
Hari berlalu. Waktu berganti. Sudah tiga hari semenjak laporan tentang kondisi jenazah Firsha. Kepolisian menelpon Terra untuk melakukan pengidentifikasian ulang, agar benar-benar tidak ada kesalahan.
Terra pergi bersama Sofyan pengacaranya. Karena Sofyan mengetahui seperti apa Firsha, tadinya Rommy ingin ikut, karena dia yang lebih lama tau seperti apa wajah wanita itu. Tapi, karena akan ada laporan jurnal akhir tahun. Pria itu tak bisa menemani Terra untuk mengenali mayat Firsha.
Jam menunjukkan pukul 09.33.. Firsha dijemput Sofyan. Anak-anak berada di rumah. Terra menitipkan mereka bersama para pekerja di rumah..
Sofyan dan Terra pun berangkat menuju kantor polisi. Butuh waktu setengah jam lebih untuk sampai di kantor polisi tersebut.
Sampai sana, mereka langsung dibawa ke pusat pemulasaran jenazah yang terletak jauh dari kantor.
Terra berjalan melalui lorong yang banyak hilir mudik para polisi. Bahkan ada yang baru saja memasukan beberapa korban kecelakaan yang sudah tewas dengan berbagai bentuk.
Terra baru tahu jika lorong ini berhubungan dengan lorong rumah sakit area kamar mayat.
Banyak teriakan histeris di sana ketika para keluarga korban datang untuk melihat mayat-mayat yang bergeletak terbungkus di kantong mayat. Kata AKP Agus baru saja terjadi tabrakan beruntun di lokasi sama di mana ayah Terra kecelakaan.
Terra hanya manggut-manggut. Tangannya menggenggam erat tangan Sofyan. Sofyan sangat mengerti jika gadis yang bersamanya ini sedang menghalau rasa takutnya.
Setelah sampai pada satu ruang. AKP Agus membuka pintu. Bunyi gesekan daun pintu dengan lantai membuat Terra nyeri seketika bulu kuduk meremang ketika masuk ruangan yang dingin dan lembab.
"Te ... apa kamu yakin?" tanya Sofyan memastikan.
Terra menghela napas. Heran, ia tidak mencium bau busuk seperti yang ia tahu jika mayat yang tersimpan berhari-hari akan tercium baunya. Mayat Firsha sudah lima bulan berada di ruang ini.
Pikir Terra, apa karena mayat Firsha diawetkan karena hendak dibuat bahan penelitian. Makanya tidak tercium vau anyir yang menusuk..
"Ini dia mayat korban bernama Firsha!" ujar AKP Agus memberi tahu ketika sudah sampai pada tempat seperti meja panjang di mana mayat wanita itu berada. Mayat atau jenazah Firsha ditutupi kain putih.
"Ini seperti ada mukjizat dari Tuhan. Mayat ini wajahnya tidak mengalami pembengkakan atau kerusakan permanen. Padahal kepalanya terbelah seperti ini," jelas salah satu forensik yang tadi ada di ruangan menunggu.
"Maksudnya?" tanya Sofyan bingung.
"Maksudnya, mayat korban seperti menunggu untuk dikenali kemudian diambil untuk dimakamkan dengan layak. Padahal mayat ini sudah lima bulan berada di sini. Bahkan semua organnya diambil untuk penelitian. Tapi, seperti yang saya bilang tadi. Mayat ini tidak mengalami pembusukan yang berarti," jelasnya panjang lebar.
"Apa semuanya siap?" Sofyan mengangguk.
Kain putih dibuka. Sofyan menatap intens wajah pucat dengan kepala terbelah dan mata sedikit terbuka. Kemudian Sofyan mengangguk memastikan jika jenazah itu adalah Firsha.
Terra yang sedari tadi belum membuka mata, ditatap oleh Sofyan. Pria itu sangat tahu pergolakan hati gadis itu.
Sedang dalam diri Terra tengah mengalami perdebatan hebat. Ia ingin sekali melihat wajah yang berhasil menggoda ayahnya tersebut. Perlahan ia membuka mata.
Netranya langsung melihat wajah yang selama ini menjadi momok paling ia benci seumur hidupnya. Hidung mancung dengan bibir tipis. Cantik dan standar.
'Ayah tergoda sama cewe yang cakepnya standar kek gini?' gadis itu menghina wajah yang ia lihat.
Sungguh saat ini, ia ingin membangunkan wanita itu. Mencekik lehernya kuat hingga patah. Terra menyibak semua kain putih yang menutup jasad kaku itu.
Sofyan mengalihkan pandangannya. Ia tak mungkin menatap jasad bugil terlebih itu wanita. Sedang AKP Agus sudah terbiasa melihat hal-hal seperti ini, jadi ia cuek saja. Apalagi ahli forensik yang berada di sebelahnya.
Terra melihat jahitan panjang dari pangkal leher hingga atas ******** Firsha. Sepertinya mayat naas itu terbelah menjadi dua bagian. Bahkan jahitan itu seperti asal. Ada yang menyerong ke kiri juga ke kanan.
"Apa semuanya lengkap, Dok?" Tanya AKP Agus kali ini. Pria itu tidak mau kecolongan lagi.
"Semua lengkap. Walau ada sebagian yang tidak utuh. Seperti kantung kemih, hancur. Limpa sobek dan ginjal yang mungkin seperti ampela ayam," jelas forensik menerangkan.
AKP Agus menutup kembali mayat Firsha. Setelah itu akan dimandikan oleh pihak berwenang dan akan dikafani setelah itu disholatkan.
Sebelum Sofyan telah mendapatkan makam yang tidak jauh lokasinya dari makam kedua orang tua Terra. Tapi, ternyata lokasi yang diinginkan sudah di-booking orang. Jadi lokasinya semakin jauh dari yang diinginkan.
Terra tidak mempermasalahkan tempat makam Firsha. Gadis itu sudah menjalankan niat baiknya. Walau sedikit ketidak rekaan dalam hatinya.
"Om ... yang Te lakukan sudah benar kan?" tanyanya dengan pandangan kosong.
"Kamu sudah benar, Nak. Kamu luar biasa," puji Sofyan sambil mengelus punggung tangan Terra yang menggenggam erat jemari pria itu.
Selesai dishalatkan di masjid terdekat. Jenasah diantara dengan ambulance menuju lokasi pemakaman. Terra masih sempat mendengar kasak-kusuk para pemandi jenasah Firsha tadi.
"Eh ... tadi, mukanya masih bagus ya, pas dateng. Gitu disiram mukanya langsung berubah jadi jelek banget terus baunya busuk."
Begitulah perbincangan yang sempat didengar Terra sebelum masuk mobil Sofyan.
Jenazah Firsha diletakkan dalam peti. Karena tiba-tiba setelah pemandian. Kondisi mayat Firsha membusuk seketika. Hingga saat itu juga. Sofyan membeli peti yang tersedia di rumah sakit. Walau merogoh kocek agak dalam. Terra tidak keberatan sama sekali.
Setelah sampai pemakaman. Peti langsung dimasukan keliang lahat. Terra memandang kejadian itu dengan hati lapang. Gugur sudah tugasnya sebagai manusia. Ia merasa tidak menyesali perbuatannya.
"Te, sudah memenuhi janji, Bu," ujarnya pelan sekali.
Terra ingat ketika ia sempat drop beberapa hari lalu. Gadis itu seperti berada di atas awan yang luas dengan angin sepoi-sepoi, begitu menenangkan.
Terra melihat kedua orang tuanya tengah bercengkrama. Gadis itu memanggil kuat mereka. Sang ibu menoleh.
"Ibu ... Te ikut Ibu, ya," pintanya memelas.
Aura menggeleng sambil tersenyum. Gadis itu melihat ayahnya yang juga tersenyum.
"Kembali lah, Nak. Ketiga anakmu tengah menantimu," ujar Aura dengan suara yang begitu lembut.
"Tapi ...."
"Kuburkan jasad wanita itu. Kamu bisa janji kan?" pinta Aura.
Terra hanya bungkam. Kemudian ia mengangguk. Ingin menangis tapi tiada air menetes.
"Selamat tinggal, Nak. Sampai jumpa di jannah. Inshaallah."
Perlahan wajah kedua orang tuanya menghilang, kemudian ia tersadar. Terra mengingat semua mimpi itu. Gadis itu memiliki rasa tanggung jawab tinggi terhadap jenazah ibu dari ketiga anaknya kini.
Bersambung.
Ah salut Terra.
Mohon dukungan ya .. walau nggak ngarep kisah ini masuk di rangking NT.
Tapi uluran jempol para readers adalah anugrah bagi Othor.
Makasih.