TERRA, THE BEST MOTHER

TERRA, THE BEST MOTHER
ANCAMAN



"Tuan Black Pitheres!" panggil Baron.


"A-apa yang kau lakukan di sini? Kita tak memiliki hubungan atau sangkutan apa pun!" gertaknya takut-takut.


"Ck ... begitukah?" tanya Virgou berdecak.


"Pakailah bajumu dulu. Jijik aku lihat burungmu yang hanya sebesar jari telunjuk Gomesh itu!' titah Virgou menatap jijik benda keramat Baron yang kulup.


Karena tadi sedang di atas awan, burung itu masih tegak tanpa kesudahan yang pasti. Mestinya, tadi itu tinggal sedikit lagi ia akan memuntahkan laharnya. Kini, yang dirasakan pria itu hanya pusing dan burungnya yang berdenyut, ngilu.


Ia sedikit nyeri ketika memakai celana jeans-nya.


"Cepat pakai! Sebelum kupotong burungmu itu!" bentak Gomesh mengancam.


Dengan penuh kesakitan. Baron akhirnya berhasil mengancing celananya, walau kini ia berusaha menetralkan diri untuk menurunkan libidonya. Virgou yang duduk di singgasana pria berwajah lucu itu, mengangkat kan kakinya ke meja.


"Baron, apa yang putramu lakukan di negara Indonesia?" tanya pria itu.


Virgou tentu tahu pergerakan Jordhan melalui BraveSmart ponsel ciptaan Darren. Pria itu mengawasi semua pergerakan para anak buah pria yang kini tiba-tiba bermuka pucat, ketika Virgou mengetahui apa yang dikerjakan putranya.


"Dia ... dia sedang membasmi nyamuk kecil, Tuan!" jawabnya takut-takut.


Brak! Virgou menggebrak meja hingga semua benda di atasnya terlontar. Baron makin ketakutan. Pria dengan sejuta pesona itu berdiri dan menarik kerah baju Baron ke atas hingga kakinya menggantung di udara.


"Kau tau siapa nyamuk yang di maksud putramu, Baron?" tanya pria beriris biru dengan tatapan membunuh.


Jantung Baron berdetak kencang. Ia sama sekali tak tahu siapa yang Jordhan incar hingga malaikat hitam masuk sarangnya ini.


"Ti ... tidak ta ..u .. tu ... an!" jawabnya dengan nada tersendat.


"Nyamuk itu putriku!" sahut Virgou membuat Baron kencing di celana.


'Mati aku!' ujarnya ketakutan setengah mati.


"A ... aku ... tidak ... tau Tuan! Jika pun aku tau, pasti ku larang!" ujar pria itu keringat dingin.


Bau pesing menyeruak. Virgou melempar tubuh Baron hingga menghantam meja yang ada di belakang pria itu.


Brak!


"Uuggh!"


Baron tak berani berteriak, kesakitan. Ia menahan rasa sakitnya. Karena jika ia berteriak monster di depannya itu bisa saja mencabut nyawanya dengan penuh kesakitan.


"Bau sekali ... huueek!" Virgou menutup hidung mual.


Gomesh mengambil wine yang ada di meja, lalu menuangnya ke lantai. Perlahan bau pesing itu pun hilang. Virgou yang kesal menendangi Baron membabi buta. Tak ada perlawanan kecuali pria itu meringkuk untuk melindungi dirinya dari serangan brutal pria mematikan di hadapannya.


Darah membanjiri wajah Baron. Ia sudah setengah tak sadar.


"Ambil ponselnya, suruh dia menelepon putranya untuk kembali dan tak melanjutkan mengusik apa yang ia incar sekarang, katakan hidup ayahnya akan berakhir jika ia tak menurutinya!" titah Virgou.


Gomesh mengambil ponsel pria yang kini sedikit mengerang. Raksasa itu menjambak rambut Baron dan mengangkatnya.


"Lakukan perintah atasanku!" titahnya.


Baron pun menekan ponselnya dengan telunjuk. Panggilan otomatis langsung tertuju pada putranya. Ia meringis kesakitan karena Gomesh masih menarik rambutnya. Pria itu mengaktifkan speakernya.


"Halo .. Dad!" sahut Jordhan di seberang telepon.


"Nak ... pulang sekarang, Nak!" pinta pria itu lalu mengerang kesakitan.


Jordhan yang ada di sana pun terdengar panik. Ia memaki siapa yang menyerang ayahnya.


"Lepaskan ayahku, jika kau tak mau berurusan dengan DeathNote!" ancamnya.


"Kau lah yang harus menuruti perintahku, Jordhan!" sahut Virgou dengan suara keras.


"Si ... siapa kau!" bentak Jordhan.


"Aku BlackAngel!"


"....." Jordhan menahan napas sejenak.


Pria itu berpikir keras ada urusan apa yang membuat klan mafia yang paling ditakuti itu datang dan menyiksa ayahnya.


"A-apa yang kau lakukan pada ayahku!" bentaknya.


"Pulanglah ... agar ayahmu tak apa-apa," ujar Virgou datar.


Pria itu menutup ponselnya. Sedang di tempat Jordhan ia makin ketakutan. Berurusan dengan BlackAngel akan membuat dia menderita seumur hidupnya.


"Semuanya mundur dari incaran!" titahnya.


"Ayahku dalam penyekapan BlackAngel!" ujarnya.


Semua terdiam. Mereka tentu sangat tahu siapa itu BlackAngel. Berurusan dengannya berarti bersiap untuk memesan peti mati untuk mereka sendiri.


Semua pun mundur. Jordhan tak memberi tahu Deborah perihal mundurnya ia dari rencana gadis itu.


Jordhan pun langsung pulang menggunakan perjalanan malam dengan pesawat ekonomi. Sedang beberapa anak buahnya masih penasaran dengan Lidya. Sebagian dari mereka tidak mengindahkan perintah atasannya. Mereka pun bergerak sendiri.


"Aku sangat yakin jika penjagaan pasti diperlonggar setelah kepulangan Boss kita. Dengan begitu kita tunggu lengahnya para penjaga itu, baru kita bergerak. Bagaimana?" tanyanya meminta pendapat.


"Wah ... idemu bagus juga. Baiklah aku ikut,," ujar salah satu dari mereka.


"Aku juga!" sahut satunya lagi.


Ada sekitar delapan orang ikut serta dalam rencana baru. Mereka tidak mengindahkan siapa yang baru saja menghancurkan markas Boss besar mereka. Kedelapan pria itu masih mengamati situasi dan akan melancarkan aksinya.


Sedang di tempat lain. Deborah yang tidak mendapat kabar dari Jordhan tentang perkembangan untuk menghabisi Lidya semakin murka.


"Ish ... kemana dia, sampai sekarang belum ada kabarnya?!"


Wanita itu beberapa kali melakukan sambungan telepon. Tetapi, tak satupun teleponnya diangkat bahkan setelah panggilan ke lima telepon Jordhan mati.


"Aaarrghh! Bodoh sekali dia. Masa hanya menyingkirkan gadis itu tak bisa sih!" umpatnya kesal.


"Kalau begitu, biar aku sendiri yang melakukannya!" ujarnya bermonolog.


Celia berada di perusahaan yang melakukan kerjasama dengan perusahaan tuannya. Deborah tak ikut dengan alasan sakit perut. Ia memang tadi bolak-balik kamar mandi untuk urusan perutnya.


"Halo Celia ... berapa lama kau di sana?" tanya Deborah ketika melakukan panggilan telepon pada sekretarisnya itu.


".......!"


"Apa selama itu?!" tanya Deborah lagi ketika mengetahui berapa lama Celia berada di perusahaan.


"Aku akan menitipkan kunci pada resepsionis. Aku tak tahan, sepertinya aku harus ke klinik untuk mengobati masalah perutku!" ujarnya berbohong.


Wanita itu sudah baik-baik saja setelah tadi sarapan. Ia hanya masuk angin dan memang salah makan kemarin malam.


"Apa aku harus menemanimu, Nona?" tanya Celia dari seberang telepon khawatir.


"Tidak perlu, nanti aku akan bertanya pada pelayan hotel dan memintanya untuk menemaniku. Kau urus kerjasamanya ya," ujarnya beralasan.


".......!"


"Baik, aku tutup teleponnya!"


Deborah menutup sambungan teleponnya. Ia melihat dandanannya. Tampilan cantik dengan busana dress selutut warna orange tanpa lengan dengan kerah bentuk V. Ia memakai sepatu tali warna hitam senada dengan tas guccinya. Deborah merapikan rambut dan mengoles lipstik. Ia pun pergi meninggalkan kamarnya dan mencari peruntungan. Ia pun menuju resepsionis dan berpura-pura bertanya.


"Maaf, klinik yang dekat sini mana ya?"


"Oh, anda tinggal keluar dari hotel ini. Di sebelah kiri ada beberapa ruko berjejer, di sana ada klinik," jelas resepsionis sambil mengerakkan tangan memberi arah.


Deborah mengangguk tanda mengerti. Wanita itu pun berjalan keluar hotel besar di mana ia menginap. Ia menatap pelataran hotel yang luas. Ia pun menghela napas dan berjalan menuju jalan raya.


Entah keberuntungan apa, wanita itu bertemu dengan anak buah Jordhan.


"Itu Nona yang kemarin bersama boss kita kan?" tanya salah satu pria yang juga mengantar atasannya.


"Oh iya," rekan yang membawa mobil pun menepi.


Ia membunyikan klakson, Deborah menoleh. Wanita itu sedikit memicingkan mata dan melihat pria yang ia kenali kemarin menjemputnya bersama Jordhan.


"Nona, naiklah!' titah pria itu.


Sedikit ragu. Akhirnya wanita itu pun naik mobil itu.


"Ada apa mana Jordhan?" tanyanya.


"Boss mundur dari tugas, tapi jangan khawatir, kami akan melanjutkan tugas anda, Nona ... asal ...."


Pria yang menyetir dan yang ada di sebelahnya menatap wanita itu penuh arti. Deborah mengernyit lalu kemudian mengerti.


"Aku tau apa yang kau mau. Tetapi, beres kan dulu urusan, baru kau dapat apa yang kau mau!" sahutnya lalu tersenyum.


bersambung.


eh ... masih nekat yaa.


next?