
Peringatan keras dikatakan oleh kepolisian agar Virgou tidak bertindak semena-mena. Pablo terpaksa mundur.Virgou mengepalkan tangannya kuat-kuat. Gigi gerahamnya bunyi gemelutuk karena bergesekan. Wajahnya merah padam menahan amarah.
Mobil polisi mendahului mobil pria beriris biru itu. Sungguh kecepatan mereka sangat jauh dibanding dengan mobil Jeep yang berhasil memacu kecepatan.
"Mobil Jeep plat B xxxxx DC agar segera menghentikan laju kendaraannya. Kami ulangi. Hentikan kendaraan sekarang!"
Sebuah perintah tegas diserukan dari pihak kepolisian. Salah satu polisi mencoba membidik ban mobil Jeep.
Dor!
Ciittt! Ban mobil kena. Mobil Jeep terguling. Tubuh Samsul dan Japri terlempar keluar membentur aspal panas. Kepala mereka langsung menghantam jalanan.
Polisi sampai harus menghentikan laju mereka agar tak melindas tubuh keduanya yang tengah menggelepar di jalan. Dengan darah mengucur. Para polisi merangsek ke arah mobil yang berguling sampai tiga kali. Bau bensin menyengat. Terlihat percikan api.
Beberapa polisi langsung mendekati mobil, mencoba menolong dua orang yang terjebak dalam kendaraan yang ringsek. Keduanya bisa dikeluarkan, lalu diseret menjauh dari bangkai mobil yang telah terbakar. Hingga tiba-tiba.
Duarr! Mobil meledak. Beberapa polisi menjatuhkan diri mereka dengan masih memikirkan keselamatan pelaku kejahatan. Mereka menamengi tubuh para penjahat agar tak terkena serpihan mobil yang meledak.
Tak lama berselang. Beberapa mobil ambulance datang. Mengangkut semua korban, bahkan dari pihak kepolisian. Virgou langsung diminta petugas untuk melaporkan semua kejadian.
Sedang di rumah Bart, semua sudah datang. Wajah Puspita begitu cemas memikirkan kondisi suaminya. Ia tak berhenti menangis.
"Kak, tolong kendalikan dirimu," pinta Gisel yang juga sibuk menghapus air matanya.
David langsung pergi menyusul kakak sepupunya ke kantor kepolisian. Bart menyuruhnya, ia juga meminta bantuan pengacara dari Terra.
"Terra minta Sofyan membantu Virgou!"
Terra mengangguk ia pun menelepon pengacaranya itu meminta bantuan hukum. Secara Virgou adalah warga negara asing. Sofyan menyanggupinya. Ia langsung menuju kantor kepolisian di mana Virgou memberikan keterangan.
Darren dan Budiman langsung pulang mendengar berita di televisi. Haidar juga pulang cepat. Semuanya saling berpelukan. Tak lama Herman datang bersamaan dengan istrinya. Keduanya berwajah panik.
"Terra!" panggil Herman.
"Ayah!" sahut Terra.
Khasya langsung memeluk Puspita dan menenangkan wanita itu. Anak-anak hanya saling berpandangan. Rion mengajak adik-adiknya untuk terus berdoa untuk Daddy mereka.
"Ata' Ion ... pemanna penata Daddy?" tanya Kaila sedih.
"Tidak apa-apa Baby, tapi biar Daddy selamat sampai rumah, kita harus doain Daddy kan?" Kaila mengangguk.
Kean, Cal, Maisya dan Affhan juga hanya bisa terpaku dengan suasana. Lidya memeluk mereka dan memberikan kekuatan.
Sedang di tempat lain tampak sosok tinggi besar mengamuk sejadi-jadinya. Pria itu menembaki orang-orang di sana, beberapa langsung mati di tempat karena tembakan mengenai jantung dan kepalanya. Sedang yang beruntung terkena kaki dan bahu mereka.
Pria bernama Gorgov Folemore, mendengkus kasar napasnya, ia sampai terengah-engah karena misinya menghancurkan BlackAngel gagal.
"I will definitely destroy you Black!"
Selama dua belas jam Virgou dan Pablo dikonfrontir kepolisian dengan cecaran pertanyaan. Keduanya menjawab sama. Sofyan mampu melepaskan mereka dengan berbagai bukti yang ia dapatkan. Dari kejadian sabotase dan penyerangan terhadap kepala supplai listrik.
Subroto dan wakilnya bernama Cipto datang memberi kesaksian. Begitu juga Pablo. Kekuatan hukum BraveSmart ponsel juga tak bisa diganggu oleh pihak manapun. Semua data rekaman kejahatan pun terkuak berkat ponsel itu.
"Kami akan mengerahkan tim ahli. Maaf, Tuan Black Dougher Young, kami terpaksa mencabut ijin kepemilikan senjata anda," ucap kepala kepolisian.
Virgou menghela napas kasar. Ia pun memberikan senjatanya lalu menyerahkan kartu tanda kepemilikan senjata api pada kepolisian.
"Jangan khawatir, senjata ini akan kami tahan selama proses penyidikan," jelas perwira polisi tersebut.
Virgou pulang setelah menandatangani surat pernyataan. Begitu juga Pablo. Keinginan mereka masuk WNI menjadi tertunda karena kasus ini.
"Kau pergi ke kantor, periksa semuanya. Amankan situasi dan pastikan produksi tetap berjalan," titah pria dengan sejuta pesona itu.
"Baik Tuan," sahut Pablo lalu menunduk hormat.
Dav mendatangi kakaknya. Pria itu langsung memeluk Virgou dengan napas lega. Tak ada satu luka pun terdapat dari tubuh pria dengan tinggi 190cm itu.
Pria itu tersenyum penuh arti. Keduanya pun tak membahas apa yang diucap David barusan. Sofyan masih tinggal di kantor kepolisian untuk mengurus data kliennya. Pria itu akan menggunakan hukum internasional karena kliennya adalah warga negara asing.
Virgou pulang bersama David yang disupiri Budiman. Pria itu juga bernapas lega melihat kakak iparnya tak kenapa-kenapa.
Ketika di dalam mobil Virgou melepas jaket anti pelurunya. Ternyata, bahu pria itu terkena peluru.
"Arrghh!"
"Kak!"
"Innalilahi!"
"Ke rumah sakit sekarang!" teriak David langsung.
Budiman pun melarikan mobil dengan kecepatan tinggi. Virgou memutar mata malas, tetapi ia memang merasa kesakitan. Pria itu melihat jaket anti pelurunya, sobek dan tembus.
"Dav, coba periksa apakah ada luka lain!" titah Budiman.
Baru saja David ingin memeriksa langsung dihentikan oleh Virgou.
"Hanya bahuku yang kena. Sepertinya jaketku rusak. Jadi peluru tembus di bahuku," jelas Virgou sambil sedikitnya mengerang kesakitan.
Budiman menekan pedal gasnya lebih dalam dan membunyikan klakson. Mobil-mobil yang mengerti memberi mereka jalan. Lima belas menit mereka pun sampai di rumah sakit milik Bram.
"Dokter tolong, Kakak saya tertembak!' teriak David.
Beberapa petugas medis langsung membawa brangkar. Virgou ditidurkan dan langsung dibawa ke UGD. Budiman menelepon Bart mengatakan jika Virgou terkena peluru.
Bart langsung shock hingga ponselnya jatuh. Haidar yang melihat ponsel Bart jatuh langsung mengambilnya.
"Halo assalamualaikum, Bud!"
".....!"
"Innalilahi!' seru Haidar.
"......!"
"Baik kau tangani segera ya!" titah Haidar.
"Mas! Ada apa?" tanya Terra gusar.
"Virgou bahunya terkena tembakan, ia sudah di rumah sakit sekarang dan akan ditangani," jelas Haidar.
Puspita menangis mendengar hal itu. Melihat ibu mereka menangis, smeus anak-anak juga ikut sedih.
"Mommy ... hiks ... Mommy!' panggil semua anak-anak.
Mereka pun memeluk Puspita Khasya terus menenangkan wanita itu.
"Kita berdoa ya sayang .. semoga semuanya baik-baik saja, kasihan anak-anak jika kau seperti ini."
"Iya, benar sebaiknya kita berdoa agar Daddy selamat. Ion yakin Daddy adalah pria yang kuat," ujar Rion bijak.
Semua mengangguk membenarkan. Rasya, Rasyid dan Kaila menengadahkan kedua tangan mereka.
"Ya Allah ... selamat kan Daddy ... Aamiin!"
"Aamiin yaa rabbal alamiin!" semua mengamini doa ketiga bayi mereka.
Sedang di rumah sakit. Virgou kekurangan darah. Golongan darahnya cukup langka dan kebetulan stoknya menipis. Beruntung Dav ada di sana dan golongan darahnya sama dengan Virgou. Maka dengan suka rela ia mendonorkan darahnya.
bersambung.
next?