasi goreng yang ia beli tadi ketinggalan di tempat pria yang ia tolong tadi. Beruntung tadi ia menggunakan mobilnya. Jadi ia bisa membawa pria itu ke rumah sakit dengan cepat.
Lima tahun menjadi bidan, membawa limpahan materi terlebih, ia memang suka menolong siapapun. Siapa sangka, justru ia menolong seorang pria tua yang kaya raya dan memberinya banyak uang. Hingga ia bisa membeli rumah di desa dan kendaraan roda dua dan juga empat.
Ketika ia mendapat masalah di sebuah klinik tempatnya mengabdi. Saf membongkar mal praktek juga aborsi di tempat itu.
Iris abu-abu milik Saf, menandakan ia bukan keturunan asli Indonesia. Hidup sebagai anak petani dan ibu rumah tangga biasa. Ayahnya memiliki iris sama dengannya. Kulitnya juga putih bersih dan rambut sedikit pirang.
Ibunya meninggal di meja operasi ketika hendak melahirkan adiknya. Sayang, adiknya pun menyusul satu jam kemudian. Kematian sang istri membuat ayahnya jatuh sakit dan menyerah tiga tahun, bertepatan Saf lulus kebidanan. Ia pulang dan mendapati bendera kuning di halaman rumah sederhana. Saf mengikhlaskan kepergian ayahnya. Ia tetap tegar, karena dalam pikirannya menangis tak membuat ayahnya bangun juga dari kematiannya.
Seminggu setelah ayahnya dimakamkan. Safitri dinas di sebuah klinik. Ia menemukan banyak kejanggalan semenjak bekerja di sana. Berkat kegeniusannya, ia berhasil mengumpulkan bukti dan membongkar kebusukan tempat itu, setelah dua tahun bekerja. Di sanalah ia menolong pria kaya yang nyaris menjadi korban mal praktek salah satu dokter.
"Terima kasih, Nak. Kau sudah menyelamatkan pria tua ini."
Ia mendapat uang yang banyak, walau ia menolak keras. Tetapi, entah bagaimana pria itu bisa memasukkan sejumlah uang di rekeningnya.
Setelah klinik ditutup, Saf sempat menganggur. Mencoba peruntungan mencari kerja di kota. Ia pun diterima di sini, di rumah sakit ini.
"Andai Bapak dulu nggak bekalin Saf ilmu bela diri dan sedikit ahli akupuntur," ujarnya bergumam.
Perutnya sakit. Ia merasa lapar. Gadis itu memutuskan pergi ke kantin. Ia pun pergi untuk memenuhi panggilan perut yang sudah berdemo.
Semetara itu, Putri berlari kencang dan bertanya pada pihak resepsionis rumah sakit tentang pria yang dibawa seseorang.
"Itu ayah saya!' pekiknya panik.
"Oh, baru saja di masukkan ke UGD!" jawab suster yang menunggu di resepsionis.
Putri pun melangkah cepat ke UGD. Ia hendak masuk bertepatan dengan salah satu dokter jaga.
"Loh, Sus. Kok, kamu ke sini? Kan bukan kamu giliran jaga?" tanya dokter itu.
"Ayah saya yang di dalam, Dok!" jawab Putri.
"Ah ... tunggu sebentar, ia akan dipindahkan ke ruang rawat VIP ya. Semua ruangan penuh, tinggal ruangan itu yang kosong," jelas dokter.
Putri mengangguk. Ia lega bukan main. Ayahnya sudah masuk ruang rawat, berarti sudah tidak terlalu berbahaya.
"Sangat bagus sekali, tadi dengan cepat dibawa ke mari," ujar dokter menjelaskan.
"Loh, mana bidan Saf tadi?" dokter pun mencari sosok yang tadi mengantar pasien tadi.
"Jadi yang nolong Ayah saya, bidan Saf?" tanya Putri memastikan.
"Iya, beliau tadi yang menggendong pasien. Saya sendiri kaget, ada perempuan sekuat itu?" jawab dokter masih setengah tak percaya.
Putri terdiam. Ia mengingat ketika bidan cantik itu berkata jangan memanggilnya Fitri. Putri menyembunyikan senyumnya.
Brankar di mana Dipto berada keluar, bertepatan dengan Saf yang sudah selesai dengan makannya.
"Bagaimana keadaannya Dok?" tanyanya. Ia belum melihat Putri karena membelakanginya.
Putri menoleh. Saf menatapnya. Iris abu-abu itu langsung menangkap wajah bulat gadis di depannya.
"Saya, Putri, anak dari pria yang anda selamatkan Bu bidan," sahut Putri penuh haru.
Saf tersenyum. Ia mengangguk. Lalu beralih pada dokter yang menangani pria yang tadi ia bawa.
"Pasien kekurangan darah, atau anemia akut, ia juga kelelahan dan mengalami dehidrasi," jelas dokter.
"Sekarang, hanya memulihkan saja, karena tiba-tiba anemianya berangsur membaik" jelas dokter itu lagi.
Semua kini berada di ruang VIP. Pria itu masih memejamkan mata. Putri masih cemas. Tak lama adik dan ibunya datang dengan derai air mata. Saf menyingkir dari sana. Ia memilih pulang ke rumahnya.
"Nak, bagaimana keadaan ayahmu?" tanya Nania sambil mengusap air matanya.
"Ayah, belum sadar, Mak," jawab Putri lembut.
"Pak ... Bapak sadar, Mak!" sahut Septian semringah.
Putri lalu memencet tombol. Salah satu dokter jaga pun datang. Ia memeriksa keadaan lalu tersenyum.
"Pasien tidak apa-apa. Sekarang tinggal pemulihan saja," ujarnya. "Lusa baru boleh pulang, ya!"
Putri mengangguk, lalu mengucap terima kasih. Ia pun mencari keberadaan bidan yang menolong ayahnya tadi.
"Nak ...," panggil Dipto.
Putri hendak menyambangi tiba-tiba ponselnya berdering. Nama Lidya ada di sana.
"Putri jawab telepon dulu, ya," pintanya.
Ia pun sedikit menjauh. Ketika meletakkan benda pipih itu di telinga. Nada kesal dan rentetan pertanyaan langsung ia dengar. Lidya begitu kesal, karena Putri tak menghubunginya ketika ayahnya dilarikan ke rumah sakit.
"Gue juga nggak tau. Soalnya yang bawa ke sini bokap tuh, Bidan Saf!" jelas gadis itu.
"......!"
"Jangan, besok aja Lu ke sininya. Lagian, bapak gue udah nggak apa-apa kok," jelas Putri.
".....?!"
"Iya, bener. Bokap gue nggak apa-apa. Udah dulu ya, gue dipanggil, nih!"
".....!"
"Wa'alaikumussalam!"
Putri menutup sambungan teleponnya. Ia mendatangi ayahnya. Septian tampak menangis dan meminta maaf pada sang ayah.
"Pak, maafin Ian, Ian belum bisa bahagiain malah buat susah," ujarnya penuh permohonan.
"Tidak, Nak. Itu juga kewajiban ayah membantumu. Ayah saja yang nggak ingat umur," sahut Dipto.
"Yah, aku nggak sanggup memberi mahar sebanyak itu. Ian mundur, Yah," ujar Septian pasrah.
"Loh, kok gitu?" tanya Nania bingung.
"Selain seratus juta, Prita juga meminta rumah yang Ian cicil menjadi atas nama dia," ujarnya.
"A-apa?" desis Putri tak percaya. "Pacarmu minta itu?"
Septian mengangguk. Ia telah sudah memutuskan hubungan langsung dengan kekasihnya itu.
"Kemarin, waktu dia minta mahar dan rumah, aku langsung mutusin dia. Dia nggak terima dan ngamuk sejadi-jadinya. Dia ngancem bawa ini ke pengadilan," jelas pemuda itu lagi.
"Atas dakwaan apa?"
"Penipuan dan ingkar janji," jawab Septian lagi.
"Lalu?" tanya Putri lagi mulai kesal.
"Dia nggak akan lapor asal, rumah aku kasih dia," jawab pria itu lagi.
"Ya kasih aja. Suruh dia nyicil selanjutnya," ujar Putri.
"Dia minta juga sertifikatnya atas nama dia, jadi intinya aku nyicil rumah buat dia dan keluarganya," jawab Septian lemah.
"Ian capek, Kak. Aku pengen kasih aja dan jual motor buat lunasin tuh rumah, trus nggak berhubungan Ama dia lagi selamanya," sahut Septian pasrah.
"Aku nggak mau gara-gara laporannya, keluarga kita jadi kacau, kerjaan aku juga pasti kacau. Aku sih maunya minjem ke perusahaan, trus aku minta pindah ke kantor pusat biar gaji gede dan bayar hutang ke perusahaannya cepet," jelas Septian lagi.
"Ke kantor pusat, berarti ke Eropa dong?" tanya Putri.
Septian mengangguk. Nania menggeleng.
"Jangan tinggalin ibu lagi, Nak," pintanya.
"Tapi, kalo Ian di sini, pastinya Prita bakal cari masalah, Mak," ujar Septian putus asa.
Dipto menangis mendengar keputusan putranya. Putri pun diam. Ia tak bisa banyak membantu. Sepasang mata dan telinga mendengarnya. Pria itu pun tersenyum penuh arti.
bersambung.
ah siapa dia?
next?