TERRA, THE BEST MOTHER

TERRA, THE BEST MOTHER
RION JADI BOSS



Gabe mengajak adiknya untuk meninjau perusahaan cyber milik Terra, ibunya. Pria kecil itu mengamati para pekerja yang sibuk. Didampingi Rommy dan Iskandar.


Sadewo, kepala divisi IT dan pengembangan PT Hudoyo Cyber Tech yang baru, pengganti Gisella datang menghampiri. Pria berusia dua puluh tiga tahun itu sama geniusnya dengan Viola yang kini tengah menjadi instruktur para pekerja di Jepang.


Pria itu berhasil masuk level delapan pada game perekrutan yang dibuat Terra untuk mengambil karyawan khusus perusahaan cyber miliknya.


Rion mengamati layar yang memindai grafik pergerakan manusia. Dulu ia mengira layar ini rusak karena hanya menampilkan garis dan titik hitam. Kini berubah menjadi berwarna.


Setiap warna menggambarkan elemen manusia dalam masyarakat. Bahkan orang gila saja bisa terlacak keberadaannya.


"Om Sadewo, kenapa objek keamanan hanya berkumpul pada sektor A. Bukankah di sana hanya ada sekolahan dan taman bermain?" tanya Rion ketika melihat kumpulan warna yang menandai petugas keamanan.


"Di sana, baru saja terjadi kasus tabrak lari, Tuan Muda," jawab Sadewo.


"Oh, begitu," sahut Rion mengangguk. "Sayang sekali, penabrak bisa melarikan diri."


Sadewo melihat pergerakan orang yang tengah melarikan diri setelah kecelakaan terjadi. Rommy dan Iskandar tersenyum mendengar keluhan Rion.


Tiba-tiba alarm berbunyi. Tanda ada kecelakaan kerja. Semua panik. Sadewo langsung menenangkan para karyawan yang mulai sibuk menolong rekannya yang terluka karena terkena percikan api dari solder.


Human error. Pekerja itu melamun hingga tak sengaja ujung solder yang mestinya menempelkan kabel malah mengenai jarinya.


"Kenapa kalian malah meninggalkan pekerjaan!" seru Rion. "Bukankah ada pengawas yang mengurusi jika ada kecelakaan. Jangan semua malah mendatangi korban!"


Semua karyawan yang tadinya hendak menolong. Satu persatu kembali ke tempat duduk mereka.


"Jika ada alarm berbunyi berarti ada tanda bahaya. Semestinya kalian menyelamatkan diri terlebih dahulu menjauhi meja kerja kalian selama beberapa menit!" serunya lagi.


"Ini sistem penyelamatan tenaga kerja gimana sih?" tanya Rion sedikit kesal. "Apa tidak ada pelatihan atau simulasi kecelakaan?"


Para karyawan tertunduk. Mereka bukan tidak mendapatkan pelatihan keselamatan kerja. Hanya saja mereka suka abai dan terlalu ingin tahu jika terjadi sesuatu pada rekan mereka.


"Apa kalian dengar keluhan dari Tuan muda Rion, Pak Sadewo?!" Gabe memberi tekanan pada kepala IT.


"Siap, akan saya program ulang dan menyuruh pengawas HRD kembali melakukan simulasi!" sahut Sadewo.


Gabe mengajak kembali Rion ke bagian pemasaran. Di sana Rion mengamati para marketing dan customer service melayani para pembeli.


Setelah puas berkeliling. Mereka pun bersiap untuk makan siang. Rion lelah. Ia ingin pulang.


"Kak, Ion mau pulang. Ngantuk!" keluhnya sambil menguap.


Gabe terkekeh. Ia pun mengajak Rion makan siang dulu bersama para investor. Pria kecil itu pun setuju.


Di sebuah restoran mewah Rion makan dengan lahapnya. Ia sudah bekerja keras hari ini. Jam.sudah menunjukkan .pukul 12.19. sudah lewat baginya makan siang.


"Wah, Tuan muda Dougher Young memang luar biasa. Saya yakin, Tuan muda akan menjadi sosok yang sangat disegani suatu saat nanti," puji salah satu investor.


Yang lain mengangguk setuju. Rion hanya tersenyum biasa menanggapi pujian itu. Sikapnya yang begitu datar langsung jadi sorotan para kolega yang hadir.


"Like mother like son!" sahut salah satu kolega berwarga negara asing.


Siapa yang tak mengenal Terra. Pendiri perusahaan Cyber wanita pertama di dunia. Sifat dingin dan datar diperlihatkan Terra pada setiap meeting atau meet and greet para pebisnis.


Makanya mereka tak heran jika Rion memiliki sifat sama dengan ibunya. Usai makan, Rion diantar pulang oleh Gabe. Pria itu akan kembali lagi ke kantor dan lembur karena hari ini ada peluncuran flying internet di kawasan Padang pasir. Maka ia dan tim akan mengevaluasi cuaca dan tekanan udara sekitar.


"Hai, sis! aku membawa kembali kesayanganmu!"


"Ba ... by ...," dari sebuah suara yang antusias menjadi lemah saat melihat Rion tertidur dalam dekapan Gabe.


"Langsung bawa ke kamarnya Kak!" pinta Terra.


Pria itu pun membawa Rion ke kamarnya. Memberinya kecupan lalu ia pun kembali ke kantor setelah mencium pipi adiknya. Lidya sudah tidur siang bersama adik-adiknya.


"Jangan khawatir. Aku sudah persiapkan semuanya," sahut Terra.


Ia mengantar kakak sepupunya itu ke mobilnya. Lalu kembali masuk.setelah kendaraan Gabe pergi dari halaman rumahnya.


Ia masuk kamar Rion lalu mengganti bajunya dengan pakaian rumah. Terra merebahkan tubuhnya di sisi Rion. Mengusap pipi pria kecil itu.


"Tak kusangka, kau begitu cepat besar, sayang. Mama sangat bangga pada mu. Walau pun Mama ingin kau selalu menjadi bayi seperti dulu," gumam Terra bemonolog.


"Kau tahu sayang. Seharian ini Mama dikerjai oleh empat adik yang memfotokopi ulahmu. Kerinduan Mama tentang masa kecilmu pun terobati. Walau lebih merepotkan mereka karena mereka empat dan kau hanya sendiri," kekeh Terra.


"Ah ... Mama masih nggak rela kamu besar, sayang," rengeknya sambil mencium gemas pipi Rion.


"Mama ... berisik," rengek Rion merasa terusik.


Terra terkikik geli. Ia pun bangkit dari rebahannya. Tak mau mengganggu Rion tentunya. Ia pun menyiapkan camilan untuk sore hari.


Anak-anak sudah bangun dan mandi. Kini mereka semua sedang bermain bersama. Darren dan Haidar pulang bersamaku. Mereka mengucap salam ketika masuk.


"Wa'alaikum salam," balas Terra kemudian.menciun punggung tangan suaminya sedang Darren mencium punggung tangan ibunya.


"Kak, aku langsung pulang ya," pamit Budiman.


"Ya, makasih ya, salam buat semuanya," sahut Haidar.


Terra mengangguk dan melambaikan tangan. Darren dan anak-anak sudah mencium punggung tangan pria itu.


"Dada Om Pudi!" teriak Nai. "Bati-bati pi palan!"


"Iya sayang, makasih!" sahut Budiman.


Haidar mencium semua anaknya dengan gemas. Terutama Rion.


"Halo Boss gimana kerjaan hari ini. Lancar?"


"Lancar Boss!" sahut Rion kemudian tergelak karena Haidar menggelitiknya.


Semua anak-anak malah menyerang ayahnya.


"Bayoo ... pelan Papa sepalan judha!" pekik Daud.


Keempat anak kembarnya pun menyeruduk Haidar. Hingga mereka semuanya bergulingan di karpet. Sedang Darren sudah pergi ke kamarnya untuk mandi dan ganti baju.


"Papa, kebiasaan belum mandi udah megang anak-anak!" tegur Terra.


"Pidat pa'a-pa'a Mama. Nai suta bawu Papa," bela Nai.


Haidar menjulurkan lidahnya meledek sang istri. Terra hanya cemberut mendengarnya.


bersambung


oke Boss...


nikmati akhir-akhir kisah Terra the best mother ... nantikan kelanjutannya di judul


Terra and her big familly ... soon ... kisah remajanya, Lidya dan Rion ... perjalanan cinta Darren. Konflik antar perusahaan. kisah remaja The Pratama quarto.


...


next?